0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 51 – Sabungsari Mencium Bahaya di Gerbang Barat

Dironda 74 kali

Bulan memang hanya tampak sebelah ketika Sabungsari mengangkat wajah dengan tatap tajam. Sorot matanya menyapu bulak panjang di sebelah barat—yang berada di luar barak pasukan khusus. Dia menangkap beberapa bayangan berkelebat cepat—melebihi kecepatan gerak pasukan khusus, menerobos sejumlah gardu jaga tanpa menimbulkan perkelahian.

“Mungkinkah para penjaga tidak mengetahui kedatangan yang asing itu?” ucap Sabungsari dalam hati dengan kening berkerut. Nalurinya segera mengatakan ada bahaya yang mendatangi Menoreh dalam bentuk yang mungkin agak berbeda. Tapi dia tidak berlama-lama karena telah terdengar seruan khas pasukan khusus Mataram yang berjaga di lingkungan itu.

Diterangi temaram oncor yang menyala di dekat gardu jaga, Sabungsari dapat melihat perkelahian dua penjaga menghadapi dua sosok asing. Sejumlah orang lainnya tetap meluncur deras menuju gerbang barat.

Sabungsari, yang bertugas jaga di gardu pendem, mengayun langkah—membayangi pergerakan belasan atau mungkin lebih dua puluh orang itu.

Dalam beberapa lompatan panjang, Sabungsari ketat merapatkan jarak dengan orang-orang yang membelah gelap itu. Tubuhnya melesat cepat hingga tiba di belakang orang yang paling akhir. Tanpa memberi kesempatan lawannya berpaling padanya, Sabungsari menyerang orang itu dengan terjangan yang sangat kuat.

Seseorang dari penyerang gelap itu cepat membantu temannya. Dia meloncat sambil menggerakkan pedang langsung menyambar lurah muda Mataram itu. Tapi Sabungsari cepat meloncat surut lalu membalas serangan dengan ujung pedang yang terjulur lurus mengarah dada orang kedua yang baru terlibat itu.

Dua orang itu terkejut melihat ujung pedang Sabungsari yang yang sedemikian cepat mengubah sasaran dengan sambaran dahsyat. Hampir saja mereka berdua tertebas dalam satu serangan saja. Keduanya pun mengumpat lantas serentak menghindar ke samping.

Sabungsari bertempur singkat dengan teriakan-teriakan yang sangat berisik. Itu bukan sekadar ledakan dari perasaan tapi adalah tanda yang hanya dipahami para prajurit Mataram. Seruan yang berarti satu hal: serangan gelap telah mendekati batas akhir garis pertahanan dari barak.

Sabungsari tidak berniat menahan dua orang itu di tempat. Perhatiannya tertuju pada barisan orang-orang asing itu. Menurut kebiasaan pasukan yang bergerak dalam regu, pemimpin biasanya berada di depan untuk membuka jalan dan mengatur arus serangan. Oleh sebab itu, Sabungsari gigih membelah perkelahian yang semakin sengit lalu kembali mengejar banyak bayangan yang cukup jauh darinya.

Ketika semakin dekat, Sabungsari merasa bahwa pandangannya belum menemukan sosok yang layak disebut pemimpin.

Orang-orang itu terus meluncur dengan kecepatan yang hampir sama, tetap bergerak tanpa aba-aba. Sabungsari mengernyit sesaat. Menurut tanggapannya, jika pemimpin mereka memang berada di depan, maka dia harus segera mencapainya sebelum seluruh gerombolan itu menembus lebih jauh ke dalam lingkungan barak. Jika perhitungannya keliru, setidaknya dia sudah mencapai garis akhir pertahanan.

Dua orang yang sebelumnya menghadang Sabungsari cukup tertinggal jauh tapi mereka ternyata juga tidak berhenti di situ. Keduanya cepat mengayun kaki, mendekatkan diri dengan dinding barak yang masih belum terlihat.

Lagi, Sabungsari menyerang orang paling akhir dari barisan di depannya.

Beberapa menengok tapi orang-orang asing itu tidak terpancing. Mereka sama sekali tidak berniat berhenti untuk mengurung Sabungsari. Kali ini ada tiga orang yang memisahkan diri dari barisan, berbalik menghadangnya dengan serangan-serangan cepat yang dimaksudkan sekadar memperlambat langkahnya. Selebihnya tetap meluncur ke depan, mempertahankan kecepatan dan arah yang sudah ditetapkan sejak awal.

Sabungsari segera memahami maksud mereka.

Dia pun tidak membuang waktu. Sebuah tendangan lurus memaksa salah seorang lawan melompat menghindar. Pada saat yang sama, sikunya menghantam lengan penyerang yang lain hingga keseimbangannya goyah. Sabungsari tidak ingin tertahan lebih lama. Begitu celah terbuka, dia cepat menyelinap di antaranya, kembali melesat memburu barisan yang telah berada beberapa puluh langkah di depan.

Sambil terus berlari, Sabungsari bersuit pendek dua kali.

Lengking nyaring itu memecah kesunyian malam, menyebar dari gardu ke gardu sebagai pertanda bahaya yang telah dikenal oleh setiap prajurit Mataram.

Kecepatan Sabungsari makin bertambah, langkahnya semakin cepat. Matanya tiada henti bergerak mencari kedudukan orang yang menjadi pemimpin mereka.

Beberapa puluh langkah di depan, Amuger Klinter telah menangkap tanda bahwa seseorang telah membayangi kelompoknya dan semakin dekat. Dia menoleh sekilas.

Di bawah cahaya bulan yang tinggal separuh, tampak kelebat orang yang tampaknya sedang berkelahi. Amuger Klinter tidak salah menduga karena salah satunya adalah Sabungsari saat dihadang anak buahnya.

Amuger Klinter tidak pula terkejut.

Sejak mendengar bentakan dan dua kali suitan yang memecah malam, dia tahu itu bukan dari kelompoknya. Artinya, pergerakan mereka telah diketahui. Maka selanjutnya adalah dia berpacu dengan waktu dengan kelompok lain yang datang menyerang barak dari tiga jurusan.

Namun begitu, Amuger Klinter tidak mengurangi kecepatan gerak dari orang-orang yang tersisa. Dia juga tidak memberi isyarat agar anak buahnya menghentikan pengejar itu. Seluruh perhatian tetap tertuju pada tujuan yang telah ditetapkan. Jika orang itu memang mampu mengejar, maka perhitungan berikutnya ditentukan oleh keadaan di depan, pikirnya.

Sabungsari hampir berhasil memangkas jarak.

Sekarang dia dapat melihat susunan gerak rombongan itu dengan agak jelas. Pikirannya berputar cepat: hampir semua orang berlari dengan kelincahan yang nyaris serupa, tetapi tampak seorang lelaki muda yang berbeda. Langkahnya lebih ringan, lompatannya panjang dan mantap. Sabungsari juga menilai singkat bahwa orang di sekitar lelaki itu seperti sedang menjaga ruang geraknya. Lelaki itu berada di barisan depan tapi bukan yang paling depan seorang diri.

“Dia…” desis Sabungsari dalam hati.

Belum sempat dia memastikan dugaan, tiga orang dari rombongan itu tiba-tiba mengubah arah. Mereka tidak lagi mengikuti lintasan utama, melainkan berbelok cepat menghadang Sabungsari.

Gerakan mereka bukan karena alasan jarak yang semakin dekat tapi pemburu itu harus diputus laju geraknya!

Amuger Klinter dan sejumlah orang lain terus berlari dan berloncatan hingga hampir dekat dengan gerbang barat!

Tiga senjata lawan membelah udara malam dengan desing suara yang menjadi tanda ketinggian ilmu mereka. Sabungsari bersikap waspada tapi tidak melambatkan langkah kaki.

Tiba-tiba pedang Sabungsari berayun setengah putaran dengan kecepatan tinggi, mencecar tiga lawannya dengan ujung lancip yang seolah-olah telah berubah menjadi puluhan.

 “Gila!” teriak salah seorang anak buah Amuger Klinter.

Dia sangat terkejut karena tidak mengira bahwa pedang Sabungsari sudah berada di depan matanya tanpa terlihat bayangannya. Orang ini cepat melompat surut. Dia belum sempat membalas karena Sabungsari telah memindahkan tekanan pada dua kawannya.

Serangan Sabungsari benar-benar mengejutkan tiga orang asing itu. Kecepatan maupun kekuatan senapati Mataram tersebut sama  sekali tidak berada dalam dugaan mereka. Sabungsari tidak memberi kesempatan ketiga orang itu untuk memulihkan pikiran perasaan. Serangan putra Ki Gede Telengan ini semakin gencar dan berbahaya. Pedangnya terus berkelebat, menyambar dari sudut yang berganti-ganti.

Dia harus dapat menggeser arena perkelahian meski dikeroyok tiga orang. Maka setiap tebasan Sabungsari pun dapat memaksa lawan bertahan, tapi langkah kakinya semakin maju.

Salah seorang lawan berusaha menutup jalan dengan tombak pendek yang menebas datar—berusaha mematuk lambung.  Sabungsari deras memutar pedang seperti perisai bercahaya ketika bilah senjata tertimpa cahaya muram dari obor yang terhalang tumbuhan liar.

Dentang baja memecah malam.

Sabungsari, dalam gerakan yang sulit diucapkan kata-kata, menghentak serangan dari bawah seolah hendak membelah dua tubuh lawannya.

“Gendeng!” seru lawan Sabungsari lalu melemparkan tombaknya sambil melontarkan diri surut beberapa langkah.

Satu orang lainnya menghujani Sabungsari dengan keris berayun dan berputaran cepat. Menebas silang, menusuk lurus dan mematuk tapi seluruhnya runtuh saat membentur pedang sabungsari yang terus berputaran hingga berbentuk seperti perisai baja putih. Sesekali terlihat lontaran bunga api menyala sesaat di bawah cahaya bulan, disusul bunyi benturan pendek yang menggema di antara pepohonan.

Ketika orang ini terhuyung dan nyaris hilang keseimbangan, Sabungsari menerobos kepungan. Dia melenting ke depan—melesat melewati sela yang hanya terbuka sekejap. Ketiga orang itu pun sadar bahwa lawan mereka memang tidak dapat dihentikan.

“Dia lolos!” teriak salah seorang di antara mereka.

Sabungsari Bertempur di Gerbang Barat

Tetapi Sabungsari telah jauh di depan dengan pandangan tetap tertuju pada barisan yang berjarak kurang dari dua puluh langkah dari gerbang barat. Jarak terpangkas semakin cepat dan Sabungsari pun akhirnya hanya beberapa langkah di belakang Amuger Klinter.

“Berhenti!” perintah Sabungsari tanpa mengurangi derap kaki.

  • Perintah berhenti itu baru dapat dilakukan ketika Toh Kuning menghadang jalur perjalanan Ken Arok. Di Tanah Larangan 2, pertemuan itu terjadi dan benar-benar berhenti. Karena pada dasarnya, Ken Arok tidak mempunyai sisi lemah dalam rencananya, tetapi, Toh Kuning adalah seorang prajurit yang selalu memasang layar yang cukup rendah.
  • Mereka berdua tentu akan saling bertanya dan menjawab. Keadaan yang serupa juga sedang dilakukan Patraman, Penculikan 1. Di serial Bondan tersebut, diceritakan bahwa Patraman dengan cerdik menggunakan pertemuan itu untuk menegaskan kemampuannya. Ia bersoal jawab dengan pengawal kademangan.
  • Percakapan panjang dan perkelahian ini sudah barang tentu menjadi sebab isi lumbung menipis. Kami harap ada perkenan untuk menyalakan api semangat agar di sekitar lumbung ada pergerakan. Matur nuwun.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.