Padepokan Witasem
Bab 1 Agung Sedayu Terperdaya

Agung Sedayu Terperdaya 14

Ia menambahkan kemudian,” Yang pasti terjadi saat ini adalah kita belum tahu secara pasti keberadaan mereka. Sementara itu aku ingin menunggu dalam satu dua hari. Besok pagi, seluruh pengawal dan pasukan khusus akan menjelajahi setiap jengkal serta jalur-jalur yang menghubungkan setiap wilayah di Tanah Perdikan.”

Ketegangan merebak dalam ruangan tempat mereka berkumpul. Sekar Mirah mengingat satu kejadian di masa lalu ketika sekumpulan besar orang-orang yang mengaku murid Perguruan Kedungjati menyerang Tanah Perdikan Menoreh. Ia kemudian membandingkan keberadaan tongkat Macan Kepatihan dengan kitab Kiai Gringsing.

“Apakah mungkin ada orang yang ingin mendirikan Perguruan Orang Bercambuk diluar Jati Anom, Kakang?” pertanyaan Sekar Mirah memecah kesunyian yang menyelimuti mereka bertiga.

Sementara itu Ki Jayaraga memandang wajah Agung Sedayu penuh pertanyaan. Namun kemudian ia mendengar Agung Sedayu berkata,”Aku tidak mempunyai pikiran semacam itu.” Ia berpaling pada Ki Jayaraga, katanya,”Justru terdengar aneh saat mereka berkata untuk menuntut balas kematian tiga  murid Kiai yang menjadi bajak laut, tetapi pada saat bersamaan mereka juga menyatakan keinginan terhadap kitab guru.”

Ki Jayaraga menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia telah berdamai dengan masa lalunya yang kelam. Hampir semua muridnya menempuh jalan yang berbeda dengannya. Sekalipun perasaannya tidak terusik dengan kehadiran orang yang mengaku akan membalas dendam kematian tiga muridnya, namun ia tidak dapat menahan diri melihat ancaman yang mengintai orang-orang yang menyayangi dan menghormatinya. Ia sempat kehilangan semangat dalam kehidupan. Ia tidak ingin peduli dengan kehidupan sekitarnya, namun kemudian pertemuannya dengan Kiai Gringsing telah mengembalikan ingatannya tentang tujuan dan maksud hidupnya. Apalagi semenjak ia tinggal bersama keluarga Agung Sedayu di Tanah Perdikan. Dan kemudian gelora jiwanya bangkit secara utuh ketika ia mengangkat Glagah Putih sebagai muridnya.

“Namun aku memandangnya sebagai sesuatu yang baik apabila kita tetap menunggu segala kemungkinan dan perkembangan keadaan. Pada dasarnya aku tidak mengenal mereka, sehingga tidak mungkin segala kejadian ini dapat dihubungkan denganku,” berkata Ki Jayaraga. “Ketenanganku mulai terusik ketika mereka membawa tiga muridku yang telah tewas. Bagaimanapun juga aku merasakan adanya ganjalan dalam hatiku. Karena mungkin saja orang-orang Menoreh akan melihat ini sebagai urusanku sepenuhnya.”

Agung Sedayu dapat memaklumi suasana hati Ki Jayaraga. Lalu ia berkata,” Kiai tidak dapat menghentikan pendapat orang.”

“Aku tidak menampik pendapat yang beredar, Ngger,” Ki Jayaraga menarik nafas panjang. “ Beberapa orang mendatangiku ketika berita tentang kehadiran pengikut Ki Garu Wesi telah banyak didengarkan orang. Pada umumnya mereka tidak melihat tujuan orang-orang asing itu sebagai kesalahanku, tetapi aku mengerti kegelisahan yang membayangi hati mereka.”

Ingatan Ki Jayaraga menerawang menembus setiap batasan ruang dan waktu. Sejenak ia menata perasaannya, kemudian ia meneruskan kata-katanya,” Aku khawatir apabila orang-orang asing itu datang dan sengaja menebar maksud mereka secara terbuka untuk mempengaruhi kejiwaan orang-orang Menoreh. Mungkin mereka bertujuan agar keyakinan orang Menoreh terhadap Ki Gede dapat digoyahkan.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya kemudian ia berkata,”Maafkan aku, Kiai. Tetapi aku kira aku sudah waktunya untuk beristirahat.”

“Tidak mengapa, Ngger. Karena kewajiban yang menantimu esok pagi itu justru lebih besar daripada yang kita bicarakan saat ini,” Ki Jayaraga kemudian mengangguk.

Sepeninggal Sekar Mirah yang telah berbaring di dalam biliknya, Agung Sedayu kemudian berkata,” Mereka ingin memecah kesatuan hati orang-orang Menoreh. Apakah itu maksud Ki Jayaraga?”

“Benar, Ngger,” jawab Ki Jayaraga. Seraut rasa gelisah membayang pada sorot mata Ki Jayaraga. Ia sepertinya menginginkan sudah tidak ada lagi kerusuhan yang mengganggu ketenangan Tanah Perdikan. Ia berkata kemudian,” Mereka seperti menempatkan Ki Gede sebagai orang yang bertanggung jawab dengan mengijinkan aku tinggal di tempat ini. Tentu saja aku tidak dapat membiarkan pendapat itu berkembang lebih jauh, tetapi kemudian mereka tiba-tiba menghilang sebelum Ki Gede mendengarkan pendapat dari orang-orang Menoreh sendiri.”

“Aku juga belum mendengar pendapat semacam itu, Kiai,” kata Agung Sedayu.

“Kau dapat mengajak Sukra berbicara tentang pendapat-pendapat yang seperti menyudutkan Ki Gede,” Ki Jayaraga berkata pelan.

“Sukra? Ada apa dengan anak itu?”

“Ia dan kawan-kawannya cukup tegas mengarahkan setiap omongan yang berat sebelah,” jawab Ki Jayaraga. “Mereka tidak bermaksud membelaku di hadapan orang-orang asing itu, Sukra dan kawan-kawannya hanya berkata seperti yang mereka alami sendiri selama mengenalku.”

“Anak-anak muda itu sudah seperti anak bagi Ki Jayaraga sendiri,” sahut Agung Sedayu.

Setelah Ki Jayaraga menjelaskan secara singkat pembicaraan yang melibatkan dirinya dan beberapa orang ketika berada di sawah, keduanya pun kemudian memasuki bilik masing-masing. Meskipun keduanya tampak memejamkan mata, tetapi benak mereka masih mencari kemungkinan yang masih dapat berkembang.

Related posts

Leave a Comment