Dironda 20 kali
Pondok Bambu, 2020
Suryani pertama kali melihat pintu itu bergerak pada suatu sore di bulan November 2020 ketika datang berkunjung ke rumah tetangganya.
Rumah itu berdiri di tengah gang sempit, di antara rumah-rumah yang dindingnya saling berdekatan. Bukan rumah tua yang menyeramkan, bukan pula rumah orang alim yang setiap sudutnya dipenuhi ayat-ayat suci. Penghuninya keluarga biasa. Mereka bekerja, makan, tidur, bertengkar sesekali, lalu berdamai seperti kebanyakan orang.
Siang itu, Suryani datang untuk mengantarkan sebungkus makanan kepada seorang kerabat yang tinggal di sana. Baru saja dia meletakkan sandal di teras, terdengar suara berderit dari arah belakang.
Pintu belakang terbuka lalu menutup kembali.
Suryani menoleh. Tak ada seorang pun di dapur. Jendela-jendela tertutup. Tirai tidak bergerak. Dia mengira angin menyusup dari celah dinding. Namun, ketika dia melangkah ke ruang tengah, pintu itu kembali bergerak. Terbuka lalu menutup lagi. Terbuka lagi lalu kembali menutup. Begitu seterusnya berulang.
“Pintunya rusak, ya?” tanyanya kepada kerabatnya.
Perempuan itu hanya mengangkat bahu. “Entahlah. Dari dulu begitu.”
“Engselnya longgar?”
“Sudah diperiksa.”
Suryani menunggu penjelasan lebih lanjut, tetapi kerabatnya malah sibuk menata makanan di meja. Seolah-olah pintu yang membuka dan menutup sendiri merupakan hal biasa sama wajarnya dengan suara ayam dari pekarangan tetangga.
Pada kunjungan berikutnya, Suryani datang siang hari.
Matahari bersinar terik. Udara di dalam rumah terasa pengap. Dia duduk di ruang tengah sambil memperhatikan pintu belakang. Tidak ada angin. Tidak ada orang yang melintas.
Pintu itu diam selama beberapa menit.
Suryani mulai merasa dirinya telah membesar-besarkan kejadian sebelumnya.
Kemudian terdengar bunyi kecil. Pintu terbuka perlahan, seolah ada tangan yang menariknya dari luar. Setelah terbuka selebar tubuh manusia, pintu itu berhenti sesaat, lalu kembali menutup dengan gerakan lambat.
Suryani berdiri dan memeriksa bagian belakang rumah. Kosong. Hanya ada sumur, beberapa pot tanaman, dan tembok pembatas yang berbatasan dengan rumah tetangga. Dia mencoba mendorong pintu, lalu melepaskannya. Pintu bergerak sedikit, tetapi tidak sampai terbuka lebar. Ia memeriksa engsel, kait, dan lantainya. Semuanya tampak wajar.
Ketika kembali ke ruang tengah, dia mendengar pintu itu bergerak lagi. Terbuka dan menutup.
Sore itu, sebelum pulang, dia bertanya kepada kerabatnya, “Apa pernah ada orang meninggal di rumah ini?”
Kerabatnya menggeleng.
“Tidak ada kejadian aneh?”
Perempuan itu terdiam sebentar.
“Pernah suatu kali,” katanya akhirnya, “suamiku mengunci pintu itu dari dalam. Kami semua duduk di ruang tengah. Tiba-tiba pintunya terbuka. Padahal kuncinya masih terpasang.”
“Lalu?”
“Ketika kami periksa, tidak ada siapa-siapa.”
Suryani tidak bertanya lagi.
Beberapa hari kemudian, dia datang kembali. Kali ini datang sambil mengajak seorang tukang untuk memeriksa pintu tersebut. Engsel diperbaiki, kait diganti, dan kusen diperiksa dengan teliti.
Pintu itu tidak bergerak selama dua hari.
Pada hari ketiga, Suryani datang menjelang sore. Dia baru saja masuk ketika terdengar suara dari belakang.
Pintu terbuka. Menutup. Terbuka lagi.
Tukang yang memperbaikinya berdiri mematung. Wajahnya pucat.
“Bu,” katanya lirih, “saya yakin kemarin pintu ini sudah beres.”
Suryani tidak menjawab. Dia menatap celah pintu yang kini terbuka selebar telapak tangan.
Dari arah belakang, terdengar suara ketukan.
Suryani menahan napas.
Lalu terdengar suara seorang perempuan dari balik pintu. “Permisi. Saya mau masuk.”
Tukang itu berlari ke teras.
Suryani tetap berdiri di tempatnya, tak sanggup menggerakkan kaki.
Sebab suara itu sangat dikenalnya. Suara itu adalah suaranya sendiri.
- Bergeraklah sekali[pun sampai ke lereng Gunung Wilis 4. Seseorang di sana tidak menyangka lawannya dapat melakukan putaran sulit dalam kecepatan yang sulit dimengerti. Dua kaki Bondan menuju dua tempat yang berbeda
- Tiba-tiba Dharmana berteriak, memberi perintah yang mengejutkan. “Orang-orang Sangkal Putung! Mundur!” Mundurlah sampai Kiai Plered 49. Patuhi perintah Dharmana, kepala pengawal Kademangan Sangkal Putung.
