Padepokan Witasem
Panembahan Tanpa Bayangan

Sayoga 10

“Apakah ada yang datang sebelum kau masuk halaman ini?”

“Tidak ada. Tetapi saya sempat melihat seorang melompati dinding sebelah selatan rumah ini. Dan derap kaki kuda juga terdengar menjauh.” Kemudian pengawal itu menambahkan, ”suara tangis itu sudah tidak terdengar ketika saya masuk halaman rumah.”

“Seharusnya aku yang datang pertama kali ke mari ketika temanmu datang ke rumah tadi. Mengapa kau tidak pukul kentongan tanda bahaya?” bertanya Ki Jagabaya dengan alis berkerut. Lalu ia menoleh pada arah yang ditunjukkan pengawal. Sebuah kentongan yang cukup besar pecah terbelah dan masih tergantung pada tempatnya. Ki Wijil yang telah berada di dalam segera memeriksa keadaan Ki Tanu Dirga dan Nyi Wijil bersama seorang pengawal lainnya memeriksa keadaan di dalam rumah hingga halaman belakang. Dua orang pengawal segera membawa keluar mayat yang tergeletak sebelah menyebelah dengan tubuh Ki Tanu Dirga, kemudian orang-orang datang membantunya menyelenggarakan perawatan mayat di halaman depan pendapa.

Sejenak kemudian, Ki Tanu Dirga sadar dari pingsannya. Ia berjalan dengan dipapah Ki Wijil ke sebuah amben bambu yang terletak sebelah menyebelah dengan meja yang terbuat dari kayu jati. Ki Jagabaya mendekati Ki Tanu Dirga dan berkata, ”Ki Tanu harap menenangkan diri dulu. Sementara ini biarkanlah para pengawal berjaga-jaga di sekitar rumah. Aku akan memeriksa keadaan sekitar.” Dibantu Ki Wijil, ia pun membaringkan tubuh. Para pengawal pun meminta orang-orang untuk membubarkan diri seperti yang diminta oleh Ki Jagabaya.

Ki Jagabaya segera berlalu dan menuju ke halaman belakang. Ia melihat Nyi Wijil sedang berjongkok mengamati sesuatu.

“Tidak ada yang mencurigakan,” desah Nyi Wijil ketika menyadari Ki Jagabaya telah berada di sebelahnya. Ia berdiri lalu memandang dinding batu yang berjarak dua tombak darinya.

Terdengar oleh Nyi Wijil suara Ki Jagabaya, katanya, ”Orang ini mempunyai kemampuan yang tidak dapat dipandang ringan. Kalau melihat jejak kakinya, ia hanya melakukan dua loncatan sebelum tubuhnya melenting melewati dinding itu.” Lalu Ki Jagabaya menunjuk ke tanah, ia memberi tanda kepada Nyi Wijil untuk tetap diam. Nyi Wijil mengetahui pentingnya arti penyelidikan maka ia hanya mengedipkan mata. Mereka segera beralih ke tempat yang lain menyusur jejak yang ditinggalkan. Pada akhirnya mereka kembali di dekat anak tangga yang paling bawah setelah mengikuti jejak kaki yang dapat mereka amati.

“Kita akhiri pencarian ini. Nanti malam saya akan ke banjar dan kita bertemu di halaman belakang banjar,” desah Ki Jagabaya perlahan di dekat telinga Ki Wijil yang berdiri di dekatnya. Ki Wijil menganggukkan kepala lalu bersama istrinya ia meminta diri untuk kembali ke banjar.

Pada akhir malam sebelumnya, Ki Wijil sempat memberikan beberapa petunjuk kepada Sayoga sesaat sebelum fajar merekah, dan kini Sayoga telah berada di sungai. Ia memilih bagian sungai yang mempunyai ceruk agak dalam dan beraliran lebih deras. Kilau embun belum tampak jelas dipandang ketika Sayoga mulai merendam tubuhnya hingga dada, mendadak ia teringat Ki Jagabaya. Mengingat itu ia tersenyum sendiri karena masih merasa ada keanehan yang menyelimuti Ki Jagabaya. Kilas peristiwa perkelahian pun kembali merambat.

“Tentu saja Ki Jagabaya dan ayah kurang lebih berusia sama, jika ia telah diwisuda sebagai senapati oleh Sultan Hadiwijaya mungkin sekarang usia Ki Jagabaya telah mencapai setengah abad. Tapi bagaimana ia begitu marah pada ayah lalu tiba-tiba berubah menjadi ramah?” Pertanyaan Sayoga masih terngiang dalam telinganya sendiri. Sesaat kemudian, ia mulai memusatkan budi dan rasa untuk menyelam ke dasar ilmu Serat Waja.

Tubuh Sayoga yang terendam sebatas pinggang kemudian mulai merendah hingga akhirnya hanya pundak dan kepala yang tersembul di permukaan air. Ia menggerakkan tangan, memutar, terangkat naik turun di dalam air bersamaan dengan kaki melangkah ke depan. Lutut harus terangkat sejajar dengan perut dan ditahan sementara waktu sembari melakukan gerakan lain. Sayoga berkali-kali harus timbul tenggelam karena arus yang begitu kuat sehingga ia terdorong ke belakang sebelum satu kakinya menginjak dasar sungai. Upaya yang keras tetap dilakukan Sayoga dan pada batas akhir kemampuannya, ia mampu menapak selangkah secara utuh. Setelah menata ulang geraknya, Sayoga beristirahat sejenak di dalam air. Ia masih dalam keadaan berendam ketika bayangan hari mulai naik setinggi atap pendapa.

Related posts

Leave a Comment