Padepokan Witasem
Bab 1 Agung Sedayu Terperdaya

Agung Sedayu Terperdaya 9

“Setiap orang telah mengikuti perintahmu, Ki Garu Wesi. Apabila salah seorang dari mereka dapat mengerti kegelisahanmu, hal itu akan menjadi sesuatu yang sangat buruk bagi upaya kita,” berkata Ki Hariman ketika telah berada di dalam kemah.

Ki Garu Wesi tidak dapat menyembunyikan sorot mata gelisah dari Ki Hariman semakin resah mendengar kata-kata kawannya. Lalu, ” Kita sebenarnya mengerti kemampuan pasukan khusus Mataram. Dan kita juga telah mendengar kemampuan para pengawal Tanah Perdikan.” Ki Garu Wesi mengusap keningnya yang mengembun.

“Ya. Dan apa yang menjadi persoalan sebenarnya?” bertanya Ki Hariman.

“Tidak ada seorang pun di antara kita yang mengerti siasat perang,” jawab Ki Garu Wesi.

“Oh!” desah tertahan keluar dari bibir Ki Hariman. Sejenak ia merenung dan mempelajari ulang keadaan yang mereka hadapi, lalu ia berkata, ”Kiai, bukankah kita semua memang bukan prajurit?”

“Ya, benar. Kita bukan prajurit.”

“Jadi kita tidak terikat oleh aturan keprajuritan.” Ki Hariman mengangguk-angguk.

Ki Garu Wesi menatapnya lurus, kemudian ia bertanya, ”Bagaimana maksudmu?”

Walau sebelumnya mereka bertengkar tentang kitab peninggalan guru Agung Sedayu, tetapi itu dapat ditepis ketika menyadari bahaya dapat mengancam setiap saat. Bahaya yang mereka pastikan dataang dari pasukan khusus Mataram.

Ki Hariman menarik nafas dalam-dalam. Ia membalas tatapan mata Ki Garu Wesi kemudian menjawab, ”Kita adalah segerombolan orang bebas. Kita dapat membuat kekacauan pada tempat yang kita inginkan.”

Wajah gelap Ki Garu Wesi yang sedang dirundung kegelisahan seketika berubah menjadi cerah. Ia tampak bersemangat. Kemudian ia memerintahkan seorang pengikutnya untuk memanggil seuruh pemimpin kelompok. Dalam waktu singkat para pemimpin kelompok Ki Garu Wesi telah berkumpul di dalam kemahnya. Beberapa orang tidak mempunyai pendapat saat Ki Garu Wesi selesai menjelaskan rencananya pada mereka. namun di antara mereka masih terdengar saling berbicara satu sama lain untuk menimbang rencana pemimpin mereka. Pada akhir pertemuan mereka telah mencapai kesepakatan.

Pada keesokan harinya, Ki Garu Wesi belum memerintahkan pengikutnya untuk membongkar perkemahan. Ia memberi perintah pada beberapa orang yang menjadi petugas sandi untuk mendatangi Tanah Perdikan Menoreh untuk mengamati keadaan yang berkembang. Sementara ia telah mempunyai rencana tersendiri bersama Ki Hariman.

“Kalian harus mengingat bahwa para pengawal Menoreh tidak berpakaian seperti para prajurit. Mereka membaur dalam kegiatan-kegiatan yang berputar dalam kehidupan Tanah Perdikan. Ada beberapa yang menjadi pedagang, petani bahkan pande besi. Kalian tidak perlu memperlihatkan sesuatu yang tidak wajar di hadapan mereka, sekalipun kalian sedang berbicara dengan petani tua yang tidak menunjukkan jika ia seorang pengawal Tanah Perdikan,” pesan Ki Garu Wesi. “Kalian harus menyadari jika setiap orang Menoreh adalah pengawal yang terlatih.”

Kemudian para petugas sandi itu menyebar dan memang mereka menjumpai bahwa Tanah Perdikan sama sekali tidak menunjukkan kegiatan yang mencurigakan. Mereka juga tidak menjumpai kegiatan yang menarik perhatian di lingkungan barak pasukan khusus. Pikir mereka, Tanah Perdikan Menoreh benar-benar dalam ketenangan dan akan menjadi mangsa yang mudah dilahap.

“Apakah mereka tidak mempunyai orang yang bertugas khusus untuk mengawasi keberadaan kita?” bertanya seorang petugas sandi pada temannya.

Temannya manggut-manggut. Kemudian ia berkata, ”Tidak mungkin. Kita berada dalam jumlah cukup besar dan kemah-kemah bertebaran memenuhi lembah. Mereka tentu melihat kita namun mereka tidak melihat kita sebagai ancaman.”

“Sikap yang sombong,” sahut orang pertama.

Kemudian para petugas sandi telah kembali ke perkemahan mereka dan melaporkan keadaan Tanah Perdikan Menoreh pada Ki Garu Wesi.

Maka menjelang senja berakhir, Ki Garu Wesi memberi perintah seluruh pengikutnya untuk membongkar perkemahan, lalu bersembunyi di setiap pekarangan dan pategalan yang ada di Tanah Perdikan.

“Kita segera meninggalkan tempat ini. Kalian akan bermalam di setiap tempat yang telah aku tentukan. Kalian dapat beristirahat di setiap pategalan atau pekarangan yang menjadi tempat kalian untuk bersembunyi,” kata Ki Garu Wesi di hadapan pemimpin kelompoknya.

“Besok kita akan memperoleh apa yang kita inginkan,” bisik seorang pemimpin kelompok.

Demikianlah, maka para pemimpin kelompok segera memerintahkan pengikutnya untuk bersiap. Sebelum malam berlalu semakin pekat, para pengikut Ki Garu Wesi telah berjalan menuju tempat-tempat yang telah ditentukan pemimpinnya. Tidak ada seorang pun yang menyatakan keberatan karena justru perintah seperti itu yang mereka harapkan. Namun mereka juga merasa ngeri apabila mengingat ketangguhan pasukan khusus dan para pengawal Tanah Perdikan. Tetapi karena mereka telah terbuai angan-angan panjang tentang kemakmuran maka mereka dapat mengalihkan rasa ngeri. Harapan mereka semakin membumbung tinggi ketika mendengar berita dari petugas sandi yang telah tersebar diantara mereka bahwa keadaan Tanah Perdikan yang tidak mempunyai kesiagaan pada ancaman bahaya.

Tetapi di luar pengetahuan para pemimpin kelompok, Ki Hariman telah keluar meninggalkan mereka menuju tempat yang telah ia rencanakan bersama Ki Garu Wesi. Ki Hariman akan melakukan pekerjaan yang dapat mencabut nyawanya apabila ia gagal melakukannya. Dalam perjalanannya menembus malam, Ki Hariman mengakui rencana Ki Garu Wesi yang benar-benar mengejutkannya.

Related posts

Leave a Comment