Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Buki Menoreh 61 – Utusan Jati Anom untuk Agung Sedayu, Ada Apakah?

Simpang Tiga Menuju Tanah Perdikan

Jalan menuju Tanah Perdikan Menoreh mulai ramai sejak beberapa orang yang menyeberang di Kali Progo melangkah ke arah barat. Di beberapa tempat terlihat orang-orang yang berjalan sendiri, ada pula yang berkelompok kecil.

Di sebuah ruas jalan yang membelah ladang kering, dua orang penunggang kuda melaju berdampingan. Ki Wedoro Anom dan Ki Hariman berbicara singkat beberapa kali, lalu percakapan itu berhenti dengan sendirinya ketika jalan mulai bercabang.

Tanpa banyak isyarat, Ki Hariman menarik tali kekang kudanya dan membelok ke jalan kecil yang menuju ke utara. Jalan itu sempit, memotong pematang lalu pategalan panjang. Dia akan mencapai tepi hutan setelah menyeberangi sungai dangkal. Selanjutnya sebuah jalan setapak yang jarang dilalui orang akan menghubungkan jalur utama ke bagian utara Tanah Perdikan.

Ki Wedoro Anom tetap pada jalur utama yang mengarah ke pedukuhan induk Tanah Perdikan.

Agak jauh dari belakang mereka, Ki Wira Sentanu menyaksikan semuanya penuh perhatian dan pikiran yang bercabang-cabang. Dia tidak mengenal wajah maupun bentuk tubuh orang yang diyakini membawa kitab Kyai Gringsing. Yah, tanda itu ada dan memang nyata, tapi dia butuh kepastian. Maka Ki Wira Sentanu tidak segera dapat menentukan. Dia pun belum bergerak.

Kedua jalur itu sama-sama mungkin.

Yang satu menuju pedukuhan induk, tempat orang-orang biasanya berhenti. Yang lain menembus jalan kecil yang jarang dilalui kecuali oleh orang yang mengenal daerah itu dengan baik.

Ki Wira Sentanu menimbang sejenak.

Jika kitab itu dibawa oleh orang yang menuju pedukuhan induk, dia masih dapat mengejarnya tanpa banyak kesulitan. Tetapi jika pembawa kitab justru yang membelok ke utara, maka Ki Wira Sentanu sudah dapat membayangkan bahwa dirinya akan kehilangan jejak.

Demikianlah kemudian, Ki Wira Sentanu menuntun kuda perlahan menuju sebuah kedai kecil di tepi jalan berikutnya. Dari tempat itu dia masih dapat mengamati jalan utama, sambil menunggu pergerakan lain yang dapat memberinya petunjuk.

Sementara itu, di jalur yang ditempuh Ki Wedoro Anom, seorang penunggang kuda melintas dari belakang dengan kecepatan yang sedikit lebih tinggi. Orang itu tidak tampak tergesa-gesa tapi dia memang berkuda cepat.

Dalam waktu singkat, dia melewati Ki Wedoro Anom tanpa menoleh.

Seluruh peristiwa itu tidak luput dari pengamatan Glagah Putih. Dia berada cukup jauh di belakang dengan jarak terukur,. Cermat mengikuti arus orang-orang yang menuju Tanah Perdikan.

Ketika orang yang berdampingan dengan Ki Hariman berbelok ke utara, Glagah Putih memperlambat kuda. Matanya berganti-ganti mengikuti dua jalur yang kini terpisah itu. Lalu dia mengangkat wajah sedikit, memandang penunggang yang baru saja melewati Ki Wedoro Anom. Keningnya tampak berkerut saat melihat orang yang sempat berkelahi dengannya justru masuk ke dalam kedai.

Jalan pikiran Glagah Putih cepat dipenuhi pertanyaan tapi dia tahu bahwa jawaban tidak akan muncul dengan cepat. Tapi tugas yang diembannya adalah membayangi pergerakan Ki Wedoro Anom maka dia pun tetap pada kewajibannya itu.

Glagah Putih Tiba di Rumah Agung Sedayu

Pada pagi itu, arus pergerakan dari Tanah Perdikan menuju arah kotaraja mulai tampak menggeliat. Gerobak dan pedati mulai membuat kesibukan di jalanan sedikit meningkat.

Glgah Putih agak mempercepat laju kuda karena Ki Wedoro Anom ternyata tidak mengurangi kecepatan sejak berpisah dengan Ki Hariman.

Kabut semakin tipis ketika Ki Wedoro Anon dan Glagah Putih kian dekat dengan pedukuhan induk.

Dari kejauhan, Glagah Putih melihat punggung Ki Wedoro Anom dengan kening berkerut. Orang itu tidak mengarahkan perjalanan ke barak pasukan khusus dan juga tidak menuju kediaman Ki Gede Menoreh. Namun demikian, Glagah Putih terus mengikutinya dengan hati-hati. Dia sedikit mengurangi laju karena suasana menjadi agak lengang saat mereka mengarahkan perhatian ke barat.

“Apakah dia akan ke Dusun Benda/” tanya Glagah Putih dalam hati.

Ketika tanda wilayah Dusun Benda sudah terlihat, Ki Wedoro Anom ternyata tidak memperlambat kudanya, berbelok ke jalan kecil yang seakan menjadi batas hamparan dua bidang sawah yang luas. Rumah penduduk tampak tersebar jarang dan agak tersembunyi di balik pekarangan banyak ditumbuhi pohon nangka.

Hingga tampak sebuah rumah yang letaknya agak menyendiri di daerah yang mempunyai jalur yang dapat terhubung langsung dengan barak.

Di rumah itulah Ki  Wedoro Anom berhenti.

Dia turun dengan gerakan ringan, mengelus leher kudanya sebentar sebelum menyerahkan tali kekang kepada seseorang yang muncul dari halaman belakang. Setelah bicara sejenak, Ki Wedoro Anom masuk ke dalam rumah.

Glagah Putih berhenti jauh sebelum mencapai halaman rumah itu. Dia menuntun  kuda di balik rumpun bambu dan mengamati dengan penuh kewaspadaan. Dari tempat persembunyiannya, dia mengetahui bahwa kedudukan rumah itu benar-benar sangat tepat. Dalam perhitungannya, seseorang dapat mencapai barak pasukan khusus lalu kembali ke rumah tanpa banyak diketahui orang. Jika orang itu ingin menemui bekel dusun, maka dia pun bebas bergerak tanpa menarik perhatian orang yang sedang di ladang atau sawah.

Glagah Putih bertahan di tempat itu sedikit lebih lama dari perkiraannya semula.

Waktu perlahan berjalan. Matahari bergerak turun, sinarnya menyusup di sela-sela batang bambu dan pepohonan yang mulai menebarkan bayang panjang. Tapi Ki Wedoro Anom tidak juga keluar dari rumah itu.

Baru ketika senja mulai menebarkan warna kemerahan di langit Menoreh, Glagah Putih mengambil keputusan: dia dapat berlama-lama lagi karena urusan lain yang tak kalah pentingnya.

Dengan hati-hati dia menarik tali kekang kudanya, lalu memutar arah, menjauh dari Dusun Benda, menempuh jalan menuju kediaman Agung Sedayu.

Kuda yang ditungganginya berlari mantap menyusuri jalan tanah yang mulai lengang. Beberapa petani yang terlambat pulang dari ladang hanya sempat menoleh ketika sosok berkuda itu melintas cepat. Glagah Putih sekali-kali melambaikan tangan, menyapa tapi tidak menghentikan kuda.

Ketika dia memasuki halaman rumah Agung Sedayu, gelap hampir sepenuhnya turun. Cahaya lampu minyak telah menyala di serambi.

Ki Jayaraga berada di beranda bersama orang yang cukup mengejutkan dirinya, tapi Glagah Putih mampu menahan perubahan pada air mukanya. Hanya saja, Ki Jayaraga lebih tajam menangkap perubahan yang sangat singkat itu.

“Guru,” sapa Glagah Putih lalu mengambil punggung tangan gurunya dengan hormat kemudian berpaling pada orang yang duduk di samping Ki Jayaraga sambil mengangguk.

“Ki Sanak ini adalah Glagah Putih, sepupu Ki Rangga Agung Sedayu dan juga prajurit dari pasukan khusus,” ucap Ki Jayaraga memperkenalkan Glagah Putih pada orang di sampingnya. Dia melakukan itu karena mempunyai dugaan kuat bahwa muridnya itu sudah mengalami sesuatu dengan tamu mereka, setidaknya sempat bertatap muka atau hanya melihat saja.

Orang itu— mungkin sepantaran dengan Agung Sedayu—sedikit membungkuk dengan senyum mengembang pada wajahnya.

“Beliau ini Ki Seruni, datang dari Jati Anom, utusan Ki Untara,” sambung Ki Jayaraga.

“Apakah Ki Seruni sudah bertemu Ki Rangga atau sedang menunggu beliau,” tanya Glagah Putih tenang.

“Oh, saya sudah bertemu beliau,” sahut Ki Seruni datar.

“Beliau berdua sudah bertemu dan bicara. Hanya saja, Ki Rangga sedang berada di halaman belakang untuk keperluan lain. Mungkin sebentar lagi akan bergabung di sini,” kata Ki Jayaraga.

Tak lama kemudian, Agung Sedayu muncul dari pringgitan sambil membawa bungkusan daun jati lalu menyerahkannya pada Ki Seruni.

“Silakan, Ki,” ucap Agung Sedayu setelah menepuk hangat pundak Glagah Putih. “Sekadar bekal perjalanan.”

Ki Seruni bangkit menyambut bungkusan itu, katanya, “Mohon maaf sudah merepotkan Ki Rangga. Baiklah, saya terima ini dengan senang hati.”

Usai memasukkan bungkusan itu pada kantung kulit yang menyelempang pada tubuhnya, dia berkata lagi, “Saya mohon diri sekarang, Ki Rangga. Ki Jayaraga. Ki Glagah Putih. Terima kasih.”

Langkah Ki Seruni begitu ringan menuruni tlundak, melompat ke atas kuda, lalu membedalnya ke arah kotaraja.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 13 – Perintah Agung Sedayu: Persiapkan Segalanya!

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 46 – Ketika Kesetiaan Agung Sedayu Dipertanyakan

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 49 – Kecurigaan dan Keresahan di Sekitar Agung Sedayu

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.