Tanpa melihat Dharmana, Swandaru berkata, “Itulah yang aku khawatirkan. Kemampuan akan perlahan-lahan menurun lalu benar-benar tertinggal karena ketakutan yang mengendap dalam hati kalian. Ketika benturan pecah, kalian akan bersembunyi di kolong-kolong dan pojok setiap kandang.”
Itu perkataan yang menyakitkan!
Dharmana berusaha menahan diri meski sempat berharap kemunculan Sukra yang tak pernah segan melabrak Swandaru. Namun dia akhirnya berkata pula, “Apabila melihat kedudukan dari setiap orang yang memberikan perintah, Nyi Pandan Wangi adalah orang yang berada paling bawah, pada puncaknya ada Pangeran Purbaya. Sementara Ki Rangga menjadi penghubung terbaik yang berada di tengah-tengah.”
“Kau benar-benar merendahkan aku!” seru Swandaru sambul mengacungkan jari pada arah Dharmana. “Aku adalah pemimpin kademangan ini. Itu kenyataan yang sedang kalian coba hindari!”
Dharmana tidak menanggapinya lagi. Dia bangkit lalu melangkah pergi meninggalkan banjar. Demikian pula kepala pengawal yang lain, mengikuti Dharmana tanpa kata-kata yang diucapkan. Kebanyakan dari mereka seperti sedang mengalami sumbatan dalam kepala karena perintah Swandaru. Bagaimana mungkin itu dilakukan? Karena menjalankan perintah Swandaru sama dengan membangkang Pangeran Purbaya dan Agung Sedayu. Pilihan yang sulit tapi sepertinya mereka akan membangkang perintah Swandaru.
Banjar pedukuhan pun menjadi sunyi. Hanya Swandaru seorang diri dan dua pengawal yang berjaga di bawah regol banjar. Dua orang itu adalah bagian dari pengawal yang ditugaskan secara khusus oleh Pangeran Purbaya untuk mendampingi Swandaru. Swandaru memandang dua orang itu dengan rasa geram di hatinya. Dia adalah pemimpin kademangan tapi berada di bawah pengawasan ketat anak buahnya sendiri. Seandainya dia ingin meninggalkan kademangan, itu bukan hal sulit baginya tapi akan berakibat buruk padanya. Pangeran Purbaya dapat memerintahkan penangkapan atas tuduhan makar. Ya, makar ini menjadi sesuatu yang membelit Swandaru sangat erat. Kesalahannya seolah tidak dapat terampuni oleh para petinggi Mataram, terutama Pangeran Purbaya. Sedangkan Ki Patih Mandaraka pun tidak mampu membuat keringanan meskipun Swandaru jatuh dalam perangkap Raden Atmandaru.
Yang terhormat para penggemar kisah silat.
Padepokan Witasem kerap melakukan kegiatan sedekah pada hari Jumat. Untuk itu, kami sering menggalang dana dan berharap dukungan Panjenengan untuk kegiatan tersebut. Donasi bisa dikirimkan ke rekening BCA 8220522297 atau BRI 3135 0102 1624530 atas nama Roni Dwi Risdianto atau dengan membeli karya yang sudah selesai. Konfirmasi tangkapan layar pengiriman sumbangan dapat dikirim melalui Hanya WA Bersama pengumuman ini, kami sampaikan terima kasih sebesar-besarnya. Rahayu.
“Permintaan pada ayahnya agar mengundurkan diri lalu menyerahkan Sangkal Putung sepenuhnya pada pemberontak, itu sudah jelas bukan lagi perangkap,” ucap Pangeran Purbaya saat menemui Ki Patih Mandaraka beberapa saat sebelum Panembahan Hanykrawati dikebumikan. “Saya paham awal mula Swandaru terjerat dalam genggaman keji para pemberontak. Seandainya dia tidak datang ke Sangkal Putung, lalu mengatakan yang kita dengar semua dari laporan petugas sandi, saya harus berpikir berulang kali sebelum memutuskannya sebagai tahanan rumah.”
“Tapi segalanya berjalan tanpa campur tangan dari kita sebagai manusia biasa,” sahut lemah Ki Patih. Sesepuh Mataram ini sudah membayangkan perjalanan hidup Swandaru di masa depan.
“Eyang,” kata Pangeran Purbaya lalu merendahkan tubuh di hadapan Ki Patih Mandaraka. “Saya bersedia menerima hukuman bila keputusan tentang Swandaru itu tidak mendapat perkenan dari Eyang.”
“Tidak, tidak, Pangeran,” ucap Ki Patih sambil buru-buru memegang bahu Pangeran Purbaya lalu mengangkatnya. “Tidak pantas seorang pangeran memohonkan ampun seseorang yang nyata menyimpang lalu membahayakan Mataram. Seorang Swandaru tidak cukup dapat memaksa seorang pangeran untuk berlutut.”
“Swandaru adalah salah satu orang yang menemani Panembahan Senapati membuka Alas Mentaok,” kata Pangeran Purbaya kemudian, ”mungkinkah keputusan saya dibiarkan mendiang ayahanda seandainya beliau masih hidup?”
“Tidak perlu berandai-andai jika Pangeran menjadi saksi mata sepak terjang mendiang Panembahan Senapati bersama Swandaru dan kakak seperguruannya,” ucap Ki Patih yang menyebut Agung Sedayu tidak secara langsung lalu mengingatkan Pangeran Purbaya. Dalam waktu itu, Ki Patih Mandaraka seolah-olah melihat gambaran tentang hubungan dua murid Kyai Gringsing dengan Kraton.
Pada malam yang muram itu, Swandaru sedang tidak ingin kembali ke rumah yang menjadi tempat untuk menahan dirinya. Tapi setelah memikirkan segala akibatnya, Swandaru beranjak bangkit, melangkah pelan menuruni tangga lelu bergerak ke arah kedatangannya. Sebenarnyalah dia ingin menemui Pandan Wangi lalu bicara sedikit dengan istrinya itu. Beberapa hal, menurutnya, perlu untuk diluruskan tapi keadaan sama sekali tidak memberinya kesempatan. Pangeran Purbaya cepat membuat keputusan bahkan sebelum pertempuran di Karang Dawa benar-benar usai. Pandan Wangi pun sepertinya lebih memerhatikan keamanan kademangan dibandingkan keadaan suaminya. Sejujurnya, saat Swandaru mendengar kehadiran Agung Sedayu di kediaman Ki Demang, dia berharap dapat memperoleh waktu untuk berbagi dengan kakak seperguruannya. Tapi, lagi dan lagi, Swandaru seolah sedang dimusuhi oleh waktu dan keadaan.
Ditemani dua pengawal yang berjalan di belakangnya, Swandaru mengayun langkah perlahan. Pikirannya terbang menuju Pandan Wangi. Kesetiaan putri Ki Gede Menoreh itu telah teruji. Hubungan asmara singkat dengan Wiyati yang kemudian berakhir di medan perang menjadi batu penghalang yang benar-benar sulit disingkirkan. “Itu sudah jelas menyakiti hatinya, tapi mengapa aku tidak begitu peduli pada Wangi pada saat itu?” tanya Swandaru pada dirinya sendiri. Lambat laun pun bermunculan gambar-gambar wanita yang pernah merasakan kekar lengan dan ketebalan hartanya. Memang tidak banyak tapi terulang beberapa kali. Swandaru mendesah napas lirih.
Tiga orang tampak berjaga di depan gardu yang berada sedikit di belakang pagar kayu yang mengelilingi rumah itu. Tidak banyak yang diucapkan Swandaru saat melewati mereka bertiga. Dua pengiringnya pun segera mengambil tempat di bagian belakang untuk melepas lelah setelah melewati malam yang sulit di banjar pedukuhan. Sedangkan Swandaru mendiamkan diri di atas lincak bambu yang membujur di pringgitan. Dalam waktu itu, Swandaru mengenang kisah yang kerap didongengkan oleh orang-orang tua pada masa kecilnya. Tentang kehidupan binatang malam yang hanya keluar di tengah kesunyian. Tentang derap kaki dan gemerincing lonceng kereta kuda yang memecah keheningan pada masa-masa suram ketika banyak orang kehilangan harapan. Swandaru menghela napas panjang sambil mengingat kembali kegetiran yang dilewatinya sepanjang hidup.
Di Pedukuhan Jagaprayan.
Agung Sedayu memberi kepercayaan pada Pandan Wangi sebagai penanggung jawab keamanan Pedukuhan Jagaprayan. Itu adalah tugas yang dibebankan bukan tanpa alasan. Agung Sedayu memahami kemampuan Pandan Wangi dalam pengenalan medan tempur, penyusunan gelar dan pemahaman pada kebutuhan prajurit atau pengawal. Ditambah pengalaman perempuan tangguh itu pada masa lalu ketika Pandan Wangi menjadi bagian dari kekuatan utama Danang Sutawijaya, maka Agung Sedayu pun tegak dengan keyakinannya itu.
Dalam waktu yang cukup singkat, Pandan Wangi telah memperoleh kepercayaan dari segenap pengawal Pedukuhan Jagaprayan. Selain karena kemampuan pribadi dan kedudukannya sebagai istri pemimpin Sangkal Putung, Agung Sedayu dan Dharmana adalah sebab lain yang membuatnya lebih mudah.
Meski jarang meninggalkan pedukuhan karena kesibukannya sebagai kepala keamanan walau sementara waktu, Pandan Wangi mengikuti setiap perkembangan yang terjadi di Sangkal Putung dengan seksama. Selepas pertempuran Karang Dawa yang menyisakan permasalahan seperti Ki Sor Dondong yang lolos dari belitan Glagah Putih, Pandan Wangi dengan tekun membuat perhitungan-perhitungan pada dinding pikirannya. Termasuk di dalam perenungan Pandan Wangi adalah kemungkinan Ki Garu Wesi memaksa masuk pedukuhan induk. Bahkan putri Ki Gede Menoreh itu sudah memperkirakan jalan lain yang bakal ditempuh oleh Ki Garu Wesi yaitu membuat kekacauan di sana. Bayangan buruk pun menerpa dirinya. Sekar Mirah dan putrinya menjadi pusat perhatian Pandan Wangi yang utama.
Segala yang dilakukan Pandan Wangi untuk Pedukuhan Jagaprayan mengesankan banyak orang. Hampir seluruh pengawal pedukuhan mengagumi cara berpikir perempuan yang mahir menguasai pedang kembar itu. Pandan Wangi benar-benar mampu memisahkan permasalahan pribadinya dengan keamanan pedukuhan. Oleh sebab perhatiannya pada Sekar Mirah yang demikian besar, Pandan Wangi secara khusus mempersiapkan sejumlah pengawal untuk mengamati Sekar Mirah dari dekat dengan cara menyamar. Meski pada mulanya pengawalan khusus itu dipertanyakan oleh banyak ketua regu pengawal, tapi Pandan Wangi dapat meyakinkan bahwa sesungguhnya pengawal pedukuhan menyimpan kekuatan yang setara dengan para pemberontak. Putri Ki Gede Menoreh itu lantas meminta waktu untuk membuktikan bahwa keyakinannya itu memiliki dasar pertimbangan yang kuat. Pandan Wangi melalui cara yang hebat pun akhirnya mampu menularkan keyakinannya pada para ketua regu pengawal. Pandan Wangi melatih sejumlah kecil pengawal yang dipilihnya pada sejumlah gelar perang yang dipahaminya, dan juga cara bertempur orang per orang. Penjajagan secara bertahap pun dilakukan oleh kepala keamanan pedukuhan. Pada akhirnya, Pandan Wangi pun mendapatkan tempat khusus di hati seluruh pengawal pedukuhan.
