Sabuk Inten 8

Malam berlalu begitu cepat seperti anak panah yang melesat lepas dari busurnya. Permukaan sungai merambat naik. Hujan turun deras dengan sekali-kali terdengar guntur membelah angkasa. Di tengah kesendiriannya, Adipati Hadiwijaya meraba permukaan keris Sabuk Inten. Ia berusaha mencari jawaban sekalipun telah mengetahui riwayat benda yang berada dalam pegangannya. Langkah-langkah untuk membawa Pajang menuju kemakmuran telah ditentukan dan ia berada di jalan yang tepat untuk itu. “Apakah Sabuk Inten memang berisi pesan Sunan Kalijaga untuk menjadi pertanda yang tetap bagi kemajuan negeri?” Adipati Hadiwijaya mengajukan pertanyaan lalu ia jawab sendiri. “Mengikat kesetiaan hampir selalu berjalan beriring dengan kemakmuran, termasuk juga keamanan. Inilah jalan yang sedang aku tempuh dan mungkin satu perjalanan panjang.”
Adipati Hadiwijaya mengenang perjalanan panjang yang telah dilewatinya. Bermula sebagai tenaga rendah hingga mengambil peran penting ketika menundukkan sekumpulan orang yang tidak puas terhadap Raden Trenggana. Meredam kemarahan orang-orang yang menebar hasrat gila lalu menyebar bagaikan air bah melanda negeri menjadi pijakan awal baginya. Garis nasib membawanya sebagai orang berkdudukan tinggi di Demak. Meski sebagian orang berpikir bahwa kegilaan yang dilakukan sejumlah orang adalah rancangan Jaka Tingkir, namun tidak ada yang mampu membuktikan itu. Yang berada dalam ingatan orang-orang adalah Jaka Tingkir berhasil meredakan kemarahan banyak orang.
“Aku bukan seorang prajurit yang sering berteriak untuk kejayaan negeri atau pemimpinnya,” begitu jalan pikiran Adipati Hadiwijaya pada malam itu, “sesuatu yang indah dan berharga tidak selalu harus diketahui oleh orang atau harus dinyatakan secara terbuka. Berada di ibu kota Demak untuk jangka waktu yang tidak dapat dipastikan sudah tentu bukan perkara mudah. Tetapi Kanjeng Sunan tidak merancang keris ini tanpa makna. Begitu pula Raden Trenggana.” Demikianlah malam berlalu dengan kenangan yang silih berganti melintasi jalan pikiran penguasa Pajang.

Sebelum itu, tanpa diketahui oleh Ki Suradilaga, Adipati Hadiwijaya telah mengutus satu-dua orang kepercayaannya untuk memanggil Ki Rangga Sambaga dan seorang lainnya. Mereka bertiga berbicara sebentar di sisi pohon gayam yang berada di halaman belakang.
Saat matahari belum menapak tinggi, beberapa orang tampak berjalan keluar dari regol kediaman Adipati Hadiwijaya. Dalam pada itu, Ki Tumenggung Suradilaga juga terlihat duduk di pendapa beberapa langkah dari Adipati Hadiwijaya. Sesekali Ki Suradilaga menganggukkan kepala ketika melihat segala kesibukan dan ia juga diizinkan untuk mendengarkan perintah-perintah Adipati kepada para bawahannya.
“Aku kira Pajang tidak dapat menunda atau membuat segala sesuatunya menjadi lambat,” kata Adipati ketika hanya Ki Suradilaga yang berada di pendapa.
Ki Suradilaga mengangguk dalam-dalam. Katanya, ”Saya akan membawa kabar baik ini secepatnya ke Demak, Kanjeng Adipati.”
Adipati Hadiwijaya melihat ke arahnya, kemudian, ”Aku ingin kau berangkat menuju Demak satu atau dua hari lagi. Aku ingin hari ini kau ikut menemani Ki Rangga Sambaga ke pedukuhan Sambi Sari. Aku ingin kau juga dapat mengatakan pada beliau tentang senjata yang akan dikirimkan ke Demak.”
“Saya akan ikuti perintah Kanjeng Adipati,” kata Ki Tumenggung sambil membungkuk hormat.
Tidak lama kemudian seorang lelaki berjalan mendekati tangga pendapa dan memberi hormat pada kedua orang yang telah menunggunya.
“Ki Rangga, aku ingin kau mengantarkan Ki Tumenggung Suradilaga ke pedukuhan Sambi Sari. Aku telah mengatakan padamu keadaan yang sedang berkembang di Pajang, selain kehadiran Ki Tumenggung tentunya.” Ki Rangga Sambaga mengangguk hormat lalu Adipati Hadiwijaya melihat Ki Suradilaga kemudian, ”Aku ingin kau benar-benar bersiap diri. Mungkin saja akan ada hambatan atau mungkin kalian berdua tidak menemui rintangan. Tetapi, Ki Suradilaga, aku tidak ingin kau berpikir jika Pajang adalah tempat yang aman bagimu.”
“Bagaimana maksud Kanjeng Adipati?” bertanya Ki Suradilaga.
“Ki Rangga Sambaga adalah orang yang berkemampuan sangat tinggi di tlatah Pajang. Tidak akan ada gerombolan penyamun atau orang-orang yang akan mengajak kalian bermain-main. Tetapi, aku tidak ingin pada akhirnya ketinggian ilmu kalian berdua dan wewenang Ki Sambaga dapat membuat kalian terlena,” Adipati Hadiwijaya lalu merendahkan suaranya, ”kalian akan terbungkus dalam penyamaran.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *