Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 121 – Sasaran Berikutnya; Ki Gede Menoreh

Beberapa saat menjelang senja, bagian depan dan jalanan di sekitar rumah Ki Gede Menoreh juga tidak menampakkan kejanggalan. Segala sesuatu berjalan sebagaimana biasa dan memang tampak wajar. Sejumlah orang melihat penghuni rumah masih berada di dalam seperti biasa. Bahkan pada sore hari pun, sebagian orang mengatakan bahwa Ki Gede masih duduk bersantai di beranda depan.

Keterangan semacam itu pun masuk menjadi laporan sandi yang diterima oleh Raden Atmandaru beserta penasehatnya. Maka untuk menghindari kegagalan, Raden Atmandaru pun membuka jalan lain demi kematian Ki Gede Menoreh. Ki Sambak Kaliangkrik dan Ki Manikmaya boleh saja gagal, tapi sepasukan regu pembunuh sebagai cadangan sekaligus pelapis kelompok pertama sudah bergerak dengan kecepatan di atas rata-rata.

Siasat Agung Sedayu, dengan segala pertimbangannya, semakin sulit diurai dengan nalar yang wajar. Agung Sedayu pun mengosongkan rumah Ki Gede lalu memindahkannya ke tempat yang tidak terpikirkan orang lain.

Sungguh, perpindahan Ki Gede pun tidak diketahui oleh Pandan Wangi, Kinasih serta pengawal gardu padahal mereka berada di atas lahan yang sama.

Rencana yang benar-benar terbatas!

Pada malam itu, suasana pedukuhan induk belum menampakkan kejanggalan hingga kedatangan orang satu demi satu pada ujung persimpangan di sebelah tenggara. Mereka berpakaian biasa dan wajar. Mereka tidak juga duduk atau berdiri berkelompok tapi berada pada jarak yang terpisah. Tampang dan barang bawaan pun tidak mencurigakan. Inilah sekelompok regu pembunuh yang membekukan diri di sekitar pedukuhan induk hingga menerima perintah Raden Atmandaru. Keberadaan mereka sulit dijangkau atau diketahui petugas sandi Mataram maupun para pengawal Tanah Perdikan, tapi Agung Sedayu sudah mewaspadai kejutan sangar dari pihak lawan. Itu pula yang mendorongnya segera mengalihkan Ki Gede ke tempat tertentu.

Regu pembunuh itu mulai bergerak dengan pertukaran tanda-tanda tertentu. Mereka berpencar ke banyak arah dengan tujuan utama adalah kediaman Ki Gede dengan susunan gelar yang menjepit atau mengurung mangsa.

Suasana pedukuhan masih tak menampakkan gejolak.

Yang merasakan perubahan adalah tiga orang yang berada di dalam rumah Ki Gede. Hawa dingin yang menusuk tulang seolah juga membawa pesan agar mereka tetap siaga. Pendengaran tajam mereka bertiga dapat mendengar pekik perkelahian yang berada di belakang kediaman Ki Gede. Mereka tahu bahwa Pandan Wangilah yang berada di sekitar tempat itu bersama Kinasih.

Regu pembunuh yang dikirim oleh Raden Atmandaru bukanlah orang asing yang tiba-tiba muncul dari kegelapan, melainkan sisa-sisa laskar lama yang pernah bersumpah setia pada Pangeran Puger. Mereka adalah prajurit yang menolak ampunan dari Panembahan Hanykrawati ketika itu. Sebagian dari mereka telah mengenal Raden Atmandaru saat bersama-sama berguru di Padepokan Jati Raga di sekitar lereng Sindoro.

Selama bertahun-tahun, mereka seakan hidup di pengasingan sampai mendengar kabar tentang gerakan Raden Atmandaru. Mereka datang bergabung melalui jalan sunyi. Karena cukup mengenal baik pribadi maupun kemampuan, maka Raden Atmandaru tidak melibatkan mereka di permukaan. Setelah menimbang kepentingannya pada masa-masa mendatang, dan demi menghindari keberadaan mereka terungkap lebih cepat, maka Raden Atmandaru mengesampingkan Sangkal Putung dan kotaraja sebagai tempat persembunyian orang-orang tersebut. Menurut jalan pikiran Raden Atmandaru, berdasarkan pengalaman sebagai bagian dari pasukan khusus Demak, maka Tanah Perdikan menjadi tempat yang dipandang tepat untuk menjaga keterampilan serta kemampuan mereka agar tetap berada di atas rata-rata. Selain kehidupan tenang di perbukitan Menoreh, latihan-latihan yang digelar pasukan khusus Mataram pun dapat mengingatkan mereka untuk tetap menjaga kemampuan diri.

Kitab Kyai Gringsing – Bukan semua perang terjadi di medan terbuka. Bukan semua pengkhianatan diumumkan. Kitab Kyai Gringsing menyingkap sejarah dari sudut yang jarang disentuh: sunyi, penuh hitung-hitungan, dan sarat konsekuensi.

Ini bacaan untuk pembaca yang ingin lebih dari sekadar siapa menang dan siapa gugur. Buku ini bertanya hal yang lebih mengganggu: siapa yang harus memikul akibatnya setelah semuanya selesai.

Di Tanah Perdikan Menoreh, mereka mampu membekukan diri di tengah masyarakat. Selama bertahun-tahun mereka hidup dan tinggal di Tanah Perdikan bukan sebagai musuh yang mengancam, melainkan sebagai warga yang santun dan pekerja keras. Ada yang menyamar sebagai tukang pikul, petani, hingga pedagang kecil di persimpangan jalan, menjalani hidup dengan cara yang sangat wajar sehingga sulit dijangkau oleh petugas sandi Mataram.

Kesetiaan mereka kepada Raden Atmandaru bukan lagi sekadar ketaatan antara bawahan dan atasan, melainkan bentuk kesetiakawanan yang telah mengakar sangat dalam dan juga hutang budi. Di balik pakaian biasa yang mereka kenakan, tersimpan kemampuan olah kanuragan yang tetap terasah dalam diam. Begitu perintah diterima melalui tanda-tanda rahasia, mereka segera melepaskan topeng kewajaran tersebut dan berubah menjadi mesin pembunuh yang sangat teguh dengan kecepatan di atas rata-rata. Inilah kejutan sangar yang telah diwaspadai oleh Agung Sedayu, sebuah sel rahasia yang digerakkan oleh rasa sakit hati dan janji setia kepada sang penolong dengan target utama  ; kematian Ki Gede Menoreh.

Rancang kematian yang disusun Raden Atmandaru memang luar biasa. Tapi di Tanah Perdikan, setiap jengkal tanah memiliki telinga dan setiap desau angin adalah mata bagi Agung Sedayu. Maka senapati Mataram tersebut pun telah menyiapkan sambutan hangat bagi pendatang gelap yang datang dari sisi utara kediaman.

Malam itu, sisi timur kediaman Ki Gede Menoreh mendadak terasa begitu hidup. Obor yang berpijar di sepanjang jalan dan bayangan para peronda yang berseliweran seakan menjadi benteng yang sangat sibuk. Bagi mata yang terbiasa mengintai dalam gelap, maka  pemandangan di sisi timur itu menggaungkan nada keras bahwa setiap jengkal tanah telah dijaga ketat oleh pengawal Tanah Perdikan. Setiap orang yang melihat tentu akan bertanya dalam hati masing-masing, bagaimana mereka dapat melenggang tanpa pengawasan? Sebaliknya, sisi utara justru tampak dibiarkan sunyi tanpa penjagaan manusia yang berarti, hanya menyisakan benteng alam berupa permukaan tanah yang sulit serta rimbun tanaman perdu dan pepohonan yang rapat.

Di bawah keremangan cahaya bulan yang sesekali tertutup awan, pemimpin kelompok pembunuh berdiri membeku, mengamati keadaan dengan ketajaman naluri pengintai yang telah melewati ratusan malam serupa. Dua keadaan yang jauh berbeda antara sisi timur dan utara kediaman Ki Gede Menoreh mulai mengusik ketenangannya. Di matanya, keramaian di sisi timur terasa seperti pernyataan perang yang terlalu terbuka. Itu seperti sengaja  menyambutnya. Itu bahkan terlihat seperti pertahanan yang disiapkan untuk pertempuran terbuka dan bising. Namun, kesunyian di sisi utara yang hanya menyisakan deru angin di sela tanaman perdu justru memunculkan keraguan yang halus di dalam dada Ki Suta Jaladri – nama pemimpin kelompok itu.

Sebagai pemimpin regu yang terbiasa membaca medan, Ki Suta Jaladri merasakan  ketidakwajaran di balik kelonggaran tersebut. Meskipun benteng alam di sisi utara memang sulit ditembus, namun bagi seseorang dengan pengalaman tempur tingkat tinggi, ketiadaan penjagaan manusia sama sekali justru terasa lebih berbahaya daripada obor-obor yang menyala di sisi timur. Ketegangan mulai merayapi benaknya saat menyadari bahwa tempat paling tenang merupakan titik sembunyi dari maut yang sedang menahan napas.

Ki Suta Jaladri tahu bahwa jalur selatan telah tertutup sepenuhnya oleh barisan penjagaan yang melarang orang melintas. Pada bagian barat rumah Ki Gede, dia sudah mendapatkan laporan tentang pecahnya pertempuran di belakang kediaman. Secara nalar, keberadaan sisi utara yang sunyi menjadi satu-satunya celah yang tersisa untuk ditembus. Di tengah kepungan keadaan yang tidak menguntungkan tersebut, Ki Suta Jaladri tetap bergeming di batas bayangan pekarangan, menatap lekat pada rimbun pepohonan tua yang seolah menelan seluruh cahaya bulan. Tidak ada kata yang terucap, namun tangannya yang perlahan menyentuh hulu senjata mengisyaratkan bahwa setiap jengkal tanah di hadapannya kini sedang ditimbang dengan pertaruhan yang sangat tinggi.

Pikiran Ki Suta Jaladri berkecamuk sementara setiap orang dari regunya sudah bersiap menunggu perintahnya!

Dalam perhitungan dari segi keprajuritan, bagian utara adalah satu-satunya jalur yang tersisa meski sulit untuk ditembus. Justru karena jalur ini adalah satu-satunya pilihan yang masuk akal, Ki Suta jaladri tiba pada titik bimbang; apakah dia akan menyusup di antara pekarangan penduduk, ataukah sedang digiring masuk ke dalam titik yang disiapkan untuk menjadi kuburan massal bagi regunya?

Pikiran Ki Suta Jaladri makin berkecamuk hebat sementara setiap orang dari regunya masih sabar menunggu perintahnya!

Setelah menimbang segala kemungkinan di tengah keheningan yang mencekam, Ki Suta Jaladri akhirnya memberikan isyarat tangan yang pendek dan tegas. Meski nalurinya masih bergejolak melihat kesunyian yang tidak wajar, dia memerintahkan regunya untuk merayap masuk menembus rimbunnya tanaman perdu dan pepohonan tua yang rapat. Mereka bergerak seperti sekumpulan bayangan yang menyatu dengan kegelapan, merayap di atas permukaan tanah yang bergelombang dan akar-akar raksasa yang membujur  lintang. Tangan Ki Suta Jaladri melekat pada hulu senjata, bersiap menghadapi segala kemungkinan yang mungkin telah mengintai di balik benteng alam tersebut.

Keadaan mendadak berubah.

Sebuah serangan gelap yang sangat cepat melesat dari balik batang pohon yang beraneka ukuran, memicu bentrokan yang seketika pecah tanpa susunan teratur. Tidak ada barisan yang rapi atau aba-aba yang lantang ; yang terjadi adalah perkelahian jarak pendek yang riuh di sela-sela tegakan pohon. Serangan-serangan itu dilepaskan pada tingkat kecermatan yang tinggi, seolah setiap jengkal kegelapan pada bagian utara telah disiapkan untuk memuntahkan maut.

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 88 – Langkah Sunyi Menuju Jagaprayan

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 28 – Persekongkolan untuk Menghancurkan Mataram

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 25 – Siapa yang Berhak Menjadi Raja Mataram, Raden Mas Wuryah atau Raden Mas Rangsang?

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.