Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 89 – Rahasia Kediaman Pandan wangi

Mereka berdua kemudian menyisir jalan melingkar. Agung Sedayu lantas mengatakan bahwa sebaiknya mereka menempuh jalur sunyi. Pengawal yang menjadi pengiring Agung Sedayu mengangguk lalu berjalan di depan. Dia lahir dan tumbuh di Jagaprayan sehingga wajar jika kemudian menjadi pemandu jalan. Dia tahu daerah yang diinginkan Agung Sedayu, Maka setelah jalur yang agak melingkar itu selanjutnya jalan setapak yang mengelilingi mengelilingi sebuah  bukit kecil. Setibanya di ujung jalan setapak itu, mereka berdua lantas memintas  pategalan yang banyak ditumbuhi tanaman perdu. Se buah parit kecil menjadi batas pategalan.

Dua lonjor bambu terlihat sebagai jembatan sederhana. Mereka meniti di atas jembatan itu berjalan ke arah barat.

Hari semakin mendekati gelap seiring dengan ayun kaki Agung Sedayu yang makin mendekati rumah yang didiami sementara waktu oleh Pandan Wangi. Dalam waktu itu, ketegangan di sekitar lingkungan rumah masih terasa. Beberapa pengawal tampak berjaga dengan senjata telanjang. Agung Sedayu mengerutkan kening saat pengiringnya memandang dengan tatap mata bertanya.

Mereka memang melihat beberapa gardu jaga sudah berisi empat sampai enam pengawal pedukuhan. Meski tidak berjalan melewati gardu-gardu itu, tapi Agung Sedayu dapat melihat tidak ada senjata yang keluar dari sarungnya. Benturan di Watu Sumping memang belum lama berlalu, tapi suasana di pusat pedukuhan tampak lebih tegang dibandingkan pedukuhan induk. Keadaan ini cukup mengherankan, pikir Agung Sedayu.

“Keluarlah menemui mereka,” perintah Agung Sedayu pada pengiringnya. “Katakan sebuah keperluan keluarga yang menjadi sebab kedatanganmu di Jagaprayan. Aku akan menunggumu setelah jalan berbelok itu.” Agung Sedayu menunjuk sebuah tempat lalu menambahkan pesan pada pengiringnya.

Pengawal itu mengangguk-angguk dan kadang-kadang sedikit bertanya pada senapati Mataram itu.

Semburat merah di kaki langit akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Jagaprayan. Pengawal itu beranjak lalu berjalan ke arah gardu jaga.

Seseorang yang kelihatannya berusia lebih tua dari pengiring Agung Sedayu segera berpaling ketika mendengar langkah kaki mendekat.

“Oh, kau rupanya,” kata orang itu. Setelah saling menyapa, kemudian dia berkata lagi, “Kau ini seperti kejutan yang sedikit mencairkan suasana.”

Pengiring Agung Sedayu yang bernama Haruna lantas menyahut dengan wajah keheranan, “Bagaimana bisa itu, Kakang?”

Orang yang dipanggil Kakang itu tersenyum, lantas berkata, “Setelah benturan sangat keras di Watu Sumping, rumah yang dijadikan kediaman sementara oleh Nyi Pandan Wangi sedikit berubah.”

Sejumlah pengawal di sekitar Haruna tampak mengangguk-angguk dengan wajah sugguh-sungguh, tapi mereka tidak mengatakan sesuatu.

“Ini semakin membuatku heran,” ucap Haruna. Lalu dia menyambungnya dengan nada seolah mengeluh, “Awalnya aku menyangka kepulangan kali ini seperti menjemput kabar gembira. Bagaimana pun, orang tua juga tinggal di pedukuhan ini.”

“Kau adalah anak yang baik, Haruna,” kata salah seorang pengawal yang berdiri di dekat gardu. Kemudian dia melihat wajah orang yang dipanggil Kakang itu, lantas berkata lagi, “Kakang Sentana, lebih baik Kakang segera saja menjelaskan padanya agar tak bergumpal penasaran dalam hati Haruna.”

Sentana mengangguk. “Yang aku maksud dengan perubahan itu adalah seseorang berhasil menerobos kediaman sementara Nyi Pandan Wangi.”

Haruna mendengar ucapan itu sambil mencubit kecil ujung bibirnya, lantas dia mengatakan, “Tentu penerobos itu bukan orang biasa. Tempat itu dijaga cukup, oh bukan cukup tapi sangat ketat.”

“Aku kira bukan masalah siapa yang mencongkel pintu lalu menjebol tempat-tempat penyimpanan barang, tapi apa yang dia cari?” ucap Sentana dengan kepala menggeleng-geleng. Barangkali dia sedang mencoba mengaitkan kerusuhan Watu Sumping dengan pembobolan rumah Pandan Wangi.

“Aku berada di sini sekarang,” tegas Haruna. “Kakang dapat menggunakan tenaga dan segala yang aku punya demi kejadian itu.”

“Tidak ada yang meragukan itu meski kau tinggal sedikit waktu di pedukuhan ini, Haruna,” kata Sentana sambil memegang bahu Haruna. “Aku akan menghubungimu tapi untuk saat ini keadaan orang tuamu harus menjadi perhatian utama.”

Haruna mengangguk, kmudian katanya, “Baiklah, saya pamit, Kakang.” Haruna melambaikan tangan sebagai penghormatan pada beberapa pengawal yang lain.

Namun Haruna tidak langsung menuju tempat Agung Sedayu menunggu karena itu berarti dia kembali ke arah yang sama, sedangkan rumah orang tuanya berada di jurusan yang lain. Maka dia pun berpura-pura mengayun langkah lebar pada arah menuju rumah ayahnya, lalu memotong kebun panjang, kemudian berbelok ke utara menuju tempat Agung Sedayu.

Agung Sedayu benar-benar mengaburkan keberadaan dirinya. Dia bersembunyi di balik batang pohon asem yang cukup besar agar tidak terlihat oleh para peronda yang melintas jalan yang sama dengannya. Keadaan yang akhirnya membuatnya harus menyaksikan sendiri dengan alasan-alasan tertentu. Pedukuhan Jagaprayan memang tidak sebesar dan tak pula seramai pedukuhan induk tapi keadaan yang berkembang sangat menarik perhatiannya. Pedukuhan ini juga tidak berada di jalur yang mapan untuk mengembangkan perdagangan atau mengirim hasil pertanian. Hanya saja keistimewaan pedukuhan ini terletak pada hasil bumi yang jauh lebih baik dari pedukuhan induk. Sekali pun begitu, di tengah pikiran yang berkecamuk, Agung Sedayu dapat memuji suasana jiwani pengawal pedukuhan yang tak lekas berpuas diri setelah berhasil memukul mundur lawan di Watu Sumping.

“Tetap waspada dalam kesiagaan tinggi tentu bukan masalah jiwani yang mudah, tapi mereka mampu mencapai titik itu,” ucap Agung Sedayu dalam hati.

Angin malam terasa lembut berhembus semilir. Bagi Agung Sedayu, itu adalah senjata yang tidak tampak mata karena dapat memudarkan perhatian orang lalu mendatangkan rasa kantuk yang luar biasa. Semoga para pengawal dapat bertahan hingga pagi tiba, harap pemimpin pasukan khusus itu.

Derap kaki Haruna sudah terdengar oleh Agung Sedayu lalu dia mengurai ketegangan yang membelit hati.

“Para pengawal mengatakan bahwa ada seseorang yang membobol rumah Nyi Pandan Wangi,” lapor Haruna.

Agung Sedayu menarik napas panjang. Pikirannya bertanya-tanya, apa yang mereka cari di rumah itu? Apa pula tujuannya? Murid Kyai Gringsing itu tampak memijat tulang hidungnya. Dia sudah pasti percaya dengan keterangan yang diperoleh Haruna. Dalam pikirannya, lingkungan Pandan Wangi tentu dijaga dengan ketat, maka orang itu bukan sembarangan karena mampu menerobos penjagaan. Aung Sedayu cepat berhitung karena jarak Pedukuhan Jagaprayan dengan Watu Sumping pun tidak terlalu jauh. Seorang penunggang kuda dapat mencapai Watu Sumping jika melaju cepat dalam waktu kurang dari seperdelapan hari. Lalu, siapakah yang melakukannya? Tentu sulit untuk menjawabnya karena tidak ada lagi keterangan selain laporan-laporan mengenai suasana setelah pembobolan. Tidak ada saksi mata atau benda yang hilang. Hmm, benda yang hilang? Itu hanya Pandan Wangi yang mengetahui dengan pasti!

Usai bercakap sebentar dengan Haruna, Agung Sedayu memberi pilihan pada pengiringnya itu untuk mengikutinya sampai menemui Pandan Wangi atau dia menjenguk orang tuanya. Tapi kemudian Agung Sedayu cepat menyusulkan saran bahwa dia lebih baik pergi ke rumah ayahnya.

“Bagaimanapun, ayahmu tentu merasa lega bila melihatmu selamat dan dalam keadaan sehat,” ucap Agung Sedayu.

“Tapi tugas saya mengantarkan Ki Rangga belum selesai,” kata Haruna.

“Biarlah, aku bebaskan dirimu dari tugas ini. Lagipula, rumah yang kita tuju sudah dekat. Aku kira tidak perlu lagi menyembunyikan diri dari pandangan pengawal,” jelas Agung Sdayu.

Haruna mengangguk meski tatap matanya menyiratkan keberatan. Meski begitu, Haruna tetap mengikuti saran Agung Sedayu. Dia pun meminta diri, lalu berlari-lari kecil menuju rumah ayahnya.

Bulan tampak begitu rendah dan begitu jelas tapi dia sedang enggan bersinar terang. Suasana jalan yang dilalui Agung Sedayu hanya bermandi cahaya dari obor maupun oncor yang dipasang di depan rumah-rumah di tepi jalan. Agung Sedayu berpikir keras sepanjang perjalanannya menuju kediaman sementara Pandan Wangi. Masalah masih datang menghampirinya bertubi-tubi. Kitab peninggalan gurunya, Swandaru dan api pemberontakan yang dinyalakan Raden Atmandaru adalah tiga persoalan besar yang berputar-putar di dalam kepalanya. Sekejap, dalam sekejap, tiba-tiba muncul bayang wajah Kinasih!

Agung Sedayu menghembuskan napas panjang. Yang akan terjadi, terjadilah. Dia tidak ingin mengekang atau membiarkan perasaannya mengalir sangat bebas. Semua ada batasan, pikirnya.  Meski begitu, senapati tangguh ini jujur mengakui  bahwa dirinya masih sering mengalami kesulitan untuk mengendalikan perasaan. Meski itu tidak berarti menyerah tanpa daya, tapi selamanya adalah perjuangan.

> Kisah ini berjalan perlahan, sebagaimana api kecil di lereng Menoreh—tidak menyala terang, tetapi bertahan.

> Bagi pembaca yang berkenan ikut menjaga nyala api,  tersedia komunitas donatur WAG Kontributor KKG dengan akses kisah terbaru serta PDF lengkap setelah kisah ini rampung.

> Sokongan dilakukan dengan iuran minimal **Rp25.000 per bulan**.

> Titik aliran :

BCA 822 05 22297

BRI 31350 102162 4530

atas nama Roni Dwi Risdianto.

Bukti penjagaan bisa dikirimkan melalui petugas sandi WA 081357609831 – Matur Nuwun

Harus diakui bahwa sejak perjumpaan pertama dengan Ki Garu Wesi di Tanah Perdikan Menoreh, maka selanjutnya dia sering kedodoran menghadapi siasat cerdas Raden Atmandaru serta kedalaman pengaruhnya. Percobaan pembunuhan terhadap Ki Patih Mandaraka oleh Ki Panji Secamerti menjadi bukti bahwa  pengaruh Raden Atmandaru sudah menjangkau sedemikian jauh. Berikutnya ada Ki Tumenggung Sanden Merti yang terang-terangan menghadang perjalanan Panembahan Hanyrkawati menuju Alas Krapyak. Sekalipun semuanya dapat digagalkan, tapi juga menjadi tanda bahwa Mataram masih kalah beberapa langkah dari Raden Atmandaru.

Agung Sedayu, pada mulanya merasa, bahwa kemampuan petugas sandi Mataram sudah cukup menjadi benteng pertama untuk menghadapi gerakan makar yang digagas Raden Atmandaru. Tapi perkembangan berikutnya justru seolah membalikkan keadaan bahwa kecerdasan maupun kecemerlangan siasat dapat ditundukkan oleh kesetiaan. Swandaru adalah salah satu permisalan yang masuk akal. Agung Sedayu mengenang masa-masa awal pembukaan Alas Mentaok yang melibatkan pula Swandaru. Kemudian dalam perjalanan usia, Swandaru dapat berubah pikiran meski dia tetap kembali pada Mataram.

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 21- Kejengkelan Sukra pada Swandaru

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 50 – Benih Keraguan Pandan Wangi pada Swandaru

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 69 – Pertarungan Maut : Amuk Swandaru

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.