“Tiga keadaan yang membuatnya tampak disegani atau bahkan membuatnya sudah dapat menguasai seluruh sendi kehidupan di kademangan ini,” batin Pangeran Selarong setelah merenungi pokok pikirannya sendiri. Oleh sebab itu, putra raja Mataram tersebut pun berencana mengikuti arus perubahan yang sedang berlangsung.
Namun ketenangan pangeran Mataram itu tidak berlangsung lama. Perasaannya kembali bergolak dan menyambar-nyambar seperti nyala api unggun pada tengah malam buta. Betapa hatinya berdebar keras dan tidak beraturan saat sepasang matanya menitik pada pemandangan indah yang terpajang di samping Ki Lurah Plaosan. Ya, benar, Kinasih yang masih tetap menundukkan wajah seakan makin membesarkan pesona dirinya. Pesona yang mampu merengkuh perasaan yang tersembunyi begitu dalam serta diam begitu lama di relung hati Pangeran Selarong. Pakaian yang ringkas ternyata tidak sanggup melindungi kesederhanaan yang begitu mewah dari tatap mata putra raja Mataram tersebut. Tanpa disadari oleh adik Raden Mas Rangsang, gelagat tubuh dan perubahan wajahnya dapat diketahui oleh tiga orang dewasa yang berada di sekitarnya. Baik Agung Sedayu, Pandan Wangi dan Ki Lurah Plaosan saling bertukar pandang penuh arti dengan senyum yang tertahan di dalam hati masing-masing.
“Wangi,” ucap tegas Agung Sedayu kemudian. “Kau antarkan aku ke tempat para tahanan.” Sebelum bangkit dari tempat duduknya, senapati Mataram itu lantas berpaling pada Pangeran Selarong kemudian ucapnya, “Pangeran dapat turut serta ke tempat itu tapi saya pikir kita tidak perlu melakukan apa-apa.”
“Paman!’ desis Pangeran Selarong dengan nada tajam.
Agung Sedayu mengangguk tapi telapak tangannya memberi tanda tertentu pada putra raja Mataram itu.
Lagi-lagi, sikap Agung Sedayu dan Pandan Wangi semakin kentara seperti tidak menganggap Pangeran Selarong ada di dekat mereka. Tapi putra raja Mataram tersebut perlahan-lahan dapat menyadari keadaan. Pengekangan diri adalah senjata utama menerima perlakuan yang tidak wajar dari dua orang yang pernah dekat dengan mendiang kakeknya, Panembahan Senapati. Maka hubungan erat di masa awal perjalanan Mataram itu pun tidak dapat diabaikan begitu saja oleh Pangeran Selarong. “Apapun itu, mungkin mereka berdua sedang mengujiku atau sudah mempunyai kesepakatan dengan mendiang ayahanda atau Pangeran Purbaya. Bagaimanapun, sebaiknya aku menerima ini semua sebagai cara mereka mengarahkanku,” batin Pangeran Selarong membesarkan hati sekaligus menghibur diri.
Mereka berlima pun mengayun langkah menuju tempat tahanan. Tidak ada yang mereka cakapkan sepanjang perjalanan itu.
Sunyi menjadi satu-satunya keadaan yang nyaris menggambarkan suasana hati dari beberapa orang. Benar hanya beberapa karena Pangeran Selarong menjadi perkecualian. Putra raja itu seolah selalu ragu-ragu dan takut salah dalam penempatan diri atau mengucap kata. Jika benar terjadi seperti itu pada dirinya, maka Kinasih adalah sebab yang utama.
Sepanjang perjalanan yang lambat itu, banyak orang yang melihat sikap tak biasa dari tiga pemuka yang terhitung belum berusia setengah baya itu. Pangeran Selarong justru berjalan di belakang Agung Sedayu dan Pandan Wangi. Sedangkan yang berada di belakangnya adalah Kinasih dan Ki Lurah Plaosan. Menurut kebanyakan orang, Pangeran Selarong seharusnya berjalan di depan, lalu dua langkah di belakangnya adalah Pandan Wangi dan Agung Sedayu, selanjutnya adalah Ki Lurah Plaosan dan Kinasih.
Seorang pengikut Raden Atmandaru yang terjebak di dalam pedukuhan berbisik lirih pada kawannya, “Apakah Mataram sudah kehilangan harga diri?”
“Aku tidak mengerti maksudmu,” sahut kawannya.
“Lihatlah, bukankah itu adalah salah satu pangeran Mataram?” kata orang pertama sambil menunjuk pada Pangeran Selarong.
“Pralaya, engkau mengenalinya?”
“Bukankah anak muda itu yang terhadang di regol utama pedukuhan beberapa waktu lalu? Hey, Karta, apakah kau ketiduran saat itu?” cecar Pralaya pada kawaannya sambil mendelik.
“Tidak, tapi aku memang tidak begitu jelas melihatnya,” Karta menjawab.
“Aku lamat-lamat mendengarnya mengenalkan diri sebagai pangeran, hanya saja aku tidak begitu jelas mendengarnya saat menyebut nama.” Pralaya mengerutkan dahi mencoba memutar ingatan berdasarkan pendengaran yang terbatas.
“Sudah, lupakan saja namanya,” ucap Karta cepat. “Lihalah mereka sepertinya sedang menuju tempat tertentu.”
Pralaya bergumam lantas bertanya, ”Mungkinkah mereka ke rumah tahanan?”
“Iya, ya,” jawab Karta. “Mungkin saja begitu.” Dia berpaling pada Pralaya, dengan wajah sungguh-sungguh, kemudian berkata, “Semoga saja benar. Dengan begitu, kita dapat menandai tempatnya.”
“Dapatkah kita menyerang demi kebebasan kawan-kawan?” Pralaya bersuara dengan nada tidak sabar.
Karta menggeleng. “Sulit, bahkan mustahil. Kemampuan Agung Sedayu dan Pandan Wangi sudah jelas berada jauh di atas kita. Kita hanyalah daun kering bagi mereka berdua. Pertimbangkan pula serombongan orang bersenjata di luar pedukuhan. Bisa habis kita nantinya.”
“Hmmm, ada benarnya yang kau ucapkan itu,” sahut Pralaya. “Lagipula, keberadaan pangeran di tengah barisan memang tampak menyulitkan.” Sejenak dia seolah memikirkan sesuatu, lalu berseru tertahan, “Hey! Dapatkah kita menganggap susunan itu adalah perlindungan untuk pangeran Mataram? Lihatlah, Agung Sedayu dan Pandan Wangi berada di depan, lalu ada lurah prajurit di belakang pangeran itu.”
“Lalu gadis muda itu? Apakah dia menjadi beban atau mungkin pengawal rahasia yang dikirimkan Mataram? Atau mungkin juga gadis yang akan dijodohkan dengan pangeran itu?” gumam Karta yang mungkin ditujukan pada dirinya sendiri.
“Mungkin, semuanya mempunyai kemungkinan dan kita tidak pernah tahu,” tukas Pralaya.
“Hampir seluruh jalan di pedukuhan ini sudah berada dalam pengawasan para pengawal,” ucap Karta. “Jumlah dan kemampuan mereka memang tidak sepadan dengan luasan yang harus diawasi, tapi tetap saja sulit buat kita untuk melepaskan diri dari pengamatan.”
Dari samping kedai yang tidak begitu ramai pengunjung, dua kaki tangan Raden Atmandaru itu masih cermat mengamati perkembangan meski rombongan Agung Sedayu sudah menghilang dari pandangan mereka.
“Dalam keadaan terpaksa, berapa orang kita yang dapat berkumpul?” tanya Pralaya.
Karta menggeleng, lalu menjawab dengan nada agak putus asa, “Tidak banyak. Sebagian sudah berada di dalam tahanan dan menunggu undian antara hidup atau mati.”

Pralaya menghela napas panjang kemudian berkata, “Kita hanya dapat duduk menunggu keajaiban yang mampu menggerakkan hati para pemimpin di Watu Sumping.”
Sementara di Watu Sumping, kedatangan Pangeran Selarong di regol utama dan Agung Sedayu dari sisi yang lain sepertinya cukup jauh dari jangkauan Ki Garu wesi dan para pembantunya. Bisa jadi, itu menjadi satu keberhasilan para pengawal Jagaprayan yang sungguh-sungguh menjalankan perintah Pandan Wangi.
Pada pagi itu, kesibukan para pemberontak masih berjalan sebagaimana biasanya. Tidak tampak persiapan khusus meski kabar hukuman mati begitu santer terdengar.
“Meskipun sulit dimengerti tapi kita hanya dapat menjadi penonton saja,” ucap Ki Malawi.
Ki Garu Wesi yang duduk di atas batu datar kemudian berkata, “Agung Sedayu tentu tidak sekedar hanya melihat-lihat saja atau sambang keluarganya, tapi ada sesuatu yang lain. Bagaimanapun, Agung Sedayu adalah pemimpin prajurit, maka segala yang dilakukannya tentu terkait dengan tanggung jawabnya.”
“Aku kira keberanian Pandan Wangi menetapkan hukuman mati itu berasal dari Agung Sedayu,” kata Ki Sujana. “Karena, menurutku, bagaimana mungkin seorang perempuan begitu kuat memegang keputusan yang dapat memancing kemarahan Mataram? Jika bukan karena ada orang kuat di belakangnya, apakah keberanian itu ada?”
Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem
Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;
Kitab Kyai Gringsing (3 Jilid PDF) dan Penaklukan Panarukan serta Bara di Bukit Menoreh (KKG jilid 4) bila sudah selesai. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke
BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831
Tanya Jawab ; T ; Bagaimana jika Kitab Kyai Gringsing Buku ke-4 sudah selesai? Apakah akan ada kelanjutannya?
J ; Kami selalu berusaha memberikan yang terbaik demi keberlangsungan kisah..
Demikian pemberitahuan. Terima kasih.
“Ada benarnya dan mungkin sudah tak salah lagi,” sahut Ki Malawi. “Jagaprayan mempunyai persediaan pangan yang cukup digunakan untuk bertahan selama satu atau dua bulan. Diakui atau tidak, kecukupan pangan dapat menjadi sebab meski tidak langsung pada keberanian setan betina itu.”
Ki Garu Wesi mendengus karena kegagalan siasat mereka membakar lumbung kademangan ternyata dijadikan sebagai alasan oleh Ki Malawi. Meski tanpa maksud menyudutkan dirinya, tapi Ki Garu Wesi mengaku dalam hati bahwa ada kelemahan pada pembakaran tersebut. Kemudian dia berkata, “Saat ini pedukuhan itu masih terpantau oleh petugas sandi yang kita kirimkan ke sana. Kita dapat berharap dua atau tiga hari lagi dapat membuat keputusan terkait nasib akhir pedukuhan itu.”
“Kyai,” ucap Ki Malawi. “Bukankah pada hari-hari belakangan ini kita sama sekali tidak melihat petugas sandi mendatangi perkemahan ini? Seandainya hanya saya yang keliru dalam melihat seseorang, mungkin Kyai dan Ki Sujana dapat membetulkan kekeliruan ini.”
Ki Sujana terlihat mengingat-ingat beberapa peristiwa yang agak janggal – menurutnya. Lantas dia menghembus napas kemudian berkata, “Meski tidak terasa aneh tapi memang beberapa orang hanya menemui saya tapi tidak diiringi berita-berita penting.”
