Hening. Itu seperti sekat tebal berwarna hitam merentang panjang di antara pepohonan. Tidak ada desir, tidak ada dengus napas yang buru-buru dikeluarkan, bahkan jangkrik pun tahu diri untuk berhenti bernyanyi pada malam itu.
Glagah Putih merapatkan dada perlahan, meresapi getar yang menjalar dari segala arah permukaan tanah. Bekal ilmu Sigar Bumi yang disadapnya dari Ki Jayaraga serta pengalaman luas sebagai petugas sandi berpadu selaras dalam putaran yang sangat pelan, Dia tidak sedang mencari penyerang gelap atau ancaman yang lain, tapi menyerap getaran janggal yang mengalir di atas tanah..
Dia tidak tahu segala yang ada di balik gelap yang mencengkeram tengkuk itu. Yang dia sadari adalah panggraitanya memberi kabar bahwa ada sesuatu yang asing tapi tidak berasal dari Tanah Perdikan Menoreh. Glagah Putih mengatupkan rahang. Dia tidak berani menduga bahwa sesuatu itu adalah orang-orang Raden Atmandaru yang bersembunyi. “Itu perkiraan yang keliru karena bisa juga serombongan pedagang yang juga siaga dengan ancaman bahaya,” katanya dalam hati.
Di balik diamnya, Glagah Putih berpikir cepat. Sebelum meninggalkan barak pasukan khusus, Agung Sedayu berpesan tegas, “Jangan terperdaya bayangan atau desir suara yang belum nyata wujudnya.” Maka dia harus menahan diri agar waktu menyesuaikan diri dengan berjalan lebih lama.
Pada bagian lain, Ki Sor Dondong menekan tubuh ke tanah berumput basah. Dia menggeser telapak tangan, menyentuh jalinan tanah, menyapa angin untuk menyatukan budi dan rasa. Ki Sor Dondong tidak merasa tenang. Tiba-tiba keyakinannya goyah tanpa sebab yang jelas. Pertempuran Karang Dawa memberinya pelajaran untuk mengenali medan lebih baik. Bukan sekedar medan yang terjangkau oleh indra, tapi kewaspadaan yang tumbuh dalam penjagaan. Dia mengenal medan ini, mengenal hutan, mengenal cara Sangkal Putung bertahan, maka kedekatan dan persamaan seperti itu pula akan menyusup di Menoreh.
Pasca kejadian tragis itu, Arya Penangsang segera bergerak menuju Kotaraja Demak dengan menyamar sebagai saudagar kecil untuk menghindari deteksi. Di sana, ia terkejut melihat kehadiran Kyai Rontek—sosok misterius yang pernah terlibat dalam upaya pembunuhan Adipati Hadiwijaya—sedang menyamar sebagai pembersih halaman istana. Kehadiran Kyai Rontek dan Pangeran Benawa di Demak menjadi pertanda bahwa “badai” perebutan kekuasaan belum berakhir, sementara berita kematian Raden Trenggana sendiri secara resmi belum sampai ke telinga rakyat di ibukota.

Malam ini berbeda. Terlalu senyap.
Ki Sor Dondong memberi isyarat halus kepada dua orang terdekat. Sebuah perintah tanpa kata. Ki Sor Dondong tidak ingin ada orang yang bergerak. Mereka harus menunggu dan patuh dengan naluri alamiah yang mengendap dalam diri masing-masing. Keluasan wawasan dan pengalamannya telah memberi bukti bahwa yang lebih dulu melangkah di medan asing saat semesta sangat senyap, maka dia sudah membuka celah pertahanan.
Waktu berlalu lama. Terlampau lama bagi orang-orang yang terbiasa bertarung cepat.
Salah seorang anak buah Ki Sor Dondong mulai merasakan kejang di betisnya karena tikaman udara dingin. Dia menggigit bibir, menahan nyerti tapi gesekan kecil antara kain celana dan rerumputan kering tak terhindarkan. Bunyi sangat pelan bahwa nyaris tidak terdengar – tapi cukup!
Glagah Putih menangkap getar sangat halus itu.
Tanpa aba-aba keras, dia menggerakkan jarinya ke bawah. Lima orang pasukan khusus di sisinya segera bergeser, melingkar, menuruni tekukan rendah, mengubah kedudukan seperti air yang mengalir mengikuti lekuk batu. Tidak ada pergerakan lagi untuk menyerang. Glagah Putih hanya mengurung kemungkinan.
Di dalam dirinya, Glagah Putih bertanya-tanya, “Apakah suara itu berasal pengintai lawan? Atau hanya desir binatang merayap yang sedang mencari penawar rasa lapar?”
Sekali lagi, sunyi adalah jawaban satu-satunya.
Tiba-tiba, seekor burung malam terbang dari dahan rendah. Paruhnya menggaung. Sayapnya mengepak keras menabarak daun-daun yang menghalangi bentangan sayap, memecah sunyi.
Itu cukup.
Dua pasukan bergerak hampir bersamaan, tapi tidak saling menyerang. Ki Sor Dondong memberi aba-aba mundur langkah, menyebar lebih lebar. Glagah Putih justru memerintahkan pasukannya maju ke arah sungai lalu kembali mendekam. Itu sudah cukup untuk memperbaiki sudut pandang, tanpa memperlihatkan diri.
Malam pun kebingungan lalu menahan napas lagi.
Dalam keadaan seperti itu, benturan besar justru urung terjadi. Tidak ada teriakan, tidak ada sabetan senjata. Yang ada hanyalah uji kesabaran dan perhitungan.
Ki Sor Dondong akhirnya memutuskan untuk bergerak memutar. Dia tidak yakin lalu bertanya pada dirinya sendiri, apakah mereka sudah terendus? Tapi nalurinya berkata bahwa bertahan di tempat yang sama itu terlalu berbahaya. Dengan isyarat cepat, pasukannya mulai bergeser ke utara, menyusuri lereng tanah yang menurun ke arah sungai kecil.
Glagah Putih merasakan perubahan itu. Panggraitanya tidak begitu mendesak-desak lagi. Tekanan di udara terasa merenggang seperti kabut yang ditarik perlahan. Dia tidak diizinkan untuk mengejar. Perintah Agung Sedayu sangat jelas ; jaga wilayah antara Pringtali dan Pudak Lawang. Dengan demikian, Glagah Putih dengan berat hati akhirnya mengizinkan sesuatu yang asing itu pergi, namun tidak sepenuhnya melepasnya dalam pikiran.
“Ki Lurah?” tanya seorang anak buahnya.
“Biarkan,” bisiknya pelan. “Kita cukup membayangi sambil tetap membentangkan pandangan..”
Dua pasukan pun bergerak dalam garis yang tidak saling bersentuhan, terpisah oleh pepohonan dan gelap, seolah malam sedang linglung lalu sengaja menjaga jarak di antara mereka. Tidak ada yang tahu bahwa mereka nyaris berhadapan langsung. Tidak ada yang tahu betapa tipis batas antara sunyi dan pertumpahan darah.
Ketika mencapai titik yang dianggap aman, sebuah cekungan kecil sebelum aliran sungai, Ki Sor Dondong menghentikan langkah. Dadanya naik turun pelan lalu menoleh ke belakang, ke arah hutan yang baru saja mereka tinggalkan.
“Menoreh tidak pernah tidur,” gumamnya lirih.
Salah seorang pengikutnya mendekat. “Apakah Senapati yakin mereka sudah menyadari keberadaan kita?”
Ki Sor Dondong menggeleng perlahan. “Entahlah. Tapi siapa pun orangnya, itu sudah pasti akan menghukum berat kita semua jika memaksa untuk menerobos.”
Dia tidak menyebut nama. Meski hanya sedikit orang di Mataram yang mampu berbuat seperti tapi mereka adalah kelangkaan yang sangat tersembunyi. Tidak pula membayangkan wajah tertentu. Dalam benaknya, itu hanya perasaan, hanya anggapan yang belum berbentuk kenangan.
Sementara itu, Glagah Putih berdiri di bawah pohon randu tua, menatap ke arah utara. Bahunya sedikit turun dengan sorot mata tetap waspada.
“Kita belum selesai<’ dia berkata seakan untuk dirinya sendiri.
“Ki Lurah,” salah seorang pengawal berbisik, “mereka menjauh.”
Glagah Putih mengangguk. “Biarkan. Terlalu bahaya bila memaksa diri untuk mengejar. Mereka menyimpan kekuatan yang belum terukur.”
Dia memerintahkan pasukannya agar menempati titik-titik penjagaan yang disesuaikan, Pudak Lawang dan Pringtali masih harus dijaga hingga pagi. Ancaman bisa datang dalam bentuk lain, dari arah berbeda.
Ketika fajar akhirnya mengendap pelan di puncak Gunung Lawu, dua pihak sudah berada di tempat yang sudah direncakan sebelum perondaan. Mereka melanjutkan tugas tubuh yang utuh. Tanpa luka dan tanpa kenangan. Mereka juga masih belum sadar bahwa mereka baru saja berdiri di ambang takdir yang saling bersinggungan.
Ki Sor Dondong menatap matahari yang naik perlahan, melihat kembali rencana di dalam kepala.
Di tempat lain, Glagah Putih menghela napas panjang, menenangkan batin sebelum pergantian jaga.
Tak satu pun dari mereka tahu, bahwa jejak langkah malam itu meninggalkan gurat tipis yang dapat saja hilang. Bahwa garis-garis nasib mungkin akan merangkai pertemuan mereka kembali atau juga tidak pernah berjumpa lagi.
Pada pagi itu, segalanya tampak selesai. Setidaknya, begitulah yang mereka kira.
Sukra Menjadi Pembeda
Gelanggang itu seperti dipagari oleh hembusan angin yang tidak tampak mata. Daun-daun kering beterbangan, debu tanah terangkat lalu jatuh kembali seolah ragu untuk menyentuh bumi. Ki Demang Brumbung berdiri dengan kaki tertanam kuat, keris berlekuk lima masih bergetar di tangannya. Napasnya masih teratur, tetapi di balik ketenangan itu, dia tahu betul bahwa tubuhnya akan dipaksa bertahan sampai batas yang jarang tersentuh.
Pada waktu itu, sempat terbersit tanya dalam pikiran Ki Sambak Kaliangkrik, ke mana anak muda yang menyertai prajurit ini? Tapi pikiran itu lekas diabaikan olehnya. Sorot mata Ki Sambak Kaliangkrik memancarkan perhitungan jeli dan keyakinan diri. Baginya, setinggi-tingii ilmu, tetap berada di dalam tubuh manusia yang punya batas. Dia tahu lawannya bukan prajurit sakti yang juga seorang pendekar. Dia sudah mendengar ketangguhan dan keuletan senapati Mataram itu. Selalu ada batas, pikirnya. Selanjutnya, dia memutar sepasang tongkat pendek yang ujung tajam dengan kekuatan hebat, gulungannya membentuk lintasan-lintasan berbahaya yang kokoh dan mengunci. Tidak mudah menembus pertahanan orang ini!
“Cukup menyenangkan dapat mengadu ilmu denganmu, Prajurit,” ujar Ki Sambak Kaliangkrik dengan suara yang nyaris tenggelam oleh gaung sepasang senjatanya.
Ki Demang Brumbung tidak menjawab. Dia melangkah maju setengah tapak. Terjangan hebat dilakukannya sambil menggerakkan kerisa dengan sudut yang nyaris mustahil. Semburat cahaya pucat melintas, denting keras bertalu-talu menyusul kemudian ketika tongkat Ki Sambak menahan sabetan itu.
Dua orang berilmu tinggi itu saling dorong dan membelit dengan gerakan-gerakan yang sulit dimengerti. Mereka mecari titik lemah mengintai kelengahan dan saling mematuk. Sabetan datar dan menyilang menjadikan pandang mata kabur oleh pusaran senjata yang sangat cepat!
Garis-garis tak beraturan bermunculan segera di permukaan. Jejak-jejak kaki bertenaga membuat tanah di sekitar mereka menerbangkan debu yang berhamburan ke segala arah.
Debu yang tak tampak oleh mata retak halus memukul mundur anak buah Ki Sambak Kaliangkrik. Mereka tidak bodoh. Mereka tahu, satu langkah ceroboh saja dapat menyeret mereka ke dalam pusaran maut yang tidak memberi ampun. Mereka memandang pertarungan itu dengan campuran antara kagum dan ngeri. Meski mereka banyak pengalaman dalam pertempuran, tapi perkelahian hidup mati lebih banyak terjadi pada siang hari. Sedangkan yang tergelar di depan mata mereka adalah pertarungan yang langka!
Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.
Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;
4 Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831
Demikian pemberitahuan. Terima kasih.
Apakah pertarungan itu mendekati akhir ketika dua orang tersebut sama-sama terpental surut setelah mengadu kekuatan?
Di kejauhan, terdengar decit suara burung malam terbang di balik antara pepohonan. Ki Demang Brumbung menajamkan pendengaran berusaha menembus dinding angin dan dengus napas lawan. Tapi dia tidak mendapatkan sesuatu pun.
