Dironda 47 kali
Sementara itu, orang berpakaian rapi itu menunggu tanpa bergerak. Dalam batinnya, dia sudah membuat keputusan: jika orang ini memang pernah berada di dekat barak, jawabannya akan memiliki bentuk—tidak harus lengkap, tetapi cukup tepat untuk dikenali. Orang yang melihat sendiri dan berjarak dekat dengan lingkungan barak maka akan dapat mengingat letak, ruang kosong, arah jalan, atau jarak yang terasa di kaki.
Tetapi bila jawabannya melenceng…
Maka semua cerita tentang enam orang, percakapan prajurit, kelinci, dan perkelahian tiga lawan tiga hanya karangan. Dan orang yang sengaja datang membawa karangan di tengah keadaan seperti sekarang tidak pantas dibiarkan pergi. Jika keliru, bunuh!
Pikiran itu melintas tanpa keraguan.
“Jawab,” katanya pendek pada Ki Astaman.
Ki Astaman tidak segera menjawab, meminta waktu sebentar, lalu tampak berpikir keras agak lama. Dahinya sedikit berkerut, matanya menunduk seperti sedang menarik kembali ingatan yang samar. Kemudian menjawab dengan agak terbata-bata.
Ki Astaman pun mengatakan yang dia ingat. Menurutnya, jarak antarbangunan di barak tidak terlalu rapat. Ada beberapa halaman, tapi yang tampak jelas adalah sisi timur. Jumlah gardu yang berada di dekat pagar luar atau hampir menempel dinding setinggi pinggang yang melingkari barak pasukan khusus. Tetapi yang paling dia ingat justru suasananya.
“Lebih sepi dari biasanya,” katanya pelan. “Pekan sebelum hari ini, saya lihat banyak orang di barak, tapi sekarang tidak seperti tempat yang sedang ramai oleh banyak orang.”
Sesudah itu dia diam.
Orang berpakaian rapi itu tetap diam beberapa saat sesudah mendengar jawaban Ki Astaman. Tatapannya tidak berubah, tetapi ketegangan yang sempat mengeras pada wajahnya tampak mengendur sedikit.
Lalu dia berpaling kepada Ki Jabon Seta. “Jawabannya benar,” katanya singkat. “Setidaknya orang ini pernah berada cukup dekat untuk mengetahui keadaan di sana.”
Orang ini berhenti lalu memberi tanda pada Ki Jabon Seta melalui beberapa gerakan tangan.
Ki Jabon Seta mengangguk, katanya, “Ki Panji Danutirta tidak perlu khawatir.” Kemudian dia memerintahkan pengikutnya agar memberi ruang untuk Ki Astaman di bagian lain perkemahan.
Setelah orang-orang berlalu termasuk Ki Astaman, Ki Jabon Seta berkata pada Ki Panji Danutirta, “Kita tidak sedang mencari orang yang dapat dipercaya sepenuhnya. Kita sedang mengumpulkan keterangan yang dapat dipakai.”
Ki Panji Danutirta mengangguk pelan, lalu ucapnya, “Kalau keterangan ini cocok dengan yang saya dapatkan, kita bisa mulai menyusun rencana.”
“Bagaimana rencana Ki Panji?”
“Kita berkeliling sebentar di sekitar kediaman Ki Gede dan barak pasukan khusus. Saya pikir rumah Agung Sedayu dapat diabaikan terlebih dulu. Saya dengar istri dan anaknya tidak berada di Tanah Perdikan maka besar kemungkinan rumah itu dihuni pengawal atau prajurit muda. Jika benar, besar kemungkinan akan terjadi benturan lagi dengan mereka dalam waktu dekat. Kyai tentu setuju kita harus hindari itu,” terang Ki Panji Danutirta.
Dengan suara perlahan, Ki Panji Danutirta lantas mengurai kedalaman isi rencananya.
Ki Jabon Seta mendengarkan tanpa menyela. Sesekali dia mengangguk ketika Ki Panji Danutirta menyebut jalur yang akan ditempuh, tempat-tempat yang perlu diperhatikan, dan alasan mereka tidak perlu mendekati rumah Agung Sedayu atau kediaman Ki Gede Menoreh lebih dahulu.
Tidak ada pengulangan dari Ki Panji Danutirta, lantas dia berkata setelah memandang sekelilingnya, “Kita tidak perlu banyak orang. Cukup tiga orang.”
Cantrik termuda dari Ki Jabon Seta lantas memanggil kembali orang-orang agar berkumpul.
Ki Jabon Seta menatap wajah demi wajah perlahan sambil menakar kekuatan sorot mata masing-masing orang. Kemudian yang pertama disebut adalah seseorang yang sejak awal memang berada di lingkar terdekat dengannya, Amuger Klinter. Yang kedua dipilih karena dianggap mengenal pedukuhan induk lebih baik dari kelompok mereka.
“Dan kau,” kata Ki Jabon Seta pada Ki Astaman, “sebagai penunjuk jalan.”
Ki Astaman menarik napas panjang lalu mengangguk. Beberapa orang tampak tidak setuju, tapi Ki Panji Danutirta cepat mengangkat tangan sebelum ada yang berbicara.
“Kau yang mengaku pernah berada di sekitar barak. Kau yang melihat iring-iringan itu. Tunjukkan seluruhnya pada kami,” ucap Ki Danutirta.
Ki Astaman tampak hendak menolak, tapi yang dilakukannya kemudian adalah membenahi buntalan kain yang menempel pada punggungnya.
“Baiklah,” kata Ki Astaman dan dia merasa tidak perlu lagi mengucapkan sesuatu di depan orang-orang yang belum dikenalnya itu.
“Kita tidak mencari benturan,” terdengar Ki Panji Danutirta berkata. “Kita melihat, mengingat, lalu kembali.”
Tiga orang yang menerima tugas untuk memeriksa lingkungan barak menjawab dengan anggukkan.
“Pergilah,” kata Ki Jabon Seta kemudian memberi isyarat kecil pada Jatayu.
Rombongan kecil itu berangkat tanpa banyak bicara.
Perjalanan dari Separang menuju pedukuhan induk bukan perjalanan singkat. Mereka akan berjalan cukup lama, melewati pergantian tinggi matahari dan saat bayangan mulai memanjang di tanah.
Ki Astaman berjalan di depan sebagai penunjuk arah. Di belakangnya menyusul Amuger Klinter dan Jatayu. Mereka menjaga jarak yang cukup untuk berbicara pelan tanpa menarik perhatian.
Ki Panji Danutirta tetap berada di perkemahan, menunggu bersama Ki Jabon Seta.
Waktu berlalu kira-kira selama orang menjerang air dengan kayu kering sampai mendidih. Tidak terlalu lama, tetapi cukup untuk membuat rombongan pertama berada jauh di depan dan tidak lagi mudah dikenali dari kejauhan.
Ki Jabon Seta kemudian memanggil tiga orang lain.
Mereka mendekat tanpa bertanya.
“Kalian menyusul,” perintah Ki Danutirta. “Jangan terlalu dekat. Jangan terlalu jauh kemudian berhenti di bagian barat pedukuhan induk. Jatayu akan mendatangi kalian.”
Tiga orang itu tetap diam.
Seorang di antaranya bertanya, “Apakah kami ikut bila mereka masuk pedukuhan induk?”
Ki Panji menggeleng. “Tidak.”
Orang itu mengangguk.
Sebelum mereka berangkat, Ki Panji menambahkan, “Ki Astaman boleh benar tentang barak, tapi kita belum mengenalnya. Ada banyak perguruan di sekitar kita dan setiap orang dapat menyimpan niat yang berbeda dengan tujuan kita.”
Tiga orang itu mengangguk sekali lagi lalu bergerak pergi menyusul rombongan pertama.
Iring-iringan kecil itu bergerak tanpa tergesa.
Sebelum rombongan kecil itu berangkat meninggalkan Separang, ada satu hal yang sempat tertangkap oleh mata Ki Panji Danutirta.
Ketika Ki Astaman berbalik arah, tampak sebuah bungkusan kecil menyelempang di belakang punggungnya. Kain pembungkusnya biasa saja, tidak baru, dan diikat rapat tanpa bentuk yang mudah ditebak.
Ki Panji tidak segera berkata. Namun setelah Ki Astaman dan rombongan sudah tidak lagi terlihat oleh mata, dia bergeser sedikit mendekati Ki Jabon Seta.
“Dia membawa bekal?”
Ki Jabon Seta memandang ke arah yang sama. “Bisa pakaian. Bisa juga sekadar kain ganti. Orang semacam dia tentu tidak pernah berhenti dalam waktu lama.”
Sesaat kemudian, Ki Panji Danutirta menambahkan perkataan dengan nada yang berbeda. “Mungkinkah di dalamnya itu adalah benda lain? Mungkin kitab atau senjata pusaka.”
Ki Jabon Seta mengerutkan kening dan tidak segera menjawab.
Mereka berdua paham bahwa kabar beredar tentang buku sakti yang hilang dari Sangka Putung. Pikiran mereka dipenuhi banyak dugaan: barangkali bungkusan kain itu adalah satu kemungkinan yang sangat kecil tapi terlalu besar untuk diabaikan.
Ki Jabon berkata pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri, “Kalau itu benar-benar benda yang paling dicari orang, maka benar jika tetap melekat padanya.”
Ki Panji Danutirta menoleh. Tatapannya bertemu Ki Jabon Seta sebentar, lalu terlepas lagi tanpa perlu menyebut nama benda itu.
Namun mereka mengetahui yang sedang ada di dalam pikiran:
Kitab Kyai Gringsing atau tongkat peninggalan perguruan Ki Jambuwok.
Benda terakhir itu datang ke Tanah Perdikan Menoreh melalui bisik-bisik sesama pedagang atau murid-murid dari perguruan yang berhubungan baik.
Tongkat baja berhulu kepala babi yang tersohor sebagai pesaing Perguruan Kedung Jati pada masa kejayaan Demak.
Dua benda yang cukup untuk membuat orang mengubah kesetiaan, meniadakan kesabaran, bahkan menempuh perjalanan bahaya demi mengejar bayangannya.
Ki Jabon akhirnya berkata, “Kalau memang salah satu benda itu yang dibawanya, kita tidak dapat kepastiannya pada hari ini.”
Ki Panji menarik napas pendek. Dia masih mengarahkan matanya pada jalan yang dilalui Ki Astaman. Pikirannya tertuju pada bungkusan yang lekat pada punggung orang itu.
- Saat Ki Panji Danutirta sedang mematangkan rencana dalam pikirannya, Pandan Wangi justru selangkah lebih maju saat dia berada di Geger Alas Krapyak 10.
- Kemungkinan besar Pandan Wangi tidak mengetahui bahwa Kerusuhan Besar ini, pelan namun pasti, sedang mengarah pada sebuah tujuan.
- Namun demikian, Arya Penangsang berkenan menerima tali kekang kuda dari Ki Tumenggung Suradilaga sebelum beriringan jalan bersama Adipati Hadiwijaya alias Jaka Tingkir. Saat itu, perhatian mereka berdua tertuju pada Gerbang Demak 2
