Dironda 30 kali
Ki Astaman tidak tersenyum bukan karena tersinggung karena bentakan itu, tapi, apakah benar keterangannya itu cukup berarti dan dapat menjadi bahan pertimbangan Ki Jabon Seta?
“Sebaiknya aku pertimbangkan lagi karena tamu dari ketua kalian mungkin menganggap keterangan itu adalah sesuatu yang remeh,” kata Ki Astaman sambil memperlihatkan sikap ragu-ragu.
Orang yang sepantaran dengan Agung Sedayu bersuara agak keras, “Sebenarnya kau ini datang untuk apa? Bilang penting, penting lalu remeh. Kau permainkan kami, ini jelas sekali!”
Ki Astaman memandang ke arah tengah perkemahan sekilas lalu kembali pada mereka dengan gelengan kepala. “Itulah, aku anggap penting tapi belum tentu tamu pemimpin kalian setuju. Ini, ini karena juga terkait dengan perang tanding tadi pagi.”
“Kami sudah tahu orang yang menang,” kata orang itu lagi. “Pergilah, kau sudah membuang waktu kami sejauh ini.”
Ki Astaman mengangkat tangan cukup pendek agar mereka tidak cepat-cepat mengusirnya. “Kalau demikian berarti Ki Sanak semua sudah tahu pula Swandaru dirawat di dalam barak.”
“Ah, itu bukan urusan kami,” sahut orang lagi. Tangannya menyentuh pundak Ki Astaman dengan sedikit tenaga seperti akan mendorong pergi.
Ki Astaman mengangkat tangan lagi lalu cepat berkata dengan agak lantang, “Apakah tiga orang yang ditahan di barak itu dari sini? Yah, aku melihat pasukan khusus mengarak enam orang dari sekiar Separang ke barak mereka. Banyak orang yang melihatnya.”
Beberapa orang memandang Ki Astaman dengan banyak dugaan. Apakah orang ini mata-mata Mataram atau Menoreh?
“Kalau dugaanku salah, aku pergi sekarang.” Ki Astaman cepat menambahkan warna dalam keterangannya itu, “Mungkin enam orang itu berasal dari perguruan lain yang banyak mendirikan permukiman sementara di sekitar pedukuhan induk.”
“Sebentar, tunggu,” kata cepat orang berusia tua yang mengenakan kain merah gelap. “Kau katakan ini dan itu, tapi sebut nama pun tidak. Asal juga tidak, bagaimana kami dapat percaya padamu?”
“Ah, oh, itu…,” ucap Ki Astaman sedikit gelagapan dengan perasaan dan pikiran yang terkendali. Kepura-puraan yang membuahkan hasil, seolah dia ingin mengatakan itu sambil tertawa dalam hati.
Sambil membungkuk dua atau tiga kali, katanya, “Aku, Ki Astaman dari perguruan kecil di lereng selatan Gunung Sumbing.”
“Apa nama perguruanmu?” orang itu bertanya.
Ki Astaman menggeleng, jawabnya lirih, “Tidak dapat dibandingkan dengan perguruan Ki Sanak sekalian. Perguruan kecil, hanya lima cantrik saja dan kini sudah bubar.”
Saat orang itu hendak bersuara lagi, terdengar kaki bersentuhan dengan tanah mendekati mereka.
Seorang laki-laki bertubuh sedang muncul dari sela orang-orang yang berkumpul. Pakaiannya rapi dan sederhana, tetapi caranya berjalan sudah menunjukkan wibawa tersendiri. Dia berhenti beberapa langkah dari lingkaran kecil itu lalu memandang bergantian kepada Ki Astaman dan orang berkain merah gelap.
“Aku sudah mendengar tanya jawab kalian sejak orang yang bernama Ki Astaman ini bicara,” katanya datar. “Tadi aku tidak berniat ikut campur, tetapi karena pembicaraan mulai berputar-putar, aku ingin tahu—sebenarnya ada apa?”
Orang berpakaian merah gelap itu tidak menunggu lama, jawabnya dengan nada hormat, “Orang ini mengatakan melihat pasukan khusus mengarak enam orang dari sekitar Separang menuju barak. Tiga di antaranya mungkin orang yang sedang kami cari. Tetapi dia tidak menyebut nama, asal, atau alasannya. Karena itu saya bertanya lebih jauh. Kalau benar, itu kabar penting. Kalau salah, kami hanya membuang waktu.”
Dia menggeser pandangan kepada Ki Astaman. “Aku mengatakan yang sebenarnya. Kau juga mendengar.”
Terdengar tepukan pelan dari arah Ki Jabon Seta. Saat orang-orang berpaling padanya, dia melambai—meminta Ki Astaman dan orang berpenampilan rapi datang padanya.
Terdengar tepukan pelan dari arah Ki Jabon Seta. Saat orang-orang berpaling padanya, dia melambai—meminta Ki Astaman dan orang berpenampilan rapi itu mendekat.
Ki Astaman berjalan dengan langkah tenang. Orang berpakaian merah gelap mengikuti beberapa langkah di belakangnya. Lingkar orang-orang itu membuka jalan dengan sendirinya.
Setelah berdiri cukup dekat, Ki Jabon Seta memandang Ki Astaman beberapa saat sebelum bertanya, “Kalau begitu, sebutkan sekali lagi. Dari mana asalmu dan perguruan apa yang kau ikuti?”
Ki Astaman menundukkan kepala sejenak—seperti sedang menimbang, apakah pertanyaan itu layak dijawab? Padahal di balik wajahnya yang datar dan tenang, pikirannya bergerak cepat mencari nama yang tidak menimbulkan perhatian.
“Saya dari lereng selatan Gunung Sumbing, Kyai,” jawabnya lalu setelah berhenti sesaat. “Perguruan kecil. Namanya Padepokan Wuluhan Jati.”
Beberapa orang saling berpandangan seolah mencoba mengingat nama itu, tapi mereka memang tidak tahu.
Ki Astaman meneruskan tanpa menunggu pertanyaan berikutnya, “Tidak besar, tidak terkenal. Hanya beberapa cantrik saja. Sudah lama meredup, lalu bubar. Sekarang sudah tidak ada lagi. Karena itu saya juga jarang menyebut namanya. Jika sekarnag tidak ada orang yang mendengar atau mengenal, yah, saya kira itu memang wajar.”
Ki Jabon Seta tidak segera menanggapi. Tatapannya tetap tenang, tetapi pertanyaan berikutnya meluncur tanpa jeda. “Lantas, saat kau melihat pasukan khusus menggiring enam orang itu ke barak—Ki Sanak berada di mana?”
Ki Astaman menggerak-gerakkan jari, berpikir keras, mengingat urutan kejadian. “Saya berada di sisi dusun. Tidak cukup dekat, hanya saja, bisa melihat wajah dan pakaian lebih baik.”
Ki Jabon Seta mengangguk, memandang sejenak pada orang berpenampilan rapi, lalu bertanya lagi pada Ki Astaman, “Saat itu apakah ada orang dari perguruan lain yang mengikuti iring-iringan itu? Atau mungkin orang-orang yang tampak ingin mengetahui siapa enam orang yang dibawa?”
Ki Astaman menggeleng tanpa ragu. Katanya, ““Tidak ada yang mengikuti. Setidaknya yang saya lihat begitu. Orang-orang memang memperhatikan dan saya juga begitu, tetapi tidak ada kelompok perguruan yang bergerak di belakang pasukan itu.”
Dia berhenti sesaat lalu menambahkan, “Waktu itu banyak orang justru bicara hal yang lain.”
“Apa itu?”
“Sebab penangkapan,” jawab Ki Astaman. “Perkelahian tiga lawan tiga.”
Beberapa orang yang berdiri di dekat mereka saling memandang.
Ki Astaman melanjutkan dengan nada datar, “Karena itu saya berpikir pendek bahwa enam orang yang ditangkap pasukan Mataram itu adalah orang-orang yang terlibat perkelahian.”
“Di mana perkelahian itu terjadi?”
“Orang dusun banyak berkata tentang sungai kering atau pategalan yang akan ditanami. Saya kurang paham mengenai tempatnya, tapi itulah yang saya dengar dari percakapan mereka,” sahut Ki Astaman.
Ki Jabon Seta menatap Ki Astaman lebih lama dari sebelumnya. Nada suaranya tetap datar ketika bertanya lagi, “Kalau begitu, bagaimana kau tahu enam orang itu ditahan di barak?”
“Saya mengikuti iring-iringan itu, Kyai,” jawab Ki Astaman dengan tegas. “Saya berani pastikan enam orang itu masih ditahan di barak, bukan banjar atau rumah Ki Gede Menoreh.”
“Apakah kau dapat menduga alasan prajurit Mataram menahan mereka di barak? Mengapa tidak di banjar atau tempat lain? Misalnya rumah Agung Sedayu atau bebahu Tanah Perdikan.”
Beberapa orang mengerutkan kening.
Ki Astaman mengangkat tangannya sambil berkata, “Itu saya tidak tahu, Kyai.”
Sesaat dia diam, lalu meneruskan keterangannya.
“Saya sering berada dekat lingkungan barak. Untuk berburu atau ke pasar induk untuk beberapa keperluan. Kadang-kadang jika melewati beberapa prajurit atau pengawal yang sedang berbicara, dari merekalah kemudian saya tahu bahwa sampai hari ini, enam orang itu masih di dalam barak. Saya tidak bermaksud menguping, tapi hanya kebetulan melewati mereka saja.”
Dia menoleh sebentar ke arah orang-orang di sekelilingnya sebelum berkata lagi, “Itu saja yang saya tahu. Selebihnya hanya dugaan saya sendiri.”
Orang berpakaian rapi itu yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya mengambil giliran. Dia melangkah ke depan. Suaranya tenang, bahkan terdengar biasa, “Kalau begitu, kau pasti cukup dekat untuk mengingat keadaan di sana.”
Ki Astaman memandangnya tanpa berubah air muka.
Orang itu melanjutkan, “Bagaimana keadaan barak? Bangunannya seperti apa? Dan bagaimana jarak antarbangunan di dalamnya?”
Beberapa orang yang mendengar pertanyaan itu menoleh cepat. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi tidak mudah dijawab oleh orang yang hanya mendengar kabar atau sedang berbohong. Sejulah orang kemudian sudah menggenggam hulu senjata.
Ki Astaman diam sejenak.
- Ki Astaman diam bukan karena tidak tahu tapi juga sulit menerangkan bahwa dirinya sudah muncul sejak Hari Bising di Bukit Menoreh atau bahkan sebelum itu. Kemudian berlanjut lagi di Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh.
- Sikap diam ini juga terjadi pada diri Dyah Murit, hanya saja dia sempat berbisik, “Aku berharap ayahku – Rakai Panangkaran – telah menunggu di beranda istana, atau setidaknya mengajakku bicara ketika aku berada di dalam wilayah kekuasaannya” Demi keadaan ini dan supaya menjadi jelas bagi kita semua, aku akan katakan seluruhnya di Nir Wuk Tanpa Jalu 2
- Jika longgar waktu, kita juga bisa ke Kyai Plered 16. Agung Sedayu sedang di sana menanti kelahiran anaknya.
