0%
Still working...

Penaklukan Panarukan – Hilangnya Pangeran Benawa (Kilas Kisah Lembah Merbabu 1)

Dironda 22 kali

Malam yang membelah lereng Merbabu menjadi saksi dari peristiwa yang akan mengguncang Pajang. Di tengah sunyi pegunungan, seorang anak bangsawan, Pangeran Benawa, harus menghadapi kenyataan yang sama sekali tidak pernah dibayangkannya. Jauh dari orang-orang yang selama ini melindunginya, dia dipaksa keadaan agar bertumpu pada keteguhan hati, ajaran para guru, dan keyakinan yang tumbuh dari dalam dirinya sendiri.

Sementara itu, langkah seorang lelaki yang menyimpan dendam panjang justru mengarah ke pusat kekuasaan. Dengan perhitungan yang matang, Kyai Rontek menyusuri Kota Pajang, mengamati setiap perubahan yang terjadi, sekaligus menyusun kembali rencana setelah mendapati keadaan tidak lagi seperti yang dia perkirakan. Di balik ketenangannya, tersimpan tekad yang sanggup menyeret banyak orang ke dalam pusaran pertarungan yang lebih besar.

Keadaan semakin berubah ketika kabar yang semula hanya diketahui segelintir orang mulai menyentuh telinga para sesepuh—Ki Getas Pendawa dan Pangeran Parikesit. Pertemuan demi pertemuan menghadirkan pertanyaan baru, sementara kepingan-kepingan peristiwa perlahan memperlihatkan bahwa persoalan yang sedang berkembang jauh melampaui sekadar hilangnya seorang pangeran. Setiap keputusan yang pernah diambil pada masa lalu mulai menghantui seakan kembali menuntut jawabannya.

  • Gema angkatan perang Demak ke timur untuk kampanye militer mulai menghimpit pikiran Arya Penangsang. Meskipun perjalanannya masih belum beranjak dari Lereng Merbabu.
  • Jarak yang sangat jauh sehingga tawa Ki Arumpaka sama sekali tidak terdengar. Orang ini tertawa saat menanggapi ucapan Toh Kuning, lalu ia terbatuk-batuk. Setelah mengatur napasnya, ia berkata, ”Aku tidak pernah menaruh harapan pada Kertajaya.” Hampir tidak ada jalan keluar di Pengepungan 4.
  • Namun tetap saja ada suara lain yang menyusul datang dari Demak.  Di ambang Gerbang Demak 6, suara Arya Penangsang begitu dingin dan bernada datar, ”Aku menimbang semuanya. Terbesit keinginan untuk menuntut balas tetapi Eyang Kebo Kenanga dan Eyang Parikesit selalu hadir untuk membantu mengendalikan kekang. Lalu aku melihat Pangeran Benawa.”

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.