Padepokan Witasem
Bab 2 Sabuk Inten

Sabuk Inten 5

Beberapa langkah dari arah selatan terdengar orang bercakap-cakap. Sementara jarak mereka dengan Ki Tumenggung Suradilaga semakin dekat.

“Kau lihat seekor kuda berwarna hitam itu?” tanya seorang pejalan kaki yang memakai celana berwarna hitam pada kawannya.

“Aneh! Tidak mungkin kuda itu lepas dari pemiliknya sementara pelana dan tali kekang masih menempel pada tubuhnya,” jawab rekannya yang berjalan sambil menenteng sebilah golok yang terbungkus daun jati.

“Bukankah kita tidak sedang diburu pekerjaan?” kembali orang bercelana hitam itu bertanya.

“Apakah kau bermaksud menunggu pemilik kuda itu datang?” rekannya balik bertanya.

“Aku kira tidak ada salahnya kita menunggu pemiliknya datang. Mungkin ia sedang ada keperluan sehingga harus meninggalkan kudanya di daerah yang sepi sekalipun masih aman dari gerombolan penjahat,” sahut orang bercelana hitam.

“Baiklah, kita tunggu di bebatuan hitam itu sambil makan pagi. Perutku sudah berteriak kencang minta diisi,” sambut kawannya lalu duduk diatas batu pipih yang besar kemudian membuka bungkusan daun jati. Orang bercelana hitam mengikuti kawannya dan tak lama kemudian mereka mulai menikmati makanan.

‘Mereka tidak bermaksud apa-apa. Sepertinya mereka itu orang-orang yang tinggal di sekitar hutan ini, aku akan keluar menemui mereka berdua,’ pikir Ki Tumenggung Suradilaga. Perlahan ia bangkit berdiri dan menyembunyikan keris Sabuk Inten yang terbungkus dalam kain berwarna putih di balik semak-semak.

Langkah ringan Ki Suradilaga sama sekali tidak terdengar oleh kedua orang yang berada di dekat batu hitam pipih, tiba-tiba saja mereka terkejut dengan kehadiran Ki Tumenggung Suradilaga yang mengenakan pakaian seperti orang kebanyakan.

“Selamat pagi, Ki Sanak berdua,” sapa Ki Suradilaga setelah berbatuk kecil seolah-olah tidak sengaja bertemu dengan mereka berdua.

“Selamat pagi, Ki Sanak,” jawab keduanya berbarengan. Lalu orang bercelana hitam itu ramah berkata,” marilah bergabung bersama kami untuk menikmati hari dengan makan pagi.”

“Terima kasih, Ki Sanak. Sepertinya aku mengganggu ketenangan Ki Sanak berdua yang mungkin akan melakukan pekerjaan besar pada hari ini,” berkata Ki Tumenggung Suradilaga dengan pundak sedikit merendah.

“Bukan pekerjaan besar, Ki Sanak. Tetapi pekerjaan kecil karena kami akan memindahkan isi perut Merapi ke sini,” sahut orang yang memegang golok itu sambil menunjuk arah perut. Mereka bertiga kemudian tertawa kecil dengan kelakar orang itu. Lalu orang bercelana hitam itu bangkit berdiri dan menyodorkan bungkus daun pisang pada Ki Suradilaga.

“Silahkan, Ki Sanak! Tidak baik menolak tawaran orang-orang yang menggemari isi Merapi,” ia tersenyum ramah lalu Ki Suradilaga mengambil sepotong ketela rebus dan duduk di sebelah mereka.

“Sebutan apa yang dapat kami panggil untuk Ki Sanak?” bertanya orang bercelana hitam.

“Aku biasa dipanggil Ki Sarwana di kampung,” jawab Ki Suradilaga cepat menjawab. Agaknya Ki Tumenggung Suradilaga sudah terbiasa melakukan penyamaran sehingga jawaban itu terdengar meyakinkan.

“Oh,” keduanya berdesah pelan dan menganggukkan kepala.

“Namaku Ki Partani dan ia adalah Ki Wartana,” orang bercelana hitam yang bernama Ki Partani menjelaskan. Kemudian ia bertanya, ”Apakah kuda di dekat sungai itu kepunyaan Ki Sarwana?”

Ki Suradilaga menganggukan kepala lalu menjawab, ” Betul, Ki. Aku terpaksa meninggalkannya sendirian karena sesuatu yang tidak dapat aku tahan.”

“Apakah Ki Sarwana sedang melakukan perjalanan jauh? Kalau boleh tahu, darimana Ki Sarwana berasal?” bertanya Ki Partani.

“Aku berasal dari Pedukuhan Mulyasari, dan sekarang aku sedang menuju Pajang, Ki Partani. Seorang kerabat akan mempunyai keperluan yang sangat penting dan aku sedang memenuhi undangannya,” jawab Ki Tumenggung lalu ia melanjutkan, ”ia akan menikahkan anak gadisnya yang telah dilamar beberapa bulan yang lalu.”

“Oh,” keduanya menganggukkan kepala. Lalu Ki Wartana berkata, ”tentu Ki Sarwana sedang berbunga hati karena akan mempunyai seorang cucu.”

Ki Tumenggung menundukkan kepala, menahan geli. Berbaur perasaannya pada saat itu. Keadaan yang tidak pernah ada terpaksa ia nyatakan untuk penyamaran. Meski ia harus berkubang sedih untuk sejenak waktu. Kemudian ia berkata, ”Aku harap semua akan berjalan lancar.”

“Semoga begitu,” sahut Ki Partani dan Ki Wartana bersamaan.

Related posts

Leave a Comment