Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 114 – Glagah Putih Bertemu Musuh Lama?

Pengiring Ki Sor Dondong menggeleng. Mereka sudah mengenal baik orang itu maka harta atau kedudukan sudah bukan lagi menjadi incaran. Pemahaman tunggal bahwa Raden Atmandaru adalah orang yang seharusnya menduduki tahta Mataram begitu kuat menancap hingga alam bawah sadar. Mereka berjuang untuk itu. Mereka akan bertarung demi kejayaan Mataram dan Raden Atmandaru!

“Kita melebar,” perintah Ki Sor Dondong pada pengiringnya. “Atur jarak tak lebih dari dua puluh langkah untuk setiap orang.”

Kebanyakan anak buah Ki Sor Dondong sudah teruji jiwani dan kemampuan masing-masing dalam pertempuran, maka perintah itu segera dipahami agar mereka tidak mudah dibekuk dalam satu pukulan. Penyebaran berjajar berarti juga peluang untuk menyerang balik dengan kecepatan yang sama atau lebih baik dari lawan.

Sementara itu, satu pengamat kemudian meneruskan laporannya ke perkemahan induk di lereng Gunung Kendil. Seorang lagi tampak bergabung ke dalam pasukan Ki Sor Dondong.

Hari masih cukup jauh dari pagi saat regu Glagah Putih telah berjaga di sela-sela pepohonan yang berbaris tak rapi. Mereka mengintai dalam senyap hingga seolah-olah bahkan tidak bernapas!

Jarak dua pasukan itu semakin dekat, mungkin terpisah kurang dari dua puluh langkah.

Ketegangan dalam hati dan pikiran tiap orang pun meningkat karena lawan dapat menyerang dari setiap arah, bahkan bukan tidak mungkin ada yang bersembunyi di atas pohon! Mungkin sudah berada di samping, depan atau belakang! Tidak ada yang berani menduga karena hutan benar-benar begitu gelap hingga melihat telapak tangan sendiri pun susah!

Tiba-tiba terdengar bunyi yang menyerupai suara burung malam mendecit tajam!

Itu perintah dari Ki Sor Dondong agar anak buahnya menghentikan langkah lalu meratakan tubuh dengan permukaan tanah.

Glagah Putih berpikir keras, menduga-duga alasan hilangnya desir langkah kaki dari udara. Apakah terkait dengan decit yang cukup tajam itu? pikirnya. Maka dia pun menirukan bunyi lain dari binatang malam sebagai aba-aba yang dipahami orang-orangnya.

Mereka, dua kubu yang siap saling menyerang,  segera diam pada tempat masing-masing. Membeku dalam dekap udara dingin yang menusuk tulang.

Ki Jayaraga – Dusun Benda

Saat memasuki Dusun Benda pada siang hari, Ki Jayaraga memutuskan untuk berhenti dan bermalam di wilayah yang berbukit-bukit itu. Pada jarak lebih dari lima ribu langkah dari tempat Glagah Putih menjaga wilayah, Ki Jayaraga duduk seorang diri di depan salah satu gardu jaga yang berdekatan dengan kediaman bekel dusun. Guru Glagah Putih tersebut kemudian berkeliling dusun untuk mengamati lingkungan sekaligus juga meraba siasat Agung Sedayu yang penuh kejutan.

Mengosongkan gardu, apakah itu merupakan perangkap bagi lawan agar terpancing keluar lalu menyergap mereka? Dengan kekuatan seperti apa untuk melakukan itu? Sedangkan kemampuan pengawal dusun-dusun sudah pasti berada di bawah lawan. Baiklah, Ki Jayaraga menduga, kekuatan dusun dapat ditunjang dengan sebaran pasukan khusus yang jumlahnya sudah pasti tidak mencukupi. Tapi, pertanyaan selanjutnya adalah seberapa cepat pasukan khusus dapat mencapai dusun-dusun terpencil? Mungkinkah senapati Mataram tersebut melepas daerah tersebut lalu merebutnya di lain waktu? Ki Jayaraga menjawab dengan gelengan kepala. Biaya yang dikeluarkan terlalu tinggi karena itu hanya pengulangan yang sangat buruk, pikirnya.

Ki Jayaraga hanya menemukan jalan buntu saat mencari dasar pemikiran Agung Sedayu terkait pengosongan gardu jaga. Maka dia beralih pada pertukaran pengawal dengan pasukan khusus. Itu, untuk tujuan apakah? Pertukaran orang  bukan menjadi rencana yang disampaikan Agung Sedayu padanya. Ki Jayaraga pun merasa sia-sia ketika mencoba menjelajah alam pikiran Agung Sedayu.

Ataukah, jangan-jangan, Agung Sedayu hanya menggertak saja? Tapi gertakan yang dilakukan dengan sepenuh kekuatan dan kesungguhan hingga tampak nyata menurut pandangan lawan? Ki Jayaraga mengusap kening lalu menggoyangkan kepala. “Aku tidak mengerti, sungguh, apakah Ki Rangga hanya menggertak atau benar-benar sudah membuat persiapan yang tertutup dariku? Namun kenyataannya adalah aku melihat lawan terserang rasa gugup dan khawatir,” kata Ki Jayaraga dalam hati.

Penilaian Ki Jayaraga tentang kekhawatiran yang melanda pengikut Raden Atmandaru bukan tanpa dasar. Pengamatannya sangat tajam. Selain itu, Ki Jayaraga juga sempat bertanya jawab dengan sejumlah orang asing pada waktu dan tempat yang berlainan. Dari kegiatan yang tampak di permukaan beberapa dusun dan pedukuhan, Ki Jayaraga dapat meraba keadaan jiwani sebagian pemberontak.

Memasuki senja, Ki Jayaraga kembali ke tempat semula yaitu gardu di dekat rumah bekel dusun. Menurut Ki Jayaraga, bermalam di banjar pedukuhan tidaklah cukup baik karena jaraknya yang lumayan jauh dibandingkan dengan gardu jaga. Setiap malam selalu ada orang jagongan di banjar sambil bercengkerama hingga larut malam. Itu sama dengan berjaga meski tidak serupa, pikirnya. Dengan pertimbangan yang sederhana itu, maka dia pun memilih gardu untuk melewati malam.

Beberapa orang bertegur sapa dengannya termasuk bekel dusun dan jagabaya. Mereka  berhenti lalu bertanya pada Ki Jayaraga tentang tujuan atau sebagainya. Sebagai orang yang berpengalaman cukup dalam pengembaraan, jawaban sederhana pun diberikan olehnya sehingga setiap orang pun merasa tenang. Yah, karena Ki Jayaraga tidak menegaskan bahwa dirinya benar-benar bermalam di gardu, tapi sekedar singgah. Ki Jayaraga sepertinya sudah menemukan tempat yang tidak terpikirkan orang lain.

Ki Jayaraga benar memenuhi jawabannya bahwa dia sekedar singgah. Ketika langkah kakinya mencapai simpang tiga, maka secepat kilat dia menghilang di balik kebun singkong yang terletak di halaman belakang  rumah bekel Dusun Benda.

Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.

Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;

Kitab Kyai Gringsing (3 Jilid PDF) dan Penaklukan Panarukan serta Bara di Bukit Menoreh (Buku 4 Seri Kitab Kyai Gringsing) bila sudah selesai. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke

BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831

Tanya Jawab ; T ; Bagaimana jika Kitab Kyai Gringsing Buku ke-4 sudah selesai? Apakah akan ada kelanjutannya?

J ; Kami selalu berusaha memberikan yang terbaik demi keberlangsungan kisah..

Demikian pemberitahuan. Terima kasih.

Pada waktu itu, Ki Wedoro Anom dan Ki Suwarna Tiban tiba-tiba kehilangan jejak. Setelah memutari dusun untuk mencari keberadaan Ki Jayaraga, dua orang dari pasukan khusus itu pun menyerah. Mereka melaporkan diri pada bekel dusun sebagai orang asing yang akan menginap di banjar pedukuhan.

Penjagaan memang mengendur pada malam itu hingga hampir pertengahan malam. Ki Jayaraga melewatkan waktu dalam keadaan yang sangat hening dalam jiwanya. Perasaan dan pikirannya melampaui baasan ruang dan waktu, menggali lalu mengendapkan diri bersama kesunyian.

Tidak ada keganjilan atau sesuatu yang menarik perhatian hingga fajar menyapa Dusun Benda.

Matahari belum sepenuhnya terjaga ketika gemuruh derap kuda membelah dusun yang berada di bagian barat pedukuhan induk itu. Dari arah rumah jayabaya, tiba-tiba terdengar keributan yang mengejutkan.

Ki Jayaraga mengangkat kepala kemudian berpaling ke sumber suara dengan banyak pertanyaan di dalam pikirannya. Walau begitu, dia tidak bergegas pergi ke tempat itu. Ki Jayaraga berjalan tenang seolah keributan yang sedang berlangsung itu tidak diketahuinya. Setiba di sana, Ki Jayaraga melihat Ki Wedoro Anom dan Ki Sarwana Tiban sudah berhadap-hadapan dengan sekelompok penunggang kuda pada pagi buta!

“Apa yang terjadi pada Anda, Ki Ramapati?” tanya Ki Wedoro Anom.

Ternyata di dalam kelompok orang berkuda itu ada Ki Ramapati. “Apakah pertanyaan itu tidak sebaiknya kau tujukan pada dirimu sendiri, Penjilat?” Kegusaran terungkap jelas dari nada suara Ki Ramapati.

“Seharusnya ada penjelasan mengenai ini semua,” ucap Ki Wedoro Anom dengan muka memerah karena tudingan Ki Ramapati. Dia kemudian memandang sekitarnya, termasuk orang-orang yang duduk di atas kuda.

Ki Ramapati tersenyum dengan wajah yang tidak sedap dipandang. “Sebaiknyalah kau katakan lebih dulu pada orang di sampingmu itu,” sahut Ki Ramapati. “Ceritakan bagaimana kau menyingkirkan banyak orang dengan cara mengusap kulit dan wajah Pangeran Purbaya dengan kata-kata beracun.”

“Itu bukan urusanku,” kata Ki Sarwana Tiban kemudian merendahkan lututnya.

“Cukup!” teriak Ki Wedoro Anom lalu maju selangkah. “Ini semua sudah jelas. Ki Ramapati, Anda dinyatakan bersalah karena terlibat dalam pemberontakan yang kemudian menjadi sebab kematian Panembahan Hanykrawati.”

“Sembarangan! Anda bicara ngawur sambil melupakan batasan, Ki Lurah,” sergah Ki Ramapati. “Orang itu tidak mati oleh kami, tapi kalian sendirilah yang membuka jalan pada kematiannya. Kalian bersekongkol satu sama lain lalu membangkang perintahnya diam-diam. Saat orang itu mati, mengapa kalian lempar tuduhan pada kami? Justru aku ada di sini untuk menegakkan yang seharusnya diketahui banyak orang!”

Suasana semakin tegang ketika setiap orang mengungkap pendapat masing-masing dengan suara keras.

Ki Jayaraga mengamati semua itu dari tempat yang agak tersembunyi. Dia belum merasa perlu untuk turun tangan menjadi penengah atau mendukung Ki Wedoro Anom. Mereka sedang saling menyalahkan dan membenarkan pendapat masing-masing. Bahkan semakin terbuka pula perselisihan yang terjadi di kalangan pemerintahan dan prajurit pada masa pemerintahan Panembahan Hanykrawati. Semuanya mempunyai muara dan hanya satu saja yang mempunyai pengaruh hingga saat ini, pikir Ki Jayaraga.

Pasca gejolak besar di kotaraja Majapahit, bara konflik belum sepenuhnya padam. Bondan—murid Resi Gajahyana, pendekar muda dengan garis nasib yang rumit—menjadi titik temu berbagai kepentingan: kesetiaan lama, dendam pasukan tersingkir, dan intrik politik yang bergerak senyap.

Kedatangan dua utusan Pajang menandai perubahan arah hidup Bondan. Di Pajang, pasukan besar di bawah Ki Tumenggung Nagapati—bekas pengikut setia Lembu Sora dan Gajah Biru—terkatung di perbatasan, menunggu keputusan yang dapat memicu perang terbuka. Di saat yang sama, kemunculan orang-orang asing berilmu tinggi, manuver elite istana, serta sikap ambigu Bhre Pajang menambah ketegangan yang berlapis.

Bondan dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak sekadar menyangkut olah kanuragan, tetapi juga olah rasa dan tanggung jawab sejarah. Sementara latihan dan penggemblengan batin menantinya, satu perhelatan besar telah disiapkan—sebuah momentum yang dapat mengubah arah Pajang, Majapahit, dan nasib Bondan sendiri. Bara itu menyala pelan, menunggu saat meledak.

“Baiklah,” ucap Ki Ramapati. Dia berpaling pada kelompoknya lalu memandang pula pada Ki Wedoro Anom dan Ki Sarwana Tiban. “Kalian semua! Dengarkan, kita semua bersenjata dan mempunyai kemampuan kanuragan yang mungkin sama rata. Kita semua akan habis di sini bila berkeras meneruskan percekcokan, tapi itu terserah kalian semua. Aku ingin katakan pada orang-orang Mataram ini agar menyerahkan senjata lalu segera meninggalkan dusun. Itu juga berlaku pada seluruh penduduk dusun!” Seruan Ki Ramapati benar-benar penuh tekanan dan lambaran tenaga cadangan pada saat mengucapkan kata-kata terakhir.

Kawanan berkuda di dekat Ki Ramapati segera menyusun gelar yang memungkinkan mereka untuk menyapu bersih segala yang berada pada jalurnya.

Bekel dusun dan jagabaya serta beberapa bebahu dusun tidak dapat berkata-kata. Mereka berkeringat dingin padahal kabut masih berpusar di wilayah dusun. Ancaman Ki Ramapati tidak mungkin hanya gertakan. Untuk melawan orang itu dan anak buahnya? Para pengawal masih berdatangan dengan senjata yang telah keluar dari sarung, tapi seratus pengawal dusun pun pasti tergilas lembut di bawah kaki-kaki kuda!

Dalam waktu itu, Ki Jayaraga masih berada di tempat pengamatan dan mulai berhitung. Apakah mereka dapat percaya pada orang asing seperti dirinya jika seandainya tiba-tiba muncul lalu memimpin perlawanan? Yang paling memungkinkan adalah menarik perhatian Ki Sarwana Tiban karena mereka sudah saling mengenal baik.

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 92 – Bayang-bayang Alas Krapyak

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 17 – Kademangan Sangkal Putung Terguncang!

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 44 – Rasa Kagum Pangeran Selarong pada Agung Sedayu

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.