0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 90 – Kerusuhan Tanah Perdikan Sampai ke Hadapan Sinuhun

Dironda 55 kali

Wedaran sebelumnya: Di halaman timur barak yang dilanda kerusuhan, dua gelanggang pertarungan berlangsung hampir bersamaan dan menyita perhatian orang-orang di sekitarnya. Di salah satu gelanggang, Sayoga yang semula terdesak, perlahan menemukan jalan keluar dan membawa pertarungan ke jarak rapat. Sementara itu, di gelanggang lainnya, pertempuran Kinasih masih berlangsung sengit dan debu yang berhamburan dari pertarungannya ikut menyelimuti halaman, membuat suasana kerusuhan di barak semakin tegang.

Namun itu tidak memakan waktu lama, perhatian mereka pun segera direbut oleh pertempuran Kinasih yang masih berlangsung dengan cara yang makin sulit dinalar.

Gelanggang Kinasih.

Senjata Ki Winih Jambe berupa tongkat pendek berwarna perak masih berputar-putar dan menggaung dahsyat. Meski Kinasih telah memegang ranting sebagai senjata, tapi itu belum sepenuhnya dapat mengurangi tekanan lawannya yang makin menghebat.

Matahari memang telah bergeser jauh ke barat, tetapi sinarnya masih jatuh cukup kuat di bagian tengah halaman. Rimbun dedaunan hanya mampu menaungi bagian tepi, sedangkan tempat Kinasih dan Ki Winih Jambe bertempur masih menerima cahaya sore hampir tanpa penghalang.

Kinasih boleh menjadi seorang gadis muda dengan kemampuan yang sulit diduga batasnya, tetapi pengalaman Ki Winih Jambe ternyata menjadi pembatas sekalgus pembeda yang sangat besar artinya.

Dari kejauhan, gelanggang Kinasih seolah berubah pertarungan dua bola cahaya yang luar biasa. Tongkat pendek Ki Winih Jambe berkelebat tanpa henti seiring dengan sambaran tangannya yang masih memendar warna pucat. Sementara Kinasih seakan terbungkus dengan cahaya hijau yang berasal dari ranting yang terus menerus berayun dengan kecepatan yang luar biasa.

Hingga yang tampak kemudian adalah dua bola cahaya itu terlihat seakan-akan berusaha saling menelan, membelit, mengurung melalui gerakan-gerakan yang kian sulit diamati.

Namun, pada gelanggang itu, sebenarnya terjadi perubahan yang cukup tajam sehingga nyaris membuyarkan pertahanan Kinasih.

Ki Winih Jambe, yang seketika mengubah tata geraknya, seperti mampu membuat gelanggang itu bermandikan cahaya yang menyilaukan mata.

Kinasih mulai mengalami kesulitan. Pandangannya terus-menerus berbenturan dengan kilatan cahaya yang datang silih berganti. Sekalipun tusukan dan sambaran tongkat Ki Winih Jambe masih dapat dihindarinya, beberapa serangan mulai berhasil menjebol pertahanannya. Tubuh Kinasih beberapa kali terguncang ketika serangan lawannya berhasil menjangkaunya.

Kinasih pun bergerak semakin cepat. Ranting di tangannya berputar lebih rapat, sedangkan kedua kakinya tidak pernah berhenti bergeser. Debu yang semula hanya mengepul tipis mulai terangkat semakin tinggi. Murid Nyi Banyak Patra ini agaknya ingin mengaburkan gelanggang itu, agar kesulitan yang dialaminya juga dirasakan oleh lawannya.

Namun Ki Winih Jambe tidak membiarkan keseimbangan pertarungan beralih ke tangan Kinasih. Sekali lagi dia mengubah cara menyerang dan bertahan. Tekanannya justru bertambah kuat. Semakin banyak serangannya yang mampu menembus pertahanan Kinasih dan menjangkau tubuh gadis itu. Meski belum satu pun mampu membuat Kinasih roboh, keadaan telah berubah semakin berat baginya.

Setelah membulatkan tekat dalam waktu kurang dari sekejap, Kinasih mulai menghimpun kekuatan yang selama ini tersembunyi rapat di dalam dirinya melalui tata gerak yang sebenarnya tidak berbeda dari menangkis atau menyerang.

Perlahan-lahan, selapis hawa putih mulai tampak mengikuti setiap putaran ranting dan gerakan tangannya. Mula-mula begitu tipis, muncul lagi selapis dan semakin bertambah sehingga hampir tidak dapat dibedakan dari debu yang masih berhamburan. Namun hanya dalam waktu lima kedipan mata, lapisan putih itu telah bertambah rapat dan memenuhi gelanggang.

Perubahan itu segera membawa akibat. Ki Winih Jambe tidak lagi merasakan kelonggaran sebagaimana beberapa saat sebelumnya. Tarikan napasnya mulai terasa berat, seakan-akan udara di sekelilingnya telah berubah dan perlahan menghimpit rongga dadanya.

Beberapa orang di sekeliling halaman mulai mengubah sikap duduk mereka.

Mereka tidak lagi sekadar mengikuti pertarungan.

Mata mereka kini tertuju pada udara tipis berwarna putih yang semakin nyata.

Ki Kamejing menarik napas dalam-dalam. Ki Ajar Poh Kecik malah seolah sedang menahan napas. Demikian pula Ki Astaman di tempat yang berbeda.  Tiga orang ini seolah ingin memastikan bahwa yang terlihat itu benar-benar berasal dari kekuatan Kinasih, bukan sekadar debu yang semakin tebal.

“Kabut?”

Pertanyaan yang sama seolah terucap di dalam hati ketiganya.

Udara putih itu kini telah membentuk bulatan yang semakin rapat dan memenuhi seluruh gelanggang. Dalam waktu singkat, Kinasih dan Ki Winih Jambe seakan-akan terkurung di dalam gumpalan kabut yang memisahkan mereka dari orang-orang di sekeliling halaman. Tidak seorang pun dapat melihat dengan jelas yang sedang terjadi di dalamnya.

Bayangan Kinasih dan Ki Winih Jambe pun telah lenyap. Gerakan keduanya tidak lagi dapat diikuti. Hanya sesekali terdengar suara benturan dari balik kabut yang menandakan bahwa pertempuran belum berhenti.

Dan tanpa seorang pun mengucapkannya, pengamatan mereka mulai bergeser lalu muncul pertanyaan baru: jika Kinasih telah sampai sejauh ini—lalu bagaimana dengan Agung Sedayu?

Kabut yang menutupi gelanggang itu akhirnya mulai terurai perlahan.

Mula-mula hanya tampak bayangan samar di tengah warna putih yang semakin menipis. Seseorang berdiri membungkuk dengan sebelah tangan bertumpu pada lutut. Kepalanya terangkat, menatap lurus ke bagian depan seolah tidak ingin melepaskan pandangan dari sesuatu yang masih tersembunyi di balik kabut.

Beberapa saat kemudian, lapisan putih itu semakin renggang. Kabut terus memudar.

Kinasih, ternyata yang membungkuk sambil mengatur napas itu adalah murid Nyi Banyak Patra. Tatapannya tetap mengarah ke depan. Ranting yang sebelumnya berada di tangannya sudah tidak tampak lagi.

Barulah terlihat Ki Winih Jambe terbaring terlentang beberapa langkah di hadapannya. Tubuhnya hampir tidak bergerak.

Kinasih mencoba berdiri lebih tegak. Sebelah tangannya kemudian terangkat, entah hendak memberi tanda atau memanggil seseorang. Namun tangan itu hanya sempat menggapai udara sebelum kembali turun dengan lemah.

Ki Sanggabaya segera bergerak. Hampir bersamaan dengannya, Ki Dawar Blandong meluncur deras memasuki gelanggang.

Ketika sampai di dekat keduanya, mereka segera mengetahui bahwa pertempuran itu telah menguras seluruh kekuatan Kinasih dan Ki Winih Jambe.

Kinasih masih mampu mempertahankan kesadarannya, tetapi kedua kakinya sudah tidak cukup kuat untuk menyangga tubuh lebih lama.

Ki Sanggabaya cepat meraih tubuhnya.

“Selesai, Nduk,” katanya pendek lantas membopong Kinasih menuju gerbang. Sambil berjalan, Ki Sanggabaya memeriksa keadaannya sekilas. Tidak ditemukannya tanda-tanda luka dalam yang sangat parah, tetapi keadaan Kinasih tidak memungkinkan untuk dibiarkan begitu saja. Gadis itu tetap membutuhkan pengobatan dan perawatan.

Sementara itu Ki Dawar Blandong telah berlutut di samping saudara angkatnya. Ki Winih Jambe masih hidup dengan pendek dan terputus-putus. Bibirnya beberapa kali bergerak seperti hendak mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada kata yang keluar. Hanya erangan lemah yang sesekali terdengar dari tenggorokannya.

Ki Dawar Blandong menundukkan wajah. Dari keadaan saudara angkatnya itu, dia mengetahui bahwa waktu yang tersisa mungkin tidak akan panjang.

Ketika Ki Demang Brumbung mendekat, Ki Dawar Blandong mengangkat wajah.

“Aku membutuhkan sedikit waktu di sini.”

Ki Demang Brumbung memandang Ki Winih Jambe sejenak, kemudian mengangguk. Katanya, “Baik. Tetapi jangan di halaman.”

Ki Dawar Blandong mengangguk dengan sorot mata menyimpan pertanyaan.

Ki Demang Brumbung tidak berkata lagi. Dia hanya mengangkat tangan dan menunjuk ke arah gerbang barak.

“Terima kasih,” ucap pendek Ki Dawar Blandong.

Pada waktu yang hampir bersamaan, di Kotaraja, suasana di sekitar sebuah ruang pertemuan perlahan berubah menjadi tegang.

Beberapa orang yang berjaga di luar ruangan itu tetap berdiri sebagaimana sebelumnya. Tidak terdengar perintah untuk memperketat penjagaan, tidak pula terlihat kesibukan yang tidak biasa. Namun mereka mengetahui bahwa pertemuan yang sedang berlangsung di dalam bukan pembicaraan yang dapat dianggap ringan.

Sinuhun berada di dalam ruangan itu bersama Pangeran Purbaya dan Agung Sedayu.

Untuk beberapa lama tidak seorang pun berkata-kata.

Agung Sedayu duduk dengan sikap tenang, tetapi dia dapat merasakan bahwa pembicaraan yang telah berlangsung membawa mereka semakin dekat pada persoalan yang tidak sederhana. Pangeran Purbaya pun tidak segera membuka suara. Sesekali putra Panembahan Senapati itu memandang Sinuhun, kemudian beralih kepada Agung Sedayu.

Keheningan yang kemudian memenuhi ruangan terasa lebih berat daripada percakapan yang baru saja berhenti.

“Kerusuhan di Tanah Perdikan memang tidak dapat dikatakan seperti sebuah perang besar yang berlangsung berhari-hari,” ucap Sunan Agung memecah suasana. Suaranya terdengar bergetar seperti sedang menahan sesuatu yang bergolak di dalam dadanya.

“Barak yang dapat ditembus oleh sekelompok orang dan beberapa keadaan lainnya, sudah barang tentu akan menjadi perhatian serta pembicaraan banyak orang. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah seberapa pantas sebuah barak pasukan khusus tiba-tiba diserang oleh satu atau dua kelompok perguruan kanuragan,” lanjut Sunan Agung.

  • Di saat yang sama, Ki Tunggul Pitu diam-diam mulai mengambil jalannya sendiri. Dia berencana mengabarkan kedudukan Swandaru pada Agung Sedayu. Tampaknya ada usaha mengubah jalan Mataram dan untunglah dapat dibaca di Kiai Plered 86.
  • Merebut Mataram 66, Ki Hariman bertempur, tetapi Ki Patih Mandaraka sedang membaca sesuatu yang jauh lebih besar daripada pertempuran di depannya.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.