0%
Still working...

Agung Sedayu Terperdaya – KKG Buku 1 Bagian 4 (Kilas Kisah) Pusaran Pertempuran Tanah Perdikan

Dironda 40 kali

Perlawanan orang-orang Menoreh mulai membuahkan hasil ketika kebakaran berhasil dikendalikan dan para penjarah satu demi satu ditangkap. Di tengah keadaan yang berangsur tenang itu, Agung Sedayu justru dihadang Ki Tunggul Pitu. Percakapan yang semula berlangsung singkat segera berubah menjadi pertempuran sengit. Pengalaman dan kematangan ilmu Ki Tunggul Pitu memaksa Agung Sedayu mengerahkan seluruh kemampuannya, sementara keduanya terikat dalam lingkar perkelahian yang menyita perhatian banyak orang.

Kerusuhan yang menjalar dan memecah perhatian banyak orang itu menjadi kesempatan itu dimanfaatkan Ki Garu Wesi untuk menyelinap ke rumah Agung Sedayu. Namun Ki Jayaraga telah menunggu kedatangannya. Perbincangan mereka segera berujung pada benturan pandangan mengenai ilmu, kesetiaan, dan ambisi. Ketika kata-kata tidak lagi mampu membendung kehendak masing-masing, keduanya pun bertempur dengan dahsyat.

Ki Gede Menoreh memilih mengamati keadaan setelah menyadari dahsyatnya benturan ilmu yang sedang terjadi. Sementara itu, keadaan Tanah Perdikan mulai dapat dikendalikan oleh para pengawal di bawah pimpinan Prastawa.

Di tempat lain, Sukra menerima tantangan Pager Waja. Perkelahian yang semula dikuasai lawannya perlahan berubah ketika Sukra mampu membaca tata gerak Pager Waja. Dengan sepasang bambu sebagai senjata, ia menemukan cara bertarung yang membuat kedudukan menjadi seimbang.

Menjelang akhir, dua gelanggang pertempuran sama-sama mencapai puncaknya. Sukra dan Pager Waja mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan meski tetap saling mendesak tanpa memberi kesempatan bernapas. Pada saat yang sama, Agung Sedayu masih tertahan oleh ketangguhan Ki Tunggul Pitu, sementara Prastawa terus memimpin para pengawal menjaga keadaan Tanah Perdikan agar tidak kembali jatuh ke dalam kekacauan.

  • Masih di ambang perpisahan atau akhir, terdengar alunan dari seruling yang dirasa oleh Adipati Hadiwijaya seperti ia sedang berdiri menghadap samudera yang tak bertepi. Ia mengerti getar alunan itu adalah keadaan batin Adipati Arya Penangsang ketika mereka berada di Gerbang Demak 5.
  • Tapi keinginan mereka berdua itu berlainan dengan Agung Sedayu yang berlatar belakang Mataram Islam. Agung Sedayu mengatakan sesuatu di Bara di Bukit Menoreh 1. Dia berkata dalam hatinya, “Aku belum bertemu dengan Ki Patih Mandaraka maupun Nyi Ageng Banyak Patra. Aku tidak dapat memutuskan hal ini sendirian.”
  • Pada akhirnya, dua keadaan yang berkedudukan tidak sama itu memang tidak dapat ditemukan di saat Agung Sedayu Terperdaya di Tanah Perdikan Menoreh.
  • Beriringan dengan itu, bagi sedulur yang menghendaki file PDF Kitab Kyai Gringsing 1-5 agar lebih nyaman dibaca secara offline, kami dapat kirimkan tautan agar tidak menyita banyak ruang di penyimpanan. Silakan langsung menghubungi Padepokan Witasem pada menu sidebar atau gulir sampai menu “Ingin cetakan?”. Dukungan Panjenengan dapat membantu padepokan bertahan dalam tekanan. Matur nuwun.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.