Sabuk Inten 6

Ki Tumenggung Suradilaga mengangkat wajahnya, sebentar kemudian ia kembali melihat lantai di bawahnya. Adipati Hadiwijaya agaknya menyadari jika pesan itu sangat penting hingga dapat menyebabkan gejolak bergemuruh dalam hati orang yang duduk di hadapannya. Ia sabar menunggu Ki Tumenggung Suradilaga untuk mengendapkan perasaan.
Waktu telah merambat menuju senja. Matahari perlahan-lahan menapak jalan turun di balik punggung bukit-bukit yang terhampar di sebelah barat Pajang. Sementara di regol pendapa juga telah terjadi pergantian prajurit jaga dan para perondan mulai mempersiapkan diri untuk menempuh waktu panjang malam hari.

Kesejahteraan rakyat Pajang telah menjadi perhatian utama Adipati Hadiwijaya. Di musim kemarau yang panjang, mereka masih mempunyai persediaan bahan pangan yang cukup, sementara perangkat kadipaten bahu membahu menjaga aliran air agar tetap dapat melintasi parit-parit yang bertebaran di tlatah Pajang. Adipati Hadiwijaya sendiri tak segan untuk mendatangkan para pande besi yang terampil dari luar Pajang. Mereka dikumpulkan dan mendapat pembinaan untuk menularkan kemampuan mereka pada rakyat Pajang. Lalu hasil kerajinan berbahan besi itu kemudian dapat diperdagangkan dengan wilayah-wilayah sekitar Pajang. Bahkan Adipati Hadiwijaya sering memerintahkan untuk mengirim alat-alat pertanian pada wilayah-wilayah yang membutuhkan tanpa ada kewajiban bagi mereka untuk membeli alat-alat itu.
Di bagian keamanan sendiri, jarang sekali terjadi kejahatan di sekitar Pajang. Para prajurit dengan rutin melakukan perondaan dalam waktu yang tidak teratur. Terkadang mereka berjalan jauh dalam satu kelompok besar dalam satu pekan, terkadang mereka terliht dalam kelompok-kelompok kecil yang bergerak cepat di pekan yang berbeda. Bahkan sering kali mereka membelah kelompok besar dan kecil dan mengitari bagian dalam dan luar Pajang seolah-olah terjadi peperangan. Satu-dua gerombolan penjahat pernah mencoba memanfaatkan jeda yang ada, tetapi mereka salah menduga. Mereka justru melakukan kejahatan pada saat prajurit Pajang melakukan latihan peperangan di dalam kota. Dengan demikian menjadi mudah bagi prajurit Pajang untuk mengembalikan keadaan supaya aman.

“Tuan Adipati, memang ayah Anda secara khusus menyampaikan pesan agar Anda berkenan menghadap beliau,” Ki Tumenggung Suradilaga merasakan gemuruh dalam dadanya. Ia merasa kebingungan untuk mengatakan jika sebenarnya Raden Trenggana memintanya untuk bertukar pendapat dengan Adipati Hadiwijaya.
Adipati Hadiwijaya menatap tajam Ki Tumenggung Suradilaga seolah mengerti keadaan batin utusan dari Demak itu. Lantas ia meletakkan Keris Sabuk Inten di atas pangkuannya, lalu berkata, ”Aku mengerti jika beliau memberimu tugas hanya untuk sebuah pesan sederhana seperti itu. Ki Tumenggung, sebaiknya kau abaikan apa yang kau duga akan menjadi beban pikiran dan perasaanku. Kedatanganmu kemari dengan membawa pusaka keramat ini telah menempatkanmu sebagai pengganti ayah di hadapanku.”
Kata-kata tegas Adipati Hadiwijaya mampu mendesak Ki Tumenggung Suradilaga. Dalam waktu itu, ia merasa bahwa memang harus melakukan seperti yang dikatakan pemimpin Pajang itu.
“Kanjeng Adipati Pajang, sudah barang tentu Pajang mempunyai prajurit sandi dan banyak pengamat yang berada dalam tataran yang sama dengan apa yang dimiliki oleh Demak,” Ki Suradilaga mengawali pesan Sultan Trenggana dengan baik.
“Teruskan!” perintah Adipati Hadiwijaya.
“Tuan mungkin sudah mendengar apabila Jepara mulai meningkatkan kegiatan-kegiatan di sepanjang pesisir,” sambung Ki Suradilaga.
“Iya, aku telah mendengarnya,” Adipati Hadiwijaya berkata sambil membenahi letak duduknya. Ia berujar lagi, ”Tetapi petugas sandi kami belum memperoleh keterangan yang cukup untuk dijadikan bahan pertimbangan. Meski begitu aku telah mempunyai dugaan yang mungkin saja ada hubungannya dengan kedatanganmu, Ki Tumenggung.”
“Baiklah, Kanjeng Adipati. Jepara menjadi sibuk karena permintaan Kanjeng Sultan untuk membuat persiapan-persiapan yang diperlukan sebelum Kanjeng Sultan melakukan kunjungan ke wilayah timur,” Ki Tumenggung Suradilaga berkata dengan kepala tertunduk.
“Kunjungan? Apakah sekedar kunjungan atau ada rencana yang lain?” Adipati Hadiwijaya bergeser setapak lebih maju.
Setelah menimbang sesaat, Ki Suradilaga menjawabnya, ”Sebuah rencana lain yang akhirnya menjadi sebab kedatanganku kemari, Kanjeng Adipati. Kanjeng Raden Trenggana meminta kesediaan Anda untuk berada di Demak selama Kanjeng Sultan melakukan lawatan ke timur.”
“Apakah beliau memintaku membawa serta pasukan sehamparan tebasan parang?”
“Seperti itulah yang beliau perintahkan kepada saya untuk menyampaikan.”
“Katakan dengan jelas, apakah Raden Trenggana memberi perintah padaku untuk berada di Demak dengan pasukan?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *