Hujan turun di wilayah penjagaan Ki Lurah Sora Sareh, sebuah hutan kecil di depan Dusun Benda. Tanah gelap menyerap air, daun-daun basah menahan bunyi. Kali Tinalah sedikit lebih berisik dari biasanya.
Ki Lurah Sora Sareh berdiri menghadap jalur masuk dusun. Tidak ada pergerakan sejak pagi. Jalur tetap terbuka tapi sunyi dari pelintas. Oh ya, barangkali hujan menjadi salah sebab kesunyian di sekitar Kali Tinalah. Di sampingnya, satu pengawal berusia sedang duduk rendah.
“Ki Lurah, sebenarnya sulit dipahami oleh orang seperti saya jika seandainya dari depan kita tiba-tiba muncul pasukan berkuda,” ucap pengawal itu.
Ki Lurah Sora Sareh mengangguk tipis. “Keadaan dapat memaksa yang tidak mungkin menjadi mungkin.” Dia menatap wajah pengawal itu agak lama, lalu bertanya, “Apakah Ki Sulur sudah bosan menunggu? Tidak perlu segan, saya pun sedikit jenuh. Yah, mungkin hujan pula yang menjadikan sendi dan otot lebih malas untuk bergerak.”
Sambil mengembangkan senyum, Ki Sulur mengatakan, “Tapi…tetap saja… sejak pagi berjaga dengan Anda di sini masih belum, saya belum mendapatkan jawaban puas dari pikiran sendiri.”
“Keraguan Ki Sulur justru itu yang menjadi penopang kekuatan kita selama berjaga wilayah ini,” ucap Ki Sora Sareh tanpa bermaksud memuji.
“Bukankah keraguan adalah benih kehancuran, Ki Lurah?”
“Tidak salah. Bahkan itu adalah kebenaran yang tidak dapat digugat. Meski tidak terungkap dengan kata-kata, tapi saya sadar Ki Sulur mempunyai keraguan ketika justru satu pasukan berkuda diperintahkan berjaga di tempat ini. Setiap kali saya ingin bertanya, mengapa? Saat itu juga saya mendapatkan jawaban.”
“Ki Lurah, apa jawabannya?”
“Aku tidak tahu,” sahut Ki Lurah Sora Sareh lalu mereka berdua tertawa tipis. Mereka merasa harus tertawa agar dapat menahan beban bahaya yang mengancam keselamatan Tanah Perdikan. Mereka tertawa bukan karena menertawakan nasib tapi untuk menutup celah yang mungkin sudah terbuka. Mereka bukan baru bertugas, bahkan mereka adalah bagian dari iring-iringan Panembahan Hanykrawati ketika terjepit di tebing kembar sebelum Alas Krapyak.
Ki Lurah Sora Sareh memberi tanda, pasukan berkuda bergerak maju sambil menuntun kuda menuju sisi seberang Kali Tinalah.
Dari arah Dusun Benda, setelah berjalan agak lama, pendengaran Ki Lurah Sora Sareh menangkap gerak kaki dalam jumlah cukup. Mereka tidak berisik atau mungkin suara sudah tertelan hujan. Tanda berhenti terayun di udara. Pasukan berkuda pasukan khusus itu segera mengambil sikap siaga. Kuda-kuda itu mendadak mematung. Telinga mereka berputar kaku ke arah selatan, menangkap detak yang tak terdengar telinga manusia. Mereka mendengus pendek, Belum tampak bayangan yang mendekat. Ketegangan hinggap cukup kuat di hati pasukan berkuda.
“Berhenti!” ucap lirih seorang perempuan yang berjalan di tengah-tengah. Memberi tanda agar pasukannya merayap lambat. Kerapatan air dan udara berkabut tidak menghalangi pergerakannya. Dia melesat, menembus rimbun tanaman, bergerak lincah di antara sela-sela pohon.
“Ki Lurah Sora Sareh,” ucap perempuan itu pada Ki Jayaraga lalu memerintahkan pengiringnya kembali bergerak dengan kecepatan sebelumnya.
Pada titik yang terukur, Pandan Wangi keluar dari barisan lalu menyapa kepala pasukan berkuda. “Ki Lurah,’” katanya sambil mengangguk dengan tubuh hormat.
Ki Lurah Sora Sareh tidak kehilangan kesiagaan ketika mendadak muncul perempuan yang akrab dengannya. “Oh, Nyi Pandan Wangi,” sapanya ramah lalu diikuti bahasa tubuh yang sama. Kesiagaan dikendurkan, sedikit.
Saling bertanya; apakah ini perintah? Tentu tidak berguna karena masing-masing sudah dapat memastikan nama yang menggerakkan mereka. Menyebut nama pun dapat membuat jarak di antara mereka, sedangkan Tanah Perdikan dalam keadaan sangat genting. Ki Jayaraga menjadi penengah.
“Ki Lurah, bila berkenan berbagi tugas, biarlah yang tua ini ikut bekerja,” ucap rendah Ki Jayaraga.
Pengenalan medan Ki Lurah Sora Sareh dan Pandan Wangi sama baiknya. Pandan Wangi bahkan dapat menggambarkan hampir seluruh keadaan Tanah Perdikan di luar kepala. Tapi perempuan tangguh itu tidak mendahului Ki Lurah Sora Sareh karena sadar kemampuan dan kematangan pemimpin prajurit itu
Ki Lurah Sora Sareh memandang Pandan Wangi sejenak, beralih ke Kinasih tapi sorot matanya berubah.
“Semua adalah keluarga dan juga kawan baik,” kata Pandan Wangi tanpa maksud menghapus paksa kecurigaan Ki Lurah Sora Sareh. Keadaan genting dan Kinasih adalah pendatang yang lebih banyak menghabiskan waktu di kediaman Ki Gede Menoreh. Wajar bila Ki Lurah Sora Sareh curiga.
“Oh,” ucap pendek lantas mengangguk ramah pada Kinasih. Sejenak kemudian dia mengatakan sesuatu yang terbatas pada Ki Jayaraga dan Pandan Wangi. Kinasih tahu batas lalu mundur beberapa langkah.
Ki Sora Sareh menyebut Gunung Kendil dan lereng dengan suara rendah. Sedikit orang yang mendengar, dan lebih sedikit lagi yang paham arah pembicaraan.
Tak lama kemudian, Pandan Wangi mendekati Kinasih lalu berkata, “Apakah kau tetap berada di sini atau mengikuti kami?” Perempuan tangguh itu sengaja memberi Kinasih kesempatan untuk memilih dengan maksud baik.
Kinasih menengok pada arah pasukan kuda berbaris rapi seperti sedang menakar kekuatan mereka. Kemudian berpaling pada Ki Jayaraga sambil bertanya, “Kyai akan berada di mana?”
Pandan Wangi memberi jawaban, “Luka Ki Jayaraga tidak memungkinkan bila tetap berada di sini.”
“Saya mengerti. Ki Jayaraga dapat mengiringi Nyi Pandan Wangi,” ucap Kinasih tegas. “Saya tetap di sini.”
“Baik, aku tinggalkan satu atau dua orang bila nantinya engkau membutuhkan pemandu jalan dan supaya Ki Lurah tidak berkurang pasukannya.” Pandan Wangi bicara tegas lalu menyebut dua nama sebagai pemandu Kinasih.
“Kita berpisah sekarang. Kami percayakan rombongan Ki Lurah ini padamu, Nduk,” lanjut Pandan Wangi. “Tetap berhati-hati. Aku masih ingin melihatmu dalam keadaan baik esok hari.” Putri Ki Gede itu meraih lengan Kinasih. Mereka berhadapan dalam waktu yang lama meski sebenarnya sangat singkat. Ada pancaran kasih atau sesuatu yang sulit dijelaskan tentang hubungan mereka.
Pandan Wangi membagi pasukan pejalan kaki yang merupakan gabungan pasukan khusus dengan Tanah Perdikan. Sedangkan Ki Lurah Sora Sareh segera menempatkan beberapa orang pada kedudukan yang sangat penting. Iring-iringan Pandan Wangi bergerak ke arah yang lain, meninggalkan Kinasih dan Ki Lurah Sora Sareh.
Hujan terus turun. Mereka semua menunggu. Tidak ada perintah lagi. Yang tertinggal hanya kabut dan desis Kali Tinalah.
