Sabuk Inten 5

Sesuai paugeran, lurah prajurit itu meminta Ki Tumenggung untuk berhenti di anak tangga terbawah, sementara ia akan menaiki anak tangga pendapa. Namun di saat bersamaan, Adipati Hadiwijaya melambaikan tangan dan meminta keduanya untuk naik bersama-sama.
“Kemarilah kalian berdua. Dan orang itu memang benar seorang tumenggung yang aku kenal baik. Ki Tumenggung Suradilaga,” kata Adipati Hadiwijaya.
Keduanya bergegas menapaki anak tangga dan menghaturkan hormat pada Adipati Hadiwiajaya.
“Kedatanganmu telah mengejutkan aku. Terlebih lagi, Ki Tumenggung datang dalam keadaan yang jauh berbeda dengan biasanya,” kembali Adipati Hadiwijaya berkata setelah menerima sembah hormat kedua tamunya.
Ki Tumenggung Suradilaga mengangguk hormat, lalu katanya,”Kanjeng Adipati, jika aku datang dengan pakaian seorang tumenggung maka itu akan mendatangkan kesulitan bagiku. Karena seperti inilah yang diinginkan oleh Kanjeng Raden Trenggana.”
Adipati Hadiwijaya tanggap dengan ungkapan yang tersirat di balik kata-kata Ki Tumenggung Suradilaga.
Ia berkata seraya mengangkat tangan, ”Ki Rangga Sambaga dan Ki Lurah, kalian dapat meninggalkan kami berdua. Agaknya Ki Tumenggung ingin menyampaikan kisah padaku tentang seorang pendeta yang mungkin ia jumpai di perjalanan. Silahkan!”
“Kami dengarkan, Kanjeng Adipati,” sahut keduanya lalu meminta diri dari hadapan Adipati Hadiwijaya dan Ki Tumenggung Suradilaga.
“Apakah Ki Tumenggung akan lebih dahulu mengendurkan urat syaraf ataukah beliau mempunyai keinginan yang lain? Tempat bagi Ki Tumenggung telah dipersiapkan sebelum Anda duduk di pendapa,” wibawa dan ketegasan Adipati Hadiwijaya jelas terlihat ketika ia mengatakan itu. Meskipun sepintas seperti sebuah basa basi, tetapi Ki Tumenggung Suradilaga dapat menangkap maksud yang berbeda dari yang ia dengar. Untuk beberapa saat ia berdiam diri. Kemudian perlahan ia menurunkan kain putih yang terselempang di depan dadanya.
“Kanjeng Adipati, kiranya sudi menerima serta memeriksa benda yang ada di dalam kain putih ini,” bergetar suara Ki Tumenggung Suradilaga saat berucap kata-kata. Ia beringsut maju setapak demi setapak menghaturkan benda keramat itu ke hadapan Adipati Hadiwijaya.
Dengan menjulurkan kedua lengannya, Adipati Hadiwijaya menerimanya dari Ki Tumenggung Suradilaga. Agaknya ia telah menduga isi bungkusan kain putih itu, dengan berhati-hati ia membuka bungkusan itu dan menarik keluar isinya.
“Keris Sabuk Inten!” desis terkejut Adipati Hadiwijaya melihat sebilah keris pusaka yang kini berada dalam genggaman tangan kanannya. Ia lantas membuat gerakan untuk memberi penghormatan pada piandel pusaka yang telah berusia sangat tua. Ki Tumenggung Suradilaga segera mengikuti setiap gerak penghormatan yang dilakukan oleh Adipati Hadiwijaya.

Sejenak kemudian keduanya telah bersikap tenang dalam duduknya.
“Aku harap kau tidak salah mengerti, Ki Tumenggung,” kata Adipati Hadiwijaya kemudian. Ki Tumenggung Suradilaga mengangguk dalam-dalam dan menunggu kelanjutan dari kata-kata Adipati Hadiwijaya.
“Itu semua bukanlah bentuk penyembahan pada sebuah benda mati yang pada dasarnya memang tidak memiliki kehendak dan tidak pula dapat berbuat apa-apa. Gerakan itu memang sepintas akan mirip dengan gerakan menyembah Yang Maha Perkasa, tetapi sesungguhnya gerakan yang aku lakukan dan kau ikuti adalah sebuah penghormatan. Aku menghargai kerja keras dari empu yang membuat keris ini, aku menghormati Kanjeng Sunan Kalijaga yang memberikannya sebagai hadiah pada Majapahit. Aku mengingat semua peristiwa yang terjadi di sekitar keris, di masa lalu,” Adipati Hadiwijaya menarik napas panjang.
Ia melanjutkan kemudian, ”Di dalam Keris Sabuk Inten ada banyak pesan. Ada banyak peristiwa yang terjadi, baik berhubungan secara langsung dengan keberadaan keris ini atau tidak langsung. Dengan kata lain, aku menghormati sebuah sejarah panjang dan dalam perjalanan sejarah itu sendiri terkandung nilai-nilai yang luar biasa. Kemudian apabila kita berjalan lebih jauh dan menyelam lebih dalam, kau akan temui kebesaran Yang Maha Perkasa dalam setiap lekuk, setiap guratan dan ukiran keris yang memancar keluar darinya.” Ia mendesah, lalu berkata lagi, ”Namun kini setiap orang seperti sudah tidak peduli lagi dengan perjalanan hidupnya.”
Ki Tumenggung Suradilaga menunduk dalam-dalam. Dalam hatinya, ia membenarkan setiap kata yang diucapkan oleh Adipati Hadiwijaya. Namun ia juga mengakui kebodohan yang ada dalam dirinya yang pada mulanya hanya mengira sebilah Keris Sabuk Inten adalah pusaka yang mumpuni dan pilih tanding. Ia mengusap wajahnya dan menyadari jika keris yang melekat pada tubuhnya selama beberapa hari itu sebenarnya mempunyai arti yang lebih besar dibandingkan wujud nyatanya.
“Sebenarnya Keris Sabuk Inten ini dititipkan padamu dengan satu pesan khusus dari Raden Trenggana,” tiba-tiba Adipati Hadiwjaya berkata dengan tegas dan tajam. “Namun itu tidak berarti Anda mendapat kepercayaan seperti halnya Sunan Kalijaga memercayai eyang Prabu Brawijaya.”
“Saya mendengar, Kanjeng Adipati,” sahut Ki Tumenggung.
Adipati Hadiwijaya tidak meneruskan kata-katanya, kini ia memandang lekat Keris Sabuk Inten yang berada di pangkuannya.
“Apakah seperti itu yang menjadi pesan ayahanda?” ia bertanya pada dirinya sendiri. Untuk waktu yang cukup lama Adipati Hadiwijaya merenungi pesan dari Sultan Trenggana yang ada di setiap bagian keris. Ia mengangkat wajahnya, lalu, “Mungkin aku telah mengerti pesan beliau. Lalu apa yang akan kau katakan padaku?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *