Dari jarak yang agak jauh, seorang penjaga gerbang kemah melihat kedatangan tiga orang tersebut lantas melaporkan pada Pangeran Selarong. Tak lama kemudian, putra mendiang raja Mataram itu keluar dari kemah lalu berjalan dengan diiringi seorang lurah prajurit yang kelihatan berusia muda.
Sabungsari belum kembali baraknya di Jati Anom, pikir Agung Sedayu setelah mengenali pendamping Pangeran Selarong.
Gerimis yang lembut sepertinya masih turun pada dini hari untuk beberapa lama sehingga jalan kecil itu, yang menyambungkan gerbang ke bagian dalam perkemahan, tampak basah dan becek. Udara pun terasa lembab tapi memberika kesegaran yang memang dibutuhkan oleh orang-orang. Meski cuaca pagi itu kurang mendukung, Pangeran Selarong dan Sabungsari tetap tampak penuh semangat dan bugar.
“Tidak laporan yang mengatakan pasukan Ki Garu Wesi bergerak mundur atau berubah tujuan,” kata Pangeran Selarong ketika mereka sudah duduk di dalam kemah. “Paman, bahkan saya sempat berpikir lalu bertanya sendiri tentang kesempatan yang ada di depan mata.”
Agung Sedayu menautkan alis. “Bagaimana itu, Pangeran?”
“Saya pikir kedudukan kita di belakang mereka adalah kesempatan yang tidak mungkin datang kedua kali. Dengan demikian, kita mempunyai peluang untuk menyerang lalu mengakhiri semuanya,” jawab Pangeran Selarong.
“Mohon maaf, Pangeran. Serangan itu, apakah ada rencana pelapis?” Agung Sedayu bertanya.
Pangeran Selarong mengangguk-angguk lalu menjawab, ”Belum ada, Paman. Saya baru pada melihat kemungkinan dan belum bergerak lebih jauh lagi.” Di depan Agung Sedayu, Pangeran Selarong merasa seperti sedang bicara dengan seorang guru dengan pengalaman yang hebat. Maka setiap kata-kata Agung Sedayu pun mendapatkan ruang di hatinya. Kemudian saudara Raden Mas Rangsang itu berkata lebih lanjut, “Tentu saja jika saya putuskan untuk menyerang mereka,maka satu hal yang pasti dan akhirnya menjadi sebab kegagalan adalah kami belum mengenal baik medan tempurnya. Sejujurnya, memang ada yang cukup disayangkan karena mereka tetap bergerak tanpa hambatan menuju Tanah Perdikan. Hanya saja, saya meyakini bahwa Paman pasti sudah berjaga-jaga dengan mengirim utusan atau seseorang untuk melaporkan perkembangan pada Ki Gede Menoreh atau pemimpin sementara pasukan khusus di sana. Saya yakin itu.”
Kehangatan dan keramahan Pangeran Selarong pada dua tamunya tiba-tiba berubah menjadi ketegangan ketika pandanganya beradu dengan sorot mata Pandan Wangi. Pengalaman pertama yang tidak menyenangkan di gerbang utama Pedukuhan Jagaprayan masih kuat menjejak pada perasaannya. Bagi seorang muda usia yang berkedudukan tinggi dan keturunan raja memang tidak mudah melupakan sikap yang dianggap merendahkan dirinya. Pandan Wangi adalah perempuan pertama yang bersikap seperti itu terhadapnya!
Agung Sedayu dapat merasakan pancaran amarah yang sangat kuat meski masih terpendam dalam hati Pangeran Selarong. Maka dengan nada bicara yang cukup tenang, senapati Mataram itu kemudian berkata untuk mengalihkan perhatian Pangeran Selarong, “Pangeran, jika memperhatikan waktu sekarang ini, maka besar kemungkinan Ki Garu Wesi sudah berada di tanah seberang Kali Progo.”
Tampaknya pangeran muda Mataram itu paham usaha Agung Sedayu. Yang dilakukannya kemudian adalah mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Pada waktu itu, murid Kyai Gringsing itu tidak menunjukkan tanda bahwa dia akan menjadi penengah. Sepertinya dia lebih cenderung untuk membiarkan Pandan Wangi menyelesaikan masalahnya dengan Pangeran Selarong melalui caranya sendiri. Lagipula, Agung Sedayu merasa harus membatasi kedekatannya dengan Pangeran Selarong. Sejauh jangkauan nalarnya, pemimpin pasukan khusus itu dapat meraba kemungkinan yang berujung tajam dalam hubungan antar pembesar di kotaraja. Walau begitu, persoalan Pandan Wangi yang dianggap telah bersikap tak pantas pada putra raja pun tidak dapat didiamkan atau dicampuri semaunya.
“Bagus, bagus,” kata Pangeran Selarong tapi tidak bermaksud menanggapi ucapan Agung Sedayu. “Aku tidak tahu harus berbuat apa pada seseorang yang mungkin dapat dikatakan tidak tahu silsilah atau sengaja mengabaikannya. Tapi aku sadar bahwa aku pun tak dapat berbuat seenaknya pada orang itu.”
Pandan Wangi dan Agung Sedayu tidak memperlihatkan perubahan pada air muka meskipun tahu bahwa ucapan itu ditujukan pada Pandan Wangi.
“Paman, adakah saran dari Anda tentang keadaan semacam itu?” tanya Pangeran Selarong pada Agung Sedayu.
Sadar dengan tanggapan Pangeran Selarong yang dapat berkembang menjadi tak terkendali, Agung Sedayu pun menahan diri untuk menunda kelanjutan gagasan yang baru saja diungkapkan olehnya. “Saya tidak berada pada kedudukan yang tepat untuk menjadi pengadil atau penasihat, Pangeran,” jawab Agung Sedayu. “Tapi setiap orang dapat mengukur kepantasan berdasarkan pengajaran dan juga pengalaman yang pernah dilalui. Saya menyadari hal itu ketika berada di sisi mendiang Panembahan Senapati.”
Pangeran Selarong menarik napas panjang ketika ada rasa segan yang kerapkali muncul bila seseorang menyebut nama kakeknya. Saat itu pula kejengkelannya pada Pandan Wangi pun sedikit reda. Bahkan dia mengubah sikap duduknya seolah sedang menunggu Agung Sedayu berkisah mengenai kakeknya.
Sadar dengan yang diucapkan serta melihat perubahan sikap Pangeran Selarong, Agung Sedayu pun berkisah singkat mengenai peristiwa yang dimaksukan olehnya. Sekali-kali kepala Pangeran Selarong bergoyang, demikian pula Pandan Wangi. Agung Sedayu mengungkapkan bahwa Panembahan Senapati tidak menyimpan dendam meski ada rasa sakit hati dan kecewa saat di depan istana Pajang. Bahkan diterangkan pula kelebihan Panembahan Senapati saat menghadapi seterunya.
“Sepeti itulah…,” kata Pangeran Selarong setelah Agung Sedayu mengakhiri perkataannya.
“Saya tidak menambah atau mengurangi, Pangeran. Ki Patih Mandaraka adalah orang terpercaya kesaksiannya,” ucap Agung Sedayu disertai nada penuh penghormatan.
“Tidak membutuhkan waktu lama untuk meredakan perasaan yang bergolak, Pangeran Selarong kemudian berkata, “Baiklah, mari kita bicarakan pokok persoalan.” Lantas dia mengawali dari kemungkinan yang dapat terjadi apabila laskar Ki Garu Wesi sudah tiba di sekitar pedukuhan induk di Tanah Perdikan. Sambil menyatakan itu, pikiran Pangeran Selarong sedang menduga-duga ; siapa kiranya yang menjadi utusan khusus Ki Rangga Agung Sedayu?
Agung Sedayu lantas membentangkan jalan pikirannya di atas tikar pandan. Ketajamannya mengingat tatanan alam Tanah Perdikan memang mengagumkan. Pandan Wangi mengakui dalam hati bahwa dia sendiri tak sebaik Agung Sedayu untuk mengingat letak sungai, bukit yang berbaris dan jajaran gunung-gunung kecil di Tanah Perdikan. Pangeran Selarong ternganga lalu menutup mulut kemudian memandang senapati Mataram di depannya itu disetai kekaguman yang makin mendalam.
“Besar kemungkinan mereka akan menyeberangi Kali Progo dari tempat ini dan ini,” ucap Agung Sedayu di bawah sorot mata kagum Pandan Wangi dan Pangeran Selarong. Ibu jari Agung Sedayu menunjukkan beberapa tempat yang diduganya akan menjadi tempat berkumpul pasukan Ki Garu Wesi saat sebelum maupun setelah menyeberangi sungai.
Pangeran Selarong mengangguk, katanya, “Masuk akal seandainya dia membagi pasukannya. Ada sisi yang bakal membuat Tanah Perdikan kesulitan membendung pergerakan mereka, tapi juga ada kelemahan dari pembagian itu sendiri.”
Pandan Wangi tetap diam meski ada sebersit gagasan dalam benaknya. “Biarlah, aku kira memang lebih baik tidak bicara langsung dengan pangeran ini,” ucap Pandan Wangi dalam hati. Sebenarnya dia setuju saat Pangeran Selarong mengatakan bagian lemah dari kelompok Ki Garu Wesi, tapi kegentingan sudah semakin dekat maka diam pun menjadi pilihan terbaik baginya.
“Mereka dapat menyusup lebih jauh meski pasukan khusus dan pengawal Tanah Perdikan sudah mengatur penjagaan,” kata Agung Sedayu.
Dengan kening berkerut, Pangeran Selarong lurus menatap wajah orang yang secara istimewa ditunjuk oleh Panembahan Senapati sebagai pemimpin pasukan khusus.
“Untuk menghindari kecurigaan atau setidaknya menekan rasa ingin tahu dari kebanyakan orang yang mungkin melihat mereka, Ki Garu Wesi akan membagi lagi dalam satuan yang lebih kecil. Bisa enam atau empat atau bahkan satu orang saja,” ucap Agung Sedayu menambahkan. “Kita dapat bertanya, bukankah itu membutuhkan waktu lebih lama? Yah, benar. Tapi mereka sudah memulai gerakan ini dengan sangat lambat. Jika bukan karena kesabaran membina hubungan dan didukung pengalaman yang memadai, apakah mereka mampu menjangkau mendiang Panembahan Hanykrawati di Alas Krapyak?”
Baik Pandan Wangi maupun Pangeran Selarong melihat kebenaran dalam ucapan Agung Sedayu. Mereka kembali memandang benda-benda yang mewakili tatanan alam yang tergelar di atas tikar.
Agung Sedayu tidak segera mengungkap isi pikirannya pada dua orang itu.
Untuk beberapa waktu lamanya, Pangeran Selarong seakan berubah menjadi patung. Putra mendiang raja Mataram itu sedang berusaha menjawab pertanyaan yang berlintasan di dalam ruang pikirannya. Lalu, di mana mereka akan berkumpul? Melalui bagian Tanah Perdikan yang mana? Pertanyaan yang sangat wajar karena terdapat banyak jalan menuju pedukuhan induk Tanah Perdikan. Banyak lorong atau jalan setapak pula yang memenuhi wilayah berbukit-bukit dan subur itu.
Pada waktu itu, Pandan Wangi tampak berulang-ulang memijat kening. Dia sedang berusaha mengumpulkan kekuatan untuk menghimpun perhatian yang berserakan. Sungguh tidak mudah baginya menghadapi keadaan yang sulit seperti saat ini. Ayahnya, Ki Gede Menoreh, dapat dikatakan sedang dalam tekanan dari bahaya yang memang belum mencapai ke tempatnya. Di bagian hidup yang lain, Swandaru telah memberi pesan bahwa dia pergi ke tempat yang belum diketahui dan juga tak ada keterangan waktu pulang. Keselamatan dan keamanan rakyat Tanah Perdikan Menoreh yang juga menjadi bagian dari tanggung jawabnya. Pandan Wangi harus menghadapi semuanya.
“Baiklah,” kata Agung Sedayu kemudian, ”ada dua pilar yang harus tetap diugemi dalam segala keadaan.”
Serentak Pandan Wangi serta Pangeran Selarong mengangkat kepala.
“Selalu berhati-hati dan bersikap tenang adalah yang terbaik ketika menghadapi berbagai persoalan. Bahkan di balik suasana yang tenang pun dapat tersimpan ancaman tersembunyi,” lanjut Agung Sedayu. Kemudian dia menjelaskan siasat yang ingin diterapkannya pada sisi timur Kali Progo.
Pangeran Selarong menyimak sambil kadang-kadang mengingat rencana yang tidak terlaksana ; menyerang Ki Garu Wesi dari arah belakang. Tentu saja dia belum siap bila seandainya orang itu telah mempunyai rencana lai seperti membuat jebakan bagi orang-orang yang memburunya. Sejenak dia menatap Pandan Wangi lalu Agung Sedayu, tapi dia merasa sepertinya tak perlu mengungkap pikirannya. “Cukup sudah aku dipermalukan karena sedikitnya pengalaman. Tak perlu mengatakan itu, untuk apa pula aku memperlihatkan kelemahan rencana itu di depan Pandan Wangi,” ucap Pangeran Selarong dalam hati.
