Sabuk Inten 9

Ki Suradilaga mengangguk dalam-dalam, ia mengerti bahwa setiap penyamaran dapat membawanya ke perkembangan yang tidak terduga. Sementara itu, selepas menerima pesan khusus dari Adipati Hadiwijaya, Ki Rangga Sambaga memerintahkan pelayan untuk menyiapkan kuda,
Adipati Hadiwjaya berkata, ”Mungkin aku akan lebih dahulu tiba di Demak, maka aku minta Ki Suradilaga segera menyusul setelah lawatan di Sambi Sari. Dan Ki Rangga Sambaga, kendali ketertiban Pajang aku serahkan padamu. Bertanyalah pada Ki Buyut Mimbasara. Selain itu aku ingin kau sesekali ajak anak itu berkeliling.”
“Saya mendengar, Kanjeng Adipati,” jawab Ki Sambaga.
Matahari telah menapak tinggi dan bergeser perlahan meninggalkan puncaknya. Adipati Hadiwijaya, Ki Tumenggung Suradilaga dan Ki Rangga Sambaga telah berpisah dan masing-masing berada jauh di dalam kesibukan tersendiri.
Masa damai meliputi langit Pajang. Orang-orang menjalani hari dengan tenang dan jauh dari kekhawatiran. Sejenak Adipati Hadiwijaya melontarkan pandangan mata ke hamparan sawah yang terlihat dari balik dinding batu berukuran pendek. Sekelompok petani dilihatnya tengah mencangkul tanah persawahan. Ia membayangkan bulir-bulir padi yang menggantung pada tangkai padi. “Sabuk Inten,” ia mendesis. Sebuah ikatan yang dapat merekatkan serpihan yang berserak sebelum serpihan itu berubah wujud menjadi sesuatu yang paling berharga. Kemakmuran dan kejayaan.
Adipati Hadiwijaya mengerutkan alisnya. “Sabuk Inten. Apakah itu berarti aku telah menggambarkan makna Kanjeng Sunan Kalijaga? Bulir padi, manusia dan semua yang ada di bumi Pajang harus dapat dilekatkan sebagai kesatuan, lalu memadukan seluruh unsur untuk meraih kejayaan? Benarkah seperti itu? Bila benar, lalu apa yang menjadi maksud sesungguhnya dari Kanjeng Raden Trenggana? Aku tidak boleh gegabah dengan menganggap beliau telah menunjukku sebagai pengganti. Itu pemikiran yang cukup bodoh.”

Matahari masih melayang di antara bumi dan langit ketika berkas cahayanya menyentuh puncak-puncak pohon yang berdiri dengan gagah. Puncak Merapi terlihat jelas menjulang menyapa awan yang mengapung dan mengelilinginya.
“Kita akan menyusur wilayah barat Pajang, Ki Tumenggung. Pedukuhan Sambi Sari berjarak sekitar setengah hari perjalanan berkuda,” berkata Ki Rangga Sambaga setelah berada di atas punggung kuda.
Ki Tumenggung Suradilaga menganggukkan kepala dan katanya, ”Saya akan menggunakan nama Ki Sulaga, Ki Rangga.”
“Ki Sulaga,” desis pelan Ki Rangga mengulang. Lalu ia berkata, ”Ki Gambas Ayut.” Kemudian ia melihat wajah Ki Suradilaga atau Ki Sulaga seperti menahan tawa.
“Ki Gambas Ayut,” pelan Ki Sulaga mengulang kemudian melepas tawanya. Kuda-kuda mereka berderap tidak begitu cepat menuju Pedukuhan Sambi Sari.

Sementara itu di dalam sebuah rumah yang hanya berjarak satu bangunan dari pendapa kadipaten, Pangeran Parikesit sedang bercakap dengan seorang prajurit.
“Apakah kau yakin mereka menuju Sambi Sari?”
“Saya yakin, Pangeran.”
“Lalu siapakah orang dari Demak itu?”
“Orang dari Demak itu bernama Ki Suradilaga dan ia seorang tumenggung.” Ia berhenti sejenak. Kemudian ia berkata lagi, “Pangeran, dalam waktu dekat Jaka Tingkir akan melakukan perjalanan ke Demak.”
Pangeran Parikesit menatapnya lekat-lekat dengan dahi berkerut. Ia bertanya heran, ”Apa aku tidak salah dengar, Angger Kidang Tlangkas?”
“Tidak, Pangeran. Saya mendengar kata-kata Hadiwijaya sangat jelas. Meskipun saya berada dalam gardu jaga, namun saya dapat menggeser pusat pendengaran di tempat Hadiwijaya berdiri.”
“Kau lakukan itu saat di gardu jaga?”
“Benar, Pangeran. Dan saat itu hanya ada dua orang temanku yang mengawasi bagian luar.”
Pangeran Parikesit mendengarnya sambil manggut-manggut. Ia berdesis dalam hatinya, ”Jika begitu, perkembangan anak ini nyaris di luar perkiraanku semula. Dan mungkin ia berada dalam tataran yang tidak begitu jauh dengan Ki Rangga Sambaga.”
“Baiklah, sebaiknya kau segera menyusul mereka. Lakukan penyergapan dan lumpuhkan mereka, terutama orang yang bernama Ki Suradilaga. Kau dapat mengajak serta Ki Sedayu Tawang,” Pangeran Parikesit memberi perintah.
Prajurit itu segera meminta diri lalu bergegas menuju rumah tinggal Ki Sedayu Tawang. Sementara itu Pangeran Parikesit seperti sedang merenungkan sesuatu dalam pikirannya. Untuk waktu yang lama ia diam dalam duduknya hingga senja hampir berakhir. Ketika matahari benar-benar tenggelam di balik punggung bukit, ia bangkit dan berjalan memasuki rumah.
Sementara itu, Kidang Tlangkas dan Ki Sedayu Tawang memacu kuda menyusur jalan arah Sambi Sari. Kala itu hari masih benderang sehingga mereka tidak menemui kesulitan untuk mengejar Ki Tumenggung Suradilaga dan Ki Rangga Sambaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *