Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 33 – Ki Untara ; Apa Tujuan Pandan Wangi Sebenarnya?

Beberapa pengawal segera berkumpul di tempat yang ditentukan Pandan Wangi. Mereka bertukar pandang dengan banyak tebakan di dalam pikiran masing-masing. Hari masih belum pagi tapi perintah Pandan Wangi itu tidak seperti biasanya, begitulah sebagian isi pikiran mereka. Satu demi satu tak luput dari tatap mata tegas kepala tertinggi keamanan pedukuhan itu. Pandan Wangi kemudian menyapa orang-orang yang diajaknya bicara secara khusus.

Yang menarik adalah keberadaan mereka begitu terbuka sehingga dapat dilihat dari seberang jalan, tapi hal itu luput dari perhatian para pengawal.

Setelah membuka pertemuan dengan beberapa kalimat, Pandan Wangi kemudian mengatakan, “Kejadian di pedukuhan induk tentu mengejutkan kita semua.”

Para pengawal mengangguk.

“Ternyata mereka begitu cepat melakukan serangan meski pada tingkat kekacauan,” lanjut Pandan Wangi, “kita tidak boleh menganggap itu adalah sekedar kekacauan. Setiap pergerakan mereka pasti memiliki tujuan, bukan hanya untuk mengalihkan perhatian atau penjajagan orang-orang yang baru bergabung dengan mereka. Itu adalah serangan. Namun demikian, saya tidak ingin mengulang bahwa mereka benar-benar hadir dalam keseharian kita. Kecepatan mereka sudah pasti ditunjang oleh rencana yang rapi dan kerja sama yang sangat baik. Tapi itu tidak berarti kita tertinggal dengan mereka. Tidak, sekali-kali tidak. Bahkan gerakan mereka akan menjadi senjata yang berbalik memburu mereka sendiri.”

Para pengawal kembali bertukar pandang disertai kepala yang terangguk-angguk. Mereka menerima pendapat Pandan Wangi.

“Dengan begitu, setiap pengawal yang pergi dan pulang dari pedukuhan induk pun pasti mendapat tempat penting dalam susunan rencana mereka. Para penghubung adalah orang yang mendapat perhatian utama dari mereka karena setiap perjalanan pasti membawa berita atau laporan-laporan penting,” kata Pandan Wangi kemudian.

Seorang pengawal lantas mengangkat tangan, kemudian bertanya, “Lantas, apa yang harus kami lakukan, Nyi?”

“Sebelum wayah pasar temawon, saya minta seluruh pengawal mulai menghentikan setiap orang yang bukan berasal dari pedukuhan ini. Tanyailah mereka, lakukan sesuatu yang dipandang perlu tapi yang harus diingat jangan bersikap kasar. Kita harus dapat membedakan antara kasar, keras dan ketegasan,” pesan Pandan Wangi.

“Kami mengerti,” sahut para pengawal serentak.

Pandan Wangi lalu membeberkan rencana di depan mereka. Dia meminta setiap orang yang duduk di depannya agar cepat menyampaikan rencana itu pada setiap ketua regu.

Pertemuan menjelang fajar yang dilakukan terbuka itu dengan cepat menarik perhatian para penyusup dari pihak Raden Atmandaru.

“Pastinya, mereka sedang menyiapkan rencana dan akan melakukan sesuatu,” bisik seorang penyusup pada kawannya.

“Apakah mereka demikian bodoh sehingga tidak menyadari bahwa pedukuhan ini sudah dalam genggaman kita?” sahut kawannya itu.

“Kita tidak boleh meremehkan kemampuan perempuan cantik itu. Bagaimanapun, bila seseorang pernah dekat atau mempunyai hubungan baik dengan Agung Sedayu atau Pangeran Purbaya, maka hampir dapat dipastikan ada bahaya yang mendampinginya,” ucap orang pertama.

Kawannya merenung sejenak lalu mengangguk setuju. Atas ajakan orang pertama, dua penyusup itu bergerak lebih dekat. Keduanya tampak semakin berhati-hati dan benar-benar mengamati jarak agar Pandan Wangi tidak mengetahui keberadaan mereka. Walau begitu, mereka masih tidak dapat mendengarkan suara orang yang berbincang di beranda rumah.

Setelah mengulang penjeleasannya sekali, Pandan Wangi meminta para pengawal bergerak cepat dan serempak untuk mengacaukan perhatian penyusup yang sudah diketahuinya. Sejenak kemudian, mereka menyebar dengan langkah-langkah lebar. Sebagian malah berlari-lari kecil tapi tidak segera menuju ketua regu masing-masing. Mereka justru mengambil jalan memutar dan seolah-olah tidak mempunyai tujuan. Dua pengawal bahkan berjalan cepat menyusur pematang sawah dan seperti sedang menuju alas tipis yang membatasi pedukuhan. Itu benar-benar kekacauan yang sengaja dibuat oleh Pandan Wangi agar rencana dapat berjalan sesuai harapannya.

Banyak ketua regu yang terkejut dan sedikit bingung ketika mendengar rancangan yang disampaikan para pengawal, namun sedikit pesan dari Pandan Wangi dapat menyatukan mereka. Meski harus menunggu waktu yang ditetapkan Pandan Wangi, segenap pengawal Pedukuhan Jagaprayan telah menempati kedudukan sesuai rencana panglima mereka.

Seketika Pedukuhan Jagaprayan menjadi gempar ketika para pengawal mulai memeriksa orang-orang asing meski mereka berasal dari dusun sebelah. Seperti pesan Pandan Wangi bahwa para pengawal tidak boleh memilah-milah atau menganggap asal daerah walau berdekatan dengan pedukuhan, maka kegelisahan dengan cepat merebak ke seluruh penjuru Jagaprayan. Pihak Raden Atmandaru yang melangsungkan kegiatan di dalam pedukuhan pun dilanda keresahan. Terlebih mereka juga tahu para pengawal melakukan penggeledahan pada hampir semua rumah di pedukuhan. “Ini benar-benar tidak masuk akal,” ucap beberapa penyusup dari kubu lawan. Para petugas sandi Raden Atmandaru yang semula merasa tenang dalam pekerjaannya pun menjadi cemas.  Beberapa dari mereka telah dipisahkan dari kelompok asal lalu dikumpulkan di samping rumah Pandan Wangi.

 

Di Jati Anom.

Dalam waktu yang berdekatan, di Jati Anom, Ki Tumenggung Untara telah menerima laporan dari petugas sandi Mataram tentang yang sedang berlangsung di Jagaprayan. Lelaki yang sudah tampak cukup umur itu memandang merapi dari kejauhan. Pikirannya sedang menebak arah dan tujuan Pandan Wangi melakukan pemeriksaan pada setiap orang asing. Bahkan, perintah Pandan Wangi pada para pengawal agar menggeledah setiap rumah pun hampir tak dapat dicernanya dengan mudah. “Pandan Wangi seperti sedang menunjukkan bahwa dia sedang mencari jarum di tumpukan jerami dalam kegelapan,” ucap Ki Untara dalam hati. Setelah sekian waktu hanya berdiam diri, kini, Pandan Wangi seolah menantang secara terbuka.

Di sela-sela tanya jawab yang bermunculan dalam pikirannya, Ki Tumenggung Untara mengagumi cara berpikir dan jalan yang ditempuh perempuan tangguh dari Menoreh itu. “Gebrakan Pandan Wangi memang mengejutkan,” kata Ki Untara pada dua lurah yang sedang memberi laporan padanya.

“Dan ternyata itu diterapkan Nyi Pandan Wangi pada semua orang,” ucap Ki Songoyudan – seorang pimpinan regu sandi yang berusia sedikit lebih banyak dari Ki Untara. Sejenak kemudian dia menghela napas, lalu berkata lagi, “Tiga petugas sandi kita pun tidak luput dari pemeriksaan itu.”

“Hmmm,” gumam Ki Untara sambil memandang Ki Songoyudan dengan penuh arti.

“Tiga-tiganya pun ditempatkan bersama-sama orang yang dicurigai lainnya pada pada bangunan yang sama,” sambung Ki Songoyudan.

Seorang lurah sandi yang berada di samping Ki Songoyudan yang bernama Ki Kertapati kemudian bertanya pada Ki Untara, “Apakah akan ada rencana penyelamatan, Ki Tumenggung?”

Ki Untara menggeleng. “Pandan Wangi akan melakukan pemeriksaan bertingkat. Dia tidak akan gegabah. Keputusannya itu pasti menjadi bagian dari rencana besarnya.”

“Tidak ada keraguan karena kita mengenal beliau dengan cukup baik,” kata Ki Kertapati. “Tapi, bagaimana jika ada yang mengenali petugas kita dan itu dari pihak lawan? Keadaan terburuk yang dapat terjadi adalah mereka mengacaukan suasana dengan ucapan buruk dengan memutar balik kenyataan.”

Yang terhormat para penggemar kisah silat.

Padepokan Witasem kerap melakukan kegiatan sedekah pada hari Jumat. Untuk itu, kami sering menggalang dana dan berharap dukungan Panjenengan untuk kegiatan tersebut. Donasi bisa dikirimkan ke rekening BCA 8220522297 atau BRI 3135 0102 1624530 atas nama Roni Dwi Risdianto atau dengan membeli karya yang sudah selesai. Konfirmasi tangkapan layar pengiriman sumbangan dapat dikirim melalui Hanya WA Bersama pengumuman ini, kami sampaikan terima kasih sebesar-besarnya. Rahayu.

Ki Untara merenung beberapa lama. Dia dapat melihat kebenaran di balik ucapan Ki Kertapati. Kemudian dia berkata, “Saya harus menimbang akibat sebelum memutuskan untuk melakukan penyelamatan.” Setelah menarik napas panjang lalu menghembus perlahan, Ki Untara berkata lagi, “Upaya penyelamatan tidak selalu dengan kekerasan atau serangan, tapi dalam hal ini, teguran pun akan menemui jalan buntu.”

Dua lurah di depan Ki Untara sama-sama mengerutkan kening. Teguran? Pandan Wangi ditegur karena siasatnya atau karena menangkap petugas sandi Mataram? Karena menyentuh Swandaru sudah pasti tidak akan dilakukan oleh atasan mereka. Ki Tumenggung Untara benar-benar menaruh hormat pada Pangeran Purbaya. Seandainya tumenggung mereka memandang perlu melakukan pendekatan yang berbeda dengan yang mereka pikirkan, tentu ada orang yang akan dipilih untuk menjadi duta.

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 91 – Tabir Kali Progo

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 107 – Perempuan di Balik Garis Perang

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 45 – Pangeran Selarong di Mata Agung Sedayu

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.