Sabuk Inten 7

Ki Tumenggung Suradilaga tegas menjawab, ”Benar, Kanjeng Adipati. Dan Raden Trenggana juga meminta Pajang untuk mengirimkan tombak dan anak panah berikut pelontar batu jarak jauh.”
Adipati Hadiwijaya bangkit dari kursinya lalu berdiri membelakangi Ki Tumenggung Suradilaga. Dari bibirnya kemudian terucap, ”Apakah ada batas waktu bagi Pajang untuk membuat semua senjata itu?” Ia kemudian memutar tubuhnya.
“Tidak, Tuan. Beliau mengatakan padaku bahwa pemimpin Pajang harus berada di Demak dalam waktu satu pekan semenjak kedatanganku.”
Raut muka Adipati Hadiwijaya tidak berubah ketika mendengar kabar yang sebenarnya sangat mengejutkan dirinya. Memang sebenarnya Adipati Hadiwijaya adalah orang yang mampu menguasai setiap gejolak yang dapat merubah keadaan batinnya. Rentang waktu yang panjang telah dilaluinya diantara lembah, lereng, sungai dan bagian-bagian hutan yang hening. Berbagai lelaku telah ia jalani, banyak guru serta orang bijak yang ia temui, maka Adipati Hadiwijaya telah berkembang menjadi seseorang yang mampu mengendalikan perasaan.
“Kau dapat beristirahat di Pajang esok hari. Namun Anda mendapatkan kebebasan bila ingin kembali ke Demak setiap saat, sementara aku sendiri akan berangkat sekitar dua atau tiga hari lagi. Beberapa tugas akan aku serahkan pada para tumenggung.”
Hampir saja Ki Tumenggung Suradilaga membuka bibirnya ketika terlihat olehnya sepasang mata yang tersembul dari balik pintu yang menghubungkan pendapa dengan pringgitan. Tiba-tiba pemilik sepasang mata yang jernih itu menyembunyikan diri. Namun tak lama kemudian, terlihat ujung rambutnya perlahan-lahan keluar dari balik pintu. Sepasang bola matanya bergerak-gerak melihat kedua orang lelaki dewasa yang tengah berada di pendapa.
“Kemarilah, Ngger,” kata Adipati Hadiwijaya. Namun ia kembali menarik kepalanya dan dan bersembunyi dengan merapatkan tubuhnya pada daun pintu. Adipati Hadiwijaya kembali mengulang perintahnya dan menambahkan, ”Kau harus keluar dan mengenal salah seorang pamanmu, Ki Tumenggung Suradilaga. Lekas kemarilah!”
Lalu dari balik pintu itu keluarlah seorang anak lelaki yang berusia sekitar delapan atau sepuluh tahun berjalan menghampiri ayahnya.
“Kau juga harus memberi salam pada paman,” perintah Adipati Hadiwijaya pada anak lelakinya setelah mengulurkan tangan menerima hormat darinya. Anak lelaki itu berjalan dengan tegap dan gagah, ayunan langkah kakinya telah menunjukkan jika ia sedang dipersiapkan untuk sebuah perjalanan panjang dan berliku.
“Pangeran,” kata Ki Tumenggung sambil memberi hormat. Anak lelaki itu meskipun masih berusia sangat muda, namun mengerti yang harus dilakukan. Ia membalas penghormatan teman bicara ayahnya dengan sikap yang mengagumkan.
Seakan mengerti isi hati Ki Tumenggung Suradilaga, Adipati Hadiwijaya kemudian berkata, ”Jaka Wening lebih sering menghabiskan waktu bersama Ki Buyut Mimbasara.”
“Jaka Wening?” desis pelan Ki Suradilaga.
Pendengaran tajam Adipati Hadiwijaya mendengar desah pelan Ki Suradilaga yang nyaris tidak terdengar. Lalu katanya, ”Iya. Jaka Wening, begitulah Ki Buyut jika memanggilnya. Sedangkan aku? Aku tidak memberi nama itu padanya.” Adipati Hadiwijaya tersenyum lebar sembari mengusap kepala Jaka Wening.
“Dan agaknya Ki Buyut sendiri sepertinya keberatan apabila Jaka Wening terlalu sering berada di dekatku,” sambungnya kemudian. Ia meneruskan kata-katanya, ”Ki Buyut pernah mengatakan padaku jika sehari saja tidak mendengar tawa atau suara bernada marah dari anak ini, Ki Buyut merasa seperti terhimpit oleh Merapi. Sehingga aku kira memang lebih baik jika saat fajar Jaka Wening telah berada di padepokan, meskipun begitu Ki Buyut pun turut menemaninya di bilik jika malam telah tiba. Keduanya seperti sudah tidak terpisahkan lagi.”
Kembali tangan Adipati Hadiwijaya mengusap anak lelakinya, lalu tiba-tiba saja Jaka Wening berlari kecil meninggalkan ayahnya. Ki Suradilaga cukup terkejut dengan hentak kaki Jaka Wening yang lebih ringan dan mantap jika dibandingkan dengan anak seusianya.
“Semoga Kanjeng Adipati telah menempatkan angger pangeran di bawah bimbingan orang yang tepat,” binar mata Ki Suradilaga menyiratkan sebuah harapan besar pada perkembangan Jaka Wening.
“Benawa akan mencari ruang dan waktu untuk mengukur kedalaman dirinya sendiri. Kemudian ia akan menjadi seorang Benawa. Ia tidak akan pernah menjadi seseorang seperti Jaka Tingkir atau siapa pun.” Setelah berkata demikian, kemudian Adipati Hadiwijaya mempersilahkan Ki Tumenggung memasuki biliknya dan mengambil waktu untuk menjaga keseimbangan raga serta batinnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *