Padepokan Witasem
Bab 2 Sabuk Inten

Sabuk Inten 19

Merah padam wajah Ki Rangga Sembaga oleh ucapan Arya Penangsang. Dalam hatinya, ia membenarkan bahwa empat nyawa dipertaruhkan untuk alasan yang tidak jelas. Untuk ketahanan dari sebuah keyakinan seorang prajurit. Lantas, setelah merenung sejenak, ia mengatakan, “Mohon ampuni kebodohan kami, Kanjeng Adipati. Saya mengakui bahwa itu adalah kebodohan yang sudah jelas mencoreng kami untuk selamanya. Dan, mungkin akan menjadi keniscayaan bahwa malam ini adalah yang terburuk yang pernah kami lalui. Terutama bagi saya.”

“Bukan kuasaku untuk mengampuni kalian semua,” ucap Adipati Jipang,  “kejadian berada di wilayah Pajang, meskipun aku dapat saja berbuat sesuka hati tetapi tidak, tidak ada yang terbunuh malam ini.”

Arya Penangsang menghadapkan wajah pada Kidang Tlangkas, dan ketika ia memutar pandang ke Ki Sedayu Tawang, katanya, “Kau telah mengetahui siapa aku, tentang aku dan pikiranku. Dan itu sudah pasti membuatmu paham kelanjutan tindakanku.”

“Saya mendengarkan Anda, Tuan,” kata Ki Sedayu Tawang.

“Ini perintahku,” datar suara Adipati Jipang membelah udara, “antarkan prajurit ini ke padepokan Ki Buyut Mimbasara. Sampaikan salam hormatku pada beliau. Setelah itu, pergilah ke Tuban dan tunggu perintahku selanjutnya di sana.” Arya Penangsang lantas menatap raut muka Kidang Tlangkas yang terlihat bingung dengan perkembangan keadaan, kemudian Adipat Jipang itu meneruskan ucapannya, “Engkau mendengarnya. Berarti engkau harus menetap di padepoan sampai tiba keputusan selanjutnya. Aku akan bicarakan itu dengan kakang Hadiwijaya.”

“Ba-baiklah. Saya siap, Tuan,” kata Kidang Tlangkas.

“Nah, kalian bedua dapat meninggalkan kami. Pergilah,”  perintah Ary Penangsang sesudahnya.

“Kepatuhan kami,” serempak Ki Sedayu Tawang dan Kidang Tlangkas menyahut. Setelah mohon diri dari hadapan Adipati Jipang serta kedua orang lainnya, mereka berlalu dari tempat yang menjadi ajang perkelahian seru sebelumnya.

Kini tinggallah mereka bertiga di tempat itu.

Ketegangan sedikit mereda ketika Arya Penangsang berkata pada Ki Rangga Sembaga, “Aku mengambil alih tugasmu untuk mendampingi Ki Tumenggung Suradilaga. Engkau bebas sekarang. Segeralah kembali ke Pajang. Ribuan orang menanti kedatanganmu.” Sekilas Arya Penangsang tengadah, katanya kemudian, “Sebentar lagi Pajang akan mengalami kekosongan pada puncak pemerintahan, sebaiknya engkau segera menempati kedudukan yang disiapkan Kanjeng Adipati. Jangan  menunggu perubahan yang dapat saja berakibat buruk.”

Ki Sembaga merenungi kalimat Arya Penangsang cukup lama. Bagaimana Adipati Jipang tahu tugasnya di Sambi  Sari? Bukankah itu rahasia di antara Adipati Hadiwijaya, Ki Suradilaga dan ia sendiri? Menrutunya, pada saat itu, yang terbaik adalah Kanjeng Adipati Hadiwijaya memang memberitahu pada beliau. Itu saja, pikir Ki Sembaga.  Setelah  menggeser kakinya lebih dekat, dengan sedikit badan membungkuk, Ki Sembaga berkata, “Kepatuhan kami, Kanjeng Adipati. Terima kasih telah mengampuni kebodohan kami.”

“Penuhilah perintahku,” sahut Arya Penangsang. “Tempuhlah jalan yang berbeda dari dua orang itu.” Ia menunjuk pada arah yang lain.

Ki Sembaga mengangguk, sekejap kemudian ia menghilang di balik kabut malam.

“Ki Suradilaga,” kata Arya Penangsang setelah pendengarannya tidak lagi dapat menangkap derap kaki Ki Rangga Sembaga.

“Sabuk Inten” desis Arya Penangsang.

Ki Suradilaga menunggu Arya Penangsang meneruskan ucapannya. Ia tidak berani mengambil sebuah kesimpulan atau dugaan mengani maksud kata pendek pemimpin Jipang itu.

“Siapakah pemilik keris itu sebenarnya?”

Menggelengkan kepala adalah hal pertama yang dilakukan oleh Ki Suradilaga. Semasa itu ia bertanya dalam hati tentang terkuaknya perpindahan keris Sabuk Inten.

Pertanyaan yang tidak terucap itu pun seolah dijawab oleh Arya Penangsang. “Sabuk Inten berada di seberang timur pada masa kerajaan Majapahit. Peralihan mahkota ke Demak Bintara sudah tentu akan membawanya serta ke sana. Untuk saat ini, aku harus berterima kasih padamu yang telah membawanya keluar dari Demak. Aku juga merasa senang bahwa akhirnya  dapat melihat benda yang semula dianggap telah hilang oleh banyak orang di Jipang. Sepertinya aku juga harus ucapkan terima kasih pada paman Trenggana. Bukankah begitu?”

Ki Suradilaga seolah mengalami gangguan wicara saat mendengar kalimat Arya Penangsang. Bagian terakhir yang diucapkan seperti mengesankan sindiran bagi penguasa Demak.

Related posts

Leave a Comment