Padepokan Witasem
Panembahan Tanpa Bayangan

Sayoga 4

”Siapakah Ki Sanak bertiga dan atas keperluan apakah sehingga bermalam di tepi hutan ini?” bertanya Ki Jagabaya.
”Aku Sayoga. Dan apakah Ki Sanak berwenang untuk bertanya tentang keperluan kami di tepi hutan ini?” jawab Sayoga mewakili ayahnya, dan kalimat itu membuat geram pengawal kademangan. Namun Kang Minto segera memberi tanda untuk menahan diri.
Ki Jagabaya merasakan sedikit pepat dalam dadanya mendengar pertanyaan Sayoga. ”Aku pemangku keamanan pedukuhan ini. Sebaiknya kau belajar lagi tentang unggah ungguh, Anak Muda!” kata Ki Jagabaya. Lanjutnya, ”Katakan! Siapa dua orang yang berdiri di belakangmu?”
Menyadari kekeliruannya, Sayoga menangkupkan tangannya di depan dada. Katanya, ”Mohon maaf telah keliru bersikap, Ki. Berdua mereka adalah orang tuaku. Namanya Ki Wijil.”
”Sebaiknya memang begitu, Anak Muda. Kau masih harus belajar banyak pada orang tuamu,” kata Ki Jagabaya yang menatap lekat Ki Wijil bergantian dengan Nyi Wijil. Ia kemudian bertanya lagi, ”Dari mana kalian berasal? Bukankah kalian dapat bermalam di penginapan atau di banjar pedukuhan?”
Kembali Sayoga bersuara, ”Kami berasal dari Tanah Perdikan Menoreh. Saat ini kami sedang dalam perjalanan menuju Demak, Ki Jayabaya. Kami berhemat bekal dengan bermalam di hutan ini, Ki.”
Agaknya Ki Jagabaya tidak menghiraukan Sayoga. Lalu ia maju setapak, katanya, ”Berdirilah lebih dekat, Ki Wijil.”
Memerah wajah Nyi Wijil tetapi ia mengakui dalam hati jika Sayoga memang berbuat keliru. Dalam waktu itu Ki Wijil maju setapak. Sedikit terang api unggun menyinari bagian depan tubuhnya. Wajah Ki Wijil kini menjadi sedikit lebih jelas terlihat.
”Apakah mata yang berusia lanjut ini memang benar melihat orang yang mengaku sebagai Ki Wijil,” hampir tak percaya Ki Jagabaya bertanya pelan dalam hati.

Nyi Wijil melangkah setapak demi setapak mendekati Sayoga. Bisiknya, ”Jika kekerasan tidak dapat dielakkan lagi, jangan menambah beban bagi ibumu dengan orang-orang yang terluka.” Sejenak ia mengamati keadaan, ia meneruskan, ”Para pengawal tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tetapi tugas mereka adalah menjadi tameng Ki Jagabaya. Cobalah untuk mengerti maksud ibu.” Dahi Sayoga berkerut mencoba mengerti maksud perintah ibunya. Namun begitu, ia menjauhkan diri dari tongkatnya.
”Mungkin aku hanya perlu menghindar atau berlari-lari saja. Tongkat kayu itu pastinya akan melukai bagian dalam para pengawal,” desis Sayoga dalam hati sambil memandang tongkat kayunya.
”Lebih dekat lagi dengan api unggun, Ki Wijil. Supaya para pengawal pedukuhan ini dapat mengenali juga dirimu,” kata Ki Jagabaya lebih keras. Ki Wijil menuruti ucapan Ki Jagabaya. Sementara para pengawal telah meloloskan senjata dari selongsong masing-masing. Senjata yang telanjang sudah berada dalam genggaman yang cukup erat dan kuat. Pada saat yang sama, Kang Minto belum dapat mengira perkembangan yang akan terjadi. Ia masih menahan para pengawal kademangan untuk tidak melakukan serangan.
Ki Wijil maju selangkah demi selangkah mendekati api unggun. Seluruh tubuh dan wajahnya kini terungkap lebih jelas dari sebelumnya.
”Bagus! Ternyata kau masih mempunyai keberanian,” kata Ki Jagabaya yang telah melangkah maju beberapa jengkal.
Para pengawal pedukuhan saling bertukar pandang. Mereka terheran melihat Ki Jagabaya bersikap lain seperti biasanya. Darah para pengawal pedukuhan yang usianya tidak terpaut jauh dengan Sayoga berdesir lebih cepat. Sebagian di antara mereka berharap akan ada pertemuan ilmu antara Ki Jagabaya dengan Ki Wijil. Harapan itu membersit karena Ki Jagabaya selalu berusaha menghindar dari sebuah perkelahian.

Suasana yang tegang semakin memacu jantung berdetak lebih kencang ketika Sayoga memutar tubuhnya. Ia mengedarkan pandang tajam mengawasi setiap gerak para pengawal. Menyadari jika Sayoga dapat menyerang pengawalnya setiap saat, Kang Minto memberikan aba-aba bagi pengawal untuk bergerak memutari keluarga Ki Wijil. Perintah telah diberikan, senjata yang terhunus nampak berkilauan diterpa cahaya api unggun. Seorang pengawal mencoba menyinggung Sayoga dengan memainkan pantulan cahaya ke mata Sayoga.
”Tahan dirimu, Ngger,” kata Nyi Wijil. Ia sadar Sayoga belum sepenuhnya dapat mengamati keadaan dalam dirinya sendiri.
Perbuatan pengawal itu kemudian diikuti kawan-kawannya. Kini kilau pantulan senjata menyambar-nyambar mata Ki Wijil dan Nyi Wijil. Tetapi Nyi Wiijil lekat menutup matanya. Ia berbalik memancing perasaan para pengawal. Tangannya cekatan meraih ujung selendang yang terjurai menggantung di leher, lalu ia menutup matanya yang terpejam dengan selendang berwarna hitam.

Related posts

Leave a Comment