Dironda 20 kali
Pertempuran di banjar pedukuhan akhirnya memaksa orang-orang Tanah Menoreh mengubah tujuan mereka. Atas pertimbangan keselamatan, Ken Banawa memerintahkan seluruh rombongan untuk melepaskan diri dari kepungan, sementara Bondan dan para pengawal berusaha membuka jalan agar mereka yang terluka dapat meninggalkan tempat itu.
Dalam perjalanan meninggalkan banjar, rombongan Menoreh menghadapi keadaan yang semakin berat. Jalutama, Ken Banawa, Ki Swandanu, Ki Hanggapati, serta para pengawal terus berusaha menjaga kebersamaan meskipun perjalanan menjadi semakin sulit. Di sisi lain, Bondan tetap berada di garis belakang untuk memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal.
Menjelang senja, rombongan berusaha mencari jalan keluar dari kawasan hutan yang asing. Jejak-jejak perjalanan menjadi petunjuk bagi Bondan untuk kembali menemukan kawan-kawannya. Dalam suasana yang semakin gelap dan hujan yang mulai turun, mereka akhirnya dapat berkumpul kembali di sebuah tempat yang dianggap cukup aman untuk beristirahat sejenak.
Sementara itu, keadaan di banjar pedukuhan juga berubah. Ki Kalong Pitu bersama orang-orangnya segera membereskan keadaan sebelum menerima kedatangan rombongan baru yang dipimpin Ra Jumantara. Setelah membahas perkembangan yang terjadi, mereka menyusun langkah lanjutan untuk mengejar rombongan Menoreh. Dan perjalanan Bondan serta para pengikutnya masih jauh dari kata usai.
- Pada malam bulan purnama, ia kembali duduk seperti semula. Namun aku masih dapat melihat jelas dari dalam kemaluannya. Tapi tidak ada satu pun dari rombongan Bondan mendengar ungkapan itu di Bulan Telanjang 7 ketika Aku terhisap tenaga ghaib!
- Dalam waktu tak lama, dari kedalaman sungai, aku menyaksikan perang tanding yang hebat sedang meningkat semakin tajam. Jika Ki Arumpaka mampu menekan Toh Kuning pada permulaan perkelahian, kini Toh Kuning berada di atas angin. Pertarungan dua lelaki itu meledak hebat saat Pengepungan 3, Benturan Dua Tenaga Inti.
- Namun, kemudian aku sadar cerita ini – kilas kisah Bondan – adalah bagian dari Bab 4 dari Bara di Borobudur, Tapak Ngliman.
