0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 46 – Pemburu Agung Sedayu Menyusun Langkah

Dironda 83 kali

Matahari telah bergeser dari tempat ketika mereka berangkat. Bayangan pohon-pohon mulai condong, memanjang di tanah yang kering. Jalan yang mereka tempuh mula-mula berupa tanah padat di antara semak dan rumpun bambu, lalu perlahan menurun menuju aliran air, sungai yang tidak begitu lebar.

Airnya mengalir tenang di atas batu-batu kecil, cukup jernih sehingga dasar yang kecokelatan masih tampak. Pada musim baik, orang dapat menyeberang tanpa perlu membuka ikat pinggang atau mengangkat kain terlalu tinggi.

Ki Astaman berhenti di tepi. Matanya menyapu ke hilir dan ke hulu seperti memastikan sesuatu yang tidak diucapkan.

Jatayu bertanya pelan, “Lewat sini?”

Ki Astaman mengangguk. “Mudah dilalui.”

Mereka menyeberang satu per satu. Air hanya mencapai pertengahan betis. Tidak ada percakapan selama menyeberang selain bunyi kecil air yang terbelah langkah.

Sesudah naik ke tepi seberang, Ki Astaman tidak langsung melanjutkan tapi menahan langkah dengan sedikit menundukkan tubuh.

Beberapa puluh langkah di depan tampak sebuah gubug sederhana.

Atapnya dari ilalang yang mulai kusam. Tiangnya tidak seragam, seperti dibangun dari kayu yang tersedia di sekitar tempat itu. Di sampingnya ada kentongan kecil yang digantung asal-asalan.

Ada dua orang di dalam.

Seorang duduk dekat pintu sambil mengupas mangga dengan pisau kecil. Yang lain rebah menyamping, tetapi tidak sedang tidur.

Tidak ada ternak. Tidak tampak pula alat kerja yang biasanya diletakkan terbuka jika tempat itu benar-benar dipakai orang menjaga ladang.

Ki Astaman mengamati cukup lama.

Dua orang yang mengiringinya juga ikut memperhatikan tanpa menoleh terlalu terang-terangan. Salah seorang berbisik, “Penunggu ladang?”

Ki Astaman menggeleng, lalu jawabnya pelan, “Bisa ya, bisa tidak. Pengawal Menoreh juga terlalu sering terlihat dalam keadaan seperti itu.”

Jawaban pendek dan seakan sudah sangat mengenal kebiasaan Tanah Perdikan Menoreh.

Orang yang duduk di dalam gubug memandang ke arah Ki Astaman, sebentar, lalu kembali pada tangannya. Tidak ada sapaan. Tidak pula ada keinginan untuk memeriksa tikungan yang terlindungi rimbun daun singkong itu.

Ki Astaman akhirnya bergerak lagi. “Marilah.”

Mereka melanjutkan langkah.

Ketika melintas di depan gubug, tidak seorang pun menoleh langsung. Namun seperti orang yang terbiasa berjalan di daerah yang belum tentu aman, mereka bertiga tetap menangkap dengan sudut mata.

Adalah dua orang di dalam gubug juga tidak bergerak dan cukup mencurigakan meski dua orang muda itu adalah warga asli. Mereka seperti patung bernyawa, bahkan setelah rombongan lewat beberapa langkah, tidak terdengar suara percakapan di belakang mereka.

Ki Astaman tidak memperlambat langkah lagi seakan-akan gubug itu memang tidak penting. Atau dia memang tidak ingin rombongan berhenti terlalu lama di sana.

Sesudah melewati gubug dan berjalan cukup jauh hingga aliran sungai tidak lagi terdengar, tiga orang yang datang dari Separang ini masih menjaga langkah mereka. Ki Astaman sesekali menoleh ke sekitar, memastikan arah yang diambil masih sesuai dengan ingatannya. Jalan mulai lebih jelas. Ada bekas telapak yang lebih sering dilalui, meskipun belum dapat disebut jalan ramai.

Matahari bergerak makin rendah.

Waktu seperti ini mulai perlu diperhitungkan. Jika mereka terlalu jauh masuk dan memutuskan kembali, ada kemungkinan sebagian perjalanan harus ditempuh dalam gelap.

Ki Astaman memperlambat langkah hingga sejajar dengan Amuger Klinter. Dengan suara rendah dia bertanya, “Menurut Ki Sanak kita sudah mendekati lingkungan barak dan pedukuhan induk. Apakah kita kembali ke Separang sebelum gelap atau bermalam?”

Amuger Klinter, yang berusia sekitar empat puluhan tahun awal, masih melangkah dengan mata memandang permukaan jalan. “Kira-kira berapa jauh lagi?”

Ki Astaman menjawab, “Kalau tidak banyak berhenti, sebelum matahari turun kita bisa mulai melihat daerah luar pedukuhan induk.”

Amuger Klinter mengangguk lalu katanya pelan, “Kalau kembali sekarang terlalu cepat. Jika masuk dalam keadaan menjelang gelap atau sudah gelap sama sekali, itu mencurigakan.”

Ki Astaman menunggu.

“Kita bermalam di tempat yang cepat terhubung dengan jalan antara barak dengan rumah Agung Sedayu,” lanjut Amuger Klinter.

Ki Astaman menoleh. “Bukan di pedukuhan induk.”

“Banjar pedukuhan jelas tempat berkumpul banyak orang pada malam hari, sedangkan kita tidak datang untuk menikmati makan malam,” tukas Amuger Klinter lantas menunjuk samar ke arah depan.

“Kalau memang ada pergerakan, tempat itu memberi dua arah pengamatan. Jika orang-orang dari barak bergerak, mereka mungkin dapat melihat. Jika ada hubungan dengan rumah Agung Sedayu, mungkin ada tanda yang bisa dipahami,” katanya lebih jauh.

Ki Astaman diam sejenak lalu bertanya, “Kalau terlihat?”

“Kita bukan sedang mencari perkara.”

Ki Astaman mengangguk lalu kembali berjalan di depan tanpa menambah kata. Hanya saja langkahnya berubah sedikit. Bukan lagi langkah orang yang sekadar menunjukkan jalan tapi mulai mencari tempat yang diinginkan Amuger Klinter.

Rombongan itu terus bergerak hingga matahari mulai kehilangan teriknya.

Daerah yang mereka lalui berubah perlahan. Pohon-pohon tidak lagi rapat seperti sebelumnya, tetapi masih cukup untuk memberi lindungan.

Ketika mereka berhenti sejenak di bawah rumpun bambu, Jatayu berkata, “Saya mencari air.”

Amuger Klinter mengangguk kemudian menyusulkan dengan pesan pendek, “Jangan terlalu lama dan jauh.”

Jatayu segera bergerak menyamping melewati semak dan turun sedikit ke cekungan tanah.

Ki Astaman melihat arah yang diambilnya dan dia tahu bahwa di dekat situ memang ada sumber air kecil. Bukan mata air besar, hanya rembesan yang ditampung batu dan cukup untuk mengisi tempat minum. Orang yang pernah beberapa kali melalui jalur ini biasanya mengetahui tempat itu.

Karena itu Ki Astaman pun membiarkan Jatayu pergi.

Beberapa waktu berlalu. Tidak lama tapi terlalu banyak untuk sekadar mengambil air dan kembali.

Ki Astaman sempat menoleh sekali lalu kembali memandang ke depan. Ki Dawar juga tetap diam.

Sebenarnya Jatayu tidak berhenti di sumber. Setelah memastikan dirinya tidak terlihat dari tempat rombongan pertama menunggu, dia bergeser lebih jauh ke belakang tanpa tergesa-gesa.

Beberapa saat kemudian, dia melihat bayangan di antara pepohonan. Tiga orang. Rombongan kedua.

Mereka memang menjaga jarak seperti perintah Ki Panji Danutirta.

Jatayu mendekat tanpa memberi tanda mencolok.

Salah seorang dari rombongan kedua bertanya pelan, “Ada perubahan?”

Jatayu menggeleng. “Belum.”

Orang lain bertanya, “Mereka sudah masuk pedukuhan induk?”

“Belum tapi Amuger Klinter memutuskan untuk bermalam,” sahut Jatayu lantas menerangkan alasan Amuger Klinter.

“Kalau begitu, kita bergeser ke selatan,” kata pemimpin rombongan kedua lalu mengurai perintah dari Ki Danutirta pada Jatayu secara singkat.

Jatayu membungkukkan setengah badan lalu minta diri untuk kembali ke tempat Amuger Klinter dan Ki Astaman menunggunya.

Tiga orang pengikut Ki Jabon Seta mengangguk.

Jatayu pun kembali ke sumber air, benar-benar mengambil air secukupnya, lalu berjalan seperti orang yang tidak melakukan sesuatu pun selain memenuhi keperluan perjalanan.

Ketika tiba, Ki Astaman hanya melirik sebentar ke wadah air di tangannya. “Mari kita lanjut.”

Dan rombongan bergerak lagi seolah tidak ada yang sedang mengikuti mereka dari belakang.

Malam mereka lewati tanpa api yang besar. Hanya cukup untuk menghangatkan tangan dan mengusir lembap yang turun bersama angin malam. Mereka memilih tempat yang terlindung semak dan beberapa batang pohon besar. Dari tempat itu tidak tampak jalan terbuka, tetapi masih cukup mudah untuk bergerak jika sewaktu-waktu diperlukan.

Tidak banyak percakapan.

Tiga orang itu sudah terlatih istirahat di alam bebas sehingga mereka pun dapat berada di antara tidur dan terjaga. Amuger Klinter memperhatikan Ki Astaman yang berbaring miring. Bahasa tubuhnya tidak menampakkan gelisah, tapi juga tidak benar-benar tidur panjang seperti orang yang tidak membawa pikiran.

Ki Astaman pun bukan tidak sadar sedang diawasi. Hanya saja dia berkata dalam hati, “Berbuatlah semaumu.”

  • Orang-orang yang dikisahkan di atas rupanya sudah hampir tak sabar untuk memicu Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh. Padahal seandainya mereka tahu bahwa pada zaman Singasari sudah terjadi bentrokan hebat antara Toh Kuning vs Ki Arumpaka mungkin segera membaca kisahnya di Pengepungan 2 ketika cambuk Ki Arumpaka mengurung perwira Kediri itu.
  • Tapi hal itu pun juga bisa tidak terjadi jika mereka tahu kabar Dyah Murti. Dia mengatakan, “Jemari lelaki itu masih berada di dalam dadaku. Aku dapat merasakan pergerakan tangannya. Aku dapat merasakan ibu jarinya bersentuhan dengan jantungku.” Bagian ini ditulis dalam surat terbuka di ambang dunia ruh, Nir Wuk Tanpa Jalu 8.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.