Dironda 65 kali
Pajang yang selama ini dianggap sedang mengalami tidur panjang telah menggeliat bangun. Sejumlah saudagar dan pedagang antar kota, meski terkejut dan dihinggapi ketakutan tentang bayangan kerugian, berangsur mulai tenang. Beberapa lurah prajurit berkeliling menemui mereka, memberi penjelasan mengenai persiapan yang tengah dilakukan oleh Bhatara Pajang. Mereka mendapat jaminan keamanan, dan satu perintah penting lainnya adalah mereka diminta berlindung di padepokan Resi Gajahyana bila kekacauan merambat ke dalam kota.
“Apabila kalian masih merasa kurang aman dan khawatir dengan keselamatan nyawa serta harta benda kalian, maka pergilah, dan jadikan padepokan Resi Gajahyana sebagai tempat berlindung. Seluruh cantrik dan pedukuhan sekitar padepokan akan menempatkan nyawa mereka di setiap jengkal dinding padepokan!” ucap tegas seorang prajurit berangkat lurah.
Maka dengan ucapan yang ditegaskannya berulang-ulang setiap bertemu kelompok pedagang. Upaya lurah prajurit itu lantas diikuti oleh kawan-kawannya, maka atas kesungguhan setiap prajurit, seorang pendatang dapat menilai bahwa Pajang memberi perhatian pada keamanan jiwa dan harta benda mereka. Sebagian besar orang masih menampakkan kekhawatiran, tetapi ketakutan yang membayang segera menyingkir saat terlihat para peronda berseliweran di jalanan hingga lorong-lorong kecil.
Beberapa kelompok utusan telah menghentak lambung kuda, mereka menyebar untuk menyampaikan putusan Bhre Pajang. Para pengawal pedukuhan, kademangan dan gardu-gardu prajurit akan siaga dalam waktu singkat. Mereka tidak membutuhkan penyesuaian panjang, mereka adalah orang Pajang yang terlatih untuk bersiaga.
- “Kita tidak berada di ruang ini untuk menentukan hari pertempuran. Tidak juga untuk melakukan pengamatan di Lemah Cengkar,” kata Untara ketika bertemu dengan Agung Sedayu, Prastawa dan juga Ki Widura di Membidik 8
Pang Randu
Puluhan tombak dari pedukuhan induk, menjelang fajar menyingsing, Mpu Rawaja telah memberi penjelasan pada orang-orang terpilih. Mereka bergerak cepat dan segera bangkit setelah Bondan dan sejumlah orang Pajang gagal dihentikan. Ki Wisanggeni terlihat duduk di samping kanan Mpu Rawaja, wajah senapati Ki Sentot Tohjaya itu seperti membuat tanda bahwa sedang terjadi pergolakan dalam hatinya.
“Rencana gelar Mpu Rawaja, sungguh, bukan rancangan biasa. Dia membagi para pengikutnya begitu teliti dan benar-benar dapat mengacaukan siasat Pajang,” ucap Ki Wisanggeni dalam hati ketika memandang satu demi satu orang di hadapannya.
Ada satu ganjalan dalam pikiran Ki Wisanggeni, tetapi dia masih menunggu lalu menimbang tanggapan orang-orang di sekitarnya.
Mantan perwira Majapahit ini menilai keberadaan Ki Nagapati di sebelah utara Pajang tidak dapat diabaikan. Apakah harus mengatakan tentang kekuatan dahsyat yang tersimpan di dalam pasukan berkuda itu? Sebagai bagian tersisa dari himpunan yang telah tiada, sebagai kelompok yang pernah menerima gemblengan langsung Lembu Sora, mereka telah menanam benih sebagai pasukan khusus. Benih yang telah tumbuh sebagai kekuatan dahsyat!
“Tetapi aku kira akan lebih baik jika aku mengatakan rasa khawatir ini pada akhir pembicaraan,” desis Ki Wisanggeni dalam hati sambil menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Terdengar kemudian Mpu Rawaja berkata, “Kita tidak dapat lagi berhenti karena sebuah dugaan saja. Ki Juru Manyuran memang dapat menarik mundur dirinya dari kelompok kita. Dia dapat menggugurkan kewajiban yang mengikatnya pada kesepakatan kita semua. Kita harus dapat memahami alasannya meski dengan hati berat.”
Untuk beberapa saat Mpu Rawaja menghentikan ucapannya. Setelah menebar pandangan barang sejenak, dia berkata lagi, “Awal hari ini akan menjadi permulaan dari perjalanan panjang. Aku telah mengupayakan satu dukungan penuh dari Kotaraja. Dan kalian juga telah mengetahui kehadiran orang-orang dari kotaraja beberapa waktu yang lalu. Kelebihan kita adalah Pajang tidak dapat memotong bantuan yang mungkin akan datang dari timur. Mereka berharap bala bantuan, aku yakin itu, tetapi sokongan dari Kotaraja tidak akan datang. Dalam perkiraan yang telah kita buat, jika Angling Dhyaksa mengirim seorang utusan, maka utusan itu akan tiba di Kotaraja sepekan dari malam pengantin.”
Orang-orang mendengar penuh perhatian dengan semangat berkobar di dalam dada masing-masing. Ruangan tetap sunyi. Beberapa orang saling berpandangan, tetapi tidak seorang pun mengajukan sanggahan. Nama Ki Juru Manyuran masih menyisakan ganjalan yang sulit disingkirkan.
“Dan, kita pasti dapat menduduki Pajang sebelum utusan itu tiba di Kotaraja. Dan itu berarti hari ketiga, dua hari lagi, pasukan kita akan bergerak keluar,” ucap Mpu Rawaja dengan suara yang lebih rendah, tetapi semakin tajam menghunjam perasaan orang.
Mpu Rawaja melanjutkan, “Angling Dhyaksa tidak akan lagi dapat melihat matahari berselimut kabut pada hari kelima. Setiap orang dari kita akan tiba di Pajang seperti hantu yang menampakkan diri pada siang hari. Dan ketika mereka belum menyadari keadaan yang terjadi, aku dan kalian pasati berada di dalam istana Pajang!”
Mpu Rawaja menatap wajah berdagu lancip dan berperawakan tidak terlalu gemuk serta mempunyai tahi lalat di di janggutnya. Pang Randu! Orang itu bernama Pang Randu dan ternyata telah berada di dalam barak pasukan Ki Wisanggeni tanpa diketahui oleh banyak orang Pajang. Pang Randu ini menempati kedudukan tinggi di Kotaraja. Dia merupakan pemikir yang tajam dan berwawasan panjang.
Siasat yang dipaparkan oleh Mpu Rawaja pun banyak bertumpu pada pertimbangan Pang Randu. Orang Kotaraja itu mengenal dengan saksama kebiasaan Bhatara Pajang dalam mengambil keputusan. Atas pertimbangannya, Mpu Rawaja menetapkan hari pendudukan atas Pajang.
Mpu Rawaja kemudian mengangkat sebelah tangannya ke arah Pang Randu.
“Ki Sanak sekalian,” katanya, “aku ingin kalian mendengar penilaian orang yang menyusun sebagian besar hitungan siasat ini. Tuan Pang Randu melihat Pajang dari sudut yang berbeda dengan kita.”
Semua kepala pun beralih kepada tamu dari Kotaraja itu.
Pang Randu bangkit perlahan lalu menyapu wajah orang-orang yang memenuhi ruangan. Dia menangkap isyarat dalam sorot mata Mpu Rawaja kemudian berkata, “Tidak ada tambahan dariku. Sebagai seorang senapati, aku tidak melihat kelemahan pada siasat yang dipaparkan oleh pemimpin kalian. Bahkan setiap ucapannya adalah janji dan sebuah kepastian bahwa Pajang akan segera kalian kuasai. Mungkin tanpa perlawanan! Malam ini adalah malam bagi kalian untuk membunuh rasa takut dan khawatir.”
Lantas Pang randu melihat kea rah yang lain, pada tempat duduk orang-orang asing dari Tiongkok, lalu berkata, “Dan kalian dapat menganggap malam ini adalah malam kebebasan kalian. Tidak akan ada lagi orang yang menilai kalian adalah pelarian, kalian adalah pahlawan bagi setiap orang yang akan kita bebaskan dari jerat Jayanegara!”
Tung Fat Ce tersenyum tipis, begitu pun Toa Sien Ting. Bagi mereka berdua, kematian Kao Sie Liong adalah kemerdekaan dari karma. Dan keduanya telah bersabar menunggu masa pembebasan itu itu.
Pada kesempatan itu Pang Randu, yang juga seorang tumenggung, bertukar pandang dengan Ki Wisanggeni. Dari sorot mata senapati itu, ia masih melihat ketenangan yang sama seperti bertahun-tahun silam. Kenangan lama pun berkelebat dalam benaknya.
Pang Randu menggetarkan bibirnya. “Tuan Senapati, adakah hati yang bergejolak hebat di hadapanku?”
Setiap mata segera beralih kepada Ki Wisanggeni. Sapaan penuh hormat dari Pang Randu bukan sesuatu yang dapat diabaikan. Orang-orang Kotaraja mengenalnya sebagai seorang tumenggung yang tidak mudah mengagungkan orang lain. Jika ia menyampaikan penghormatan seperti itu, tentu ada alasan yang kuat.
Pang Randu menarik napas panjang, lalu berkata, “Aku selalu mengingat hari ketika pasukan Ki Wisanggeni terjepit di antara tebing dan kepungan Gajah Biru. Keadaan itu seharusnya menjadi akhir bagi mereka. Namun justru di situlah aku melihat seorang senapati mengubah bencana menjadi keuntungan.”
Pandangannya menerawang seolah kembali menyaksikan pertempuran itu.
“Aku datang membawa bantuan senjata dan prajurit atas perintah Dyah Balayudha. Aku belum sempat mendekati medan laga dan aku dapat melihat barisan Gajah Biru terlalu rapat untuk ditembus.”
Pang Randu berhenti sesaat. Berkata sedikit pelan, “Lalu semuanya berubah. Entah siasat apa yang dijalankan Ki Wisanggeni. Pasukan yang semula terdesak mendadak bergerak serentak, memecah kepungan, lalu menghantam balik lawannya. Ratusan prajurit Gajah Biru dipukul mundur.”
Lantas dia menggeleng perlahan.
“Aku tidak akan menceritakan hal ini kepada kalian jika aku tidak menyaksikannya sendiri. Peristiwa itu mengajariku bahwa ketenangan seorang senapati dapat mengubah nasib seluruh pasukan.”
Suasana ruangan semakin terasa senyap dan udara lembab seolah menggantikan banyak manusia di dalam ruangan. Orang-orang yang semula hanya mengenal nama Ki Wisanggeni kini mulai mengerti alasan Pang Randu memberikan penghormatan setinggi itu.
Pada saat itulah segelintir orang kepercayaan Mpu Rawaja memasuki ruangan dan menyampaikan laporan tentang perkembangan keadaan di luar.
- Letak Pajang yang cukup jauh dari ibukota Majapahit membuat segalanya menjadi mungkin termasuk pembebasan Pajang sebagai wilayah bawahan kerajaan yang didirikan oleh Raden Wijaya itu. Bisik-bisik makar sudah dihembuskan cukup jauh dari Trowulan, dan Badai dari Grajegan akan bertutur pada kita semua.
- Kami terbuka bila Anda berkenan berkontribusi. Silakan berkuda ke lumbung kademangan
