Dironda 51 kali
wedaran sebelumnya: Sementara itu, seorang pengikut Ki Kamejing melihat kelompok Ki Winih Jambe bergerak menuju pedukuhan induk dan segera melapor. Mengingat berbagai benturan yang baru saja mengguncang Menoreh serta tiga orang dari kelompok itu yang masih ditahan di barak, Ki Kamejing dan Ki Ajar Poh Kecik tidak berani menganggap perjalanan tersebut sebagai urusan biasa.
Pada satu atau dua hari berikutnya, saat matahari mulai memilih tempat bersembunyi di antara dedaunan pohon-pohon tinggi, kedai yang tidak terlalu jauh dari pasar pedukuhan induk cukup ramai pengunjung.
Ki Astaman, Ki Warujayeng, dan Jaka Awar-awar tampak membaur di antara orang-orang yang sibuk dengan percakapan masing-masing. Sekali-kali masih terdengar ucapan yang menyinggung pertempuran di pategalan selatan. Nama Agung Sedayu dan Ki Jabon Seta bahkan sempat disebut oleh beberapa orang.
Namun pembicaraan itu tidak lama. Cerita tentang perkelahian yang dahsyat begitu saja terputus oleh seseorang yang mengeluhkan sungai yang mulai susut permukaannya. Tapi seseorang langsung menimpali bahwa justru susut itu ternyata menjadikan ikan lebih mudah tertangkap.
Di tempat lain, beberapa orang yang semula membicarakan serangan terhadap barak tiba-tiba tertawa ketika seorang kawannya melontarkan gurauan.
Ki Astaman memperhatikan semuanya tanpa terlihat sedang memperhatikan. Pikirannya bekerja cukup cermat: pertempuran di pategalan selatan belum dilupakan. Demikian pula serangan terhadap barak yang bahkan meninggalkan banyak bekas. Namun orang-orang di pedukuhan induk agaknya tidak membiarkan dua peristiwa itu mengambil seluruh ruang dalam kehidupan mereka.
Jaka Awar-awar rupanya menangkap keadaan yang sama. Sesekali pandangannya beralih kepada orang-orang di dalam kedai, kemudian ke jalan di luar, sebelum kembali pada mangkuk di hadapannya.
Jalan di kedai itu sendiri merupakan salah satu jalur yang menghubungkan wilayah Gunung Kunir dengan barak pasukan khusus. Sejak pagi orang-orang hilir mudik melewatinya sehingga keberadaan tiga orang itu tidak banyak menarik perhatian.
Ki Astaman sedang memegang mangkuk minumannya ketika pandangannya beberapa kali beralih ke luar kedai tapi bukan pada jalur penghubung.
Di kejauhan, di antara petak-petak tegal dan kebun yang membentang tidak beraturan, beberapa sosok sesekali terlihat bergerak. Mereka muncul di sebuah bagian yang terbuka, kemudian hilang di balik rumpun bambu atau tanaman yang tumbuh lebih tinggi.
Ki Astaman memandang penuh perhatian. Sedikit lama.
Ki Warujayeng yang duduk di sebelahnya mengikuti arah pandangannya. “Ada apa?”
Ki Astaman tidak segera menjawab.
Beberapa saat kemudian dua sosok terlihat. Hanya sebentar sebelum lenyap di balik sebuah kebun.
“Mereka tidak menggunakan jalur utama,” katanya.
Jaka Awar-awar menoleh.
Ketiganya kemudian memperhatikan tanpa mengubah sikap secara mencolok. Orang-orang yang bergerak itu agaknya sengaja memilih jalan-jalan setapak di antara tegal dan kebun. Arah mereka tidak selalu lurus, tetapi semakin lama Ki Astaman dapat memperkirakan ke mana kelompok tersebut bergerak.
“Barak?” desis Jaka Awar-awar.
“Mungkin,” jawab Ki Astaman.
Ki Warujayeng menyipitkan mata. “Siapa mereka?”
Tidak ada jawaban.
Mereka baru dapat melihat beberapa orang dalam jarak yang cukup jauh. Tetapi bagi ketiganya, cara sekelompok orang menghindari jalan besar justru lebih menarik daripada asal mereka sebenarnya.
Ki Astaman bangkit perlahan.
Jaka Awar-awar tersenyum datar kemudian mengangguk, lalu bertanya, “Marilah, kita akan melihat.”
Tetapi Ki Astaman sudah melangkah keluar dari kedai. Ki Warujayeng menyusul setelah membayar semua yang mereka nikmati.
Matahari telah bergeser dua langkah ke barat. Hari masih terang dan kesibukan di halaman belum berhenti..
Beberapa prajurit masih terlihat di halaman timur. Dua orang sedang mengangkat potongan kayu ke dekat bangunan yang diperbaiki, sedangkan beberapa lainnya datang dari arah belakang barak membawa perkakas. Di dekat regol, seorang prajurit berdiri sambil sesekali bertukar kata dengan kawannya yang berada di sampingnya.
Semua tampak wajar.
Namun orang-orang yang bertugas mengetahui bahwa keadaan belum benar-benar kembali seperti sebelum serangan. Setiap orang yang melintas di jalan depan barak mendapat perhatian, meskipun tidak selalu membuat mereka mengubah sikap. Demikian pula orang-orang yang datang dari pedukuhan induk atau bergerak menuju jalan yang mengarah ke wilayah sebelah timur.
Pada waktu itulah salah seorang penjaga gardu luar melihat beberapa kelompok orang muncul di kejauhan.
Semula dia hanya memandang sekilas untuk sekadar tahu ada banyak orang berjalan di jalur yang menuju barak. Mereka belum cukup dekat untuk dikenali, tetapi jumlah mereka membuat prajurit itu kembali mengarahkan pandangan. Langkah orang-orang tersebut cukup cepat tanpa terlihat tergesa-gesa. Tidak pula terlihat gerakan yang menunjukkan mereka sedang mengejar waktu.
Prajurit itu bergeser setapak.
Kawannya yang berada tidak jauh darinya mengikuti arah pandang tersebut.
“Orang-orang itu menuju kemari?”
“Sepertinya.”
Dua prajurit ini belum berbuat sesuatu.
Rombongan itu semakin dekat.
Mereka berjalan dalam kelompok yang tidak terlalu rapat. Beberapa orang berada sedikit di depan, sedangkan lainnya mengikuti dengan jarak yang berubah-ubah. Tidak ada senjata yang dibawa secara terbuka, tetapi bagi prajurit yang telah terbiasa melihat orang-orang dari berbagai perguruan, pakaian dan cara mereka bergerak cukup untuk menimbulkan perhatian.
Orang-orang yang sedang bekerja di halaman belum semuanya melihat kedatangan rombongan itu dan jarak semakin pendek.
Beberapa saat kemudian, rombongan itu telah cukup dekat sehingga orang yang berjalan di bagian depan dapat terlihat lebih jelas.
Ki Winih Jambe tidak memperlambat langkahnya.
Sejak meninggalkan perkemahan, dia memang tidak membawa orang-orangnya berjalan dengan tergesa-gesa. Namun mereka juga hampir tidak membuang waktu di sepanjang perjalanan. Kini ketika bangunan barak pasukan khusus telah berdiri jelas di hadapannya, langkahnya tetap sebagaimana sebelumnya.
Tenang dan tetap menuju regol.
Ki Dawar Blandong berjalan tidak jauh darinya.
Iring-iringan ini terus berjalan dan seperti mengabaikan pandangan mata beberapa orang yang tertuju pada mereka.
Ki Winih Jambe kemudian berhenti di depan regol halaman lalu bicara dengan suara sewajarnya, “Kami mempunyai keperluan dengan Ki Tumenggung Agung Sedayu.”
Salah seorang prajurit yang berada di regol maju selangkah.
“Keperluan Ki Sanak akan kami sampaikan,” katanya. “Tetapi harap sebutkan lebih dahulu diri Ki Sanak agar kami dapat menyampaikannya kepada atasan kami.”
Ki Dawar Blandong menoleh sedikit kepada Ki Winih Jambe. Mengenalkan diri?
Ada sesuatu yang terasa mengusik perasaannya. Menurut pikirannya, orang-orang di barak seharusnya sudah mengetahui kedudukan mereka dari keberadaan selama ini di Tanah Perdikan. Lagipula, bukankah tiga orang dari perguruannya masih berada di dalam tahanan? Bahkan belum lama berselang sebagian dari mereka berdiri berhadapan sebagai lawan di tempat ini.
Jika orang-orang Mataram itu mengetahui orang yang diajaknya bicara, seharusnya mereka justru bersikap lebih baik daripada sekadar menanyakan nama seperti kepada orang asing yang tidak mempunyai hubungan dengan barak.
Namun Ki Dawar Blandong tidak mengatakan sesuatu.
“Segera katakan kepada atasan kalian,” suara Ki Winih Jambe terdengar datar, “kami ingin bertemu dengan Agung Sedayu.”
Tidak ada perubahan pada wajahnya. Nada suaranya pun tidak meninggi. Tetapi ada tekanan dalam setiap katanya yang membuat ucapan itu tidak lagi terdengar seperti permintaan kepada seorang penjaga regol. Ki Winih Jambe dengan sengaja menghilangkan kedudukan Agung Sedayu saat mengulang permintaannya.
Prajurit di hadapannya memandang Ki Winih Jambe sejenak.
“Kami akan menyampaikannya, Ki Sanak. Tetapi kami harus mengatakan siapa yang hendak bertemu dengan Ki Tumenggung.”
Ki Winih Jambe tidak segera menjawab.
Ki Dawar Blandong menggeser kakinya setapak. Sorot matanya mulai berubah. Namun sebelum dia membuka mulut, tangan Ki Winih Jambe bergerak sedikit di samping tubuhnya.
Gerakan yang sangat kecil itu membuat Ki Dawar Blandong menahan diri.
“Aku akan mengatakan semuanya jika yang bertanya adalah atasan kalian,” ucap Ki Winih Jambe.
Prajurit di hadapannya tidak segera menjawab. Sesaat dia memandang orang tua itu sebelum berkata, “Maaf, Ki Sanak. Tetapi kami tetap harus membawa nama diri sebelum atasan kami membuat keputusan.”
Ki Winih Jambe menatapnya beberapa saat.
“Jika begitu, kami tetap di sini.”
Dua orang prajurit di regol saling berpandangan. Salah seorang mengatakan sesuatu dengan suara rendah kepada kawannya. Yang lain mengangguk.
Tidak ada lagi pertanyaan.
Seorang di antara mereka kemudian berbalik dan berjalan memasuki halaman barak. Sementara kawannya tetap berdiri di tempatnya. Kedua tangannya bergerak menyilangkan senjata di depan dada. Dia tidak mengatakan agar Ki Winih Jambe menunggu. Tidak pula mengatakan bahwa kedatangan mereka akan dilaporkan.
Ki Dawar Blandong memperhatikan prajurit itu dengan sorot mata yang perlahan berubah.
Menurut ukurannya, sikap seperti itu hampir menyerempet batas kesopanan terhadap seorang pemimpin perguruan. Namun ketika pandangannya beralih kepada Ki Winih Jambe, tetua perguruannya ternyata tidak menunjukkan perubahan apa pun.
Ki Winih Jambe memang telah mengatakan bahwa mereka akan tetap berada di sana.
Maka mereka pun tetap di depan regol.
Ki Rangga Sanggabaya keluar dari regol beberapa waktu kemudian. Langkahnya berhenti setelah berjarak sekitar tiga langkah di hadapan Ki Winih Jambe.
Keduanya berdiri berhadapan.
Ki Sanggabaya memandang orang yang berada di depannya sejenak, kemudian beralih kepada Ki Dawar Blandong dan orang-orang yang berdiri di belakang mereka.
“Kyai ingin bertemu dengan Ki Tumenggung Agung Sedayu?”
“Benar.”
“Saya, Ki Rangga Sanggabaya,” katanya. “Namun Kyai tidak dapat menemui Ki Tumenggung pada hari ini.”
Ki Winih Jambe mengangguk.
Ki Sanggabaya tidak mengatakan sesuatu hingga beberapa waktu berlalu.
- Detik-detik menjelang akhir Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh.
- Mungkinkah Ki Kamejing bakal menghadapi Pandan Wangi seperti yang pernah terjadi di Hari Bising Bukit Menoreh 106?
