Benturan keras kembali terjadi pada penghujung senja. Meski gelap belum sepenuhnya menebar jaring tapi pandangan anak buah Ki Malawi telah menjadi gelap seutuhnya. Senjata mereka terayun ganas diiringi teriakan-teriakan yang menggambarkan perasaan yang putus asa. Hanya saja, dari samping mereka, mendadak muncul sekelompok orang yang berkelahi dengan sangat kuat! Mereka ini adalah gabungan pasukan kotaraja dengan pengawal kademangan yang dipimpin oleh Dharmana. Serbuan yang tersusun dengan gelar yang sangat rapi itu terlampau deras! Arus mereka cukup kuat seperti banjir yang dapat menumbangkan sebatang pohon besar!
Sayoga kembali muncul menjadi pendorong yang luar biasa. Kehebatannya seolah-olah melebihi kemampuan pribadi setiap anak buah Ki Malawi. Ditambah semangat dan kekuatan yang seakan berlipat-lipat yang meledak dari kelompok Dharmana maka sehingga pertarungan pun berlangsung sangat singkat!
Tak hanya anak buah Ki Malawi, bahkan Ki Malawi sendiri pun tidak mampu bertahan. Dia jatuh terkulai lalu tubuhnya terinjak-injak orang-orang yang bertempur di sekitarnya!
Pandan Wangi tak berdaya untuk menyelamatkan Ki Malawi. Dia hanya dapat memberi perintah mundur pada Dharmana. Dharmana dengan berhati-hati mengikuti perintah Pandan Wangi. Dia tidak ingin menyinggung beberapa orang yang tampak ingin mencincang habis para pemberontak, maka kata-katanya pun tidak terdengar seperti perintah untuk mundur.

Sedapnya membuat ketagihan. Gunakan merk ini untuk menajga kesetiaan pelanggan warung atau depot Anda.
“Mereka sudah tidak berdaya dan terjepit. Beri kelonggaran!” seru Dharmana. Tapi yang terjadi justru di luar perkiraan Pandan Wangi dan harapan Dharmana. Anak buah Ki Malawi malah menjemput ajal dengan cara mengerikan! Mereka tiba-tiba membuang senjata lalu menempatkan tubuh searah dengan senjata lawan. Itu seperti bunuh diri tapi meminjam tangan orang lain!
Belasan tubuh pun tumbang. Nyawa-nyawa melayang dengan cara yang menyedihkan! Di atas tanah dan lumpur Watu Sumping, darah pun menggenang. Beberapa pengawal hanya dapat memandang tubuh-tubuh yang membujur lintang dengan tatap mata terpana. Mereka tidak mengerti alasan lawan-lawannya berbuat nekad seperti itu. Sebagian yang lainnya tampak mengusap wajah berulang-ulang dengan iringan tatap mata sedih.
“Marilah, bagaimanapun mereka masih pantas untuk mendapatkan penghormatan untuk terakhir kali,” ucap Dharmana lalu mengangkat satu mayat sambil dibantu pengawal di dekatnya.
“Hentikan!” teriak Swandaru. “Siapa suruh kalian menghormati pengkhianat itu? Apakah pantas bagi pemenang perang untuk merangkak di antara mayat yang bergelimpangan? Apakah pantas?”
Dharmana menunduk, lalu berkata perlan, “Mereka juga manusia seperti kita, Ki. Mereka dan kita sama-sama tidak mempunyai pilihan lain.”
“Ada, jadi tinggalkan saja mayat mereka di tempat ini!” Swandaru berteriak lagi lalu menggerakkan tangan seperti mengusir Dharmana dari tempat itu.
Pandan Wangi memandang sikap suaminya itu dari jarak yang cukup lalu menyapu wajah orang-orang di sekitar mayat yang bergelimpangan. Ketika tatap matanya beradu dengan Dharmana, Pandan Wangi memberi isyarat agar mereka menuruti keinginan Swandaru. Oleh sebab tidak tahan dengan sikap Swandaru yang menurutnya sulit diterima akal sehat, Sambil membawa serta perasaan getir dan malu, Pandan Wangi pun menjadi orang pertama yang meninggalkan kerumunan, lalu Sayoga kemudian diikuti Dharmana dan kawan-kawannya.
Sayoga melambatkan langkah hingga Dharmana berjalan di sampingnya. Kata Sayoga, “Setidaknya kita telah berusaha memberi penghabisan yang terbaik untuk mereka.”
Dharmana menarik napas panjang. Dia mengangguk lalu berucap dengan nada sesal, “Yah, setidaknya seperti itu.”
Swandaru sendiri melangkah gontai di antara mayat-mayat yang basah dengan darah. Dia membawa pasukan kecilnya berjalan ke arah pedukuhan induk, kemudian berhenti di ujung jalan masuk yang mengarah pada pusat pedukuhan.
Dari tempatnya, Sabungsari hanya memandang akhir peristiwa itu sambil termangu-mangu. Demikian pula Pangeran Selarong yang tiba-tiba menjadi gelisah atas sikap yang diperlihatkan Swandaru di bawah tatapan mata banyak orang. Sejenak kemudian, putra mendiang raja Mataram itu berjalan menghampiri Sabungsari.
“Apakah Ki Rangga juga melihat akhir yang menyedihkan ini?” tanya Pangeran Selarong pada Sabungsari.
“Kita sama-sama tidak mempunyai jawaban, Pangeran,” jawab Sabungsari dengan lirih. Selintas kenangan berjalan di dalam pikirannya. Pada masa lalu, Swandaru bahkan lebih kejam ketika mengakhiri pertarungan melawan Gandu Demung. Sabungsari mengusap lengannya yang tiba-tiba meremang.
“Ada apakah Ki Lurah?”
“Tidak, tidak ada apa-apa, Pangeran,” jawab Sabungsari lalu cepat-cepat mengalihkan pandangannya pada seluruh arah.
Di tempat-tempat lain, pertanyaan Pangeran Selarong pun bermunculan dengan nada nyaris serupa. Dalam waktu singkat, sikap Swandaru menjadi perbincangan diam-diam di antara pengawal dan pasukan dari kotaraja serta Jati Anom. Namun demikian, agar perbincangan itu tidak berkembang menjadi liar, maka para ketua kelompok segera mendinginkan suasana bahwa sikap Swandaru bukan menjadi tanggung jawab masing-masing orang.
“Kita tinggalkan saja urusan itu,” kata seorang ketua kelompok. “Nyi Pandan Wangi, Ki Rangga serta Ki Demang lebih berhak memberikan pendapat dari kita semua yang ada di sini.”
Namun demikian, mereka tetaplah orang biasa Perbincangan masih bergulir sekalipun sudah disambi dengan melakukan sejumlah pekerjaan. Demikianlah melewati malam yang terasa panjang dengan beberapa kegiatan. Beberapa orang tampak mengambil waktu untuk istirahat. Sebagian orang tampak merapikan tempat-tempat perbekalan dan membersihkan senjata. Sebagian lagi masih rapat berjaga dan meronda
Malam telah melewati pertengahan. Bintang-bintang tampak seperti riasan malam. Begitu pula suara jangkrik dan tonggeret yang meramaikan malam dengan nada-nada gembira. Dari kejauhan terdengar suara kentongan yang berasal dari beberapa dusun di sekitar Watu Sumping. Jarak waktu perondaan pun masih berlangsung cukup rapat di lingkungan pedesaan, termasuk di pedukuhan induk.

Jangan Menyerah dengan Diabetes dan Penyakit Lainnya. Sorgum adalah teman setia.
Suasana pedukuhan induk terasa sama sekali jauh berbeda dengan Watu Sumping. Di salah satu bangunan di lingkungan rumah Ki Demang Sangkal Putung, Sekar Mirah rebah di samping putrinya yang masih usianya masih hitungan bulan. Rasa damai jelas terpancar dari wajah mungil bayi mungil yang pulas berbantal lengan Sekar Mirah. Menempati sebuah ruangan yang terletak di halaman belakang, Sekar Mirah benar-benar mendapatkan ketenangan yang cukup. Segala kesibukan terjadi di halaman depan sampai pringgitan. Ki Demang dan istri juga telah dipindahkan oleh Pandan Wangi ke salah satu rumah bebahu kademangan. Secara keseluruhan, hanya Sekar Mirah dan putrinya saja yang berada di kediaman Ki Demang Sangkal Putung. Mereka berdua berada di dalam pengawasan dan penjagaan para pengawal kademangan.
Malam itu, putri Sekar Mirah benar-benar tidur nyenyak. Hanya Sekar Mirah yang masih melayangkan pikiran pada kemungkinan-kemungkinan yang dapat dialami oleh Agung Sedayu, Pandan Wangi, Swandaru dan orang-orang lainnya. “Sudah barang tentu mereka tetap harus menyempatkan diri untuk beristirahat. Perjalanan ini belum benar-benar berakhir seandainya mereka dapat mengalahkan pasukan lawan di Watu Sumping,” ucap Sekar Mirah dalam hati.
Di balik kesuraman malam, beberapa bayangan berlompatan secepat lontaran anak panah. Sekali-kali mereka merunduk ketika para perondan melintas di dekat mereka. Kadang-kadang para pendatang gelap itu menyatukan diri pada batang pohon untuk melindungi keberadaan diri. Mereka datang dari banyak arah. Satu atau dua tampak datang dari arah Watu Sumping. Sementara yang lain berdatangan dari berbagai jurusan. Sepertinya mereka sedang berusaha mencapai sasaran yang sudah ditetapkan ; rumah Ki Demang Sangkal Putung!
