Padepokan Witasem
Bab 1 Jalur Banengan

Jalur Banengan 3-4

Pemimpin rombongan dan pengikutnya mengedarkan pandangan sekeliling namun ia tidak melihat apa-apa yang mencurigakan. Ia bertanya kemudian,” Siapakah kau, Ki Sanak? Aku harus menghormati keberanianmu dan untuk itu aku merasa perlu dengan sebuah nama.”

“Seperti itukah?” bertanya penghadang itu dengan rasa kagum. Dalam hatinya, ia harus mengakui kejujuran dan kesetiaan pemimpin rombongan yang sama sekali tidak menawarkan upeti sebagai imbalan. Lalu ia menjawab seraya membuka kain penutup wajahnya,” Aku Toh Kuning.”

“Baiklah! Dengan begitu sekarang kita akan tentukan, apakah kami akan memberi kalian sebuah tanda kenangan atau kami akan memberi hadiah pada raja kami,” kata pemimpin rombongan lalu merenggangkan kaki dan membuat persiapan membela diri.

Maka sekejap kemudian pemimpin rombongan itu menerjang Toh Kuning dan berseru,” Kau akan menyesal sepanjang hari telah bertemu dengan Ki Selaksa Geni!”

Demikianlah, dalam waktu yang singkat Toh Kuning telah terlibat ke dalam perkelahian satu lawan satu dengan Ki Selaksa Geni. Beberapa pengawal bayaran bergegas mengelilingi lingkaran perkelahian itu dan mereka juga mengawasi lingkungan sekitar. Ternyata lawan Toh Kuning adalah orang yang sangat tangguh. Serangannya datang beruntun dan setiap sabetan pedang selalu mengirim pesan tanda bahaya bagi Toh Kuning. Sekali-sekali pertahanan Toh Kuning menjadi terguncang akan tetapi ia terus meningkatkan daya tahannya selapis demi selapis.

Sementara dari tempat yang tidak terlihat oleh para pengikut Ki Selaksa Geni, dua pasang mata mengawasi perkembangan yang terjadi di depan mereka.

“Apakah kau tidak membantu temanmu itu?” bertanya orang berbaju lurik dan berwajah tampan. Dahulu orang ini adalah penyamun yang berkeliaran di lereng Penanggungan dan Arjuna. Tetapi pada saat pihak kerajaan mulai meningkatkan keamanan maka orang ini telah dinyatakan sebagai buronan oleh Ki Panji Mahesa Wunelang. Dan semenjak itu Jalur Banengan menjadi aman. Tidak ada seorang pun yang menduga jika salah satu begal yang telah menjadi buruan pihak kerajaan adalah lelaki berwajah tampan dan berkulit halus.

“Tidak! Toh Kuning akan mampu mengatasi para pengawal bayaran itu, dan kita akan bertugas membersihkan emas dan barang berharga lainnya,” jawab Ken Arok dengan senyum di  wajahnya. Ia berkata kemudian,” Kau harus mengawasi pengikutmu dalam membersihkan barang-barang yang sekiranya dapat menjadi bukti bagi kerajaan jika kau kembali hadir di jalur ini.”

“Ken Arok! Aku peringatkan kau jika aku bukan pengikutmu,” geram Ki Ranu Welang.

“Terserah apa katamu. Yang pasti adalah kau berada di sini untuk memperpanjang hidup,” kata Ken Arok tegas.

Sementara itu di lingkar perkelahian, Ki Selaksa Geni mengagumi kemampuan Toh Kuning yang berusia jauh lebih muda darinya. Setiap kali ia membawa ilmunya setingkat lebih tinggi, maka Toh Kuning juga berbuat serupa. Meskipun Toh Kuning beberapa kali kehilangan kesempatan namun setiap serangannya tetap saja membahayakan. Sebaliknya, pertahanan Ki Selaksa Geni yang mapan pun sering kali mengendor tetapi keseimbangan pertempuran itu masih belum berubah..

Ki Selaksa Geni mengakui bila lawannya telah memiliki landasan yang mapan dan meyakinkan, dan ia menyadari jika satu-satunya keunggulan yang ia miliki adalah pengalaman. Maka dengan cepat ia mulai memasukkan unsur-unsur asing dalam olah geraknya. Serangan Ki Selaksa Geni mulai menembus pertahanan Toh Kuning. Kakinya sempat menyusup di sela-sela pertahanan Toh Kuning sekalipun telah tertutup rapat.

Perut Toh Kuning pun terpaksa menerima benturan yang cukup keras, ia terpental surut ke belakang beberapa langkah. Namun demikian Toh Kuning bangkit dengan cepat dan kembali menerjang Ki Selaksa Geni dengan serangan yang membadai. Tetapi, Ki Selaksa Geni tidak memberinya kesempatan untuk berkembanglebih jauh, ia cepat menutup ruang dan gerak Toh Kuning. Dan Toh Kuning tidak berdiam diri dengan perubahan gerak lawannya, ia semakin cepat dan mengerahkan segenap ilmunya untuk menggoncang pertahanan Ki Selaksa Geni. Untuk sesaat Ki Selaksa Geni terdorong ke belakang dan harus memaksa dirinya untuk menjaga keseimbangan pertempuran.

Namun Ki Selaksa Geni kembali menerjang dengan tubuh yang meluncur sangat deras. Pedangnya berputar-putar sangat cepat meski begitu ia harus berhati-hati.  Karena keris di tangan Toh Kuning telah berkelebat dengan kecepatan yang sama dengan putaran pedangnya. Perang tanding itu menjadi semakin garang dan panas ketika setiap sambaran senjata mengeluarkan suara berdesing tajam dan nyaring.

Melihat perkembangan yang terjadi, maka Ken Arok segera  mengajak Ki Ranu Welang untuk turut terjun dalam pertempuran. Suitan nyaring Ki Ranu Welang adalah tanda bagi anak buahnya untuk keluar dari persembunyian. Maka tiba-tiba saja para pengikut Ki Ranu Welang berloncatan menyerbu para pengawal. Sejenak kemudian, terjadilah pertempuran sengit diantara dua kelompok.

Ketinggian ilmu Ken Arok menarik perhatian para pengawal bayaran untuk mengepungnya, namun mereka bukan lawan bagi Ken Arok yang dengan mudah menghempaskan perlawanan mereka. Kibasan tangan dan kaki Ken Arok menjadikan para pengikut Ki Selaksa Geni berjatuhan walau begitu para pengawal bukanlah orang yang mudah menyerah. Sekejap kemudian mereka telah bangkit dan memberi perlawanan keras bagi Ken Arok.  Namun mereka bukanlah lawan yang seimbang bagi Ken Arok meskipun para pengawal yang mengeroyoknya bertambah dua orang.

Agaknya para pengeroyok Ken Arok sudah tidak dapat membatasi diri untuk berkelahi tanpa senjata. Untuk kemudian perkelahian itu semakin menyala dan sengit. Senjata pengeroyok Ken Arok berkelebat menyambar dan mencoba menusuk Ken Arok dari berbagai arah. Tetapi tidak mudah untuk menundukkan Ken Arok. Pemuda ini berloncatan lincah dan lebih cepat dari senjata yang mengancam jiwanya. Sesekali kedua kakinya mampu menembus kepungan dan menjungkalkan satu dua orang penyamun.

Pada akhirnya Ken Arok meningkatkan tenaga dan kecepatannya untuk mengakhiri perkelahian yang tidak seimbang dari jumlah. Sentuhan-sentuhan serangannya mampu merusak kepungan dan menyentuh bagian tubuh seorang demi seorang. Seperti daun yang tertiup angin, tubuh para pengeroyok Ken Arok pun  yang sempat terlempar dan tidak bangun lagi.

Mendadak dari dalam sebuah kereta kuda, bayangan putih melesat deras dan langsung menghantam Ken Arok dengan tendangan samping.

“Anak muda, harus aku katakan jika kemampuanmu benar-benar aku butuhkan,” kata Ki Jawani yang berdiri dengan tangan bersilang di depan dadanya.

“Pengecut!” umpat Ken Arok sambil bangkit berdiri dan mengusap lengannya yang terkena tendangan cukup keras.

Ki Jawani membuka kedua tangannya, lalu berkata,” Itu bukan tindakan pengecut untuk menyelamatkan nyawa seseorang. Aku tahu kau baru saja membunuh empat orang dengan pukulan mematikan lalu aku coba untuk menyelamatkan jiwamu dari sebuah pembunuhan yang pasti terjadi jika aku kalah cepat dengan kepalan tanganmu yang mengarah ulu hati pengawal itu.” Ki Jawani menunjuk seorang pengawal yang meringkuk kesakitan.

“Baiklah,” kata Ken Arok kemudian,” Apa yang kau butuhkan dariku?”

“Aku membutuhkanmu dan temanmu itu,” Ki Jawani menunjuk Toh Kuning yang masih terlibat pertarungan sengit dengan Ki Selaksa Geni. ”Untuk menjadi bagian dari pengawalku.”

Related posts

Jalur Banengan 7

kibanjarasman

Jalur Banengan 5-6

kibanjarasman

Jalur Banengan 1-2

kibanjarasman

Leave a Comment