Pada keadaan bahaya seperti itu, Pandan Wangi hanya mempunyai satu jalan keluar ; melentingkan tubuh ke belakang, melayang lalu berjungkir balik rendah di atas tanah.
Pemandangan yang luar biasa tapi sulit dilihat dengan mata biasa!
Itu adalah kesempatan terbaik untuk memukul Pandan Wangi, Namun begitu, Ki Ramapati tetap memburunya, pikir Ki Ramapati. Secepat kilat bekas prajurit Mataram itu memburunya dengan terjangan membadai, tetapi Pandan Wangi masih mampu menghindar meski tak dapat menjauh.
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat ketika pertempuran itu menjadi kian hebat dan dahsyat. Sorot matahari sedikit terhalang asap yang masih menggumpal-gumpal hingga terasa menjadi lemah.

Baik Pandan Wangi maupun Ki Ramapati, mereka berdua adalah orang yang mempunyai kemampuan luar biasa. Entah itu ketahanan atau kekuatan, tapi itu tidak menjadi soal karena mereka masih bertempur mati-matian dengan cara-cara yang sulit dinalar. Hingga kemudian perkelahian itu tampak seperti pertunjukan di atas panggung hiburan padahal masing-masing nyawa mereka sudah berada di ujung rambut. Sedikit kelengahan akan menyebabkan salah satu atau bahkan keduanya dapat mati seketika!
Tetapi kegentingan itu tidak berlangsung lama. Setelah Ki Kebo Aran tumbang, Agung Sedayu hanya berputar-putar dan berlarian seolah tidak mempunyai tujuan. Dia tidak mempunyai maksud untuk menghindar dari keroyokan, tapi sedang menunggu sesuatu atau mencari seseorang. Di tengah pertempuran besar yang makin seru dan memanas, Agung Sedayu sama sekali tidak memberi waktu bagi pengeroyoknya untuk mendekat. Sehingga mereka terpaksa terus menerus mengejar. Tanpa mereka sadar, kedudukan Agung Sedayu yang terus berpeindah pun mendekati tempat Kinasih bertarung. Lalu berpindah lagi mendekati gelanggang Pandan Wangi. Dalam waktu itu, Agung Sedayu pun dapat mengamati walau cukup singkat perkelahian yang melibatkan Sukra dan Sayoga.
Setelah cukup dekat dengan kedudukan Dharmana, Agung Sedayu mendadak memberi perintah dengan kata-kata yang hanya dapat dimengerti Dharmana dan kawan-kawan!
Seketika perubahan pun terjadi di Watu Sumping!
Segenap pengawal kademangan dan prajurit Mataram tiba-tiba mundur. Demikian pula Pandan Wangi yang mendadak mengendorkan serangan lalu menjauhi Ki Ramapati. Bahkan Agung Sedayu dapat dianggap sebagai orang pertama yang lenyap dari pandangan orang-orang.
Lengking nyaring dari alat yang ditiup Dharmana juga terdengar dari tempat Kinasih bertarung. Ki Jambuwok yang bersusah payah agar tetap dapat mengikatnya dalam perkelahian pun menghentikan usahanya.

“Ada apa ini?” Ki Jambuwok bertanya pada dirinya sendiri saat mendengar suitan bernada tinggi itu. Gadis yang menjadi lawannya pun tiba-tiba menggandakan kecepatan kemudian melesat hilang di balik rimbun semak yang padat. Maka Ki Jambuwok hanya memandang kepergian Kinasih dari gelanggang. Sekalipun dia ingin tetap mengikat gadis itu dalam pertarungan tapi apa yang dapat diperbuatnya? Perhatiannya terhisap pada keinginan untuk mengetahui perkembangan terbaru d medan peperangan.
Sebenarnyalah Agung Sedayu berlari-lari sambil menjelajah padang peperangan itu sedang menunggu pergerakan Pangeran Selarong dan Sabungsari. Maka begitu dia dapat melihat kelebat panji dari arah pedukuhan induk, aba-aba pamungkas pun segera dikeluarkan olehnya.
Aba-aba yang diikuti oleh pergerakan kilat dua pasukan kecil yang dipimpin Pangeran Selarong dan Sabungsari.
Dalam waktu singkat, kaum pemberontak di Watu Sumping terkepung! Mereka baru menyadari segalanya telah berubah seketika saat lawan-lawan mereka tiba-tiba berlarian surut cukup jauh. Caci maki dan kata-kata kotor berhamburan di angkasa. Tatap mata nanar pun menebar ke segala penjuru. Adakah jalan keselamatan? Sejenak kemudian, mereka berlarian menuju tempat Ki Garu Wesi dan Ki Sonokeling.
“Kyai,” seru salah seorang pemimpin kelompok. “Kita terjebak di sini. Jika ada yang harus mati, maka kau adalah orang yang harus dikorbankan pertama kali!”
Suara parau yang bernada tinggi pun menghias langit Watu Sumping. Sebagian mendukung orang itu, tapi ada pula penolakan dari yang lain. Kegaduhan pun meledak di sekitar tempat itu. Hampir-hampir saja mereka saling membunuh.
Ki Garu Wesi berkata lantang, “Mereka berhasil menjebak kita, itu adalah kenyataan. Tapi masih ada jalan keluar dari sini.”
“Jebakan ini hanya membawa kita pada dua kemungkinan, Kyai,” ucap ketua regu yang lain yang berperawakan sedang. Dia maju selangkah demi selangkah. “Dua kemungkinan yang pasi berujung pada kematian dan kekalahan. Kita mati kelaparan di sini atau bertarung sampai mati.”
Ki Garu Wesi memandang orang itu dengan pandangan setajam pedang. Meski dia membenarkan ucapan orang itu, tapi semangat orang-orang akan runtuh seketika bila tidak ada ketegasan darinya. Tanpa mengeluarkan suara karena tingkat ilmu meringankan tubuh yang tinggi, Ki Garu Wesi bergerak secepat kilat. Tanpa ada suara mengeluh, kepala orang itu telah menggelinding. Serentak orang-orang terkejut menyaksikan peristiwa yang berlangsung sangat cepat dan mengerikan itu. Kulit mereka meremang dengan jantung yang menggigil hebat.
“Seperti yang dikatakan oleh orang ini,” ucap Ki Garu Wesi sambil meludah di atas tubuh yang terpisah dari kepala itu. “Kita telah terkepung tapi itu bukan alasan untuk menyerah. Mati menjadi tempat terakhir. Aku hanya mengingatkan kalian bahwa bergabung menjadi bagian kami atau menjadi prajurit Mataram, itu semua berujung pada keadaan yang sama. Saat kita duduk di dekat pintu rumah pun, mati adalah sesuatu yang pasti mendatangi kita. Perbedaannya adalah pada sikap kita ketika menghadapinya. Apakah kita tetap teguh pada nilai dan semangat yang sudah merasuk ke dalam jiwa atau menjadi pengecut seperti dia ini?”
Para pengikut Ki Garu Wesi dapat menerima perkataan itu meski sebagian masih merasakan marah luar biasa. Bagaimana mungkin tiba-tiba mereka terjebak di dalam wilayah yang cukup lama diduduki? Dari mana asal kekuatan orang-orang lemah itu hingga mempunyai keberanian dan kekuatan yang mengejutkan? Pikiran mereka dipenuhi pertanyaan yang sejenis itu tapi tidak ada yang dapat diperbuat selain menunggu perintah Ki Garu Wesi.
“Kalian sudah melakukan hal yang benar dengan berkumpul di sini,” sambung Ki Garu Wesi. “Mereka tidak akan menyerang lagi. Percayalah. Mereka pun tidak mungkin bertempur pada hari gelap. Itu keuntungan buat kita.” Sejenak kemudian, Ki Garu Wesi terlibat pembicaraan sungguh-sungguh dengan Ki Sonokeling. Tampak Ki Sonokeling seperti sedang membisikkan sesuatu pada Ki Garu Wesi. Orang yang diandalkan Raden Atmandaru terlihat sekali-kali manggut-manggut.
Ki Sonokeling menyadari bahwa tiga pedukuhan di sekitar mereka telah dipenuhi barisan Mataram. Walau demikian, Ki Sonokeling menyatakan pada Ki Garu Wesi bahwa pengepungan itu tak lebih dari perlindungan agar peperangan tidak meluas ke permukiman.

“Mereka membatasi ruang untuk berperang dengan segala hasil yang dapat diraih,” demikian kata-kata Ki Sonokeling pada panglimanya.
“Jadi, satu-satunya jalan keluar adalah arah Tanah Perdikan?” tanya Ki Garu Wesi.
“Tidak ada yang lain,” sahut Ki Sonokeling sambil mengangguk.
“Pengusiran,” desah Ki Garu Wesi.
Ki Sonokeling menggeleng. “Kita tidak mempunyai kemampuan penuh untuk benar-benar menguasai kademangan ini. Induk kekuatan terpisah cukup jauh dari Sangkal Putung. Tapi itu tidak berarti usaha kita menduduki sebagian wilayah ini menjadi percuma. Setidaknya kita telah menjadi pendukung usaha pelenyapan Mas Jolang. Pengamanan yang Kyai terapkan benar-benar mampu melindungi usaha itu. Mari kita toleh ke belakang, dari tempat ini, bukankah semua orang dapat bergerak leluasa ke Alas Krapyak?”
Ki Garu Wesi membenarkan dengan anggukan dalam. Dia menghela napas kemudian berkata, “Jadi, menurut Kyai, ini adalah saat untuk bergabung dengan kekuatan induk?”
Ki Sonokeling mengangguk.
