Dironda 29 kali
Pertempuran di halaman banjar berubah menjadi bentrokan terbuka ketika kekuatan kedua pihak terus bertambah. Orang-orang Menoreh yang semula bertahan dengan persenjataan seadanya mampu menahan desakan lawan, sementara Bondan menghadapi Ki Kalong Pitu dalam perkelahian yang semakin sengit. Di berbagai sudut banjar, setiap orang harus berjuang mempertahankan kedudukan masing-masing.
Keadaan menjadi semakin rumit ketika kelompok Ki Gancar Sengon berhasil mencapai halaman banjar dan memperbesar jumlah lawan. Tekanan terhadap pengawal Menoreh meningkat, sedangkan Bondan mulai menyadari bahwa keseimbangan pertempuran dapat berubah sewaktu-waktu. Di luar banjar, Ken Banawa dan Ki Swandanu berusaha menghambat datangnya kekuatan baru agar tidak seluruhnya bergabung ke medan utama.
Menyadari keadaan yang semakin berat, Jalutama mengambil keputusan penting dengan mengubah cara bertempur pengawal Menoreh. Sebuah gelar pertempuran yang telah lama diwariskan diterapkan untuk menyatukan gerak para pengawal sehingga mereka tidak lagi bertarung sendiri-sendiri. Perubahan siasat ini menjadi titik penting yang mengubah irama bentrokan di halaman banjar.
Di saat yang sama, kelompok Bondan kembali mengambil peranan sesuai kemampuan masing-masing. Ki Swandanu dan Ken Banawa bergabung ke medan utama, sementara Bondan tetap berusaha menahan Ki Kalong Pitu yang terus mencari kesempatan membalikkan keadaan. Di berbagai penjuru, perkelahian berlangsung dalam lingkaran-lingkaran kecil yang saling memengaruhi jalannya pertempuran secara keseluruhan. Pertempuran memasuki babak baru. Tidak lagi sekadar mengandalkan keberanian dan kekuatan perorangan, kedua pihak mulai mempertaruhkan kepemimpinan, ketahanan, serta kecermatan menyusun siasat. Di tengah kekacauan yang belum juga mereda, arah kemenangan pun belum dapat dipastikan.
- Di Tapak Ngliman, pada akhirnya nyaris sedikit sekali pertempuran bersenjata yang berakhir seimbang.
- Apalagi ketika kita baru saja melintasi Rawa-rawa 1. Di sana, tampak perbatasan Kademangan Wringin Anom yang di baliknya ada peristiwa ketika Patraman memerintahkan mereka untuk menyebar ke beberapa padukuhan kecil yang berada di sekitar kademangan. Ia sendiri berbalik arah menuju pendapa kademangan.
- Keadaan berbeda juga dialami Adipati Hadiwijaya. Pemimpin Pajang ini merasa getar aneh perasaannya. Sebenarnya ia tidak merasa curiga dengan kedatangan Adipati Arya Penangsang, tetapi ia tidak dapat mengalihkan pertanyaan yang menyembul kuat dari relung hatinya saat berjalan menuju Gerbang Demak 3.
