Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 107 – Perempuan di Balik Garis Perang

Keadaan itu masuk pula menjadi persoalan yang sedang dibicarakan Raden Atmandaru dengan Ki Ramapati pada waktu itu.

“Lalu, menurut Ki Ramapati, ke mana Agung Sedayu akan menempatkan diri seandainya perselisihan itu semakin runcing?” Raden Atmandaru bertanya.

“Saya tidak pernah berani menduga orang itu akan memihak Ki Juru Martani, tapi dia juga pasti mempunyai alasan sangat kuat dengan tidak condong ke kubu Pangeran Purbaya,” Ki Ramapati menjawab dengan sinar mata yang menampakkan bahwa dirinya sedang berpikir keras demi sebuah kesimpulan. Tapi, andaikata dia mempunyai pendapat maka itu pun akan sulit dijalankan oleh Raden Atmandaru. Boneka mereka di Kepatihan dan Keraton sudah tidak lagi mempunyai ruang gerak.

Raden Atmandaru bergumam kemudian katanya, “Cukup masuk akal.” Tiba-tiba wajahnya terangkat lalu memandang lurus Ki Ramapati. “Keberadaan dua lurah Mataram di barak pasukan khusus dapat memecah mereka dari dalam. Seandainya Ki Wedoro Anom dan Ki Demang Brumbung adalah kerabat dari Kepatihan atau Keraton, kita dapat abaikan kenyataan itu. Yang terpenting adalah Agung Sedayu. Dia mempunyai keistimewaan oleh sebab Danang Sutawijaya mengangkatnya sebagai lurah prajurit tanpa pendadaran atau yang lain. Dia juga tidak mempunyai latar belakang keprajuritan. Satu sebab yang membuatnya terasa istimewa adalah gurunya yang keturunan langsung Majapahit, selain itu? Tidak ada. Jika kita dapat memainkan siasat yang terencana baik untuk menggempur ketahanannya, saya pikir Kepatihan tidak akan dapat bersuara atas keputusan Keraton.”

“Maksud Raden adalah jika Keraton mengganti Agung Sedayu dengan orang lain, semisal Ki Wedoro Anom, dengan alasan sebuah kegagalan, maka Kepatihan hanya dapat mengulang sikap diam?” tanya Ki Ramapati.

“Itu yang saya maksudkan,” sahut Raden Atmandaru dengan mata berbinar-binar. “Meski pemimpin baru pasukan khusus bukan termasuk golongan kita, tapi Kepatihan pasti lumpuh dengan sendirinya.”

Ki Ramapati merenungkan ucapan Raden Atmandaru secara mendalam. Pendapat itu benar, pikirnya. Pangeran Purbaya tidak terang-terangan memperlihatkan kekuasaan keprajuritan karena sadar bahwa di belakang Ki Juru Martani ada satu pasukan yang setia padanya. Andaikata dia berani mengarahkan jari ke patih Mataram tersebut lalu menyatakan adanya penentangan lantas diikuti pengiriman laskar bersenjata, bukan tidak mungkin pasukan khusus di Tanah Perdikan digerakkan Agung Sedayu untuk mengurung kotaraja. Kekuatan mereka seimbang, Lantas Ki Ramapati bertanya, “Adakah kita sempat berpikir atau menduga bahwa dua orang kotaraja didatangkan ke barak Tanah Perdikan dengan tujuan tertentu? Mari, kita abaikan dua kepentingan yang berlawanan.”

Raden Atmandaru mengangguk. “Kita tahu kekuatan pasukan khusus yang dipimpin Agung Sedayu. Karena kita terputus hubungan dengan orang-orang di dalam Keraton maupun Kepatihan, besar kemungkinan mereka telah menghembuskan kabar bahwa Agung Sedayu tidak boleh dibiarkan berlama-lama di Tanah Perdikan Menoreh.”

Ki Ramapati mengerutkan kening dengan tatapan mata lurus pada Raden Atmandaru.

“Saya menduga para pembantu kita telah bergerak sendiri karena dorongan tertentu. Mereka meniupkan kabar yang mempunyai pengertian bahwa kekuasaan Agung Sedayu hampir menyamai Pangeran Purbaya. Saya pikir itu upaya yang masuk akal dari orang-orang yang sakit hati karena Mas Rangsang membuang mereka ke wilayah bawahan atau memerangi brang wetan. Anggap saja usaha itu berhasil karena Keraton menempatkan Ki Wedoro Anom dan Ki Demang Brumbung sebagai perimbangan dari Kepatihan.” Raden Atmandaru berhenti sejenak. Sejurus kemudian, dia berkata lagi, “Baiklah, pertentangan dua kubu di kotaraja telah sampai ke wilayah ini. Kita adalah orang yang meneruskan usaha mereka.”

Ki Ramapati mengangguk-angguk sambil tersenyum lebar. Katanya, “Aku pun termasuk orang yang sakit hati. Baiklah, bagaimana rencana Raden selanjutnya?”

Raden Atmandaru pun terlebih dulu menyinggung persoalan yang membelit kalangan penting di dalam Keraton dan Kepatihan. Lalu penjelasannya merembet pada siasat untuk pertempuran yang akan dimulainya di Tanah Perdikan.

Hari ketiga kedatangan Agung Sedayu di Tanah Perdikan Menoreh.

Pandan Wangi duduk berhadapan dengan Ki Gede Menoreh tanpa menyembunyikan wajah. Perempuan tangguh itu menganggap bahwa sudah pasti sia-sia jika dia menutupi permasalahan yang menjeratnya selama membina rumah tangga bersama Swandaru.

“Apakah ada persoalan yang sangat penting di Sangkal Putung? Aku melihatmu sangat sedikit bicara dengan banyak orang,” kata Ki Gede Menoreh.

Pandan Wangi tidak segera menyahut. Ucapan ayahnya seolah semakin menambah sesak dadanya. Dia menarik napas panjang dengan tekad tak perlu malu jika kemudian ada air mata yang mengalir di atas pipinya. Sambil berusaha menenangkan hati, Pandan Wangi menjawab, “Saya tidak berani mengatakan ‘ya, ada masalah, Ayah’.”

“Aku tahu kekuatan hatimu dan juga menyaksikanmu menjalani hidup ini,” kata Ki Gede Menoreh. “Ayah hanya dapat mengatakan bahwa Ayah sudah siap dengan segala keputusanmu.”

Pandan Wangi menautkan alis, lalu bertanya, “Apakah Ayah sudah mengetahui semuanya?”

“Tidak semua, Wangi. Tapi dijadikan tahanan rumah oleh pembesar Mataram itu adalah beban berat yang harus kau sandang sepanjang sisa hidupmu. Ayah tahu itu tidak mudah. Setiap kaki melangkah, tatap mata orang akan mempuyai arti lain bagi dirimu. Sebagian mungkin iba, sebagian mungkin menghina meski tanpa kata-kata,” ucap Ki Gede. “Tidak, aku pun tak tahu kekuatanku sendiri seandainya berjalan di kademangan saat ini. Yang pasti itu adalah sandangan yang sangat berat. Mungkin jauh lebih berat dibandingkan menghadapi Sidanti pada masa lalu. Sidanti adalah kesalahan Ayah, aku anggap seperti itu, maka akibatnya pun ada di pundakku. Tapi Swandaru adalah persoalan yang berbeda latar belakang, tapi tidak semestinya beban itu berada padamu.”

Sejenak Pandan Wangi memandang sekeliling. Dinding, kursi dan meja serta setiap benda yang berada di dalam pringgitan. Ketika dia menatap Ki Gede Menoreh, wajah ayahnya seakan menjadi jauh lebih tua dari usia seharusnya. Bukan sesuatu yang baik ketika pada masa senja, ayahnya masih harus melihat keadaan yang menimpa dirinya di Sangkal Putung, pikir Pandan Wangi.

“Kebiasaan itu seakan sudah menjadi bagian darinya,” lanjut Ki Gede Menoreh. “Setelah terlibat dengan Ki Ambara, aku pikir segalanya dapat berubah. Aku siapkan diriku untuk keadaan itu meski butuh waktu yang lama. Tidak masalah karena segala keadaan juga berkembang dan berubah seiring dengan waktu yang tetap bergulir tanpa perasaan. Bertahun-tahun berlalu tanpa sesuatu yang menganggu hingga aku mendengar pergerakan Raden Atmandaru.” Pemimpin Tanah Perdikan Menoreh itu berhenti sejenak untuk mengatur napas. Lalu dia berkata lagi, “Sempat aku berpikir untuk memintamu kembali ke sini. Tapi bukankah seorang istri selain sebagai pendamping, dia juga menjadi penjaga suaminya? Aku bantah pikiranku sendiri dengan alasan itu.”

“Apakah Ayah menyesal karena saya tidak mampu menjaga Kakang Swandaru?”

Ki Gede menggeleng, katanya, “Tidak ada yang patut dan perlu disesal. Semua berjalan sesuai dengan sebab dan akibat. Keputusan Pangeran Purbaya memang pahit tapi itu ada sebab. Swandaru terjerat Raden Atmandaru itu juga ada sebab. Andaikata kita merunut sesuai waktu, maka orang yang bersalah adalah Sultan Hadiwijaya karena menjanjikan Alas Mentaok pada Ki Ageng Pemanahan. Lebih jauh lagi dengan segala kerusuhan hati, kita terus bergerak menyalahkan Demak yang tak kunjung damai dan tenang karena keributan di dalam. Wangi, penyesalan itu ada karena merasa terjadi kesalahan. Tapi, apakah kesalahan itu disengaja atau tidak? Kita membutuhkan ketenangan demi pandangan yang lebih jernih.”

api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu

Ketentraman keluarga Ki Rangga Agung Sedayu terusik oleh kehadiran Ki Garu Wesi yang membawa ancaman maut. Namun, ini bukan sekadar urusan nyawa dibayar nyawa. Di balik bayang-bayang, Raden Atmandaru tengah menyusun siasat besar untuk mengguncang Mataram melalui penguasaan atas Kitab Kiai Gringsing.

Agung Sedayu terjebak dalam pusaran konflik yang melibatkan pengkhianatan, penculikan, dan pengepungan pedukuhan. Di saat Sekar Mirah tengah menanti detik-detik persalinan, sang Senapati harus memilih: bertahan melindungi keluarga, atau maju ke garis depan demi keselamatan Tanah Perdikan.

Pandan Wangi merasa ada dorongan dari dalam hatinya untuk bertanya, apakah dirinya kurang atau sudah tidak menarik bagi Swandaru hingga suaminya itu terdekap oleh perempuan dari Randulanang? Pandan Wangi mengulang-ulang pertanyaan itu di dalam pikirannya. Secara pribadi, Pandan Wangi tidak merasa buruk dengan warna kulit atau wajahnya. Tidak juga dengan tubuh maupun nalarnya. Tapi, pantaskah bertanya hal semacam itu pada ayahnya?

Pembicaraan terpotong ketika seorang pengawal minta izin untuk bertemu dengan Ki Gede Menoreh.

“Dari siapa kalian mendapatkan keterangan itu?” tanya Ki Gede setelah pengawal tersebut melaporkan sesuatu padanya.

“Saya menerima kabar itu dari pedagang yang datang dari arah Mataram,” jawabnya sambil menoleh pada Pandan Wangi lalu menunduk. Dia menambahkan cepat-cepat, “Atau mungkin dari Sangkal Putung.”

Pandan Wangi mengerutkan kening. Dia sudah tampak tenang ketika pengawal itu masuk pringgitan. Pandan Wangi lantas bertanya pada pengawal itu, “Apakah Ki Prastawa telah mengetahui keadaan itu?

“Saya belum meminta seseorang untuk mengatakan itu pada beliau,” jawab pengawal.

Pandan Wangi memandang ayahnya lalu berkata, “Kemungkinan besar yang diucapkan oleh pedagang itu adalah rombongan Ki Garu Wesi. Mungkin tidak seluruhnya tapi mereka sudah berada di sekitar pedukuhan induk.”

Ki Gede memandang langit-langit rumah untuk sejenak waktu lamanya, lalu berkata, “Sampaikan pula berita ini pada Prastawa dan juga Ki Rangga.”

“Kalau pengawal sudah mengetahui, maka pasukan khusus pun tentu sudah tahu pula,” ucap Pandan Wangi.

“Baiklah,” sahut Ki Gede. Pada pengawal itu, dia lantas berkata, “Segeralah ke barak pasukan khusus dan juga rumah Ki Prastawa. Katakan pada Ki Prastawa agar lekas datang ke mari. Sampaikan juga pada seluruh pengawal yang lain agar bersiaga. Kesiagaan yang harus dapat menjangkau ujung dusun terluar Tanah Perdikan Menoreh.”

Pengawal pun berlalu untuk berbagi tugas dengan penjaga gardu dan teman-temannya yang lain

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 112 – Hari kelima kedatangan Agung Sedayu di Tanah Perdikan Menoreh

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 60 – Cambuk Agung Sedayu Belum Berhenti Berdentum

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 80 – Amuk Swandaru

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.