0%
Still working...

Waru Geni 11 – Sekar Mirah Menjadi Jalan Ki Kamejing

Dironda 281 kali

Wedaran sebelumnya: Ki Kamejing semakin yakin bahwa kemampuan Agung Sedayu sulit ditandingi dan kekuatan orang-orang di wilayah itu cukup merata, sehingga merebut pusaka dari tangan Sekar Mirah secara langsung akan berdampak besar. Cara jalin pun muncul dan diyakini dengan cara tersebut, mereka berharap dapat memperoleh kesempatan mengambil kembali tongkat Ki Jambuwok tanpa menimbulkan banyak korban, lalu meninggalkan wilayah itu untuk selamanya.

Ki Kamejing tidak segera menjawab. Dia memejamkan mata barang sejenak seolah sedang menata kembali beberapa hal yang telah menjadi perhatiannya. Kemudian dia membenahi sikap duduknya lalu berkata, “Saya menempatkan kemajuan wilayah untuk salah satu ukuran, Kyai. Sehingga, menurut saya, dengan demikian kita dapat  melihat kehidupan mereka. Kepercayaan orang-orang dan kecakapan orang yang memerintah dapat dilihat dari sana, saya kira begitu. Apakah perdagangan mereka berkembang? Apakah hasil pertanian mereka cukup baik? Atau apakah kehidupan mereka berjalan biasa-biasa saja.”

Ki Ajar Poh Kecik mengangguk dan seolah ada kecondongan untuk mengatakan, “Ya, itu benar.”

“Dengan begitu, kita dapat memperkirakan sejauh mana seorang pemimpin mampu mengatur wilayahnya,” lanjut Ki Kamejing.

“Ada benarnya juga, Kyai. Bukan hanya dari ramainya perdagangan atau luasnya tanah pertanian, tetapi kesibukan atau kegiatan itu dapat juga menjadi ukuran sebuah wilayah dapat menghidupi orang-orang yang tinggal di dalamnya. Sebuah pedukuhan yang tampak sederhana belum tentu buruk pengelolaannya. Sebaliknya, wilayah yang mempunyai banyak hasil bumi pun belum tentu memberikan kehidupan yang baik bagi rakyatnya,” ucap Ki Ajar Poh Kecik.

“Nah, dari dua nama yang ramai dibincangkan orang, ternyata keduanya berasal dari dua pedukuhan yang menarik untuk kita pertimbangkan,” jawab Ki Kamejing. “Randulanang dan Janti.”

“Randulanang dan Janti,” ulang Ki Ajar Poh Kecik. “Apa yang membuat Kyai memilih keduanya?”

“Kita tidak sedang membidik Mataram maupun Tanah Perdikan, jadi letak tempat akhirnya harus saya abaikan,” sahut Ki Kamejing. “Pedukuhan Randulanang dan Janti jelas sama-sama jauhnya dari dua tempat itu. Maka penilaian untuk mereka sudah jelas sama dan seimbang. Beranjak ke bagian lain, kehidupan penduduknya, keduanya juga seimbang. Kedua tempat itu sama-sama subur dan makmur. Perdagangan juga hampir sama maju. Sepintas saya melihat beberapa orang dari luar wilayah turut pula berdatangan ke dua tempat itu. Jadi, yah, setidaknya mereka cukup memadai karena kita tidak berusaha dari awal sekali karena mereka ada kemampuan untuk membeli dan menjual.”

Ki Ajar Poh Kecik pun manggut-manggut. Cerdas, pikirnya.

“Dan jika saya disuruh memilih, maka itu adalah hal paling sulit untuk dilakukan,” ucap Ki Kamejing kemudian seutas senyum pun mengembang.

Dengan pandang mata dan wajah yang sedikit berubah, dia berkata, “Dalam keterpaksaan, setelah mengikuti pembicaraan banyak orang, dengan beberapa alasan, saya akan menjatuhkan pilihan pada Ki Surodipuro, bekel Pedukuhan Randulanang.”

Ki Ajar Poh Kecik lantas diam sesaat. Dia mengenal kebiasaan Ki Kamejing. Jika sebuah nama atau tujuan telah diucapkannya, maka biasanya ada pertimbangan yang matang dan kemungkinan besar tidak akan meleset. Baginya, bagian paling menarik dari Ki Kamejing adalah ketika dia menyatakan alasannya.

Maka Ki Ajar Poh Kecik pun bertanya, “Bagaimana mungkin? Kyai baru saja tinggal di Sangkal Putung, saya sedikit khawatir bahwa nama itu karena kedekatan tempat tinggal.”

“Tidak, Kyai,” jawab Ki Kamejing. “Orang ini dulunya hanya  bebahu pedukuhan hingga menggantikan Ki Gandung Jati yang mati dibunuh Raden Atmandaru. Pedukuhan jelas terguncang karena saat itu Sangkal Putung dalam tekanan. Kemunculannya ternyata dapat menenangkan banyak orang sehingga Ki Demang yang baru saja mangkat itu kemudian memberinya kepercayaan.”

Lantas Ki Kamejing mengisahkan ulang segala yang didengarnya tentang hubungan Ki Gandung Jati dengan Raden Atmandaru dari orang-orang Randulanang.

Ki Ajar Poh Kecik mengangguk, lalu diam cukup lama.

Dalam waktu itu, Ki Kamejing pun menerangkan menerangkan jalan pikirannya dengan hati-hati. Dia tidak ingin ada kesalahan yang ahirnya mengembalikan mereka pada kisah serupa di masa lalu: benturan keras dengan Agung Sedayu.

Ki Surodipuro memang mempunyai kelebihan, menurut Ki Ajar Poh Kecik, dalam benaknya. Selain usia, dia juga diterima banyak orang karena supel dan ramah. Sekalipun ketegasan itu menjadi bagian penting, tapi ketegasan itu mampu dibungkus dengan penyampaian yang masuk akal dan dapat diterima banyak orang.

Ketidakpercayaan terhadap seorang pemimpin pada akhirnya dapat dikikis oleh kerja nyata. Ki Surodipuro telah membuktikan hal itu. Dia tidak berusaha merebut kepercayaan dengan kata-kata atau menjanjikan perubahan yang belum tentu dapat diwujudkan. Dia  bekerja, mengambil keputusan, dan menunjukkan bahwa keberadaannya memang membawa ketenteraman bagi orang-orang yang dipimpinnya. Perlahan-lahan, keraguan pun tergantikan oleh keyakinan bahwa pedukuhan berada di tangan yang tepat.

“Bahkan oleh sebagian orang, kematian Ki Gandung Jati sendiri dianggap karunia terselubung,” tutup Ki Kamejing.

Ki Ajar Poh Kecik mengangguk. “Apakah Kyai sudah merasa cukup dengan beberapa bahan dan pemikiran ini?”

“Untuk sementara, ya,” sahut tegas Ki Kamejing. “Sesudah peristiwa itu, Ki Surodipuro dapat dianggap sudahh menduduki tempatnya sebagai bekel sampai kemudian Ki Demang memberi kancingan. Menurut saya, keadaan semacam itu patut kita perhatikan. Kepercayaan dari Ki Demang adalah sesuatu yang mahal yang dapat kita manfaatkan.”

Ki Ajar Poh Kecik menarik napas panjang. Dia pun dapat melihat arah pikiran Ki Kamejing. Mereka tidak harus mendekati orang yang paling berkuasa atau mencari jalan langsung menuju pusat pemerintahan Sangkal Putung. Barangkali justru dari seorang bekel di pedukuhan, mereka dapat menemukan jalan masuk yang lebih wajar.

“Jadi, menurutmu, kita harus mendekati Ki Surodipuro?” tanyanya.

“Setidaknya kita mulai dengan mengenal keadaan Randulanang lebih dekat, Kyai,” jawab Ki Kamejing. “Jika Ki Surodipuro dapat diajak berbicara dan ternyata mempunyai kepentingan yang sejalan dengan kita, jalan kita tentu akan lebih mudah. Tetapi jika tidak, kita masih mempunyai Pedukuhan Janti sebagai pertimbangan berikutnya.”

Ki Ajar Poh Kecik kembali terdiam lalu berkata, “Tongkat Ki Jambuwok ternyata lebih suka jalan memutar.”

Ki Kamejing mengangguk pelan. Katanya kemudian, “Saya tidak melihat jalan lain, Kyai. Sebab kekerasan yang akhirnya membawa kita kembali pada Agung Sedayu. Itu melelahkan. Kekerasan, lagi dan lagi seolah kita tidak mampu mencari jalan lain.”

Mereka diam beberapa saat sebelum Ki Kamejing berkata lagi, “Kyai, cobalah pertimbangkan Sekar Mirah. Dengan tidak ditunggui oleh suami dan akibat-akibat yang dapat muncul karena kedudukan suaminya, bukankah itu juga menjadi jalan yang lain lagi?”

“Apakah Kyai juga mencoba mendekat ke sana?”

“Kita lihat nanti dan ditimbang kembali: apa yang dapat diberikan Sekar Mirah pada kita? Saya sedang menunggu saat-saat itu,” ucap Ki Kamejing.

Ki Ajar pun mengangguk dalam-dalam. Kali ini Ki Kamejing memang tampak berbeda dari cara yang dikenal olehnya sebelum itu. Lebih telaten dan sabar, tanpa pengerahan kekuatan dan pertaruhan hidup banyak orang, mungkin. Baginya, keputusan awal itu sudah merupakan langkah yang cukup berarti. Mereka tidak perlu tergesa-gesa. Yang terpenting adalah menemukan celah, lalu masuk melalui jalan yang tidak segera menimbulkan kecurigaan.

Hari-hari berkabung di Sangkal Putung pun berangsur kembali menjadi wajar. Menginjak sekitar hari yang kedua puluh atau mungkin lebih dari itu, para pemimpin pedukuhan dan bebahu kademangan mulai tampak berkumpul di rumah Ki Demang Sangkal Putung.

Kedatangan mereka tidak berlangsung serentak. Ada yang datang sejak pagi, ada pula yang baru muncul ketika matahari mulai meninggi. Sebagian langsung menuju pendapa, sementara yang lain lebih dahulu menemui beberapa orang yang telah berada di tempat itu.

    • Jika Ki Kamejing mencoba menghindari Agung Sedayu, Ki Suladra justru berpendapat lain. Menurutnya, mengalahkan Agung Sedayu lalu membunuhnya adalah kenikmatan yang berbeda. Sensasi yang sangat mahal. Jati Anom Obong 48 membicarakan itu.
    • Kemudian Gumilang berkata tapi bukan pada Agung Sedayu maupun Ki Suladra, “Salah seorang dari Anda akan terbunuh atau terluka, sementara Anda berdua adalah ayah dan anak. Dan saya berada di sini, di tengah perkelahian Ki Sanak berdua agar tidak ada seorang pun yang mendapatkan nasib buruk.” Pertempuran Hari Kedua 3.

    Related Posts

    error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.