0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 89 – Dua Gelanggang di Halaman Timur

Dironda 206 kali

wedaran sebelumnya: Pertarungan Kinasih melawan Ki Winih Jambe meningkat semakin sengit ketika keduanya mulai mengungkap kemampuan yang sejak awal masih tersimpan. Menyadari bahaya pertarungan jarak dekat, Ki Winih Jambe kemudian mengubah siasat dengan menjaga jarak dan meningkatkan tekanan, sementara Ki Kamejing, Ki Ajar Poh Kecik, dan Ki Astaman mengamati perkembangan pertarungan dengan penuh perhatian.

Yang terjadi kemudian adalah pertarungan memang sedikit jauh, mungkin terpisah tiga atau empat langkah. Namun begitu, tata gerak Kinasih dan Ki Winih Jambe masih tetap seperti perkelahian yang tidak berjarak. Mereka memukul dari jauh, menangkis juga dari jauh seakan jangkauan kekuatan lawan dapat menembus pertahanan jika dibiarkan saja.

Maka pertarungan itu pun menjadi semakin dahsyat saat masing-masing meningkatkan lagi kecepatan gerak. Dua orang itu saling membelit, saling mengurung dan tak jarang bertabrakan untuk beberapa lama.

Debu semakin tebal menyelimuti gelanggang. Tanah di beberapa tempat mulai berlubang, sedangkan kerikil berloncatan setiap kali terdengar benturan keras di antara kedua orang itu. Beberapa dahan yang menjulur terlalu dekat dengan gelanggang patah berjatuhan. Bahkan tidak sedikit yang tampak mengering dan hangus pada bagian tepinya seolah tersentuh api yang tidak terlihat.

Perkelahian yang semakin sengit dan mulai memasuki bahaya maut tiba-tiba seperti mengingatkan Ki Winih Jambe pada sesuatu yang sempat mengusiknya. Seketika dia menarik senjatanya, tongkat pendek bergerigi pada batangnya.

Ki Winih Jambe memutar tongkat dengan cara yang luar biasa. Benda berputar dengan gaung yang menyakitkan telinga, mengurung Kinasih dengan sangat cepat dan kuat.

Murid Nyi Banyak Patra itu pun tangkas bergeser surut, bergulingan lalu melompat jauh. Ki WInih Jambe mengejar dan Kinasih terus menghindar tanpa benar-benar keluar dari halaman timur. Hingga sepotong ranting yang terjangkau olehnya dapat diraih. Seketika menahan serangan dan berusaha menekan balik lawannya itu.

“Persis,” kata ki Winih Jambe dalam hati ketika dugaannya seolah mendapatkan titik terang.

Ki Kamejing menautkan alis. Ranting sebagai senjata sepertinya dia pernah mendengar sebuah perguruan tua yang menggunakan benda seadanya sebagai senjata. Bila bukan berasal dari jalur ilmu Perguruan Banyu Biru, apakah mungkin gadis berada di garis ilmu yang sama dengan Ki Kebo Kenanga atau Ki Kebo Kanigara? Dia melirik sepintas pada Ki Ajar Poh Kecik. Barangkali kawannya itu mempunyai sedikit pengetahuan tapi rupanya orang ini pun larut dalam wawasan yang dipahaminya.

Ki Astaman, di tempat yang berjauhan, berulang-ulang memijat kening. Gadis itu pernah menjadi lawannya dan saat itu menggunakan ranting sebagai senjata, tapi siapa sangka putaran ranting itu dapat mengimbangi kekuatan Ki Winih Jambe yang tersalurkan pada tongkatnya?

Semakin lama, pertarungan itu pun semakin sulit dimengerti oleh kebanyakan orang yang melihat.

Namun pertempuran di halaman timur itu tidak hanya berpusat pada Kinasih dan Ki Winih Jambe.

Tidak terlalu jauh dari lingkar perkelahian mereka, Sayoga pun sedang menghadapi lawan yang sejak beberapa saat sebelumnya memaksanya terus meningkatkan kemampuan.

Deru benturan tenaga dari arah Kinasih sesekali masih terdengar. Debu yang terangkat bahkan terbawa angin melintasi bagian halaman tempat Sayoga bertempur. Namun baik Sayoga dan Jaka Awar-awar tidak mempunyai kesempatan untuk menoleh.

Masing-masing tidak memberi kesempatan.

Pada pertarungan sebelumnya Jaka Awar-awar telah menemukan cara untuk menghambat Serat Waja dengan memutus aliran tenaga cadangan sesaat sebelum senjata mereka berbenturan. Cara sederhana itu telah membuat kemampuan Sayoga menyerap kekuatan lawan kehilangan kegunaannya. Sebab itulah, dia penuh percaya diri menantang Sayoga untuk mengulang perkelahian yang belum selesai.

Dan Jaka Awar-awar mengulang pengetahuannya itu dengan cepat sehingga pertarungan mereka benar-benar langsung menuju puncak.

Dua kali senjata mereka berbenturan. Dua kali pula Sayoga merasakan tenaga yang hendak ditangkap Serat Waja seperti terputus tepat sebelum benturan terjadi. Yang tersisa hanyalah kekuatan wadag dari ayunan senjata lawannya.

Jaka Awar-awar terus menekan. Sayoga tetap melawan.

Pada setiap benturan, Jaka Awar-awar melakukan hal yang sama. Sekali lagi Sayoga mengalami kebuntuan dalam pengerahan Serat Waja.

Pedang kayu Sayoga terus bergerak menyilang, menebas datar, memutar atau mengurung lawannya untuk mempersempit ruang gerak. Tapi Jaka Awar-awar hampir selalu dapat keluar dari tekanan kemudian menyusulkan serangan dari arah lain.

Beberapa saat kemudian keadaan mereka bahkan hampir menyerupai perkelahian terdahulu. Jaka Awar-awar semakin berani merapatkan serangan, sedangkan Sayoga lebih banyak mengandalkan kecepatan untuk menghindari benturan yang tidak lagi menguntungkannya.

Pertanyaan yang dahulu tidak sempat diselesaikannya justru kembali muncul di tengah derasnya serangan Jaka Awar-awar.

Jika lawannya dapat memutus tenaga cadangan sebelum benturan terjadi, apakah Serat Waja memang harus menunggu benturan itu?

Dua senjata dua anak muda itu berbenturan berulang-ulang. Mereka bertarung dengan kegigihan dan keuletan yang mungkin setara hingga ketegangan pun meningkat tajam. Udara di sekitar gelanggang mereka bergetar. Orang-oarng yang melihat pun mulai memicingkan. Selain untuk mengurangi debu yang berhamburan dari gelanggang Kinasih, juag bertujuan menajamkan penglihatan agar setiap gerak dua anak muda masih dapat diikuti.

Demikianlah, kedua orang muda itu bertempur dengan sengitnya meski belum dapat disebut telah mencapai puncak ilmu masing-masing.

Sayoga kemudian mulai terlihat kehilangan kendali pertarungan. Rupanya Jaka Awar-awar telah mengetrapkan pengetahuan yang didapat sebelumnya untuk menghadang kekuatan ilmu Serat Waja. Lelaki muda ini sekali-kali menyerang dengan kekuatan tenaga cadangan tapi selalu tepat memperhitungkan waktu untuk menahan lontaran ilmu agar tak diserap oleh Serat Waja.

Pada beberapa kesempatan, Sayoga menyerang musuhnya dengan berbagai kembangan yang diketahuinya dari Serat Waja. Namun begitu, sama seperti sebelumnya, Jaka Awar-awar sanggup memutus tenaga cadangannya tepat sebelum benturan. Hingga kemudian penguasaan yang sangat baik atas tata geraknya mendapatkan jalan keluar.

Sayoga mengubah caranya menyerang. Dia tidak lagi memukul batang pedang lawan tetapi mengincar pergelangan tangan, lengan atau bahu sambil terus menerus menghindari benturan secara langsung.

“Mengapa?” tanya Jaka Awar-awar dalam hatinya sambil terus menekan Sayoga dengan beradu senjata.

Suatu ketika, Jaka Awar-awar mengayun senjatanya, menebas silang sambil berharap Sayoga memapas serangannya itu dengan cara membenturkan senjata. Tapi yang dilakukan Sayoga justru jauh di luar perkiraan.

Sayoga mengikuti arah putaran itu sambil membiarkan tubuhnya ikut bergeser searah, dan pada saat yang hampir bersamaan tangan kirinya menyambar.

Pertahanan Jaka Awar-awar pun ambrol seketika. Lambungnya terhantam tinju Sayoga yang berlambar Serat Waja. Dia terdorong surut tapi Sayoga tidak memburunya.

Untuk sejenak, dua anak muda itu terpisah oleh jarak.

Sekejap berikutnya, keduanya sama-sama melompat maju dengan terjangan yang sangat kuat.

Pedang Jaka Awar-awar berputaran cepat mencari ruang, tetapi setiap kali kedua senjata bertemu, Sayoga seperti tidak membiarkannya benar-benar terlepas. Putaran pedang kayu itu mengikuti geraknya, sementara tangan yang lain terus mengancam dari jarak dekat.

Sebuah serangan Sayoga kembali menembus celah pertahanan Jaka Awar-awar yang cepat memiringkan tubuh sambil melompat pendek ke belakang. Pukulan Sayoga meleset sedikit dan anak muda ini terus mengejar lawannya tanpa lagi memberi kesempatan untuk memperbaiki kedudukan.

Serangan Sayoga datang lagi sangat deras. Kali ini Jaka Awar-awar menghentakkan tenaga cadangan untuk menahannya.

Wajah Jaka Awar-awar berubah. Dia tahu yang baru saja terjadi. Tenaga cadangan miliknya seketika ambyar saat menghantam pangkal lengan Sayoga. Ternyata Sayoga juga mulai mengenali watak ilmunya, Serat Waja.

Gebrakan berikutnya, dua senjata kembali berbenturan, melekat, kemudian berputar. Tangan Sayoga kembali menyusup di antara gerakan senjata. Jaka Awar-awar bertahan dengan tenaga wadag tapi dia hampir terkena.

Pada kesempatan selanjutnya, Jaka Awar-awar tidak mempunyai pilihan selain mengerahkan tenaga cadangannya. Namun Sayoga mampu memutar pedang kayunya dengan sangat cepat hingga senjata lawannya ikut berputar, seakan-akan melekat dan terseret oleh putaran pedang kayu itu.

Sayoga mengambil keputusan yang berani. Tiba-tiba dia memutus putaran pedangnya dan melemparkan senjata itu ke arah pangkal leher Jaka Awar-awar. Hampir bersamaan dengan itu, tubuhnya bergerak maju. Tangannya terjulur menjangkau dada lawannya.

Jaka Awar-awar terkejut menghadapi perubahan yang sama sekali tidak disangkanya. Dia bergeser selangkah surut untuk menghindari serangan yang mengarah ke pangkal lehernya. Gerakan itu sekaligus membuat dadanya terlepas dari jangkauan Sayoga. Namun telapak tangan Sayoga masih sempat mendarat di lambungnya.

Sekarang persoalannya menjadi jelas. Selama dia mempertahankan cara lamanya, pertarungan jarak rapat memberi Sayoga kesempatan menyerangnya dengan tangan yang bebas. Tetapi untuk menahan serangan-serangan itu dengan kekuatan penuh, dia harus mengerahkan tenaga cadangan—dan pada saat itulah Serat Waja kembali mendapatkan kekuatan untuk dilontarkan kepadanya. Sedangkan penggunaan kekuatan wadag bergantian dengan tenaga cadangan dapat membahayakan keselamatannya sendiri.

Jaka Awar-awar bangkit sambil menatap Sayoga. Bibirnya kemudian bergerak, “Aku kira sudah cukup. Terima kasih.”

Sayoga mengerutkan kening.

Namun Jaka Awar-awar telah melesat keluar dari halaman timur. Dia tidak menuju ke tempatnya semula, melainkan mengambil arah lain dan dalam beberapa kejap lenyap dari pandangan.

Sejumlah orang yang memandang gelanggang Sayoga juga turut mengerutkan dahi. Ada apa? Mengapa perkelahian itu selesai sebelum diketahui pemenangnya?

  • Banyak gelanggang pertarungan, benturan antarjalur ilmu yang berbeda zaman, berbeda cara pengembangan dan pengungkapan tergelar di Kerusuhan Besar Bukit Menoreh. Latar belakang setiap pertempuan hampir semuanya sama. Dan ada satu yang dinantikan oleh banyak kelompok, terutama kelompok kanuragan dan kelompok pembaca.
  • Namun demikian, ada masa tenang dan damai yang dilalui Ken Arok bersama Toh Kuning. Pada masa itu, Di bawah sinar rembulan yang terang dan langit yang cerah tanpa mendung, Ken Arok menatap wajah Toh Kuning. Sampai Jumpa Ken Arok 2.
  • Setelah itu, terdengar ucapan Ki Prayoga yang ditujukan pada Agung Sedayu. Orang itu berkata, “Aku bukan pedagang seperti kebanyakan orang, Ki Rangga.” Jati Anom Obong 2 memberi gambaran pertama sebelum benturan sangat keras meledak di atas Kali Progo.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.