Dua malam sebelumnya.
Setelah berpisah dari Agung Sedayu, Sukra dan Kinasih berlari cepat menuju Tanah Perdikan. Agung Sedayu memang berpesan seperti itu agar mereka tiba terlebih dulu di tepi Kali Progo. Sukra menjadi pemandu jalan hingga Kinasih mendapatkan tempat untuk bermalam di dekat penyeberangan. Lantas Sukra bergeser ke tempat yang berlainan lalu bermalam pula dalam dekap udara telanjang.
Malam itu seolah menjadi batu uji pertama bagi dua anak muda yang sama-sama berkemampuan di atas orang kebanyakan. Betapa mereka mengemban tugas penting tapi dengan satu orang yang belum mengenal medan. Seandainya cuaca berubah lalu tiba-tiba hujan turun cukup lebat, Kinasih akan menghadapi permasalahan yang sangat sulit. Tanda-tanda alam – yang dijadikan petunjuk jalan jika berpisah dengan Sukra – dapat berubah. Pohon dapat roboh tersambar gledek. Jalan setapak dapat menghilang tersapu aliran air dari ketinggian dan sebagainya. Oleh sebab itu, baik Kinasih maupun Sukra yang sama-sama berpayung langit kuat menggantungkan harapan agar segalanya berjalan seperti keinginan.
Pagi pun tiba. Menyapa permukaan Kali Progo dengan kelembutan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Air tampak seperti berlian ketika sinar matahari menimpa begitu terang. Tanpa adanya hambatan pada penyeberangan serta malam yang berlalu dengan cuaca yang menyenangkan, itu adalah dua keadaan yang memudahkan Kinasih serta Sukra menapakkan kaki di atas tanah berpasir wilayah Tanah Perdikan.
Dua utusan Agung Sedayu itu berjalan terpisah sebelum bertemu lagi di samping gumuk yang berjarak sekitar dua ratus langkah dari Kali Progo. Selanjutnya mereka berjalan kaki di atas jalur utama tapi tidak berdampingan. Sukra yang berjalan di depan Kinasih lantas membuang pandangan jauh ke depan. Sebelum melampaui dua bulak panjang, mereka berpisah lagi.
Sukra belok kanan, berpindah jalan, menempuh arah yang mengarahkannya pada permukiman yang hanya terdapat kurang dari delapan rumah yang masing-masing berjarak cukup jauh. Agung Sedayu memberinya tugas pengamatan yang tidak ringan ; mempelajari keadaan permukiman yang sunyi itu tanpa dibolehkan untuk berhenti. Maka Sukra pun melaksanakan perintah itu dengan ayun kaki yang tidak terburu-buru. Pengawal Tanah Perdikan itu akan berpindah jalur di tempat yang telah ditentukan Agung Sedayu.

Kinasih bergerak ke bagian kiri jalan lalu menyisir jalan setapak yang berada di balik dua bulan panjang tersebut. Jalan setapak itu menjadi batas pemisah antara dua bulak dengan tanah bergelombang yang penuh dengan tanaman liar. Gadis ini akan seterusnya berada di jalur itu sampai menemukan sungai kecil yang memotong jalur utama menuju pedukuhan induk. Selanjutnya dia akan bertukar tempat dengan Sukra.
Demikianlah Sukra dan Kinasih terus bergerak dengan jalur saling menyilang. Maka perjalanan dari Kali Progo menuju pedukuhan induk Tanah Perdikan – yang seharusnya dapat ditempuh dalam waktu sepenanakan nasi – menjadi lebih lama lagi.
Sepanjang perjalanan dari Watu Sumping, Sukra teringat sebuah kenangan yang berulang setiap kali memandang paras Kinasih. Wajah ayu gadis muda yang mungkin sepantaran Kinasih terbayang jelas di pelupuk matanya. “Gendis, di mana dia sekarang?” Sukra kerap mengulang pertanyaan itu pada dirinya sendiri. Lalu dia cepat membuang jauh-jauh bayangan wajah itu saat sadar bahwa tugasnya belum selesai, Tanah Perdikan belum aman dari bahaya Raden Atmandaru.
Matahari hampir mencapai batas pertengahan ketika Sukra dan Kinasih dapat melihat regol pedukuhan induk. Itu adalah waktu tempuh yang sangat lama jika hanya diukur dari Kali Progo. Tapi tugas pengamatan dari Agung Sedayu ternyata cukup njlimet hingga mereka berdua pun hampir-hampir menjangkau tempat yang nyaris tidak terpikir oleh seorang prajurit atau senapati.
Matahari hampir mencapai batas pertengahan dan suasana cukup ramai di sekitar Sukra dan Kinasih. Sehingga kehadiran Sukra dapat diketahui sebagian orang. Salah satu pengawal Tanah Perdikan pun menyempatkan diri untuk berbincang sejenak dengan Sukra. Meski demikian, keberadaan Kinasih sebagai teman seperjalanan Sukra ternyata tidak disadari oleh kawan Sukra. Tapi keadaan itu dapat dipahami karena mereka tidak berdampingan sejak awal. Bahkan untuk bicara pun mereka hanya seperlunya saja seperti menegaskan ulang perintah atau pesan Agung Sedayu, selebihnya? Tidak ada. Mereka juga tidak bertukar keterangan sama sekali. Sukra tidak bertanya mengenai yang dilihat Kinasih, begitu pula Kinasih yang mampu menutup mulut dan menahan diri dari rasa ingin tahu.
Matahari telah melewati segaris batas pertengahan saat Sukra dan Kinasih menapak kaki di samping gardu jaga kediaman Ki Gede Menoreh. Mereka berdua dapat melihat kesibukan di halaman depan rumah yang berukuran cukup besar itu. Ketika mata beralih ke bagian jalan maka terlihat orang-orang berlalu lalang dalam jarak yang tidak begitu rapat. Orang-orang itu tidak memperlihatkan bahwa sebenarnya ada bahaya yang sedang mengancam Tanah Perdikan. Dari sikap dan gerak gerik mereka, Sukra dan Kinasih lantas mengira bahwa mereka benar-benar tidak tahu sehingga perasaan mereka pun sangat jauh dari kekhawatiran.
“Sukra, selamat datang kembali,” sambut hangat seorang penjaga regol rumah Ki Gede Menoreh.
Sukra membalas dengan senyum yang mengembang singkat, lalu berkata, “Terima kasih, Kakang.”
Penjaga regol itu kemudian dengan isyarat tangan menunjuk Kinasih disertai sorot mata bertanya.
“Nanti semua dapat terjelaskan,” kata Sukra lalu mengangguk dalam – dalam. “Apakah Ki Gede dalam keadaan baik, Kakang?’
“Seperti yang kau lihat saat ini,” jawab penjaga itu, “marilah, aku antar kalian menemui beliau.”
Sukra menggeleng, katanya, “Jangan sekarang jika Ki Gede tidak dalam keadaan baik. Saya dapat ke rumah Ki Lurah lalu menunggu perkenan dari beliau.”
Penjaga itu tersenyum lalu berkata, “Sukra, kau ini bukanlah orang lain di sini sekalipun keseharianmu berada di rumah Ki Rangga. Oh ya, bagaimana Ki Rangga sekalian? Apakah beliau semua sehat dan baik-baik?”
Sukra mengangguk lagi. “Ki Lurah sekalian, mudah-mudahan, selalu dalam perlindungan Yang Maha Agung.”
“Marilah, kita bergeser ke dalam. Tak pantas pula dilihat orang jika kita bertiga berlama-lama bicara di sini. Ki Gede pun pasti sulit merasa nyaman seandainya tahu aku membiarkan kalian balik arah atau hanya menerima di depan regol kediaman,” ajak penjaga.
Kinasih cepat mengangguk tapi tidak ada kata-kata yang ditujukan pada Sukra agar memenuhi ajakan itu.
“Baiklah, tapi jangan biarkan kami kemudian merepotkan Ki Gede,” ucap Sukra dengan tegas.
Penjaga pun mengiyakan. Mereka bertiga pun melintas di bawah gerbang kediaman. Dua orang tampak kemudian di balik dinding bambu gardu jaga. Rupanya mereka sudah mengamati kedatangan Sukra dan Kinasih sukup lama.
“Kami tidak diizinkan meninggalkan gardu dalam keadaan kosong. Jika satu orang terpaksa keluar agak jauh, maka harus ada satu atau dua orang yang tetap berada di sekitar gardu,” terang penjaga.
Beberapa orang keluar dari kediaman atau sejenak menghentikan kegiatan sekedar menyapa Sukra. Anak muda ini sudah mendapatkan tempat khusus di hati banyak orang yang tinggal di rumah Ki Gede. Hubungan yang sangat menyenangkan karena mereka sama sekali tidak membedakan asal usul seseorang. Lebih-lebih setelah peristiwa sulit yang menimpa Tanah Perdikan ketika beberapa pasar sengaja dibakar oleh pengikut Raden Atmandaru. Kerja keras dan perhatian Sukra segera mendapatkan ruang dalam hati banyak orang Tanah Perdikan Menoreh.
Tidak cukup lama bagi Sukra dan Kinasih menunggu Ki Gede Menoreh keluar menyambut mereka di pringgitan. Setelah sejenak bertukar kata saling menanyakan keadaan, Ki Gede lantas meminta mereka menikmati sedikit hidangan yang sudah disajikan hangat. Perbincangan dengan pokok yang ringan masih mengiringi orang-orang yang berada di dalam pringgitan, termasuk Prastawa yang juga sudah berada di situ.
Kedatangan pemimpin keamanan Tanah Perdikan yang masih muda usia itu cukup mengejutkan Sukra.
“Tiba-tiba kau berada pula di sini?” tanya Sukra dengan mata terbelalak.
Prastawa yang sangat mengenal watak Surka pun tersenyum. “Ketika kalian berdua berdiri di sebelah gardu jaga, aku sudah mengetahui kehadiran dua orang yang tak asing sejak mereka menyeberangi Kali Progo.”
“Omong kosong,” ucap Sukra sambil bersungut. Anak muda ini lantas mengisi perut yang tak begitu kosong tapi demi menghormati Ki Gede sebagai tuan rumah.
Kinasih adalah yang pertama mengakhiri keinginan untuk menikmati suguhan dari ayah Pandan Wangi, kemudian Sukra mengikutinya. Ki Gede Menoreh mengangguk-angguk sambil memandang dua tamunya bergantian.
Usai mendapatkan waktu untuk kepantasan, Ki Gede Menoreh bertanya sedikit lebih dalam pada Kinasih.
“Angger bernama Kinasih,” kata Ki Gede dengan nada sedikit bertanya.
Kinasih mengangguk, katanya, “Benar, Ki Gede.”
