Derap langkah Arya Penangsang teredam oleh hiruk pikuk halaman luar istana. Dia tidak tergesa, setiap tapak kakinya terukur menyatu dengan denyut kota yang tak lagi asing. Perasaan Adipati Jipang itu merasakan ada sesuatu yang hilang dari kota. Tapi, apakah itu hanya perasaanya saja?
Di bawah sorot matahari yang lingsir ke barat, halaman istana Demak terbentang luas dengan hamparan tanah yang dipadatkan, diapit bangunan-bangunan beratap limasan dan tajug yang menyiratkan kewibawaan kekuasaan.
Pandangan Arya Penangsang terhenti sejenak ketika matanya menangkap sosok yang berdiri agak terpisah di bagian dalam halaman. Seorang lelaki berusia matang, berpakaian sederhana tapi bersih, dengan ikat kepala yang dililit rapi. Di tangannya tergenggam sebatang sapu yang terbuat dari jerami. Tak banyak orang memperhatikan lelaki itu, tapi bagi Arya Penangsang, orang itu adalah kejutan besar!
“Kyai Rontek,” gumamnya nyaris tanpa suara.
Nama itu bergetar di dalam benaknya, membawa ingatan pertempruan berdarah di luar kota Pajang. Sebuah pembunuhan yang gagal. Arya Penangsang tahu, lelaki itu bukan sekadar abdi biasa. Dia turun tangan langsung dalam usaha yang nyaris merenggut nyawa Adipati Hadiwijaya.
Gagal tapi tidak pernah benar-benar tersingkir.
Dalam jangkauan pandangannya, Kyai Rontek berdiri di halaman istana Demakdan itu adalah peringatan bahaya bagi semua kerabat dan pengikut setia Raden Trenggana. “Badai belum mereda,” ucap Arya Penangsang dalam hati.
Arya Penangsang menundukkan kepala sedikit, menyembunyikan kilatan di matanya. Dia tak boleh dikenali untuk waktu yang dekat. Berita duka belum tiba di ibukota. Seandainya istana sudah menerima kabar, tapi mereka masih membutuhkan waktu untuk persiapan dan segala sesuatu sebelum menyatakan terbuka pada rakyat Demak.
Putra Pangeran Suryawinata tersebut telah menyiapkan penyamaran sejak melewati gerbang kota. Pakaian kebesaran Adipati Jipang telah ditanggalkan jauh sebelum memasuki Demak. Kini dia mengenakan busana seorang saudagar kecil dari pesisir utara: kain lurik polos, baju berlengan panjang berwarna kusam, dan penutup kepala sederhana. Sebilah keris kecil terselip di pinggang, disamarkan sebagai pusaka keluarga, bukan senjata bangsawan.
Sambil mengayun langkah, pikiran Arya Penangsang tetap bertanya-tanya ; apakah Pangeran Benawa sudah berada di ibukota? Bersama siapakah dia? Langkahnya kemudian berbelok, menghindari jalur utama halaman, memilih sisi yang lebih sepi. Di sana tampak beberapa prajurit berjaga, tapi perhatian mereka terbagi pada lalu lintas orang-orang yang keluar masuk istana. Arya Penangsang memanfaatkan keadaan lalu menyatu dengan rombongan kecil pembawa barang yang hendak masuk ke pendapa dalam. Dengan nada rendah dan wajah menunduk, dia menyebutkan urusan dagang kain kepada seorang penjaga.
Namun upayanya gagal.
Penjagaan ternyata jauh lebih ketat. Prajurit jaga tidak mengenal nama orang yang disebut oleh Arya Penangsang sebagai pelanggan. Sekali lagi, apakah berita duka sudah mencapai kedalaman istana sehingga penjagaan diperketat atau Adipati Hadiwijaya menerapkan standar lebih tinggi? Arya Penangsang tidak segera menemukan jawaban.
Melalu cara tertentu agar tidak mencurigakan, Adipati Jipang tersebut mencari tahu dari orang-orang yang datang dari arah Pajang mengenai Pangeran Benawa. Hingga hari mencapai sore, Arya Penangsang juga belum mempunyai jawaban, mengapa hanya Pangeran Benawa saja yang dipikirkan olehnya? Tapi, baiklah, Adipati Jipang tersebut teguh mengikuti naluri alamiah.
Malam pun tiba dengan keteraturan yang menakjubkan.
Kemampuan puncak pun dikerahkan tapi kewaspadaan adalah kewajiban yang harus tetap tersemat padanya. Tubuh Arya Penangsang begitu ringan melompati dinding batu halaman istana. Meluncur deras di antara sela-sela tanaman di halaman yang agak ke dalam. Begitu melewati batas taman, suasana berubah. Bangunan istana bagian dalam lebih teratur, lebih senyap, dan terasa mencekam. Setiap dinding kayu seolah menyimpan bisik-bisik masa lalu. Arya Penangsang berhenti sejenak, mengatur napas, lalu melangkah kembali. Tujuannya jelas: mencari Pangeran Benawa.

Di atas langit masih ada langit.
Kehadiran Arya Penangsang dapat diketahui oleh sejumlah oran gsakti meski mereka tersekat banyak dinding dan terpisah jarak!
Selain Kyai Rontek, Adipati Pajang adalah tokoh sakti yang berkemampuan melampuai puncak nalar. Sekelebat bayangan memburu Arya Penangsang. Mereka berkejaran di atap bangunan, merayap pada dinding-dinding yan gtak mampu bicara tapi bersedia meresap suara.
Adalah Ki Getas Pendawa yang membayangi pergerakan hebat Arya Penangsang. Perbedaan usia memang cukup jauh tapi kehebatan ilmu meringankan tubuh Ki Getas Pendawa ternyata masih dahsyat!
“Wayah Penangsang?” tegur Ki Getas Pendawa yang akhirnya dapat membaca arah pergerakan Adipati Jipang tersebut.
“Eyang?” ucap lirih Arya Penangsang lalu berpaling pada sumber suara.
Tanpa kata-kata, Ki Getas Pendawa memimpin jalur pergerakan sunyi malam itu. Dia membawa Arya Penangsang ke tempat Pangeran Benawa beristirahat. Yah, sesepuh Pajang itu sangat memahami kedekatan paman dan keponakan tersebut. Jika Arya Penangsang mau, dia tidak mungkin masuk istana dengan cara menyusup. Tentu ada tujuan lain. Yang terkuat dan nyaris tak terbantah, menurut Ki Getas Pendawa, adalah Arya Penangsang sudah mengetahu kehadiran orang-orang Pajang lalu nalurinya akan membawanya ke Pangeran Benawa.
Di bagian timur istana, sebuah bangunan kecil tampak begitu tenang. Di sanalah Pangeran Benawa berdiam untuk sementara waktu selama di kotaraja. Malam belum begitu dalam, anak laki-laki itu tampak duduk di atas bale-bale kayu, ditemani seorang lelaki sepuh, Ki Kebo Kenanga atau Ki Buyut Mimbasara. Anak itu memperhatikan sekitar dengan sorot mata being dan wajah yang memencarkan rasa ingin tahu yang sanat besar.
Arya Penangsang berhenti beberapa langkah jauhnya. Hatinya berdesir. “Pangeran,” batinnya. Dia mendekat dengan sikap hormat seorang pedagang yang hendak menawarkan barang.
Ki Buyut Mimbasara menoleh lalu melempar senyum. “Wayah Pangeran.”
Arya Penangsang segera menundukkan kepala dan berbicara pelan. “Eyang.” Sejenak kemudian dia melihat Pangeran Benawa juga memandangnya dengan senyum lebar.
“Pangeran,” sapa Arya Penangsang dengan hati berbunga-bunga. Dia hanya keponakan tapi ada sesuatu yang istimewa dalam diri Pangeran Benawa yang membuatnya terpaku setiap kali meihatnya. Itulah yang membuatnya terlebih dulu mendekati Pangeran Benawa.
Dengan lengan membentang lebar, Jaka Wening atau Pangeran Benawa menyongsong Arya Penangsang. Mereka saling bersentuhan, tanpa kata tapi itu lebih dari cukup untuk mengungkap perasaan masing-masing. Kata-kata ringan segera mengapung di udara, menghangatkan suasana malam yang berselubung kabut. Ditemani Ki Kebo Kenanga dan Ki Getas Pendawa, kehangatan itu seakan enggan untuk pergi.
