Kyai Bagaswara yang sedang berjalan menuju rumah Ki Demang pun menerima berita kedatangan Agung Sedayu. Tapi akhirnya dia mengurungkan niat menemui Agung Sedayu, khususnya pada hari itu. “Bagaimanapun, aku adalah tamu yang sedang menginap,” ucap Kyai Bagaswara dalam hati. Lalu dia berbelok, masuk ke dalam kedai sambil mengawasi keadaan.
Untuk setangkup waktu yang tidak ternilai itu, di ruang yang berada di sebelah, agaknya dunia menjadi milik mereka berdua. Baik Sekar Mirah dan Agung Sedayu seolah sama-sama saling merasakan tidak ingin berpisah lagi demi putri mereka. Ketika perasaan sudah terungkap dan kerinduan sudah terluapkan, maka peringatan bahaya pun kembali.
Ketika Agung Sedayu kembali masuk ruangan setelah berkeliling halaman belakang dengan putrinya dalam gendongan, Sekar Mirah berkata, “Hampir tidak ada bekas pertempuran, Kakang. Para pengawal dibantu para cantrik yang dikirim Ki Widura cukup cepat membenahi seluruhnya.” Sekar Mirah lantas mengatakan segala yang terjadi pada malam itu dengan urutan yang mendekati kenyataan. Hanya saja, dia agak menahan diri sebelum menyentuh yang terkait dengan Swandaru. Itu jelas masalah yang pelik, pikirnya. Kedudukan Sekar Mirah memang sulit karena Swandaru adalah kakak kandungnya sekaligus adik seperguruan Agung Sedayu. Segala yang terkait dengan sepak terjangnya sudah barang tentu akan dikaitkan dengan kedudukan itu.
Agung Sedayu menarik napas lalu meletakkan putrinya ke atas pembaringan. Katanya kemudian, “Aku mendengar beberapa keadaan ketika melangkah ke tempat ini. Beberapa orang memuji sepak terjang Swandaru yang lugas dan tegas, tapi sebagian merasa bingung dengan keputusannya di banjar pedukuhan.”
“Tidak mudah menjadi seseorang dalam keadaan seperti kakang Swandaru,” ucap lirih Sekar Mirah. “Dari suatu tempat, keputusannya menghukum mati semua tawanan dapat dianggap kewajaran. Itu juga sebuah peringatan bagi kawan-kawan mereka yang lolos.” Sekar Mirah lantas melihat Agung Sedayu yang menunduk. Dia berkata lagi, “Tapi aku tidak sedang membela keputusannya, Kakang. Kademangan ini sudah terlalu sering menerima tumpahan darah untuk sebuah kepentingan yang sulit dimengerti. Kita masih sama-sama ingat tentang masa lalu ketika Tohpati mengincar kesuburan kademangan ini.”
“Aku tidak menganggapmu sedang membela Swandaru. Seandainya kau membelanya, aku juga tidak keberatan karena itu juga bagian dari sesuatu yang dapat dianggap benar.” Agung Sedayu mengalihkan pandangannya pada putri mungilnya yang tidur pulas, kemudian dia berkata, “Kita harus dapat melihat Swandaru sebagai sosok yang bertentangan pada sebuah tujuan.”
Sekar Mirah mengerutkan kening. Satu pribadi yang bertolak belakang? Dia belum mengerti maksud dari Agung Sedayu.
Seakan mengerti pertanyaan Sekar Mirah yang tidak terucap, Agung Sedayu mengangguk kemudian berkata, “Satu sisi, kita harus paham bahwa Swandaru mempuyai kewajiban untuk melindungi kademangan dan seisinya. Dari sisi yang lain, Swandaru juga sadar bahwa dia sedang menentang keputusan Pangeran Purbaya. Pada puncaknya, Swandaru memilih untuk menjalankan kewajiban dengan segala akibat yang harus ditanggungnya secara pribadi.”
“Ucapan Kakang,” kata Sekar Mirah, “seolah Kakang dapat menerima dan siap membela kakang Swandaru di depan Mataram.”
Tatap mata Agung Sedayu memandang ke langit-langit rumah. Sepertinya dia sudah mengetahui sesuatu yang besar sedang terjadi di antara Kepatihan dan Kraton, antara Ki Patih Mandaraka dengan Pangeran Purbaya atau Raden Mas Rangsang. “Seharusnya itu masalah yang berbeda, tapi akhirnya dapat mengerucut pada satu perkara saja,” ucap Agung Sedayu dalam hati.
Meski sedang berpikir seperti itu, tapi Agung Sedayu memilih untuk berdiam diri. Kemudian dia berkata, “Seharusnya tidak perlu ada pembunuhan selain di Watu Sumping. Aku pikir itu tidak akan membawa keuntungan lebih bagi kademangan ini. Tapi segalanya sudah terjadi, dan yang terbayang di mata kita untuk masa mendatang adalah sesuatu yang mungkin menakutkan. Kita dan kademangan hanya cukup untuk mempersiapkan diri pada kemungkinan terburuk.”
“Apakah itu semacam hukuman atau perbuatan dari orang atau kelompok tertentu di Mataram?”
“Aku belum dapat mengatakan apa-apa dan juga belum yakin dengan pikiranku sendiri,” jawab Agung Sedayu. “Kita tidak dapat menghindari kenyataan bahwa memang ada persoalan antara Swandaru pribadi dengan Mataram. Meski itu sudah dapat dikatakan selesai karena keputusan Pangeran Purbaya, tapi seseorang dapat mengungkit kembali oleh sebab perbedaan waktu kejadian. Maksudku adalah Swandaru bergabung dengan Raden Atmandaru pada masa hidup Panembahan Hanykrawati, dan itu seharusnya sudah selesai. Tapi semua dapat berubah jika seseorang menganggap Swandaru adalah ancaman laten. Anggapan yang dapat saja digunakan untuk membakar Sangkal Putung atau meruntuhkan Tanah Perdikan pada masa mendatang. Kita tidak pernah tahu, Mirah.”
Sekar Mirah merasa segala hal menjadi buntu. Mengenang kembali perjalanan Swandaru, maka dia sadar bahwa kakaknya mudah tersulut pada keadaan yang dapat membawanya ke jurang kebinasaan. Ki Ambara adalah salah satu orang yang menjadi sebab perkenalan Swandaru dengan gerakan yang menentang Mataram. Orang itu dan Raden Atmandaru tentu sudah melakukan pengamatan yang cukup baik sehingga dapat mengenal kelemahan Swandaru.
“Ibarat jerami kering, dia terlalu mudah dibakar dengan hasutan dan angan-angan kosong,” ucap Sekar Mirah dalam hati.
Agung Sedayu berhenti cukup lama untuk berbicara lagi. Dua kedudukan Swandaru bukan dua keadaan yang terpisah. Sebagai kakak seperguruan, Agung Sedayu mempunyai kekuatan yang cukup untuk menghukum Swandaru seandainya dia mau. Tapi jika melihat Sekar Mirah, maka hubungan darah antara mereka berdua tentu tidak dapat disepelekan begitu saja. Maka pemimpin pasukan khusus itu pun cukup berhati-hati memilih kata atau membuat penilaian. Dia masih harus melihat-lihat keadaan, terutama jiwani Sekar Mirah maupun Ki Demang Sangkal Putung.
“Aku belum dapat melakukan sesuatu yang dapat dikatakan membela Swandaru atau sebaliknya,” ucap Agung Sedayu kemudian. “Selain kedudukan kita yang juga terikat dengan Mataram, ada pertimbangan lain yang juga cukup menentukan.”
Sekar Mirah memandang lekat Agung Sedayu dengan sinar mata bertanya.
“Ki Gede Menoreh,” kata Agung Sedayu memberi gambaran.
Terdengar hembus napas panjang yang halus dari Sekar Mirah. Mau atau tidak mau, Ki Gede Menoreh pun akan terseret dengan sendirinya meski tidak seorang pun yang menginginkan. Lalu, bagaimana Pandan Wangi dan nasib Tanah Perdikan sendiri? Membutuhkan waktu yang agak lama bagi Sekar Mirah untuk menenangkan perasaan. Ini benar-benar tidak mudah karena pasti dan akan melahirkan rentetan panjang serta melelahkan, keluhnya.

Setelah mengalihkan tatap mata dari anaknya, Sekar Mirah kemudian berkata, “Sekarang kita hanya bisa menunggu yang akan dilakukan Mataram dan juga sekelompok orang yang menentangnya. Saya benar-benar tidak dapat berpikir jernih untuk saat ini. Sulit untuk melihat, andaikata terulang, Kakang dan kakang Swandaru kembali bertempur. Bukan dalam satu gabunga kekuatan tapi saling berhadapan seperti masa lalu.”
“Tidak ada yang tahu,” kata Agung Sedayu. “Aku pun tidak mungkin dapat menghindari seandainya dia menginginkan itu. Walau demikian, aku tidak pernah berharap Swandaru mempunyai keinginan yang sama.”
“Saya juga tidak berharap seperti itu, tapi kita sama-sama tahu Kakang Swandaru,” ucap Sekar Mirah. “Baginya, apakah benar ada halangan untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya? Jika seekor kuda mampu mengubah landasan pemikirannya, bagaimana dengan keadaan di masa mendatang? Kakang benar bahwa kita pun tak dapat membuat jaminan.”
Agung Sedayu tidak bersuara untuk sementara waktu. Tiba-tiba pecah tangis bayi di dalam ruangan. Seketika Sekar Mirah bangkit lalu menimang lagi anaknya yang mungkin dapat merasakan keadaan yang tidak nyaman sedang melanda ayah dan ibunya.
Agung Sedayu lalu merenungi wajah putrinya yang kembali lelap di atas lengan Sekar Mirah. “Apakah kehadirannya di dunia ini dapat mencegah pamannya mengulang kesalahan? Seandainya terulang, aku harap itu bukan karena keinginan atau digerakkan dengan kesadaran,” ucap Agung Sedayu dalam hati. Murid utama Kyai Gringsing itu menaruh harapan bahwa akan terjadi perubahan besar dalam diri Swandaru dengan kepergiannya itu.
“Apakah Kakang sempat bertemu dengan kakang Swandaru di Watu Sumping atau tempat lain?” tanya Sekar Mirah tiba-tiba. Sebenarnya Sekar Mirah sedang berusaha memberanikan diri dengan pertanyaan itu. Tapi dia sadar bahwa suaminya tidak mungkin mencari alasan untuk menghindar pertemuan andaikata terjadi. Sedangkan pada sisi yang lain, Sekar Mirah juga berusaha menerima kemungkinan seandainya justru Swandaru yang menghindari perjumpaan dengan kakak seperguruannya. Segala keputusan Swandaru pasti didukung dengan alasan kuat, pikir Sekar Mirah.
Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sedapat mungkin dihindari oleh Agung Sedayu. Sejak dia berpisah dengan Swandaru di luar pedukuhan induk, Agung Sedayu sudah berniat untuk tidak mengungkap pertemuannya di depan Sekar Mirah. Dia punya pertimbangan meski belum berujung pada sebuah keputusan. Tapi Sekar Mirah telah menanyakan itu dan mustahil baginya untuk mengelak.
“Aku melihatnya bertempur di Watu Sumping tapi aku tidak dapat menghentikannya,” jawab Agung Sedayu.
Sekar Mirah tajam menatap wajah suaminya. “Mengapa? Bukankah itu dapat menjadi sebab dari sesuatu yang mungkin akan menghampiri Kakang?”
Agung Sedayu mengangguk. “Pertempuran singkat itu juga disaksikan oleh Pangeran Selarong dan juga Sabungsari. Mataram dalam keadaan kuat dengan dua saksi mata yang berasal dari keprajuritan.”
Lagi, Sekar Mirah menghembus napas panjang. Dadanya sedikit pepat dengan jawaban Agung Sedayu. Barangkali dia dapat menerima bila Swandaru keluar dari rumah tahanan tapi segera pergi ke rumahnya dengan alasan demi keselamatan keluarga. Tapi memasuki gelanggang perang lalu melibatkan diri dengan senjata di sana? Keadaan yang benar-benar runyam! Selain itu, dari segala sudut pandang, Sekar Mirah tetap kesulitan mencari sebab yang dapat membenarkan Swandaru menjatuhkan hukuman mati bagi tawanan perang. Untuk sementara waktu, boleh jadi, Sekar Mirah hanya dapat menenangkan diri dengan pendirian semula – setidaknya bagi dirinya sendiri ; bahwa Swandaru memberi peringatan pada setiap orang yang mencoba-coba mengusik kedamaian dan ketenangan Sangkal Putung. “Semoga ada pertolongan dan jalan keluar dari keadaan ini,” harap Sekar Mirah dalam hati.
