Dironda 27 kali
Wedaran sebelumnya: Ki Ajar Poh Kecik dapat mengerti arah siasat tersebut, termasuk kemungkinan mendekati Sekar Mirah. Dia setuju Ki Kamejing memilih jalan yang lebih sabar dan berhati-hati, mencari celah tanpa kekerasan agar tujuan mereka tercapai tanpa menimbulkan kecurigaan.
Mereka berbicara seperlunya, dengan suara yang tidak terlalu keras. Namun, dari cara mereka saling bertukar pandang, tampak bahwa kedatangan mereka bukan sekadar untuk mengenang orang yang telah tiada.
Di bagian belakang rumah, Sekar Mirah tampak sibuk mengatur orang-orang yang bertugas menyiapkan hidangan. Dia tidak ingin ada yang terlewat dari pertemuan penting itu. Martabat keluarganya akan juga ditakar dari hidangan yang dikeluarkan. Sederhana tapi seluruhnya terlihat ngajeni orang-orang yang datang dari jauh.
Maka Sekar Mirah pun memastikan segala sesuatunya tersedia, mulai dari tempat duduk bagi para tamu hingga makanan dan minuman yang akan disajikan. Ada banyak hal kecil yang harus diperhatikan. Seseorang harus mengambil air, yang lain mengatur peralatan, sementara beberapa orang masih harus diberi petunjuk tentang apa yang perlu dikerjakan.
Dia tidak sendirian dalam perkara itu. Agung Sedayu tampak pula kali membantunya mengatur pekerjaan yang belum terselesaikan di sela pekerjaannya di barak pasukan khusus. Tumenggung Mataram ini memang sempat ke Tanah Perdikan untuk beberapa waktu lalu kembali lagi ke Sangkal Putung.
Dalam waktu itu, Swandaru pun ikut turun tangan. Meskipun kedudukannya sebagai anak Ki Demang membuat banyak orang memandangnya dengan sikap berbeda, dia tidak menunjukkan keinginan untuk dilayani secara khusus.
“Cobalah yang di sebelah timur itu tempat duduknya tidak terlalu rapat,” kata Sekar Mirah kepada seorang perempuan yang sedang mengatur tikar. “Nanti kalau semua sudah berkumpul, orang akan kesulitan bergerak.”
Perempuan itu mengangguk, lalu segera memperbaiki susunan tikar.
Sementara itu, Swandaru mengangkat sebuah bangku yang masih menghalangi jalan menuju pendapa. Agung Sedayu sempat memperhatikannya, tetapi tidak mengatakan sesuatu. Dia memang akan mengajaknya bicara, suatu saat. Dia paham bahwa adik seperguraunnya itu mungkin lebih memilih menyibukkan diri daripada duduk diam menghadapi pandangan dan pertanyaan orang-orang yang datang.
Menjelang tengah hari, sebagian besar tamu telah berada di pendapa. Percakapan kecil masih terdengar di sana-sini, tetapi suasana perlahan berubah. Beberapa orang mulai menempati tempat duduk yang telah disediakan. Para pemimpin pedukuhan tampak saling mendekat, sedangkan para bebahu kademangan menunggu sampai semua orang yang dianggap perlu hadir.
Sekar Mirah akhirnya dapat menarik napas sejenak. Dia memandang ke arah pendapa, memastikan bahwa tidak ada lagi keperluan mendesak yang terlewatkan.
Agung Sedayu berdiri tidak jauh darinya.
“Sepertinya sudah cukup,” katanya.
Sekar Mirah mengangguk. “Mudah-mudahan tidak ada yang kurang.”
“Kalau ada yang kurang, tentu masih bisa diusahakan.”
Jawaban itu membuat Sekar Mirah tetap tidak dapat membuat Sekar Mirah tersenyum. Dia kemudian menatap lurus pada Swandaru yang berdiri di dekat salah satu tiang pendapa.
Sejak kepergian ayahnya, ada sesuatu yang berubah dalam diri Swandaru. Dia memang masih orang yang sama, tetapi seolah-olah ada beban yang belum dapat diletakkan. Sekar Mirah sadar dan tahu bahwa beban hari itu justru jauh lebih berat bagi Swandaru dibandingkan dirinya dan Agung Sedayu.
Di pendapa, salah seorang pemimpin pedukuhan mulai berbicara dengan orang di sebelahnya. Percakapan mereka segera menarik perhatian beberapa orang lain. Tidak lama kemudian, suara-suara yang semula bersahutan perlahan mereda.
Pertemuan itu tampaknya sudah dimulai.
Agung Sedayu memandang orang-orang yang duduk menghadap kepadanya sebelum mulai berbicara.
“Saya bersedia memimpin pertemuan ini karena bebahu sekalian memang menghendakinya. Tetapi, saya ingin mengingatkan bahwa saya datang ke Sangkal Putung bukan untuk menentukan penggganti atau penerus Ki Demang. Saya hanya datang untuk membantu kalian serta menyaksikan bebahu dan Ki Sanak sekalian menemukan keputusan yang sebaik-baiknya bagi kademangan ini.”
Agung Sedayu berhenti sejenak lalu meneruskan lagi, “Saya memahami bahwa ada beberapa nama yang pantas untuk mempimpin kademangan ini. Mereka semua mempunyai kecakapan, pengalaman serta ketegasan yang dapat dipertimbangkan. Karena itu, saya harap tidak ada suara atau seseorang yang akan mengatakan bahwa salah seorang lebih pantas daripada yang lain sebelum mendengar alasan yang mengemuka.”
Tumenggung Mataram ini kemudian mengalihkan pandangannya kepada Swandaru. Dia berkata pula, “Namun, ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan. Swandaru adalah anak Ki Demang yang telah meninggal. Dia bukan orang yang kebetulan berada di sini ketika kita membicarakan kepemimpinan Sangkal Putung. Kedudukannya dalam persoalan ini tidak dapat diabaikan. Saya akan menjadi orang pertama yang menentang keputusan Ki Sanak sekalian bila hal tersebut diabaikan.”
Beberapa orang mengangguk, sementara yang lain mendengarkan dengan saksama.
“Saya tidak mengatakan bahwa keputusan harus mengikuti kehendak Swandaru. Saya juga tidak mengatakan bahwa dia harus menerima tanggung jawab yang mungkin belum ingin dipikulnya. Tetapi, segala keputusan yang akan diambil, kita harus mendengar pendapatnya terlebih dahulu. Jadi, maksud saya adalah Swandaru adalah orang yang juga mempunyai hak untuk didengarkan pula.”
Agung Sedayu menyapu wajah orang-orang yang hadir.
“Ki Demang telah mengabdikan hidupnya bagi Sangkal Putung. Kita tentu ingin menjaga yang telah dibangunnya. Karena itu, jangan sampai keputusan hanya didasarkan pada siapa yang paling cakap atau siapa yang mendapat dukungan paling banyak. Kita harus mempertimbangkan pula keadaan Sangkal Putung, kehendak orang-orang yang tinggal di dalamnya, dan kesediaan orang yang akan menerima tanggung jawab itu.”
Agung Sedayu mengakhiri perkataannya dengan suara yang tetap tenang. Katanya lagi, “Biarlah kita mendengar semua pendapat. Biarlah setiap orang mengemukakan pertimbangannya. Tetapi, jangan mendahului keputusan sebelum kita benar-benar paham dengan yang sedang kita putuskan.”
Demikianlah keadaan Agung Sedayu saat berada di depan pertemuan. Sebagian besar bebahu kademangan memandang perlu ada orang dari luar Sangkal Putung yang dapat berpikir jernih. Ditambah kedudukan Agung Sedayu sebagai tumenggung Mataram, maka sedikit sekali orang yang mengajukan keberatan.
Maka pertemuan pun dibuka.
Masing-masing orang kemudian mengajukan pendapat. Ada yang menyebut nama Ki Jaya Binangun secara langsung, ada pula yang mengajukan Ki Surodipuro. Keduanya adalah paman Swandaru dan sama-sama dikenal cakap dalam menjalankan tugas.
Perbantahan berlangsung panjang. Masing-masing mengemukakan alasan dan pertimbangannya, tetapi semuanya tetap dalam suasana yang adem. Kadang-kadang muncul sedikit senda gurau tapi tidak ada suara yang meninggi, apalagi kata-kata kasar. Namun, di balik pendapat yang disampaikan dengan tenang itu, tersimpan pertimbangan yang tidak semuanya diucapkan.
Beberapa orang tampak lebih berhati-hati ketika menyebut nama salah seorang calon. Ada pula yang baru mengemukakan pendapat setelah mendengar pandangan orang lain. Sesekali, pandangan mereka bertemu sebelum beralih kembali kepada pembicaraan. Tidak seorang pun menunjukkan sikap bermusuhan, tetapi tidak pula mudah mengubah pendiriannya.
Nama Swandaru sendiri tidak banyak disebut. Padahal, hampir semua orang memahami bahwa kedudukannya sebagai anak Ki Demang yang telah meninggal membuat namanya sulit diabaikan. Namun dia sadar dengan ganjalan yang ada sebelumnya. Maka dia memang diam meski beberapa orang mungkin menunggu pendapatnya. Hingga titik itu, Swandaru tidak memberi tanda bahwa dirinya akan ikut dalam perbantahan itu.
Hingga matahari mulai condong ke barat, belum juga tercapai kesepakatan. Akhirnya, pembicaraan ditunda untuk dilanjutkan keesokan hari. Tidak ada yang menyatakan keberatan, meskipun beberapa orang tampak belum puas dengan hasil hari itu.
Malamnya, sebagian tamu pulang dengan janji akan kembali esok hari. Sebagian lainnya memilih menginap karena memiliki kerabat di pedukuhan induk. Mereka berpisah dengan sikap yang tetap bersahabat. Namun, pembicaraan tentang Ki Jaya Binangun dan Ki Surodipuro agaknya belum berakhir bersama pertemuan itu.
- “Kiai!” seru Ki Sudira, “kami tidak ingin dicincang oleh segerombol anjing liar yang ternyata menghuni Kiai Plered 51.
- Sementara Benturan Lereng Gunung Wilis 6 semakin membadai. Nyaris bersamaan dengan jatuhnya Ki Swandanu, Jalutama tertekan dengan serangan hebat dari Ki Wandira.
