Padepokan Witasem
Bab 3 Membidik

Membidik 20

Bimbang dan marah menjadi dua perasaan yang menguasai Agung Sedayu pada malam itu. Sebenarnya ia tengah menimbang , apakah sebab kemarahannya itu adalah hilangnya kitab Kiai Gringsing atau penculikan Swandaru? Ia tidak dapat menjawabnya, bahkan Agung Sedayu tidak sanggup menemukan jalan untuk mencari jawaban. Ia berpikir bahwa kemarahannya harus mempunyai sebab yang jelas. Dalam pencarian di tengah riuh rendah suara hatinya, Agung Sedayu tidak ingin ada orang di luar Perguruan Orang Bercambuk yang dibolehkan menguasai jalur ilmu Kiai Gringsing. Tidak, tidak, tidak! Ia menangkis keinginan untuk meraih puncak kanuragan.

Apa artinya jika ia menjadi orang terbaik di Mataram namun Swandaru tidak diketahui keberadaannya? Bukankah itu akan menjadi sesuatu yang bakal mendatangkan rasa malu tiada banding untuknya? Kalau memang ia harus meruntuhkan tanah di lereng selatan Merapi, tentu lebih mudah baginya selama Swandaru ada di sisinya. Tetapi Swandaru justru menghilang dengan cara terang benderang di bawah matanya. Dan ia akan kesulitan memberi penjelasan kepada Sekar Mirah atau Pandan Wangi, terlebih jika harus membuat pengakuan di hadapan Ki Gede Menoreh, maka putus asa hinggap di kedua bahu Agung Sedayu. Gigi pemimpin pasukan khusus Mataram pun bergemeretak. Tanpa ia sadar, kekuatan cadangan telah bangkit dan membanjiri kedua lengannya. Udara sekitar Agung Sedayu perlahan mengalami peningkatan. Semakin lama terasa semakin hangat.

Ki Tunggul Pitu tanggap dengan perubahan itu. “Lepaskanlah, Ki Rangga. Lepaskan saja. Anda mempunyai hak untuk marah. Anda mempunyai tanggung jawab sebagai hakim yang akan menghukumku. Anda dapat melakukannya bila telah berkesimpulan bahwa aku adalah perpanjangan tangan Raden Atmandaru. Lakukan, Ki Rangga. Lakukan. Kalau memang aku harus mati di tempat ini, maka putuskanlah nyawaku. Kita dapat melakukan perang tanding dan engkau akan keluar sebagai pemenang. Seperti ketika engkau mengalahkan Ki Tumenggung Prabandaru, tetapi keadaan tidak lagi sama. Tidak ada orang yang akan menolongku melalui serangan bau-bauan, tidak pula ada penolong bagimu melalui ilmu kabut. Namun aku yakin bahwa kekalahan adalah ujung bagi jalanku.” Ki Tunggul Pitu mengucapkan itu dengan sangat tenang. Bahkan ketika ia menyebut bahwa dirinya pasti kalah, itu pun sama sekali tidak memperdengarkan suara yang bergetar ataupun menunjukkan rasa gentar. Ia menggeser kaki kirinya selangkah mundur, dan tubuhnya merunduk.
Ki Tunggul Pitu telah bersiap!

Wajah Agung Sedayu pun berubah. Ia malu pada dirinya yang kehilangan kendali atas jiwani yang bergolak di balik dadanya. Keadaan harus cepat diputuskan atau ia benar-benar terperangkap dalam perang tanding. Dan bila itu terjadi, kemungkinan dan harapan untuk dapat mengembalik kitab Kiai Gringsing dan Swandaru akan menjadi lebih tipis. Tapi benarkah? Benarkah jika Ki Tunggul Pitu terbunuh lalu semuanya akan menjadi kelam? Siapa yang dapat menjamin? Apakah ini sebuah jebakan? Belum berhenti Agung Sedayu bergulat dengan sisi lain yang bertentangan dengan ucapan Ki Tunggul Pitu.

Serangan kata-kata terus menggedor pertahanan jiwani murid pertama Kiai Gringsing, Ki Tunggul Pitu meneruskan ucapannya, “Itu adalah janjiku, Agung Sedayu. Bahwa aku akan mati di tanganmu, itu benar dan aku akan menepatinya meski aku bukan orang yang mudah melempar kata menyerah. Kita akan tetap berkelahi sebagaimana wajar orang-orang berlomba bertahan hidup. Namun Anda menyimpan kekuatan yang tidak terlihat, dan itu adalah karunia. Kemarahan adalah karunia bagi Anda, Ki Rangga. Manfaatkan itu untuk mengalahkanku.”
“Anda sungguh-sungguh luar biasa, Ki Sanak,” kata Agung Sedayu, “mungkin tanah akan bergetar bila ia mempunyai hati untuk merasakan kedahsyatan ucapan Anda. Mungkin pohon akan berhenti bergoyang karena gentar dengan apa yang tersirat di balik kata-kata itu. Dan aku tidak dapat membunuh orang yang telah menyerahkan dirinya, walaupun ia rela untuk mati. Tidak, sekalipun engkau menantangku berkelahi.”
“Dan mengapa engkau belum menempuh sebuah jalan?”
Kemarahan Agung Sedayu telah melewati kerongkongan, menguap lalu meleburkan diri bersama udara malam.
“Aku belum membuat keputusan.”
“Seberapa lama engkau menggunakan waktu untuk berpikir?”
“Tentu saja aku adalah orang dungu jika mengadakan perjanjian denganmu.”
“Oh, bukan seperti itu. Bagaimana engkau berpikir tentang perjanjian? Ki Rangga, tidak ada atau belum terpikir olehku mengenai kesepakatan. Saya memaksa Anda untuk mengejar saya hingga ke tempat ini, bukan untuk tujuan itu. Bukan tentang kesepakatan.”

Related posts

Membidik 27

kibanjarasman

Membidik 26

kibanjarasman

Membidik 25

kibanjarasman

Membidik 24

kibanjarasman

Leave a Comment