0%
Still working...

Beban Darah 4 – Adipati Hadiwijaya di Pusaran Kekuasaan Demak

Dironda 33 kali

Lima puluh langkah dari mereka bertiga.

Arya Dipangga menatap lurus pada rombongan kecil Arya Penangsang. “Apa yang  dicarinya?” dia bertanya pada dirinya sendiri sambil melangkah mengikuti jalur ke istana.

“Tempat ini terlalu terbuka untuk menunjukkan gairah,” ucap Kyai Rontek sambil memandang arah yang sama dengan Arya Dipangga.

Orang di sampingnya itu lantas mengangguk. “Arya Penangsang tidak akan dapat membungkus rasa kecewa. Ini sebuah pertaruhan sekaligus kesempatan.” Nada muak sepertinya tidak mendapat ruang untuk sembunyi dari pikiran orang itu.

“Lebih baik kita beralih ke tempat lain,” kata Kyai Rontek.

Arya Dipangga menoleh cepat, bertanya, “Adakah tempat lain? Kita ke istana sekarang.”

Kyai Rontek menggeleng tergesa. “Bukan itu maksud saya, tapi berlaih ke jalur lain. Cukup riskan karena dia dapat melihat kita.”

“Dapat melihat bukan berarti dia medapat kesempatan bicara dengan kita,” tukas Arya Dipangga. “Penangsang dapat mengendalikan diri. Dia tahu keadaan.”

Sekejap kemudian, mereka terkesiap ketika Arya Penangsang sudah tidak lagi bersama rombongan kecilnya.

“Aku tidak luput mengamatinya,” kata Kyai Rontek.

“Dia dapat menyelinap di antara barisan orang-orang di sisi jalan,” sahut Arya Dipangga.

Sambil menghibur diri, Kyai Rontek berucap, “Tempat ini sangat terbuka.” Dia tahu bahwa tempat ramai sering dipilih untuk menyembunyikan niat. Tidak ada rahasia yang benar-benar aman, hanya keramaian yang membuat orang lengah. Tapi dalam waktu sekejap, dia lengah. Sadar akan hal itu, Kyai Rontek tersenyum tipis.

Pangeran Benawa melihat ke belakang. Pandang matanya menumbuk arah kelompok Kyai Rontek dan Arya Dipangga, lalu segera memalingkan wajah. Sesuatu yang belum berbentuk mulai muncul di dalam dadanya. Tapi putra Adipati Hadiwijaya itu memilih diam. Malam-malam panjang ketika menjadi korban penculikan telah mengajarinya bahwa diam kadang lebih penting daripada bertanya.

Saat matahari tenggelam di garis batas laut terluar, pelabuhan kembali hidup perlahan. Teriakan buruh dan bunyi rantai kapal menutup sisa penyambutan.

Gerbang timur kotaraja Demak berdiri seperti rahang yang belum menutup. Orang-orang keluar masuk dengan langkah tidak seragam, sebagian terlalu cepat, sebagian terlalu lambat. Dua penunggang kuda berhenti agak menjauh, cukup untuk melihat tanpa ikut terbaca. Gagak Panji menahan kudanya, membiarkan debu dan suara menutup keberadaan mereka.

Ki Tumenggung Prabasena mengamati wajah-wajah yang lewat. “Lalu lintasnya aneh,” katanya pelan. “Tidak panik, tapi tidak tenang.”

“Jenazah raja selalu mengacaukan irama,” jawab Gagak Panji. “Semua orang merasa harus berada di tempat yang tepat, setiap tempat adalah kedudukan yan gsangat berarti untuk menjadi saksi.”

Dari kejauhan, tampak kelompok-kelompok kecil berdiri terpisah, berbincang singkat lalu berpisah lagi.

Gagak Panji menyipitkan mata. “Apakah jenazah Paman sudah tiba?”

Ki Tumenggung Prabasena berkata, “Pintu gerbang masih terbuka lebar. Mungkin jenazah sudah tiba tapi belum sampai di istana.”

“Masuk sekarang berarti menjadi bagian dari upacara,” kata Gagak Panji. “Keluar nanti akan sulit.”

Ki Tumenggung Prabasena mengangguk. “Menunggu terlalu lama juga berbahaya. Mereka dapat mengingat orang-orang yang belum tampak.”

“Kita adalah orang yang akan menampakkan diri di depan banyak orang,” kata Gagak Panji. “Saya pikir lebih baik kita tengok barak prajurit barang sejenak.”

Ki Tumenggung Prabasena mengangguk sekali lagi. Mereka menggerakkan kuda bersamaan menuju istana melalui jalur yang memutar.

Keterlibatan Gending Pamungkas dan Ki Danupati yang hampir serentak ingin membunuh Raden Trenggana menyisakan pertanyaan tajam dalam benak dua orang tersebut. Baik Gending Pamungkas dan Ki Danupati adalah prajurit pilihan. Mereka bukan orang yang menempati kedudukan tertentu dengan cara tidak wajar. Ketangguhan di medan perang serta kecakapan menjalin hubungan dengan berbagai kalangan menjadi pertimbangan utama bagi atasan mereka. Tapi mereka berbalik secara tiba-tiba!

Dengan kemapanan jiwani dan olah pikir dua prajurit tinggi itu, maka sulit dipercaya jika perubahan arah itu tentu bukan tanpa alasan maupun pertimbangan.

Namun untuk sementara waktu, baik Gagak Panji dan Ki Tumenggung Prabasena seolah sudah sepakat tanpa kata-kata: pencarian akan dilakukan setelah Raden Trenggana dibaringkan dengan damai.

Sehari setelah jenazah raja dikebumikan, bagian dalam istana Demak terasa lebih lengang dari biasanya. Karpet belum digelar kembali, pelita menyala seperlunya. Udara menyimpan bau dupa yang tertinggal.

Di ruang itu, segala sesuatu serasa mempunyai telinga dan mata. Setiap orang yang melintas seperti sedang menjaga jarak, menjaga ucapan dan berbagai hal lainnya.

Dari pintu samping yang terhubung dengan halaman timur,  sekitar lima puluh langkah, tampak dua orang saling berhadapan tanpa saling mendekat.

Arya Penangsang berdiri tegak sambil menatap tajam Mas Karebet, katanya kemudian, “Nama Raden Mukmin sudah beredar. Ada banyak alasan yang dikemukakan oleh orang-orang, di antaranya adalah Pangeran Bagus atau Raden Mukmin mempunyai darah sebagai keturunan Raden Fatah. Dia punya dukungan lisan dari orang-orang yang berjiwani tinggi. Dua keadaan yang cukup aman bagi banyak orang.”

Adipati Hadiwijaya atau Mas Karebet mendengarkan tapi tidak segera menjawab. Dia tidak melangkah maju agar jarak tetap terjaga. “Apakah Kakang ingin mendengar pendapat saya?”

Arya Penangsang mengangguk. “Untuk keperluan itu, saya berada di sini dengan berbagai kemungkinan yang akan muncul dari banyak pikiran orang. Dan salah satunya adalah saya gigih menuntut balas atas kematian Pangeran Suryawiyata.”

“Saya tidak mewarisi garis darah secara langsung,” kata Adipati Pajang. “Dan pula dalam keadaan saya seperti ini, membuka pengadilan tentu bukan wewenang saya sebagai pengganti sementara. Kita dapat menunggu pemegang kekuasaan selanjutnya.”

“Saya tidak sedang menuntut balas. Pengadilan sudah menyatakan selesai,” ucap Arya Penangsang.

“Pengadilan? Bukankah tidak ada sidang atau apa saja yang bermakna sama dengan itu?” sahut Adipati Pajang.

Arya Penangsang mengangguk dalam-dalam sambil mneyimpan sesuatu yang melintas dalam jalan pikirannya.. “Ya, benar. Memang tidak ada sidang, tapi saya tidak mungkin selamanya menunggu benang basah dapat ditegakkan. Saya tegaskan, pengadilan membutuhkan bukti dan saksi tapi dua hal itu adalah sesuatu yang mustahil diperoleh saat ini.”

Adipati Hadiwijaya merenung sejenak, kemudian berkata lirih, ”Bukankah Pangeran Parikesit sangat menginginkan hukum ditegakkan?”

“Betul, dan sikap itu belum berubah,” tegas Arya Penangsang. “Tapi siapa yang akan mengawali? Paman Trenggana telah tiada, maka tidak ada harapan yang tersisa. Berharap pada Raden Mukmin? Saya pikir Eyang Pangeran sudah paham kelanjutannya.”

Hening mengisi ruang.

Arya Penangsang terdengar menghela napas panjang. “Sebentar lagi akan digelar  wisuda. Pangeran Bagus mungkin akan melanjutkan tanggung jawab atas keberlangsungan Demak. Tapi kemungkinan juga tidak. Kita tidak pernah tahu, demikian pula kerabat sepuh yang terlihat mulai menjaga jarak seperti yang ditunjukkan oleh Pangeran Tawang Balun di Panarukan.”

Adipati Hadiwijaya mengangkat wajah, mengulang pelan, “Keberlangsungan Demak.”

“Yang saya katakan bukanlah harapan buruk segera menimpa wilayah ini. Itu sebuah pandangan bebas dari saya pribadi, bukan sebagai penguasa Jipang,” kata Arya Penangsang kemudian mengangkat bahu sambil menarik napas panjang.

Setelah mengedarkan pandangan sesaat mengitari ruangan, Adipati Hadiwijaya berkata, “Sampai pembicaraan mendatang, saya ingin tegaskan pada Kakang Penangsang bahwa saya tidak mencari ataupun menginginkan takhta. Sejauh ini saya sudah merasa cukup dengan Pajang. Tapi seandainya nama saya disebut sebagai orang yang diuntungkan, maka itu akan menyeret Pajang ke pusaran yang tidak bertepi.”

“Justru itu yang mereka inginkan,” sahut Arya Penangsang. “Jarak kedudukan Adipati dari Demak tidak lebih jauh dari telunjuk dan ibu jari. Sebagian orang menampakkan itu tapi sebagian lain merasa Anda adalah ancaman.”

Percakapan berhenti.

Kalimat terakhir Arya Penangsang mengingatkan Adipati Hadiwijaya pada serangan yang nyaris menghilangkan nyawanya. Bahkan sebelum itu, Pangeran Benawa pun telah menjadi korban penculikan. Adipati Pajang itu memandang wajah dingin Arya Penansang dengan berbagai dugaan yang mengisi pikirannya.

Sehari sebelum kabar kematian raja mencapai Demak, bagian dalam istana sudah terasa tegang tanpa sebab yang jelas. Pelita dinyalakan lebih awal, bukan untuk penerangan, melainkan untuk menjaga jarak antarbayang. Arya Penangsang berdiri di sisi ruang yang gelap, sementara Raden Mukmin berada jauh di seberang. Lima langkah di antara mereka cukup untuk mencegah percakapan berubah menjadi pengakuan.

“Ada nama yang mulai beredar dan dibicarakan beberapa orang,” kata Arya Penangsang, suaranya tenang, terlalu tenang untuk topik yang diangkat. “Kakang Hadiwijaya.”

Raden Mukmin tidak segera menoleh. “Nama itu selalu muncul ketika orang ingin keseimbangan,” jawabnya. “Atau ketika mereka ingin menunda pertikaian.”

“Bisa seperti itu, bisa pula tidak. Tapi sebagian menganggap sudah seharusnya Demak dapat menjaga keseimbangan,” kata lirih Arya Penangsang. “Hanya saja, menurut saya keseimbangan dapat berarti membagi beban ke luar Demak. Dalam hal ini, jika Kakang Hadiwijaya tetap berada di Pajang, saya kira itu sudah dapat dianggap cukup untuk menenangkan banyak pihak.”

“Tidak dapat dikatakan cukup dekat untuk dikendalikan. Pajang mempunyai pendirian yang sangat kuat,” Raden Mukmin menambahkan. Nada suaranya tetap datar, seolah mereka sedang membahas urusan dagang, bukan takhta.

  • Pembicaraan seputar suksesi benar-benar menjadi Beban Darah.
  • Nama lain yang merambah pust kekuasaan adalah Gajah Mada. Dia disebut-sebut berperan penting dalam Pemberontakan Senyap.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.