Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 81 – Ketegasan Sekar Mirah

Kyai Bagaswara tidak menyangka bahwa Swandaru ternyata tetap memaksakan  diri terlibat dalam perkelahian. Dengan pertimbangan tertentu, Kyai Bagaswara membuka ruang bagi Swandaru untuk melibatkan diri. Adalah sesuatu yang tidak berguna seandainya dia berkeras menahan Swandaru agar tetap berada di tepi gelanggang. Namun demikian, Kyai Bagaswara pun tidak melepaskan murid Kyai Gringsing begitu saja. Sikap siaga tetap menyertai Kyai Bagaswara dari luar medan perkelahian Swandaru. Raut wajah cemas membayang pada lelaki berusia senja itu tapi dia pun sulit menjelaskannya pada diri sendiri.

“Pengecut macam apakah kalian ini?” bertanya Ki Garjita dengan suara menggelegar.

Mengagumkan!

Ternyata Ki Garjita melambari suaranya dengan tenaga cadangan yang sangat kuat hingga terdengar seperti sedang mengerahkan ajjian Gelap Ngampar.

Swandaru terdorong mundur sejengkal. Namun dia tidak memberi waktu pada dirinya sendiri untuk mengagumi kehebatan musuhnya. Adik seperguruan Agung Sedayu itu melompat maju dengan ayunan cambuk yang menyerang secara beruntun pada semua bagian tubuh Ki Garjita.

Ki Garjita menyeringai tipis. Sinar matanya memandang serangan Swandaru seperti bukan tandingannya. Orang itu sangat jeli sehingga tahu bahwa yang tersisa di dalam diri Swandaru mungkin tinggal seperlima atau lebih sedikit dari yang seharusnya. Oleh karenanya, Ki Garjita lebih banyak berlompatan untuk menghindari serangan demi serangan Swandaru yang nyaris tak terputus. Walau demikian, meski sepintas seolah terlihat kalah segala-galanya, Ki Garjita sangat mengandalkan kecepatan geraknya. Suatu ketika Ki Garjita berhadap-hadapan dengan Swandaru, lalu tubuhnya seolah-olah menghilang dan tiba-tiba muncul di belakang Swandaru. Kadang-kadang dia berada di samping Swandaru dan sangat dekat tapi tidak menyerang sama sekali. Itu seperti sedang mengejek Swandaru. Itu benar-benar membuat Swandaru seperti barang mainan saja!

Swandaru terpengaruh dengan sepak terjang Ki Garjita. Dia semakin tegang dengan kemarahan yang kian memuncak dan itu sangat buruk karena berakibat pada serangan yang terbuang.  Bahkan caranya berkelahi pun sudah cukup jauh dari kemampuan sesungguhnya.

Kyai Bagaswara mengerutkan kening dan tampak sedang berpikir keras. Memang pengaruh aneh dari senjata Ki Garjita sudah tidak terasa dan dia tahu sebabnya. Meski begitu, Swandaru pun tidak dapat dikatakan benar-benar aman. Ki Garjita yang sama sekali tidak menunjukkan keinginan untuk menyerang pun menimbulkan pertanyaan dalam hati Kyai Bagaswara. Apa yang sedang ingin dicapainya? Dalam waktu itu, Kyai Bagaswara menyadari bahwa Swandaru sudah tidak lagi memungkinkan bertahan lebih lama. Swandaru tidak akan mampu bertahan walau hanya untuk menahan berat tubuhnya sendiri!

Kyai Bagaswara berkelebat sangat cepat! Lalu berdiri di tengah-tengah antara Swandaru dan Ki Garjita. Sambil menghadapkan tubuh pada Ki Garjita, dia berkata ke Swandaru, “Tidak ada gunanya meneruskan perkelahian ini, Ngger.”

Swandaru menggeram. “Aku belum habis,” sahutnya dengan kaki bergetar.

Kyai Bagaswara tidak menggubrisnya. Lelaki ini cepat menerjang Ki Garjita  dengan segenap kemampuan ilmunya. Kyai Santak tampak berkelebat, berputaran, menebas dan menusuk dengan sangat cepat sehingga memaksa lawannya mengeluarkan senjata pula.

Ki Garjita terkekeh, lalu berkata, “Inilah penyelamatan terbaik!”

Walau demikian, dua orang itu tampaknya sudah sama-sama setuju untuk menjadikan bertarung hingga titik akhir. Maka mereka pun memanfaat sangat baik setiap kesempatan. Pertahanan pun tersusun kokoh dan rapi hingga sama-sama mendatangkan kesulitan bagi mereka berdua.

Pertarungan berlangsung cukup seimbang, tampaknya!

Dorongan angin yang terungkap dari pengerahan ilmu dua orang itu pun akhirnya dapat memaksa Swandaru keluar dari gelanggang. Rasa malu tak terhingga terlihat jelas dari wajahnya. Bagaimana mungkin dia menjadi orang terusir dari gelanggang perkelahian sedangkan itu terjadi di lingkungan tempat tinggalnya? Ketika dia sudah benar-benar berada di luar gelangang, mata Swandaru tajam menyorot keadaan, terutama Kyai Bagaswara. Swandaru lantas berjalan ke tempat Sekar Mirah tapi dia tidak melihat adiknya itu di sana. Sejenak dia merenung. Peristiwa masa silam yang melibatkan dirinya silih berganti datang memenuhi setiap rongga dalam hatinya. Pikiran dan perasaannya berkecamuk.

Dengan membawa kemarahan yang memuncak, Swandaru pergi meninggalkan rumahnya dengan segumpal kegetiran pula. Sejumlah orang mengiringinya. Sebagian orang menduga kepergian itu menuju banjar pedukuhan sesuai dengan arah Swandaru saat keluar dari pintu yang hancur karena tendangannya.

Di tengah gelanggang, Kyai Bagaswara berusaha keras meredam pengaruh aneh dari ikat kepala Ki Garjita. Kyai Santak berputar-putar seperti kitiran dengan suara menggaung yang menyeramkan. Sedangkan senjata Ki Garjita pun tak kalah kerasnya saat mematuk atau membelit keris lawannya. Gerak kaki mereka berdua pun seperti sudah berada di atas permukaan tanah. Perkelahian itu semakin sulit dilihat maupun diikuti dengan nalar sehat. Mereka sama-sama mempunyai pertahanan yang sulit ditembus, tapi mereka pula mempunyai jurus-jurus yang mematikan. Maka semakin lama perkelahian seolah semakin dekat dengan bibir kawah yang tak henti mengepulkan asap belerang yang pekat. Menggiriskan!

Tiba-tiba Ki Garjita melompat surut cukup jauh sambil memberi isyarat bahwa dia akan mengendurkan serangan. Kyai Bagaswara pun mengurangi tekanan.

“Aku kira,” kata Ki Garjita, “usaha kami tidak mencapai hasil yang diinginkan oleh para pemimpin kami.” Kemudian dia memasang lagi ikat kepalanya.

“Aku mendengarkan,” kata Kyai Bagaswara sambil menyarungkan Kyai Santak ke dalam warangka.

“Anak buahku banyak yang terbunuh dan yang tertangkap pun belum tentu kalian biarkan hidup,” ucap lagi Ki Garjita. ”Aku pikir kita sudahi saja perkelahian ini. Sudah cukup banyak orang yang terbunuh, terutama dari kelompokku.”

“Apakah aku sedang mendengar ungkapan penyesalan?” tanya Kyai Bagaswara.

“Dasar iblis tua,” kata Ki Garjita sambil tertawa kecil. “Itu tidak seperti yang kau pikirkan, Ki Sanak. Aku tidak menyesal sedikit pun seandainya juga harus terbunuh di tempat ini. Tapi, lihatlah, pikirkan lagi, andaikata aku mati di tangamu, lalu apa yang kau dapatkan? Kebanggaan atau kelegaan? Apakah dengan keberhasilanmu membunuhku, lalu kau merasa terhormat? Aku tahu kau sudah mempunyai jawabannya.”

“Aku dapat membiarkanmu keluar dari tempat ini hidup-hidup, tapi apakah mereka akan diam saja seperti patung?” kata Kyai Bagaswara sambil menunjuk sekeliling yang penuh pengawal kademangan, cantrik Perguruan Orang Bercambuk  dan juga prajurit Mataram.

“Kyai, aku pikir Kyai akan sepakat bahwa tidak perlu lagi ada nyawa yang terbuang sia-sia setelah percakapan ini,” ucap manis Ki Garjita.

Sebenarnyalah dia sudah mempertimbangkan suatu rencana kilat yang tiba-tiba muncul dalam pikirannya. Maka seketika pula dia mengubah tata gerak dan menyimpan pula senjatanya. Kyai Bagaswara, dengan keluasan wawasan dan daya jelajah tinggi di dunia kanuraga, dapat menduga ada sesuatu yang tersembunyi di balik tawaran akhir yang damai. Meski begitu, Kyai Bagaswara sadar bahwa keputusan akhir bukan berada di tangannya.

“Kau dapat mengatakan apa saja, termasuk pengampunan di depanku. Tapi kau harus sadar bahwa wewenang itu bukan pada diriku,” kata Kyai Bagaswara.

“Aku mengerti, Kyai. Tapi di tempat ini, Kyai adalah orang yang bertanggung jawab penuh. Bukan istri Agung Sedayu atau orang lainnya, tapi Kyai,” tegas Ki Garjita berusaha memasukkan pendapatnya pada pikiran banyak orang, bukan hanya Kyai Bagaswara. Dengan begitu, maka seandainya ada sesuatu yang keliru maka kemungkinan besar Kyai Bagaswara akan menjadi orang yang bertanggung jawab.

“Aku pikir lebih baik kita mengambil waktu untuk menunggu kedatangan Pangeran Selarong atau Ki Rangga Agung Sedayu,” ucap Kyai Bagaswara. “Sepanjang waktu tunggu nantinya, kau dapat menunggu bersama tahanan yang lain di banjar pedukuhan.” Kyai Bagaswara masih mampu mengambil jarak aman.

“Mulutmu terlalu manis dan cukup berbisa, Ki Sanak,” Sekar Mirah tiba-tiba berkata lalu muncul dari balik dinding belakang bangunan induk. “Jika kau memang inginkan itu, ikutilah saran Kyai Bagaswara.”

“Oh, jadi Kyai ini bernama Kyai Bagaswara? Nama yang menggambarkan kewibawaan dan kebijaksaan yang mendalam,” ucap Ki Garjita. Setelah merenung sejenak, dia berkata, “Baiklah, aku akan menunggu dua orang yang kau maksudkan. Mari, kita pergi ke banjar sekarang.” Orang ini lantas berjalan seperti tak terjadi sesuatu pun di kediaman Ki Demang Sangkal Putung. Bahkan dia menyibak kerumunan pengawal dengan langkah kaki yang cukup tenang.

Ajakan atau keputusan mendadak Ki Garjita itu cukup mengejutkan. Dia melakukannya pada saat yang tepat, yaitu ketika gejolak kemenangan yang dirasakan pengawal kademangan dan semua orang mereda karena kehadiran Swandaru.

Namun Ki Garjita tiba-tiba berhenti di antara kerumunan ketika seseorang bertanya padanya.

“Bagaimana kalau ternyata kau telah menyiapkan jebakan atau serangan gelap susulan?”

Tiba-tiba suasana menjadi tegang. Setiap orang segera mengelus senjata masing-masing, bersiap dengan segala kemungkinan yang mungkin ditimbulkan oleh Ki Garjita.

“Mereka tak akan kembali ke kademangan ini,,” suara Sekar Mirah nyaring terdengar. “Mereka telah kalah di Watu Sumping. Hanya orang bodoh dari mereka yan gakan kembali lalu berusaha menduduki kademangan ini seperti masa lalu.”

Dengan sorot mata setajam pedang, Ki Garjita memandangi wajah orang-orang  yang berada di dekatnya lalu berkata, “Kami tidak akan kembali ke tempat ini. Kalian boleh tidak percaya padaku, tapi aku berani memberi jaminan bahwa keributan pada malam ini adalah yang terakhir kali.”

“Kalian jangan pula percaya karena setiap keributan selalu dapat dimulai dengan alasan yang berbeda,” Sekar Mirah kembali menanggapi Ki Garjita.

“Urusanku dengan kalian telah selesai, Sepertiyang kalian dengar, aku akan menunggu dua pemimpin kalian di banjar pedukuhan,” ucap Ki Garjita lalu berjalan menuju tempat yang dia maksud.

 

Woro-woro

> Tidak semua perjalanan harus disaksikan banyak orang.

> Sebagian cukup dipahami oleh mereka yang memilih bertahan hingga akhir.

> Komunitas donatur WAG KKG disediakan bagi pembaca yang ingin mengikuti kisah ini lebih dekat, dengan akses kisah terbaru dan PDF lengkap, melalui pergantian pengawal minimal **Rp25.000 per bulan**.

> Pasar induk pedukuhan:

BCA 822 05 22297

BRI 31350 102162 4530

atas nama Roni Dwi Risdianto.

Matur nuwun

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 75 – Mantra Penari Api

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 48 – Keberanian Agung Sedayu Membatasi Gerak Pangeran Selarong

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 4 – Agung Sedayu, Pemburu yang Diburu

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.