Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 99 – Pagi Pertama di Tanah Perdikan Menoreh

Senyum mengembang pada wajah Pandan Wangi lalu suasana pagi pun menjadi semakin sulit dihadapi Agung Sedayu. Dia merapatkan dahi. Pemimpin pasukan khusus itu paham arah yang dimaksud oleh Pandan Wangi. Benar, orang pasti bertanya dalam hati lalu berpikiran buruk, apakah mereka tidak berteduh atau sedemikian gawatkah urusan di Tanah Perdikan?

Mendadak perubahan terjadi pada Pandan Wangi. Wajahnya tiba-tiba menjadi tegang! Sekelumit pikiran muncul dalam pikirannya ; bahwa dia pun akan membawa nama Swandaru sebagai bahan yang harus dibicarakan dengan ayahnya.  Pandan Wangi cukup beruntung karena perubahan secepat kilat itu tidak terlihat oleh Agung Sedayu yang lurus memandang arah jalan. Semenjak meninggalkan Sangkal Putung, atas sebab tertentu, maka dia menempuh waktu yang cukup lama bersama Agung Sedayu menuju Tanah Perdikan. Sepanjang waktu itu pula, Swandaru telah menjadi orang yang terlupakan olehnya. Tapi di atas jalan setapak yang membawa mereka ke rumah Ki Gede, Swandaru muncul kembali dalam benaknya.

Perjalanan telah ditempuh separuh bagian, Pandan Wangi jelas kesulitan bila harus membicarakan terlebih dahulu dengan Agung Sedayu. Waktu yang tersisa cukup pendek, pikir Pandan Wangi.

“Tapi, sudahlah, Tanah Perdikan mempunyai persoalan yang lebih rumit jika dibandingkan urusanku dengan Swandaru,” ucap Pandan Wangi dalam hati. Maka tekadnya kemudian adalah menata perasaan agar tidak ada kecemasan dalam hati  Ki Gede pada kepulangannya kali ini.

“Jadi, aku setuju bila kita tetap di jalan ini?” tanya Agung Sedayu tiba-tiba.

“Bagaimana saya dapat berpendapat lain? Bukankah saya sedang mengikuti Kakang?” Pandan Wangi bertanya balik.

Senyum pun merekah pada wajah mereka berdua. Pendapat meraka nyaris sama, bahwa pertanyaan pengawal Tanah Perdikan lebih mudah untuk diatasi daripada gunjingan yang berasal orang-orang yang mungkin berpapasan dengan mereka.

Awal hari itu adalah pagi pertama Agung Sedayu kembali ke Tanah Menoreh.

Sesuai dengan yang diperkirakan di dalam pikirannya, Agung Sedayu melihat dua penjaga regol kediaman Ki Gede masih berada di sekitar tempat penjagaan. Untuk beberapa saat kemudian, pandang mata Agung Sedayu memeriksa kain yang dikenakan Pandan Wangi. Tidak ada yang aneh tapi harus diakui masih tetap dapat merebut kemudian memenangkan perhatian laki-laki, pikir Agung Sedayu. Dia menarik napas sejenak, menenangkan diri lalu meluruskan perasaan. Di tengah kepungan kabut pagi itu, Agung Sedayu secara jantan dalam hati untuk mengakui bahwa tidak mudah mengabaikan segala kenangan. Itu seperti mencabut sebatang pohon beserta akarnya sehingga terciptalah sebuah lubang yang besar dan hampir tak mungkin ditutup kembali, perasaan Agung Sedayu melayang sejenak. Yang berkecamuk dalam pikiran maupun perasaan Agung Sedayu bukan masalah sepele yang mudah diabaikan. Murid Kyai Gringsing tersebut memahami nilai dari kenangan serta perasaan dalam arti sesungguhnya.

Di samping Agung Sedayu, Pandan Wangi mengayun kaki sambil menata perasaan. Dari permukaan, dia bersikap dengan segala kewajaran meski berdebar karena kerinduan pada ayahnya, kemudian membicarakan permasalahannya dengan Swandaru.

 Ketika Agung Sedayu dan Pandan Wangi hampir mendekati gardu jaga, seorang pengawal sudah melihat mereka. Dengan mata menyipit, dia tegak berdiri dalam keadaan siaga.

“Ini aku,” kata Pandan Wangi.

“Oh,” pengawal itu berseru tertahan. Meski ada sedikit yang ingin ditanyakan pada putri penguasa Menoreh tersebut, penjaga itu sedikit gugup memberi jalan. Sedangkan seorang lagi segera memberi tahu Ki Gede Menoreh tentang kedatangan Pandan Wangi dan Agung Sedayu. Sesaat kemudian, seorang pengawal berlari  meninggalkan kediaman Ki Gede guna mengabarkan kedatangan Agung Sedayu dan Pandan Wangi pada sejumlah orang.

Dalam waktu yang cukup singkat, berbalut kabut yang lembut, kesibukan di rumah Ki Gede Menoreh pun meningkat cepat. Sejumlah orang bergegas menyiapkan hidangan pagi, sebagian lagi membersihkan dua bilik yang akan ditempati Pandan Wangi dan Agung Sedayu. Tapi Agung Sedayu pun ada dua pilihan ; menempati rumah sendiri atau berdiam sementara di barak pasukan.

“Ini adalah hari yang membahagiakan semua orang di Tanah Perdikan,” ucap Ki Gede saat menemui Agung Sedayu dan Pandan Wangi di pringgitan. Mereka duduk melingkar di atas tikar pandan dengan hidangan sederhana di atasnya. Menyusul berikutnya orang-orang yang diundang Ki Gede supaya datang ke kediaman. Berita tersampaikan begitu cepat dan secepat itu pula mereka bergegas memenuhi panggilan.

Tak lama kemudian, Ki Gede memanggil Kinasih lalu memintanya agar menyediakan waktu untuk duduk bersama di pringgitan.

“Aku perkenalkan pula pada kalian semua. Gadis ini bernama Kinasih. Dia datang bersama Sukra dan tiba di rumah ini…mendekati siang. Benar begitu, Ngger?” tanya Ki Gede dengan tatapan mata lurus pada Kinasih.

Kinasih mengangguk sambil berkata, “Benar, Ki Gede.”

“Saya harap dan juga meminta pada setiap orang yang berada di sini agar segera mengulurkan tangan padanya,“ lanjut Ki Gede sambil memandangi orang-orang yang mengitarinya. “Tak perlu ada keraguan karena Kinasih sudah terlibat dalam dua pertempuran, Karang Dawa dan juga Watu Sumping. Mudah-mudahan keterlibatan itu dapat menjadi bukti bahwa dirinya berada di belakang Mataram dan Tanah Perdikan. Aku dengar Kinasih pula yang membawa berita atau siasat dari Ki Rangga untuk disampaikan pada Pandan Wangi menjelang pertermpuran di Karang Dawa.” Setelah berhenti sejenak, pada Kinasih, Ki Gede lalu mengenalkan orang-orang yang berada di pringgitan.

Orang-orang tersenyum sambil mengangguk ketika Ki Gede menyebut nama mereka. Orang-orang yang hadir dalam pertemuan itu adalah Mpu Wisanata, Nyi Dwani, Wacana dan empat bebahu pedukuhan induk, termasuk Prastawa. Sedangkan dari kalangan prajurit tidak tampak seorang pun. Itu adalah keadaan yang wajar karena mendatangi Agung Sedayu di kediaman Ki Gede tanpa undangan tentu menjadi tindakan yang tidak pantas. Ki Gede sengaja tidak  mengundang kalangan prajurit dengan pertimbangan tertentu.

“Ki Gede melebihkan kedatangan kami, sementara kami berdua masih menjadi orang Menoreh,” kata Agung Sedayu merendah.

Dalam waktu itu, Ki Gede menanggalkan sandang yang melekat padanya dan juga Agung Sedayu. “Tidak, Ngger,”´ucap Ki Gede Menoreh dengan sapaan yang sama dengan yang diucapkannya belasan tahun silam saat mengenal Agung Sedayu pertama kali. Yang diinginkannya adalah kembalinya kebersamaan dalam satu hubungan yang sangat kuat.

Lagi, baik Mpu Wisanata dan juga orang-orang yang lain mengangguk. Sepertinya mereka sepakat dengan cara Ki Gede memberi ruang pada dua tamu penting tersebut. Benar, Agung Sedayu dan Pandan Wangi, saat itu menjadi tamu Ki Gede Menoreh sekalipun mereka termasuk keluarga besar Tanah Perdikan.  Tapi Kinasih mengartikan panggilan akrab itu dalam maksud lain.

“Itu mungkin bukan sekedar keakraban yang bersatu dalam kehangatan, tapi sepertinya ada nada atau pesan tersembunyi,” ucap Kinasih dalam hati. Mungkin dia terlalu banyak berpikir sehingga muncuk pendapat seperti itu dalam benaknya.

Agung Sedayu adalah orang yang berasal dari Jati Anom, lalu berkembang dan mengembangkan Tanah Perdikan sejak dirinya belum menjadi prajurit Mataram sampai pagi itu. Sedangkan Pandan Wangi adalah perempuan yang lahir di Tanah Perdikan, tapi dia harus mendampingi Swandaru di Sangkal Putung selama beberapa waktu lamanya. Demikian pula sapaan Ki Gede pada Agung Sedayu. Itu menjadi tanda bahwa pemimpin Tanah Perdikan sedang memberi ruang bagi seorang lelaki yang sudah dianggap seperti anak kandungnya sendiri.

Seorang bebahu pedukuhan induk kemudian berkata, “Angger Agung Sedayu. Wow, sebutan itu akhirnya kembali pula padaku setelah sekian lama tersemat Ki Rangga.” Dia lantas mengembangkan senyum kemudian menyalami Agung Sedyu.

“Ah, Paman ternyata masih seperti yang dulu. Bebahu yang gemar bercanda dengan bahan-bahan segar,” timpal Agung Sedayu sambil merendahkan punggung demi menghormati bebahu yang mungkin seusia dengan Ki Gede Menoreh.

Maka percakapan pun mengalir lancar dan berlangsung sewajarnya. Mereka tidak lagi canggung maupun sungkan satu sama lain. Selain bertukar kabar dan mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, mereka pun tetap saling mengingat kebaikan-kebaikan yang dikembangkan oleh para pendahulu.

Bayangan benda semakin tegak ketika matahari bergulir lebih condong le barat. Orang-orang yang turut menemui Agung Sedayu dan Pandan Wangi, satu demi satu, mengundurkan diri. Selanjutnya yang masih berada di dalam pringgitan adalah Prastawa, Mpu Wisanata, Ki Gede beserta tiga tamunya – termasuk Kinasih.

“Ki Gede,” kata Agung Sedayu.

Ki Gede Menoreh menggerakkan kepala, lalu berkata, “Angger bisa langsung menuju pokok persoalan.”

Agung Sedayu tersentak lalu termangu. Dia sadar bahwa ada pesan tegas dari nada suara Ki Gede. Rupanya pemimpin Tanah Perdikan ini sudah dalam keadaan siaga semenjak pertemuan dimulai, pikir Agung Sedayu. Dalam renungannya, kedudukan kelompok Raden Atmandaru terbilang cukup jauh dari pedukuhan induk. Meski tidak dapat segera menjadi bahaya atau ancaman langsung, tapi senapati Mataram itu memahami kegelisahan Ki Gede Menoreh. Seolah sedang meminta waktu barang sesaat, Agung Sedayu lurus menatap wajah orang-orang bergantian.

Mpu Wisanata mengangguk, demikian pula Pandan Wangi dan Prastawa. Sedangkan Kinasih malah menyembunyikan wajahnya.

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 105 – Agung Sedayu Tertimpa Berita Palsu

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 53 – Utusan Khusus Agung Sedayu Itu Bernama Kinasih

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 35 – Pandan Wangi Mengikuti Swandaru untuk Makar, Benarkah?

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.