Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 97 – Mereka Datang lalu Menantang Pasukan Khusus

Hampir berbarengan dengan habisnya waktu lawatan Ki Gede dan Pandan Wangi di Dusun Benda, Sayoga dan Sukra mundur dari tempat pengintaian ketika senja hampir berlalu.

Mereka menempuh jalur yang berbeda dari saat memulai pengamatan. Dua pengawal Tanah Perdikan itu turun memutar, melewati jalur yang berujung di lereng utara Gunung Kendil. Setelah menyeberangi tiga sungai dangkal, akhirnya tampak sebuah gardu jaga yang sudah berisi para pengawal pedukuhan yang berusia muda. Sebagian tampak sedang berbincang di samping gardu sambil menyalakan api unggun kecil. Jalan-jalan dan lorong pedukuhan induk mulai diterangi oncor yang dipasang dalam jarak yang terukur.

Mereka berdua akhirnya tiba di kediaman Ki Gede Menoreh setelah singgah di beberapa gardu yang dijumpai sepanjang jalan.

Ki Gede duduk bersila di bagian dalam pendapa, sedangkan Pandan Wangi belum tampak di sampingnya.

Dua anak muda itu bergegas menaiki tangga, menyapa Ki Gede kemudian meminta izin untuk membenahi diri sekadarnya.

Ki Gede mengangguk, katanya, “Tak perlu buru-buru karena Ki Jayaraga sepertinya masih sibuk memanggang ayam untuk makan malam.”

“Terima kasih, Ki Gede,” sahut Sayoga. Mereka lantas meneruskan langkah ke sumur, membersihkan diri lalu kembali merapikan pakaian.

Tak lama kemudian, Sayoga dan Sukra duduk berhadapan dengan Ki Gede. Ki Jayaraga pun sudah berada di pendapa.

Samar-samar tercium bau sangit yang terbawa angin malam, membuat Sayoga dan Sukra saling melirik, menahan senyum yang nyaris lepas.

Ki Gede mengangkat alisnya tipis, lalu berdehem pelan. “Ayamnya matang atau malah berubah jadi arang, Kyai?” katanya datar.

Ki Jayaraga terkekeh pendek sambil menepuk-nepuk lengannya, meninggalkan jejak debu hitam yang justru makin jelas terlihat. “Kalau baunya begini, yang penting masih bisa dimakan,” sahutnya ringan.

Sukra tak kuasa menahan tawa kecil, “Kalau tidak, kita cukup kenyang oleh aromanya saja malam ini.”

Suasana sedikit mencair ketika Ki Gede meminta setiap orang segera mengisi perut dengan hidangan seadanya. Pandan Wangi muncul kemudian dengan kendi berisi jahe hangat.

Mereka berbincang ringan mengenai makanan yang ada di atas tikar pandan.

Seorang perempuan tua cekatan membereskan perlengkapan makan setelah semua orang merasa cukup. Pandan Wangi turut membantu pekerjaan itu.

Tak lama setelah perempuan tua itu berlalu, Sayoga membuka laporan dengan suara rendah. “Ada sekelompok orang di bekas perkemahan itu, Ki Gede. Tetapi kami tidak dapat memastikan jumlahnya dengan tepat. Mereka tidak selalu tampak di satu tempat.”

Sukra menambahkan, “Kebanyakan dari mereka terus bergerak. Dua orang masuk rumah, satu keluar. Ada masuk lagi, keluar beberapa dan begitu seterusnya.”

Ki Gede mengangguk perlahan.

“Bangunan yang menyerupai rumah ada sekitar lima sampai enam,” lanjut Sayoga. “Selain itu, terdapat beberapa gubug dan sebuah pendapa yang cukup luas. Kami juga melihat sebuah tempat terbuka—kemungkinan digunakan sebagai sanggar latihan—di sisi timur dan selatan permukiman.”

“Jadi memang sulit memperkiraka jumlah mereka,” gumam Ki Gede.

Sukra dan Sayoga hanya mengangguk.

Pandan Wangi masih lebih banyak diam seakan sedang menyusun gambaran di dalam benaknya.

“Gubug-gubug itu,” katanya pelan, “kemungkinan bukan sekadar tempat berteduh. Jika jumlah orangnya cukup banyak, mereka tentu membutuhkan tempat penyimpanan dan pengolahan bahan makanan. Bisa jadi itu gudang atau dapur.”

Ki Gede menatap ke arah Pandan Wangi sejenak, lalu kembali kepada Sayoga dan Sukra. “Apakah kalian melihat tanda-tanda penjagaan?”

“Kami tidak melihat penjaga yang tetap atau bergiliran rapi,” jawab Sayoga. “Perondaan dilakukan, saya kira, dengan acak dan dalam jangkau yang tidak tetap. Tapi juga tidak dapat dikatakan longgar, Ki Gede.’

Sukra mengangguk-angguk, kemudian berkata, ”Kadang arah perondaan ke selatan. Ketika berganti orang ternyata juga ke selatan. Selama kami mengamati, perondaan mereka memang tidak beraturan dan itu agak menyulitkan pergerakan kami.”

 Sukra lantas memandang Sayoga sejenak seolah ingin meminta pertimbangan, tapi ternyata Sayoga seperti tidak memahami keinginannya.

“Lalu ada suara,” sambung Sukra, “yah seperti suara orang-orang yang sedang berlatih. Entah kanuragan atau apa, kami sedikit kesulitan mendekat karena perondaan yang tidak menetap jalur dan jadwalnya.”

Pandan Wangi tampak manggut-manggut. Suasana pendapa terasa sedikit lebih tegang ketika Ki Gede meminta Ki Jayaraga menjelaskan hasil pengamatannya.

Angin malam yang turun dari balik Merapi berhembus dingin.

Ki Jayaraga mengucap beberapa kalimat ringan, lalu berkata, “Dari Dusun Benda, saya tidak menemukan banyak jejak kuda  yang mengarah ke lereng Kendil. Beberapa mungkin memang milik pedagang atau dari pasukan khusus jika memperhatikan arah kedatangan.”

Ki Jayaraga tampak tenang, tapi raut wajahnya seolah sedang membayangkan peristiwa yang pernah terjadi beberapa waktu sebelumnya. Dia menarik napas panjang, lalu berkata lagi, “Beberapa jejak memang mengarah ke lereng Kendil. Mungkin sekitar lima atau tujuh tampak di dalam kandang. Bila diilihat dari ukuran kandang, saya pikir itu hanya dapat terisi tidak lebih dari sepuluh ekor saja.”

“Sepuluh ekor,” ulang Pandan Wangi, ”berarti hampir tidak mungkin untuk membentuk kelompok pasukan berkuda bila mereka ada niat yang sama dengan Raden Atmandaru.”

Ki Gede mengangguk pelan, sedangkan Sayoga dan Sukra kembali bertukar tatap mata. Akhirnya mereka tahu alasan Ki Jayaraga yang kemudian menempuh waktu dan jalur yang berbeda dengan mereka berdua dan juga Ki Gede sekalian.

“Ada latihan, seandainya dugaan ini benar, maka mereka mungkin orang-orang dari perguruan tertentu atau akan mendirikan semacam padepokan di lereng Kendil,” ucap Ki Gede pelan.

“Selalu begitu…,” desis Sukra sedikit gemas dengan nada seakan ditujukan pada dirinya sendiri. “Selalu ada orang yang datang tiba-tiba dengan senyap. Pertama sedikit orang, datang lagi dan lagi kemudian menjadi banyak. Selalu berulang dan selalu tanpa ada pemberitahuan. Bukankah mereka punya mulut untuk bicara?”

“Sebetulnya itu bukan karena kami kehendaki, Sukra, bila itu yang kau maksudkan,” kata Pandan Wangi kemudian. “Dan juga bukan berarti kita sangat lemah untuk menegakkan paugeran atau tata krama. Tapi aku juga tidak ingin memberi alasan yang dapat dianggap sebagai pembenaran.”

Sukra terkejut lalu cepat berkata dengan agak gagap, “Oh,  bukan, bukan itu maksud saya, Nyi. Tapi keadaan ini seolah pengulangan padahal semua orang yang masuk Tanah Perdikan pasti tahu bahwa ada yang dituakan atau pemimpin wilayah.”

“Tidak masalah kau katakan yang sebelumnya,” sahut Pandan Wangi. “Kita punya pengawal dan barak pasukan khusus juga berada di sekitar kita. Jadi bukan masalah kita tidak tahu tapi kita sedang menunggu maksud mereka sambil mengetuk pintu.”

“Tapi mereka dapat berkembang menjadi berbahaya daripada sekadar kelompok penebang atau pemukim liar,” kata Sukra dengan wajah bersungut.

“Sukra, dan kau juga, Sayoga. Aku harap kalian dapat sedikit lebih tenang. Dari dua pengawal sebelum ini, kita sudah mengetahui keadaan di lereng Kendil. Keterangan hari ini menjadi penguat,” ucap Ki Gede dengan suara yang menyejukkan. Dia bicara sesuai urutan kejadian. Lanjutnya kemudian, “Dalam dua atau tiga hari mendatang, kalian dapat melaporkan semua temuan pada Ki Rangga Sanggabaya atau Ki Demang Brumbung. Tentu kalian paham bahwa kita punya kekuatan sendiri tapi barak harus diutamakan.”

“Mengerti, Ki Gede,” sahut Sayoga dan Sukra hampir serentak.

Mereka menyadari bahwa yang mereka lihat mungkin hanya  permukaan. Mungkin di balik segala kesibukan di sana ada sesuatu yang lebih dalam dan berbahaya. Siapa tahu?

Ki Gede kemudian menghela napas pendek. “Untuk sementara, kita cukup mengetahui bahwa mereka telah menata diri. Kita tidak boleh tergesa-gesa.”

Lampu minyak menggeliat sejenak. Malam turun semakin dalam.

Tiga tamu Ki Gede telah meminta diri dan kembali ke rumah Agung Sedayu. Mereka bertiga sadar bahwa besar kemungkinan  sebuah ketegangan atau kekacauan akan kembali mendatangi Tanah Perdikan Menoreh.

Selang dua hari dari pembicaraan di rumah Ki Gede, pagi itu udara masih basah oleh embun ketika Ki Lurah Sorah Sare sudah berada di regol. Kedatangannya tidak seperti biasa—tergesa, tanpa banyak basa-basi dengan para pengawal yang mengenalnya baik.

Ki Gede yang baru saja keluar dari dalam rumah segera menyambutnya di pendapa. Mempersilakan prajurit Mataram itu naik lalu duduk di pendapa.

“Ki Lurah,” kata Ki Gede dengan sapaan hormat. “Kami baru saja akan menemui Ki Sanggabaya di barak.”

Ki Lurah Sora Sareh mengangguk dalam-dalam sebelum duduk bersila. Setelah mengawali dengan kalimat ringan dan wajar, pemimpin pasukan berkuda itu kemudian berkata, “Saya datang dengan ditemani beberapa hal, Ki Gede.”

Ki Gede mengangkat tangan—izin bagi tamunya untuk bicara lebih dulu.

“Kabar datang dari Gunung Kendil, Ki Gede. Bekas perkemahan Raden Atmandaru telah dihuni sekelompok orang. Menurut keterangan petugas sandi, mereka bukan pemukim liar, pemburu atau pencari tanaman obat.”

Ki Gede sedikit mengangkat wajah sambil menatap arah yang jauh. Satu hela napas panjang keluar darinya.

“Seperti yang telah Ki Gede ketahui, pasukan khusus sudah meminta mereka untuk datang melaporkan keberadaan di Kendil,” lanjut Ki Sora Sareh. “Teguran pertama masih mereka tanggapi dengan sikap seolah tidak tahu. Kami simpulkan itu karena tidak ada utusan atau wakil Tanah Perdikan yang datang ke barak. Tetapi yang kedua… mereka menjawab dengan kekerasan.”

“Kekerasan?” alis Ki Gede tertaut.

Ki Lurah Sora Sareh mengangguk, katanya, “Terjadi benturan meski belum ada korban.”

Sejenak pendapa menjadi sunyi.

Keterangan itu seakan menguatkan laporan Sayoga dan Sukra sebelumnya tentang pergerakan yang tidak wajar di lereng Kendil. Ki Gede selanjutnya juga mengungkapkan laporan pengamatan yang dilakukan dua pengawal Tanah Perdikan itu pada Ki Lurah Sora Sareh.

Ki Gede menarik napas panjang. “Itu bukan kebetulan. Ada kelompok, ada latihan kanuragan. Yang sedikit membedakan dengan kelompok Raden Atmandaru adalah mereka tidak memiliki banyak kuda atau mengadakan latihan perang.”

Ki Lurah Sora Sareh mengangguk. “Kami semua juga berpendapat begitu. Karena itu, sebelum barak berbuat lebih keras, dengan perkenan Ki Rangga Sanggabaya, saya datang mewakili Ki Tumenggung Agung Sedayu untuk memberitahu sekaligus meminta izin Ki Gede untuk tindakan berikutnya.”

Ki Gede mengangguk, katanya, “Saya selalu menyertai setiap keputusan dan tindakan dari barak pasukan khusus.”

“Terima kasih, Ki Gede,” ucap Ki Lurah Sora Sareh. Dia tahu bahwa dari sorot mata pemimpin Tanah Perdikan itu sudah jelas memperlihatkan keharusan adanya tindakan tegas dari mereka:  pengawal Tanah Perdikan atau pasukan khusus.

Ki Gede Menoreh lantas mengalihkan pandangannya pada pelataran samping.

“Ki Lurah,” katanya perlahan, “apa yang terjadi di Kendil ini… keberanian mereka… mungkinkah ada orang kuat yang berdiri di belakang mereka? Jika dulu ada Raden Atmandaru, di masa lalu ada Ki Saba Lintang dan sebagainya, bagaimana dengan sekarang?”

Ki Lurah Sora Sareh mengangkat wajah lalu menarik napas panjang, tapi dia tidak mengucapkan kata-kata.

 “Beberapa waktu lalu, Ki Tumenggung Agung Sedayu menyampaikan pesan pada Pandan Wangi tentang sesuatu yang tidak ringan. Tentang Dusun Benda dan kaitannya dengan seorang prajurit.”

Dia berhenti sejenak lalu meneruskan, “Saya sudah mengunjungi dusun itu beberapa hari lalu. Memang ada bahaya yang sedang bergerak. Bukan sekadar dari luar, tetapi bisa berawal dari tempat yang tidak seharusnya.”

Ki Lurah Sorah Sare sedikit mengernyitkan kening.

“Barak pasukan khusus,” lanjut Ki Gede lebih rendah, “tidak sepenuhnya berada di luar jangkauan kemungkinan itu.”

Angin pagi berhembus pelan, menggoyangkan ujung daun-daun yang masih menjadi tempat bergantung sedikit embun.

“Saya tidak mengatakan bahwa sebagian prajurit telah terpengaruh,” sambung Ki Gede, “tapi jika orang-orang di Kendil berani mendekat dan menunjukkan diri, sementara di sisi lain ada isyarat yang tidak terang dari dalam barak… maka kita tidak boleh memandang kedua hal itu sebagai peristiwa yang terpisah. Dan juga tidak dapat mengabaikan salah satunya sebagai perpanjangan tangan Raden Atmandaru. Semua itu adalah kemungkinan yang dapat kita pikirkan saat ini.”

Ki Lurah Sora Sareh menunduk dalam. Dalam pikirannya ada bentangan pertanyaan: bagaimana Ki Agung Sedayu meraba segala arah sementara sedang berada di Kotaraja?

“Oleh sebab itu kita harus berhati-hati, Ki Lurah,” kata Ki Gede lagi. “Bukan hanya terhadap mereka yang datang dari luar, tetapi juga terhadap kemungkinan yang tumbuh dari dalam.”

“Tanpa maksud dursila, dari sisi pengamatan kami, hal yang sama mungkin pula sudah terjadi di dalam Tanah Perdikan,” ucap Ki Lurah Sora Sareh,”salah seorang dari kami ternyata lebih memilih tinggal di Dusun Benda.”

“Kita menghadapi dua pihak yang nyaris mempunyai kesamaan gerak,” potong Ki Gede Menoreh.

Terdengar bunyi sepatu kuda menapak jalan dengan laju rendah. Seekor kuda kemudian memasuki halaman rumah Ki Gede Menoreh. Ternyata kuda itu ditunggangi oleh Pandan Wangi.

Pandan Wangi melompat turun dengan ringan dari punggung kudanya. Tanpa banyak jeda, ia segera melangkah masuk ke pendapa. Pandangannya bergantian menatap Ki Gede dan Ki Lurah Sora Sareh. Sekelumit pertanyaan muncul dalam benaknya, ada pembicaraan apa pada pagi ini?

“Ki Lurah,” sapa Pandan Wangi sambil sedikit menundukkan kepala, lalu duduk bersila tidak jauh dari ayahnya.

Ki Gede memandangnya sejenak. “Kau datang tepat waktu, Wangi. Kami sedang membicarakan perkembangan di lereng Kendil.”

Pandan Wangi mengangguk pelan sambil menautkan alis. “Jadi, bukan kebetulan karena sebelum ke sini, saya telah berbicara dengan Prastawa dan Paman Argajaya.”

Saat disebut nama Prastawa, Ki Lurah Sora Sareh memberi perhatian lebih. Itu berarti Pandan Wangi sedang membahas persoalan ketertiban dan keamanan wilayah. Mungkinkah dia sudah mengetahui benturan pada perondaan kedua? Demikian Ki Lurah Sora Sareh menanyakan itu pada dirinya sendiri.

“Ki Lurah, kami sudah mengetahui yang sedang berkembang di Dusun Benda sejak pertempuran Gunung Kendil beberapa waktu lalu,” sambung Pandan Wangi. “Jadi, perondaan akan dibenahi karena termasuk di dalamnya adalah menata kembali yang telah membujur lintang.”

Ki Gede tidak menyela. Dia mendengar kata demi kata yang diucapkan putrinya itu.

“Karena sedikit perubahan di Dusun Benda ternyata juga terhubung dengan salah satu prajurit barak, maka kami berencana untuk menyelaraskan keputusan dengan barak. Untunglah, Ki Lurah sudah berada di sini sekarang,” tutup Pandan Wangi.

Ki Lurah Sora Sareh kemudian berkata pelan, “Langkah itu sejalan dengan yang kami pikirkan di barak. Dusun Benda memang sedang menjadi simpul yang sulit.”

Raut wajah Pandan Wangi menampakkan kesungguhan saat memperhatikan wajah ayahnya. Kemudian dia berkata, “Tadi saya bicara sebentar dengan Glagah Putih saat kami bertemu di dekat rumah Prastawa. Dia mengatakan bahwa teguran keras telah diberikan oleh pasukan khusus pada perondaan kedua. Jadi, saat melihat Ki Lurah Sora Sareh datang menemui ayah, saya pikir teguran ketiga harus diberikan dengan sedikit tekanan.”

“Oh, demikian cepat orang-orang muda sekarang membuat keputusan dan bergerak,” kata Ki Gede sambil membuka senyum. “Kami yang senja sering tertinggal langkah.”

“Mohon maaf, Ki Gede,” ucap rendah Ki Lurah Sora Sareh.

Kemudian raut wajahnya sedikit berubah karena enggan menyebut nama seseorang, dia berkata lagi, “Kami tidak mengirim pemberitahuan pada Ki Gede karena sedikit tekanan.”

“Saya dapat memahami,” ucap Ki Gede menenangkan.

Pandan Wangi mengangguk, lalu menatap langsung kepada Ki  Lurah. “Karena itu, jika nanti dilakukan perondaan berikutnya… saya berharap pengawal Tanah Perdikan juga dilibatkan. Bukan kami ikut serta pada perondaan kedua, tapi besar kemungkinan akan terjadi yang lebih besar untuk penertiban berikutnya. Pasukan khusus tidak dapat berjalan sendiri.”

Ki Lurah Sora Sareh menegakkan punggungnya sedikit. Dia paham Pandan Wangi tidak sedang menyatakan keberatan tapi karena itu memang kewajiban Tanah Perdikan. Lurah Mataram itu menoleh sekilas pada Ki Gede sebelum menjawab, “Ki Gede, sebenarnya kita sudah ditipu oleh mereka dan sepertinya teguran lebih keras memang harus dilayangkan.”

Kening Ki Gede berkerut, demikian pula Pandan Wangi.

Kemudian Ki Lurah Sora Sareh mengungkapkan bahwa setelah teguran kedua yang berlanjut dengan bentrokan, orang-orang Kendil bersedia keluar dari permukiman dan seterusnya.

“Tapi hari berikutnya, petugas sandi kami melaporkan bahwa mereka kembali lagi ke permukiman,” lanjut Ki Lurah Sora Sareh.

Ki Gede mengangguk lalu menoleh pada Pandan Wangi. Katanya kemudian, “Jika demikian, kita akan bersama-sama lagi seperti yang sudah-sudah.”

Pandan Wangi menunduk lalu menarik napas panjang. “Hanya itu satu-satunya jalan yang ada.”

Akhirnya Ki Lurah Sora Sareh berkata dengan nada pasti, “Saya akan menyampaikan hal ini kepada Ki Rangga Sanggabaya dan Ki Demang Brumbung.”

Pandan Wangi menunduk hormat. “Terima kasih, Ki Lurah.”

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 92 – Perondaan Kedua ke Lereng Gunung Kendil

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 89 – Melabrak Perguruan Orang Bercambuk di Jati Anom

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 3 – Menahan Dera di Menoreh

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.