Sabuk Inten 4

Pada pagi itu Adipati Hadiwijaya sedang menerima laporan dari seorang senapati yang bertugas di tapal batas kadipaten.
“Kanjeng Adipati, beberapa saudagar memberi kabar pada saya tentang kegiatan yang meningkat tajam di Jepara,” kata senapati itu ketika ia telah berada di pendapa kadipaten. Menilik pangkat yang ia kenakan agaknya senapati itu adalah seorang rangga.
“Kegiatan yang meningkat itu adalah kabar yang umum dan dapat disaksikan oleh banyak orang. Lalu berita apa yang mereka katakan padamu, Ki Rangga Sambaga?” tanya Adipati Hadiwijaya.
“Mereka berkata jika Jepara sedang menyiapkan banyak prajurit dan kapal yang berjumlah sangat banyak,” jawab Ki Rangga Sambaga.
“Prajurit dan kapal?” Adipati Hadiwijaya mengulang kata-kata Ki Samekta. Ia mengelus janggutnya dan berdiri menatap alun-alun yang berada di seberang jalan. Ia membalikkan badannya dan lurus menghadap Ki Rangga Sambaga. “Lalu kau belum mendapatkan keterangan lain dari prajurit Demak yang mungkin saja berpapasan denganmu di perbatasan?” bertanya Adipati Hadiwijaya dengan tatap mata penuh menyelidik.
“Saya sempat menanyakan kebenaran berita dari para saudagar yang bercerita, tetapi prajurit-prajurit Demak sendiri sepertinya tidak mengetahui secara pasti kegiatan yang dilakukan oleh Jepara, Kanjeng Adipati,” jawab Ki Sambaga.
Pembicaraan mereka terhenti sejenak ketika seorang pelayan rumah tangga datang menyajikan hidangan pagi bagi mereka berdua. Tak lama setelah itu, ia menuruni anak tangga pendapa dan meninggalkan mereka berdua.
“Silahkan Ki Rangga. Ki Rangga harus selalu dalam keadaan segar bugar,” kata Adipati Hadiwijaya mempersilahkan Ki Rangga untuk memulihkan tenaga dengan hidangan yang diantarkan oleh pelayan. Namun Ki Sambaga merasa tidak pantas jika mendahului Adipati Hadiwijaya sehingga ia hanya mengangguk kecil.
Dengan berbagai dugaan yang melintas dalam benaknya, Adipati Hadiwijaya mencoba mengalihkan pembicaraan ke bagian lain. Sejenak kemudian keduanya terlibat pembicaraan sungguh-sungguh mengenai keadaan yang berkembang di wilayah perbatasan. Suasana sedikit mencair ketika Adipati Hadiwijaya mulai mengambil sepotong makanan lalu diikuit Ki Rangga Sambaga. Di tengah perjamuan, Adipati Hadiwijaya mendengarkan sungguh-sungguh penuturan Ki Sambaga mengenai keadaan jalanan yang menghubungkan setiap pemukiman, keamanan yang melingkupi wilayah Pajang bagian luar dan banyak hal yang disampaikan Ki Sambaga dalam pertemuan itu.
Hari menapak siang ketika seorang prajurit yang menjaga regol kadipaten meminta izin untuk bertemu dengan Adipati Hadiwijaya.
“Katakan!” perintah Adipati.
“Seseorang mengaku datang dari Demak mengatakan jika ingin menghadap Kanjeng Adipati,” jawab prajurit jaga.
“Apakah ia menyebut nama?”
“Ia bernama Ki Tumenggung Suradilaga. Akan tetapi ia tidak berpakaian seperti seorang tumenggung, Kanjeng Adipati,” prajurit jaga itu menjawab.
“Ki Tumenggung Suradilaga,” berkata pelan Adipati Hadiwijaya mengulang nama yang disebutkan oleh prajurit jaga.
“Beri ia jalan untuk masuk!” perintah Adipati Hadiwijaya pada prajurit jaga. Langkah lebar prajurit jaga ketika meninggalkan pendapa seakan memberikan kesan tentang wibawa yang melekat dalam diri Adipati Hadiwijaya.
“Apakah kau mempunyai pendapat tentang orang yang bernama Ki Suradilaga, Ki Sambaga?” bertanya Adipati dengan tatap mata selidik.
Ki Rangga Sambaga pelan dan dalam menganggukkan kepala. Dengan penuh rasa hormat, ia mengatakan, ”Saya mendengarnya sebagai seorang prajurit tangguh yang dimiliki oleh Demak. Beberapa orang bahkan berkata bahwa Ki Tumenggung Suradilaga adalah salah satu orang kepercayaan Raden Trenggana.”
“Dan beiau mengatakan hal yang sama padaku,” gumam Adipati Hadiwijaya perlahan. Ia mengerutkan kening berusaha menduga permasalahan yang mungkin diemban Ki Tumenggung Suradilaga.

“Aku tidak dalam keadaan yang tepat untuk dapat mempercayaimu yang mengaku sebagai seorang tumenggung. Aku memang sering mendengar nama Ki Tumenggung Suradilaga, namun kehadiranmu di Pajang tanpa mengenakan tanda-tanda khusus seorang tumenggung telah membuat kami harus menaruh curiga kepadamu,” kata pemimpin kelompok prajurit jaga pada Ki Tumenggung Suradilaga.
“Aku tidak dapat memaksa kalian untuk percaya dan aku sendiri akan meletakkan senjata jika kalian menghendakinya,” Ki Tumenggung Suradilaga berkata sambil meloloskan sebatang pedang yang tergantung pada pinggangnya dan sebilah tombak pendek yang tergantung di lambung kuda. Ia maju setapak demi setapak menyerahkan senjatanya pada lurah prajurit.
“Aku tidak ingin ada kesalahan, Ki Sanak,” kata lurah prajurit sambil mengangkat tangannya.
Dengan kening berkerut, Ki Suradilaga bertanya, ”Apa maksudmu?”
“Aku tidak ingin pemimpin kami menerima laporan bahwa seorang tamu atau utusan Demak mendapat perlakuan tidak pantas di Pajang.” Kesungguhan menggurat tegas pada wajah lurah prajurit yang memandang tajam kedua senjata Ki Suradilaga.
“Tidak. Kalian telah berbuat sesuai paugeran yang memang seharusnya ditegakkan. Hanya saja aku memang akan mengatakan siapa diriku sesungguhnya di hadapan Kanjeng Adipati.” Ki Tumenggung Suradilaga tetap menyodorkan kedua senjatanya dan sedikit memaksa lurah prajurit agar mau menerima keduanya.
“Baiklah, jika demikian tidak akan ada keberatan di antara kita berdua,” tegas lurah prajurit seraya menerima dua senjata dari tangan Ki Tumenggung Suradilaga.
Selang beberapa lama, prajurit jaga menyampaikan pesan Adipati Hadwijaya pada lurah prajurit. Ki lurah prajurit membalikkan badan dan melangkah menghampiri Ki Tumengung Suradilaga. Katanya, ”Silahkan Ki Tumenggung, saya akan mengantarkan Ki Tumenggung menghadap Kanjeng Adipati. Mari!” Ki Lurah berjalan beriringan dengan Ki Tumenggung Suradilaga.
Keduanya melintasi halaman yang luas dan banyak pohon yang berukuran besar mengelilingi halaman pendapa kadipaten. Dari kejauhan, Ki Tumenggung Suradilaga telah dapat mengenali Adipati Hadiwijaya yang berdiri kokoh menghadap regol pendapa. Ki Tumenggung kembali meraba kain yang tersampir menyilang di dadanya. Keris Sabuk Inten. Bekal khusus yang diperolehnya dari Sultan Trenggana dan hanya diperbolehkan untuk dikeluarkan dari kain putih yang menjadi pembungkus bila telah berbicara empat mata dengan Adipati Hadiwijaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *