Padepokan Witasem
Panembahan Tanpa Bayangan

Sayoga 6

Sayoga tidak dapat menahan diri, dengan satu hentakan kaki meloncat menerjang maju. Ki Jagabaya yang melihat dalam keremangan segera menyilangkan tangan di depan dada. Sambaran kaki Sayoga yang menjulur cepat tertahan lengan Ki Jagabaya. Keduanya serentak meloncat surut ke belakang. Sayoga merasakan kakinya sedikit tergetar, lengan KI Jagabaya dirasakan olehnya seperti sebatang besi yang besar dan kuat. Bayangan Ki Jagabaya menyelinap dalam gelap dan tiba-tiba punggung tangannya menampar kepala Sayoga. Pendengaran Sayoga merasakan desir angin menyasar ke bagian kepalanya, ia merunduk cepat lalu menyusupkan satu pukulan ke lambung Ki Jagabaya. Dengan gerakan tenang namun cepat sekali, Ki Jagabaya menekuk tubuh dan surut ke belakang.
“Kalian jangan memasuki pertarunganku. Nantikan perintahku selanjutnya !” seru Ki Jagabaya kepada para pengawal manakala ia melihat mereka bergerak pelan merapatkan kepungan.

Kang Minto memberi pertanda mundur. “Tetap dalam barisan. Jangan menjadi lengah,” kata Kang Minto menambahkan.

Demikianlah sejenak kemudian keduanya terlibat dalam perkelahian yang menggetarkan hati para pengawal. Sementara itu, Ki Wijil dengan seksama memperhatikan tata gerak Sayoga — yang pada malam itu — menurutnya memang telah waktunya untuk menjajaki kemampuannya sendiri. Nyi Wijil yang berdiri di belakangnya lekat mengamati para pengawal kademangan.

Ki Jagabaya mulai tertarik dengan cara bertempur Sayoga. Ia meningkatkan kemampuannya selapis demi selapis namun Sayoga terus bergerak cepat dengan kekuatan wadag yang cukup besar. Terasalah oleh Ki Jagabaya bahwa kekuatan Sayoga akan dapat mengikis pertahanannya perlahan, lalu ia akan bertekuk lutut pada anak muda dari Tanah Menoreh itu. Pengalaman luas yang dimiliki Ki Jagabaya segera dapat mengatasi tekanan serangan Sayoga. Ki Jagabaya bergeser sama cepatnya dengan kecepatan Sayoga. Bahkan sesekali ia memotong arah serangan Sayoga. Setelah saling melibat dan sesekali berlompatan ke belakang serta menghindar ke samping, Ki Jagabaya melompat cukup jauh. Dalam jarak yang cukup untuk memperkirakan kecepatan Sayoga, lengan KI Jagabaya berputar-putar cepat dengan bertumpu pada sikunya. Menggunakan kaki kiri sebagai pijakan, ia menerkam Sayoga. Tubuh Ki Jagabaya melayang cepat. Ia melesat. Sayoga mundur selangkah kemudian dengan berani ia membenturkan kekuatan wadagnya pada kedua lengan lawannya. Agaknya Sayoga berhasil menyusun pertahanan yang cukup rapat. Ketangkasannya dan ketajaman matanya dapat membantu untuk menahan pukulan demi pukulan yang dilontarkan Ki Jagabaya.

Meskipun Sayoga telah menginjak tataran ilmu yang lebih tinggi dari sebelumnya, ia tetap merasakan getaran-getaran pada setiap benturan dan akibatnya ia menderita kesakitan pada tulang tangannya. Namun begitu, Sayoga masih belum mengendurkan tekanan atau melonggarkan pertahanan. Ia masih berdaya untuk membendung serangan Ki Jagabaya yang mengalir lancar dan mengepungnya dari seluruh penjuru angin.

Ki Wijil mengerti anaknya sedang menghadapi keadaan yang gawat, namun ia belum merasa perlu untuk menghentikan perkelahian.

“Aku harus dapat menganggu serangan Ki Jagabaya,” desis Sayoga dalam hatinya. Kemudian ia berloncatan ke arah yang tidak menentu. Sesekali ia meloncat lebih dekat dengan menerima benturan-benturan yang belum berkurang kekuatannya. Di saat lain ia akan melompat mundur sambil sesekali menebaskan kakinya. Upaya Sayoga menujukkan hasil dalam beberapa jurus di depan, tetapi pengalaman Ki Jagabaya mampu mengatasi tata gerak tak menentu dari Sayoga. Pertempuran itu beranjak ke tataran yang lebih tinggi ketika Ki Jagabaya semakin cepat bergerak di tengah rintik hujan yang tipis.

Ki Wijil cepat menilai keadaan yang berkembang. Sayoga masih membutuhkan tuntunan untuk menggapai tingkatan yang lebih tinggi. Keraguan membuncah di hati Ki Wijil, ia dapat disalahkan jika menghentikan perkelahian yang mulai tidak seimbang itu. Namun ia berdebar-debar melihat Sayoga yang sedikit banyak dapat ditembus oleh serangan Ki Jagabaya.

Sayoga, yang telah ditempa ilmu kanuragan sejak kecil oleh ayahnya, mulai mengingat kembali seluruh bagian yang pernah ia tempuh. Saat ia menemukan jalan keluar, seketika itu ia merubah gerakannya. Ki Jagabaya tersentak kaget bahkan melompat surut supaya mempunyai jarak dan waktu untuk mengamati perubahan tata gerak Sayoga.

Related posts

Leave a Comment