0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 87 – Ki WInih Jambe Salah Hina Orang!

Dironda 36 kali

Wedaran sebelumnya: Ketika Ki Sanggabaya memerintahkan orang-orang Mataram mundur, Kinasih maju mengambil tempat di sisinya dan menawarkan penyelesaian, tetapi Ki Winih Jambe justru menyambutnya dengan penghinaan.

“Kyai menghendaki penyelesaian,” sahut Kinasih. “Mari kita selesaikan sebelum matahari terbenam.”

Suara Kinasih belum benar-benar lenyap dari udara ketika tubuhnya melesat cepat. Serangannya langsung menggebrak pertahanan Ki Winih Jambe tanpa memberinya kesempatan untuk berkata lagi.

“Gadis iblis!” geram Ki Dawar Blandong, tetapi tidak banyak yang dapat diperbuatnya lagi selain menarik mundur orang-orangnya pula.

Demikianlah selang beberapa saat, di halaman timur pun terbuka dua gelanggang pertarungan yang luar biasa.

Orang-orang Mataram yang sebelumnya terlibat dalam benturan telah bergeser hingga mendekati gerbang barak. Beberapa memilih berdiri di samping halaman, sedangkan lainnya berada tidak jauh dari pintu masuk. Mereka tidak membentuk lingkaran atau berusaha mengurung orang-orang Perguruan Empu Pinang Aring.

Ki Dawar Blandong membawa orang-orangnya mundur ke arah yang berlawanan. Mereka berhenti di sekitar regol luar hingga sebagian berada di badan jalan.

Di belakang mereka pun orang-orang Menoreh tidak bergerak mendekat.

Sekelompok pengawal yang datang bersama Sayoga mengambil tempat di tepi jalan atau di bawah pepohonan yang tumbuh di kiri dan kanan. Jarak di antara mereka cukup renggang. Bahkan tidak terlihat usaha untuk menutup jalan yang dapat digunakan orang-orang Ki Winih Jambe meninggalkan tempat itu.

Keadaan itu terasa agak ganjil bagi Ki Dawar Blandong.

Beberapa saat sebelumnya mereka masih saling menyerang. Kini orang-orang Mataram telah menarik diri ke halaman barak, sementara pengawal Menoreh membiarkan jalan di belakangnya tetap terbuka.

Tidak seorang pun meminta mereka menyerahkan senjata. Tidak pula ada yang memerintahkan agar mereka tetap berada di tempat. Yang berubah hanyalah satu hal: tidak ada lagi orang yang bersedia melayani mereka bertempur.

Ki Dawar Blandong mengerutkan kening. Jika dia memerintahkan orang-orangnya pergi saat itu juga, agaknya tidak seorang pun akan mencegah. Lagipula, dia juga dapat memerintahkan mereka kembali bertempur. Tetapi kepada siapa?

Maju ke depan berarti mereka harus melintasi halaman menuju barak. Orang-orang Mataram yang telah mundur tentu akan menyambut mereka kembali dengan tangan terbuka.

Namun di tengah halaman, Ki Winih Jambe sedang menghadapi Kinasih. Jadi, pantaskah meninggalkan tetuah perguruan seorang diri? Bukan karena akan dikeroyok, Ki Dawar Blandong meyakini harga diri Menoreh tapi kembali lagi, pantas dan wajarkah?

Ki Dawar Blandong berpaling sekilas ke belakang. Pengawal Menoreh tersebar renggang di badan jalan dan di tepi kiri-kanannya. Mereka tidak menunjukkan sikap hendak menyerang. Bahkan jalan di antara mereka masih cukup terbuka.

Menyerang ke belakang? Ki Dawar Blandong justru menjadi ragu. Ingatannya kembali pada saat pertama kali memasuki barak melalui gerbang sebelah barat. Ketika itu dia bertemu dengan seorang tua bertelekan tongkat. Di tempat yang sama terdapat pula beberapa orang yang mempunyai kemampuan tinggi, termasuk seorang prajurit yang bertempur dengan cambuk.

Sekarang yang datang dari Menoreh adalah seorang gadis muda. Namun setelah beberapa benturan berlangsung, Ki Winih Jambe ternyata belum juga dapat memutus perlawanannya.

Pandangan Ki Dawar Blandong kembali beredar kepada para pengawal yang berada di belakangnya.

Siapa lagi yang berada di antara mereka?

Pertanyaan itu membuat Ki Dawar Blandong mengurungkan keinginan yang sempat terlintas untuk menggerakkan orang-orangnya kembali.

Dalam waktu itu, dari tempatnya berada, Ki Kamejing dan Ki Ajar Poh Kecik mengikuti perubahan yang terjadi di halaman timur barak dengan kening berkerut.

Kedatangan beberapa orang dari arah pedukuhan induk semula tidak terlalu menarik perhatiannya. Mereka hanya berhenti di belakang orang-orang yang sedang bertempur dan tidak segera melibatkan diri.

Tetapi kemudian seorang anak muda keluar menghadapi Jaka Awar-awar.

Sesudah itu seorang gadis melangkah ke tengah halaman dan mengambil tempat Ki Sanggabaya berhadapan dengan Ki Winih Jambe.

Ki Kamejing mempersempit matanya lalu bertanya dalam hati, “Siapa sebenarnya gadis itu?

Ada sesuatu pada wajah dan geraknya yang terasa pernah dilihatnya. Ki Kamejing mencoba mengingat-ingat, kemudian bayangan sebuah pertemuan yang telah lewat muncul samar dalam ingatannya. Apakah memang dia?

Ki Kamejing tidak dapat memastikan.

Perhatiannya beralih kepada orang-orang Menoreh yang berdiri tersebar di badan jalan. Dia mencari satu sosok yang justru sejak tadi belum dilihatnya. Pandan Wangi.

Perempuan itu tidak ada di antara mereka. Ki Kamejing mengerutkan kening lebih dalam. Kalau begitu, ke mana Pandan Wangi?

Dia mengalihkan tatap matanya pada Ki Ajar Poh Kecik yang seakan sudah paham meski tidak ada ucapan dilontarkan.

“Kita tidak tahu siasat apa lagi yang diterapkan oleh orang-orang ini,” kata Ki Ajar lirih. Dia juga berpikir bahwa Pandan Wangi bisa berada di segala tempat yang memungkinkan. Di kediaman Ki Gede, di bagian lain Menoreh, atau bahkan bersama Agung Sedayu yang sampai saat itu belum juga muncul di barak atau halaman.

Ki Ajar Poh Kecik dan Ki Kamejing pun tidak berani mengabaikan kemungkinan lain. Pengalaman mereka di lereng Gunung Kendil telah mengguratkan kesan dan pesan yang mendalam. Perempuan itu mungkin tidak sendiri. Menoreh telah beberapa kali memperlihatkan orang-orang yang sebelumnya sama sekali tidak masuk dalam perhitungan mereka lalu masuk untuk mengacaukan semua rencana mereka.

Kini seorang gadis muda bahkan sedang bertempur melawan Ki Winih Jambe.

Siapa lagi yang belum mereka lihat?

Kemunculan Kinasih yang dengan seketika mengambil Ki Winih Jambe sebagai lawan membuat sebagian orang terkejut, kecuali pasukan khusus dan pengawal Menoreh.

Sikap Kinasih memang tidak biasa.

Menurut kebiasaan yang berlaku di antara orang-orang berilmu aatu perguruan kanuragan, Ki Winih Jambe yang sejak awal berhadapan dengan Ki Sanggabaya semestinya tetap menjadi lawan wakil Agung Sedayu itu. Bila seseorang hendak menggantikannya, biasanya akan ada jarak, tanda, atau setidaknya kesempatan bagi Ki Sanggabaya untuk menarik diri dari lingkar perkelahian tapi Kinasih tidak melakukan semua itu.

Dia datang, menyela kata, lalu langsung mengambil Ki Winih Jambe sebagai lawannya seakan-akan sejak semula memang dialah yang harus berdiri di tempat itu.

Ki Sanggabaya sendiri bahkan sempat tertahan sesaat. Bukan karena keberatan ataupun tidak memahami maksud Kinasih, tapi karena gadis itu sama sekali tidak memberinya waktu untuk menyerahkan lawan.

Tidak ada lagi ruang ataupun waktu bagi Ki Winih Jambe untuk menyatakan keberatan. Kinasih telah memaksanya masuk ke dalam perkelahian yang berlangsung cepat dan rapat.

Memaki dan mengumpat adalah satu-satunya yang masih dapat dilakukan orang itu selain menangkis serangan atau menyerang balik. Sesekali dia menggeram ketika sebuah serangan Kinasih memaksanya bergeser setapak atau serangannya yang luput mengenai lawannya yang muda usia itu

Sekejap kemudian, tangan Ki Winih Jambe  menyambar cepat dengan jari terbuka seolah akan merobek lambung Kinasih tapi gadis itu sigap memutra tubuh searah dengan sambaran lawan. Luput, pada saat berikutnya, Kinasih kembali merapatkan serangan dengan rangkaian tata gerak yang membuat Ki Winih Jambe tidak sempat lagi mempersoalkan orang siapa yang seharusnya menjadi lawan.

Ki Winih Jambe segera menyadari bahwa Kinasih tidak cukup dihadapi dengan kekuatan wadag. Setelah beberapa kali serangannya kandas atau bahkan dipatahkan sebelum mencapai sasaran, perlahan-lahan dia mulai melambari serangannya dengan tenaga cadangan.

Udara di sekitar lingkar perkelahian seperti bergetar halus.

Namun perubahan itu rupanya terbaca oleh Kinasih. Gadis itu tidak menunggu Ki Winih Jambe mencapai tataran tenaga yang dikehendakinya. Pada benturan berikutnya, Kinasih justru menghentakkan kekuatan yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya.

Ki Winih Jambe terkejut!

Sepasang lengannya bergetar ketika kekuatan mereka bertemu. Tubuhnya memang tidak terlempar, tetapi dia harus bergeser untuk mengurai tekanan yang merambat sampai ke bahu.

Perkelahian kemudian berlangsung dengan cara yang berbeda. Setiap kali keduanya terdorong menjauh atau sama-sama mengambil jarak untuk membaca kemungkinan serangan berikutnya, setiap kali itu pula tenaga cadangan yang melambari gerakan mereka meningkat setingkat lagi.

Tata gerak sederhana, jika bukan dianggap seperti jurus-jurus dasar kanuragan, tetapi diterapkan dengan penuh tekanan dan keyakinan, maka tampaklah kemudian Kinasih seperti seseorang yang telah menguasai setiap bagian geraknya sampai pada batas yang sulit dicapai oleh kebanyakan orang. Gerakan seperti itu tidak dapat memberinya petunjuk tentang perguruan yang membentuk Kinasih. Tidak ada ciri yang cukup kuat untuk dikenali. Namun justru dari kesederhanaan itulah Ki Winih Jambe mulai dapat menilai bahwa gadis di hadapannya memiliki bakat yang luar biasa. Sangat mungkin Kinasih dibentuk oleh sebuah perguruan besar, atau bahkan ditempa langsung oleh seseorang yang memiliki tataran ilmu sangat tinggi.

  • Tata gerak sederhana justru dimainkan saat Kerusuhan Besar sedang mencengkeram Tanah Perdikan Menoreh? Kinasih tidak salah dengan keputusan itu. Tidak ada yang salah pada tata geraknya, tapi perlukah kita memberinya dukungan?
  • Mereka berdua, Agung Sedayu dan Kinasih, melihat belasan orang berloncatan mengurung Sukra dan Ki Sura Pawira saat terjadi Geger Alas Krapyak 60. Selanjutnya, beringsut maju perlahan untuk duduk membaca wedaran.
  • Namun tiba-tiba, Kinasih berkata lirih, “Maaf, Ki Rangga.” Kemudian dia menundukkan kepala dalam-dalam di Geger Alas Krapyak 67. Baiklah, apa yang sedang berkembang pada hubungan mereka berdua ini?

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.